YURISTGAMEINIGAMEID101

ENAM ADAB ZIKIR YANG BENAR

ADAB ZIKIR YANG BENAR

Agar bisa berhasil, orang yang melakukan zikir harus mematuhi enam adab berzikir berikut ini: 

Pertama, tidak boleh syirik dalam zikir. Para ulama menyatakan, seseorang yang melakukan zikir dengan masih mengandung unsur-unsur syirik; masih ada niat-niat lain selain untuk Allah, maka hal itu memutuskan hubungannya kepada Allah dan menghalangi terbukanya hijab hati; sesuai dengan besar kecilnya syirik yang dikandungnya.

Karena itu, setiap guru thariqat harus memerintahkan para muridnya untuk bersungguh-sungguh dan benar dalam melakukan zikir. Berzikir dengan lisan (bukan hanya-dalam hati). Setelah mantap, kemudian melakukan zikir dengan lisan dan hati secara bersama-sama. Hal ini harus terus-menerus dilakukan sampai seseorang mencapai tingkatan tertentu, dan seluruh anggota badannya bisa merasa-
kan ikut berzikir.

Kedua, mengosongkan perut. Artinya, orang yang melakukan zikir, sedikit demi sedikit harus mengurangi makannya. Juga mengurangi perkataan-perkataan yang tidak perlu, mengurangi tidur dan menghindarkan diri dari pergaulan masyarakat yang tidak benar. Ini penting, dan seseorang yang mematangkan tauhidnya memang harus berbuat demikian.

Sebab, tanpa kelakuan itu semua, nur tauhidnya akan redup, kemudian mati. Dan kenyataannya, para guru thariqat banyak yang tidak mampu membimbing murid-muridnya, ketika mereka merusak (tidak melakukan sesuai) aturan-aturan tersebut.

Ketiga, melakukan zikir dengan suara keras. Ini untuk orang-orang pemula. Dengan suara keras, maka dorongan-dorongan hati, lamunan-lamunan dan lain-lain akan mudah dihilangkan. Sebaliknya, bila mereka melakukan zikir secara pelan, zikirnya akan mudah hilang, mudah terlena dan tidak bisa khusyuk.

Keempat, harus didasarkan pada niat atau kehendak yang kuat. Maksudnya, orang yang melakukan zikir harus mempunyai niat, kehendak dan harapan yang kuat untuk berhasil dalam mendekatkan diri kepada Allah. Para ulama menyatakan: 

"Seorang murid harus melakukan zikir dengan didasari hati dan kehendak yang kuat, sehingga tidak ada tempat sedikit pun dalam hati dan bagian tubuhnya, kecuali semua ikut bergetar, berzikir kepada Allah".

Para ulama menyamakan kuatnya zikir ini dengan batu. Yaitu, bagaimanapun kuat dan kerasnya batu, ia akan bisa terpecahkan dengan kekuatan. Begitu pula dengan keras dan rusaknya hati; akan lunak dan tertundukkan oleh zikir, asal dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kemauan yang kuat.

Kelima, dilakukan secara bersama-sama (berjamaah). Hal ini dikarenakan, zikir yang
dilakukan secara berjamaah lebih kuat pengaruhnya, dan lebih cepat membuka hijab.

Al-Ghazali, pengarang kitab Ihya Ulumuddin, juga menyatakan hal itu. Ia menyamakan zikir yang dilakukan secara berjamaah dengan adzan yang disampaikan secara bersama-sama. Yaitu, bahwa adzan yang dilakukan secara bersama (jamaah) adalah lebih kuat, lebih keras dan lebih jauh jangkauannya.

Adapun soal tempat melakukan zikir, para ulama menyatakan, bahwa yang terbaik adalah di masjid, di mushalla, atau di tempat-tempat lain yang biasa digunakan untuk zikir.

Mana yang lebih baik, zikir dengan lafaz "La ilaha illallah" saja, atau dengan lafaz
"La ilaha illallah Muhammad Rasulullah". Yang lebih baik, bagi pemula, adalah cukup
lafaZ "Lailaha Ilallah", tanpa ada kata tambahan. Bila sudah mapan dan bagus, terserah.

Keenam, dilakukan dengan penuh kesopanan dan takdzim. Yaitu, bahwa seseorang yang akan melakukan zikir harus menghadirkan keagungan Ilahi terlebih dahulu dalam hatinya, mengonsentrasikan diri dan hatinya untuk menghadap hadirat Ilahi.

Abu Bakar al-Kannani menyatakan, di antara salah satu syarat zikir adalah bahwa orang yang melaksanakannya harus menghadirkan keagungan Ilahi dalam hatinya. Menyiapkan dan memantapkan hati dalam menghadap hadirat Ilahi. Tanpa itu, ia tidak akan bisa mencapai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan.

Salah satu adab dan kesopanan dalam berzikir, bahwa seseorang yang melakukan zikir harus terlebih dahulu: (1) Bertaubat. Membaistighfar. Minta ampun atas segala dosa dan kekurangan yang pernah dilakukan; (2) Memperbanyak syukur. Membaca hamdalah. Mengagungkan Tuhan; (3) Tidak langsung minum begitu selesai zikir; (4) Tidak menyibukkan diri dalam urusan-urusan keduniaan, kecuali pada hal-hal yang bisa membantu memperlancar perjalanannya menuju Tuhan.

ADMIN

BACA JUGA