YURISTGAMEINIGAMEID101

GAMBARAN UMUM KITAB AL-FUTUHAT AL-MAKKIYYAH IBN ARABI

GAMBARAN UMUM KITAB AL-FUTUHAT AL-MAKKIYYAH IBN ARABI
GAMBARAN UMUM KITAB AL-FUTUHAT AL-MAKKIYYAH IBN ARABI

Kitab ini diawali dengan sebuah doksologi (khutbah) atau himne pujian kepada Allah Swt. dan Rasulullah Saw. yang selayaknya ada pada kitab-kitab pada umumnya. Sejak kalimat pertama, pembaca akan langsung disuguhi ungkapan-ungkapan khas dari Syaikh yang samar dan mengandung makna-makna yang butuh upaya lebih untuk bisa memahaminya. Doksologi ini ditulis berdasarkan visi beliau di alam imajinal dalam sebuah majelis konferensi spiritual di hadapan Rasulullah Saw., para nabi, sahabat-sahabat Rasul dan umat beliau. Di dalamnya akan disinggung secara sepintas beberapa tema sentral yang akan dijabarkan lebih lanjut di sepanjang kitab. Setelah itu disusul dengan sebuah risalah untuk guru dan sahabat beliau Syaikh “Abd Al-'“Aziz Al-Mahdawi ra. dalam bentuk syair-syair panjang yang diakhiri dengan latar belakang penulisan kitab.


Halaman-halaman berikutnya berisi daftar keseluruhan bab kitab yang berjumlah 560 bab dan mukadimah panjang yang memiliki peran penting bagi pembaca yang ingin memetakan susunan kitab, baik dari segi tekstual maupun kontekstual. Bagian akhir mukadimah yang ditambahkan pada saat penulisan redaksi kedua dan tidak terdapat pada redaksi pertama berisi ringkasan-ringkasan sekaligus menjadi sebuah klasifikasi yang membedakan para pemilik akidah dan keilmuan di kalangan umat muslim. Dari akidah orang-orang muslim awam, akidah para ahli ilmu kalam dan pengamatan rasional, hingga akidah orang-orang khusus di antara Keluarga Allah (Ahl Allah).


“Abd Al-Bagi Miftah dalam kitabnya Buhis hawla Kutub wa Mafahim Asy-Syaykh Al-Akbar Muhyiddin Ibn “Arabi mengibaratkan bagian-bagian yang meyusun kitab al-Futuhat al-Makkiyyah ini seperti susunan alam semesta, karena keduanya terbangun di atas tiga kehadiran utama yang mayoritas bagian-bagiannya saling terjalin satu sama lain. Tiga kehadiran itu adalah kehadiran Nama-nama Terindah (Al-Asma' Al-Husna), kehadiran Al-Gur'an nan Agung, serta kehadiran huruf-huruf dan angka-angkanya.


Kehadiran Nama-nama Terindah


Kitab ini terbagi menjadi enam pasal:


1. Pasal tentang ma'rifah-marifah (ma'arif)

2. Pasal tentang muamalah-muamalah (mu'amalat)
3. Pasal tentang hal-hal atau kondisi-kondisi spiritual (ahwal)
4, Pasal tentang manzilah-manzilah (manazil)
5. Pasal tentang mundzalah-mungzalah (munazalat)
6. Pasal tentang magam-magam (magamat).

Keenam pasal tersebut terkait dengan tujuh Nama-nama Induk dari Al-Asma' Al-Husna, yakni Nama Al-Hayy (Maha Hidup), Al-'Alim (Maha Mengetahui), Al-Murid (Maha Berkehendak), Al-0adir (Maha Kuasa), As-Sami (Maha Mendengar), Al-Basir (Maha Melihat), dan Al-Mutakallim (Maha Berbicara).


Nama pertama yang menjadi syarat dan asal untuk keseluruhan Nama yang lain, yaitu Nama Al-Hayy (Maha Hidup), mengalir di setiap bab pada bab-bab kitab sebagaimana ia mengalir pada segala sesuatu yang memanifestasi dalam eksistensi, karena pada hakikatnya setiap bab dari kitab ini adalah sebuah lokus dari lokus-lokus manifestasi “kehidupan irfani”. Hanya saja, pada bab-bab tertentu Nama ini muncul lebih banyak dibandingkan bab-bab yang lain, terutama pada bab 1 dan bab 559 sebelum bab terakhir. Bab 1 menjelaskan tentang Ruh yang darinya Syaikh mengambil ilmu-ilmu yang ada di dalam Futuhat, dan Nama Ilahi yang paling mendominasi Ruh tersebut adalah Nama Al-Hayy. Sementara itu, bab 559 adalah ringkasan dari keseluruhan bab-bab Futuhat yang pada hakikatnya memproyeksikan gambaran Manusia Paripurna yang identik dengan Ruh yang disebutkan pada bab 1 tersebut, yang tiada lain adalah Ruh Al-9ur'an Al-'Azim. Keseluruhan bab Futuhat seakan-akan menggambarkan himpunan lokus-lokus manifestasi wujud/eksistensi baik lahir maupun batin, sebagaimana bab 559 yang memproyeksikan wujud Manusia Paripurna yang adalah ruh wujud alam semesta.


Bab 1 menjadi pembuka untuk pasal pertama tentang ma'arif yang terkait dengan Nama kedua, yakni Nama Al- Alim (Maha Mengetahui). Hal ini karena untuk bisa memahami ma'rifah-ma'rifah pada pasal ini, seorang salik harus mengharap bantuan dan menerima tajalli Nama Ilahi Al-'Alim. Perlu diperhatikan bahwa bab-bab awal dari pasal pertama ini, terutama isyarat-isyarat tentang huruf pada bab 2 hingga kalimah basmalah pada bab 5, akan sangat sulit dipahami bagi mereka yang belum memiliki dasar keilmuan dan pengetahuan irfani yang bisa mengantarkan pada pemahaman akan rumus-rumus dan isyarat-isyarat Syaikh. Seakan-akan beliau menjadikan bab-bab awal ini sebagai sebuah benteng penghalang bagi mereka yang tidak cukup kuat dan tajam ambisi irfaninya untuk memasuki medan pembahasan Futuhat yang akan menggiring kita menuju cakrawala ma'rifah yang tak berbatas. Pembaca bisa melewati bab-bab yang terasa sulit dan langsung menuju pada bab-bab lain yang lebih banyak mengandung penjelasan dan lebih mudah dipahami.


Akhir bab 73 menandai awal pasal kedua tentang mu'amalat. Untuk bisa memverifikasi dan merealisasikan setiap muamalah yang ada pada pasal ini melalui kehendak dan kemauan yang kuat, seorang salik harus mengharap bantuan dan menerima tajalli Induk Nama Ilahi ketiga yang terkait dengannya, yaitu Nama Al-Murid (Maha Berkehendak). Pasal ini terdiri dari 116 bab dari bab 74 sampai 189. Kemudian disusul dengan pasal ketiga tentang ahwal. Karena efek dari hal atau kondisi spiritual Rabbani adalah munculnya berbagai macam karamah yang merupakan lokus manifestasi Kodrat atau Kekuasaan Ilahi, maka pasal ini terkait dengan Nama Allah Al-Gadir (Maha Kuasa). Pasal ini terdiri dari 80 bab, dari bab 190 sampai 269.


Setelah selesai menahkik ma'rifah-ma'rifah pada pasal pertama dan menghiasi diri dengan muamalah-muamalah pada pasal kedua lalu memperoleh hal-hal ruhani pada pasal ketiga, sang salik akan memasuki kehadiran pendengaran Kalam-kalam Ilahi melalui tajalli Nama Allah kelima As-Sami (Maha Mendengar) dengan perantara 114 surah Alquran yang sesuai dengan jumlah bab pasal keempat. Pasal tentang manzilah-manzilah ini memiliki 114 bab seperti jumlah surah Alquran, dari bab 270 yang mewakili surah An-Nas hingga bab 383 untuk surah Al-Fatihah.


Pasal selanjutnya adalah pasal kelima tentang munazalat. Berbeda dengan manzilah yang cenderung individual bagi hamba, munazalah lebih bersifat mutual antara Allah dan hamba. Setiap munazalah yang dijelaskan dalam masing-masing dari 78 bab pasal ini menjelaskan tentang makna tertentu dari sebuah ayat Alquran yang ber-tajalli di dalam galbu seorang “Arif. Melalui tajalli dan kehadiran Nama Ilahi Al-Basir (Maha Melihat) ke dalam mata batin sang “Arif, titah-titah dalam bentuk ungkapan dan huruf-huruf dari ayat-ayat tersebut akan berubah menjadi sebuah penyaksian dan penglihatan mata. Itulah mengapa pasal ini terkait dengan Nama Allah Al-Basir.


Nama terakhir yang terkait dengan pasal terakhir tentang magamat adalah Al-Mutakallim (Maha Berbicara). Pasal keenam ini terdiri dari 99 bab sesuai dengan jumlah Nama-nama Terindah. Masing-masing bab bercerita tentang kutub-kutub kewalian beserta ayat-ayat Alquran yang menjadi ruh dari magam mereka dan menjadi tempat penyaksian mereka. Selain itu, ayat-ayat tersebut juga menjadi wirid yang senantiasa terucap baik dalam galbu maupun lisan Para Kutub tersebut. Itulah mengapa pasal ini terhubung dengan Nama Allah Al-Mutakallim. Kehadiran Alquran Al-Azim.


Pada bab 366 Syaikh Ibn “Arabi ra. mengatakan: 

“Semua yang kami katakan, baik dalam setiap majelis atau buku-buku yang kususun, adalah berasal dari kehadiran Alquran dan khazanah-khazanahnya. Aku diberi kunci untuk memahami tentangnya dan mendapat bantuan darinya. Demikianlah, hingga tiada sedikit pun kami keluar darinya. Dan ini adalah pemberian yang paling luhur, yang tidak akan bisa diketahui kadarnya kecuali oleh mereka yang pernah merasakannya dan menyaksikan manzilahnya secara langsung dari dirinya, dan melaluinya Al-Hagg berbicara kepadanya di dalam sirr-Nya” (VI 61.18).
Dari semua kitab-kitab Syaikh yang berlandaskan pada Alquran, al-Futuhat al-Makkiyyah berada pada urutan teratas. Seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya bahwa bab-bab pada pasal keempat merujuk kepada surah-surah Alquran, satu surah untuk masing-masing bab. Begitu juga dengan setiap munazalah dari bab-bab pasal kelima yang menyiratkan satu ayat dari satu surah tertentu. Wirid-wirid sekaligus magam-magam Para Kutub pada pasal keenam adalah ayat-ayat Alquran. Sama halnya dengan setiap hal dan manzilah pada pasal kedua dan ketiga, semuanya bersandar kepada ayat-ayat Alquran yang disebutkan pada masing-masing bab. Setiap bab tentang ma'rifah pada pasal pertama juga memiliki munasabah dengan surah tertentu, seperti bab 22 tentang “Marifah Manzilah Para Manzilah” yang memiliki munasabah dengan surah Al-Hijr, atau bab 27 yang terhubung dengan surah An-Nur.

Dengan mengetahui kunci-kunci isyarat Our'ani yang ada di dalam Futuhat, kita akan melihat bahwa kitab ini memiliki struktur yang sangat baik, indah dan sempurna, hampir sama seperti struktur Al-9ur'an Al-'Azim. Semua ini menjadi penguat untuk pengakuan Syaikh Akbar bahwa susunan kitab ini hanyalah berasal dari ilham Ilahi. Beliau mengatakan di bab 88:

“Allahlah yang menentukan susunan kitab ini melalui tangan kami, maka kami meninggalkannya sebagaimana adanya dan tidak memasukkan sedikit pun pandangan atau pendapat kami” (III 245.26).
Beliau juga berkata pada bab 373:
“Demi Allah! Aku tidak menulis satu huruf pun dari kitab ini kecuali setelah adanya dikte Ilahi dan pelontaran Rabbani atau hembusan ruhani ke dalam galbu wujudku. Ini terjadi dalam semua perkara, meskipun kami bukanlah seorang rasul atau nabi yang membawa syariat... Tetapi itu semua adalah ilmu, hikmah dan pemahaman yang berasaldari Allah mengenai apa yang Ia syariatkan melalui lisan para rasul dan nabi-Nya—semoga keselamatan terlimpah atas mereka!—serta huruf-huruf alam semesta dan kalimah-kalimah Al-Hagg yang Ia goreskan dan tuliskan dalam lauh wujud. Semua ini kami sampaikan agar tidak ada yang membayangkan bahwa aku dan orang-orang sepertiku akan mengklaim kenabian. Tidak! Demi Allah! Yang tersisa bagi kita hanyalah mimpi atau visi yang benar (mubasysyirat) dan suluk yang berjalan di atas landasan jalan Nabi Muhammad Saw.” (VI 233.26).
Kehadiran Huruf-huruf dan Angka-angkanya

Huruf-huruf Alquran menjadi seperti susunan batu bata yang menyusun setiap kata dari ayat-ayat Kalam Allah Swt. dalam Alquran. Selain itu, sifat dan karakteristik huruf-huruf tersebut menyerupai tajalli-tajalli pelbagai hakikat kehadiran Ilahi, dan ia memiliki lokus manifestasi di ufuk dan cakrawala alam jadian serta menjadi ibarat untuk urutan level-level eksistensi. Terutama di alam insani yang tercipta berdasarkan “Citra” Ar-Rahman, dan lebih khusus lagi dalam lingkaran wilayah kewalian yang dijabarkan oleh Syaikh pada bab 2, 73 dan 198.


Setiap eksisten yang tercipta selain Allah—yang tiada lain adalah lokus-lokus manifestasi “kalimah-kalimah Allah yang tak kan pernah ada habisnya” —memiliki pertalian erat dengan huruf-huruf yang terkait dengannya dan level eksistensinya. Sifat dan karakteristik eksisten tersebut mengambil sifat dan karakteristik huruf-huruf dalam lokus manifestasinya di alam lafal, intelektual dan tulisan. Dari sinilah Syaikh melihat urgensitas ilmu tentang rahasia-rahasia huruf dan keterkaitannya dengan angka-angka yang melambangkan harmoni dan keselarasan eksistensi. Isyarat tentang angka dan bilangan banyak mendapat ruang dan sering kali muncul menghiasi kitab ini. Sampai-sampai jumlah bait dalam setiap syair yang mengawali setiap bab atau bahkan nomor bab itu sendiri juga menyimpan isyarat tersendiri.


___
Sumber: Al-Futuhat al-Makkiyah: Risalah tentang Ma‘rifah Rahasia-Rahasia Sang Raja dan Kerajaan-Nya Ibn Arabi, Penerjemah: Harun Nur Rosyid dari Al-Futūḥāt Al-Makkiyyah karya Muḥyiddīn Ibn Al-‘Arabī ra., Darul Futuhat, Yogyakarta, 2017.

ADMIN

BACA JUGA