YURISTGAMEINIGAMEID101

HAYY IBN YAGZHAN: IBNU THUFAIL VS IBNU SINA

Hayy ibn Yagzhan: Ibnu Thufail vs Ibnu Sina

Ahmad Amin pernah menunjukkan kepada kita beberapa kisah Hayy ibn Yagzhan lainnya yang ditulis oleh Ibnu Sina dan para filsuf yang lain? Ibn Sina mempunyai dua buah roman yang keduanya memiliki judul dan penamaan tokoh yang serupa—atau mendekati— dengan roman Ibn Thutfail ini. Yang pertama berjudul Hayy ibn Yagzhan, dan yang kedua berjudul Salaman wa Absal

Roman pertama Ibnu Sina sama persis dengan roman Ibnu Thufail dalam mengilustrasikan perjalanan manusia menuju pengetahuan sejati dengan perantaraan inderanya. Dalam roman itu, Ibnu Sina menggambarkan sosok Hayy ibn Yagzhan sebagai seorang kakek bijak mengagumkan yang memperoleh pengetahuan luar biasa dari pengalaman dan pengembaraannya.

Sedangkan roman yang kedua sudah hilang tak terlacak. Keterangan yang bisa ditemukan menyangkut roman Salaman wa Absal hanyalah catatan ringkasannya yang ditulis oleh Abu 'Ubaid. Melalui Ubaid inilah kita bisa mengetahui bahwa Salaman dan Absal adalah dua saudara kandung. Roman kedua Ibnu Sina ini sangat jauh berbeda dari roman pertamanya, ataupun dari roman Hayy ibn Yagzhan karya Ibnu Thufail. Roman ini berkisah seputar apa yang saat ini kita kenal dengan nama kisah cinta, godaan, dan pengkhianatan. Kemiripan nama-nama tokohnya, dengan demikian, tidak serta-merta menunjukkan kemiripan dan kesamaan tema. Nama “Salaman” dan “Absal” juga dipakai sebagai nama tokoh utama sebuah roman yang diterjemahkan oleh Hunain ibn Ishag dari kisah Yunani, meskipun sosok “Absal” di sini adalah seorang wanita.

Kisah inilah yang diringkas oleh Dr. Umar Farukh dalam buku berjudul Ibnu Thutail wa Oishshah Hayy ibn Yagzhan (Beirut: 1946) dan Dr. Muhammad Ghanimi Hilal dalam karya termasyhurnya tentang perbandingan sastra berjudul "An al-Adab al-Mugaran" (Kairo: Maktabah al-Anjlu al-Mishriyyah, 1962). Kemiripan judul dan nama Ini, yang pasti, tidak mengindikasikan keterkaitan substansi masing-masing roman tersebut satu sama lain. Persoalan inilah yang diserukan Abbas Mahmood Aggad untuk dicermati.

Dalam kajiannya tentang roman Hayy ibn Yagzhan yang dimuat dalam sebuah bunga rampai berjudul Buhits ff a-Adab wa al-Lughah (Kairo: Dar “Kisah Hayy ibn Yagzhan, sesungguhnya, berhubungan dengan jagat susastra negeri-negeri utama-utopis. Kisah ini merupakan penjelajahan intelektual dan pengembaraan imajinasi yang sebenarnya sudah dimulai di Dunia Islam bagian Timur, lalu berpindah ke bagian Barat Dunia Islam dalam satu lintas generasi.

Penjelajahan dan pengembaraan itu telah diawali sebelumnya dengan utopia yang dilukiskan oleh al-Farabi dalam capaian kesimpulan tentang al-Madinah al-Fadhilah (Negeri Utama). “Pengembaraan kosmik” al-Farabi ini kemudian diteruskan oleh Abu al-Ala' al-Ma'arri dalam risalahnya yang berjudul Risalah al-Ghufran. Melalui risalahnya ini, Abu al-Ala' al-Ma'arri membuka pintu jagat utopia itu dalam dunia sastra abad pertengahan.

Barangkali, utopia itu merupakan sebuah fenomena yang penyebabnya selalu terulang di Dunia Islam maupun di Dunia Barat secara berurutan menurut konteks dan latar belakang masing-masing. Barangkali utopia itu adalah fenomena kegelisahan dan ketidakpuasan terhadap dunia beserta isinya di kala para filsuf agung itu merasa sendirian dalam ketergugahan intelektual maupun dalam kecemasan sosial-politik mereka.

Kecemasan seperti inilah yang dialami Abu al-'Ala' al-Ma'arri dan melatarinya memunculkan upaya-upaya pencarian “surga yang hilang”, sebuah dunia lain, sebuah utopia sosial di kalangan bangsa Eropa ketika mereka — dihadapkan pada faktor dan tren yang pernah dialami bangsa Arab. Muncullah Dante (1265 -1321) dengan La Divina Commedia (1307) yang mengadaptasi al-Ma'arri dan Ibnu 'Arabi. Kemudian Hayy ibn Yagzhan pun muncul di Inggris setelah John Milton (1608 - 1674) membaca puisi Dante, menelaah latar utopia bangsa Arab di penghujung abad pertengahan, dan menulis Paradise Lost (1667).

Utopia itu adalah fenomena kegelisahan dan ketidakpuasan akan kehidupan dunia seperti dicerap oleh para filsuf Muslim pada abad ke-11 dan 12 Masehi. Tidak sampai satu atau dua abad setelahnya, fenomena itu muncul di Eropa dengan pemicu yang sama. Segenap pemikiran dan intuisi — bangsa Eropa pun tercurah dalam pencarian surga-surga yang hilang, dunia-dunia lain, dan utopia-utopia idaman. Kalaulah bukan karena tren materialisme yang melanda abad modern, niscaya Kegelisahan akan kehidupan dunia ini akan meninggalkan pengaruh kuat, sebagaimana pengaruh materialisme pada zaman sekarang.

Namun, pengaruh materialisme itu beralih orientasi yang justru semakin menambah utopia di muka bumi, tidak membawa ke puncak kehidupan, dan tidak mencapai apa-apa selain nihilisme selama tidak dituntun nurani dan kerinduan pada dunia
meta-transcendental.


Sumber: Hayy ibn Yagzhan, Ibnu Thufail, Penerjemah: Dahyal Afkar, Menara, Bekasi, 2006

ADMIN

BACA JUGA