YURISTGAMEINIGAMEID101

KAMUSUFI


ARIF. Al-'Arif adalah orang yang dipersaksikan terhadap dirinya oleh Allah dari segi Nama-Nya Ar-Rabb, bukan Nama yang lain. Melalui penyaksian itu muncul dalam dirinya beragam keadaan-keadaan (ahwal) ruhani. Beragam ahwal dalam diri “Arif tersebut disebut dengan marifah.



ASAR (j. ASAR). Secara literal memiliki tiga makna: (1) hasil dari sesuatu (natijah): (2) bagian dari sesuatu (juz”): (4) tanda, bekasan, jejak, pengaruh, efek, dampak, kesan dan peninggalan ('alamah). Menurut Syaikh Ibn “Arabi ra., asar adalah apa yang dihasilkan dari pergerakan “sesuatu yang memberi bekasan” (muassir) terhadap “sesuatu yang diberi bekasan” (muassar fih), atau subjek aktif (fa'il) terhadap subjek pasif (munfa'il).

AYN. Kata ini memiliki banyak sekali makna nonteknis, yang paling sering dipakai di sini adalah “mata” dan ungkapan “identik dengan”. Dari segi makna teknisnya bisa diartikan sebagai “entitas” atau segala sesuatu yang memiliki wujud aktual, baik yang di dalam kosmos (makhluk dan segala sesuatu selain Allah) atau di luarnya (Zat Allah yang dinamai dengan Nama-nama). Istilah ini menunjukkan pada spesifikasi, ciri khas dan petunjuk akan sesuatu. Yang membedakan satu hal dengan hal yang lain adalah “entitas” -nya.

BARZAKH. Secara literal berarti segala sesuatu yang memisahkan antara dua hal. Barzakh adalah sesuatu yang memisahkan dua benda yang berlainan tanpa pernah menuju ke salah satu dari kedua benda tersebut, seperti halnya garis yang memisahkan bayang-bayang dari sinar matahari. Firman Allah Swt.: “Dia biarkan dua lautan itu bertemu. Di antara keduanya terdapat pembatas (barzakh) yang tidak bisa dilampaui oleh masing-masing” (OS. 55:19). Jika terdapat dua benda yang saling berdampingan, maka pasti terdapat sebuah barzakh yang bukan salah satu dari kedua benda tersebut namun memiliki kekuatan keduanya. Alam Barzakh adalah alam yang berada di antara alam ruh atau makna-makna dan alam jasmani.


FALAK (j. AFLAK). Orbit atau sirkuit, yaitu sebuah jalur berbentuk lingkaran yang dilalui oleh benda-benda langit dalam peredarannya mengelilingi benda langit lain. Jika dinisbahkan kepada selain benda-benda langit, orbit adalah pergerakan sesuatu dalam bentuk lingkaran, baik secara indrawi atau maknawi, dalam rangka mengelilingi segala sesuatu yang terhubung dengannya.

FALAK AL-BURUJ. Orbit Zodiak, yakni orbit pertama di alam jasmani. Allah menjadikannya sebagai tempat untuk 12 malaikat zodiak. Nama lainnya adalah: (1) Al-Falak Al-Adna (Orbit Terendah) jika dibandingkan dengan orbit-orbit cahaya tertinggi seperti “Arsy dan Tubuh Universal: (2) Al-Falak Al-Agsa (Orbit Terjauh) jika dibandingkan dengan orbit-orbit jasmani lain seperti orbit planet-planet dan bintang-bintang: (3) Al-Falak Al-Muhit (Orbit Peliput) karena ia adalah orbit jasmani terluar dan terbesar yang meliputi orbit bintang-bintang, (4) Al-Falak Al-Atlas (Orbit Tak Berbintang/Isotropik) karena tidak terdapat satu pun bintang di dalamnya dan ia memiliki sifat fisik yang sama di segala arahnya.

HAL (j. AHWAIL). Dalam pengertian umum berarti keadaan, status, situasi dan kondisi, baik ruhani maupun jasmani. Secara teknis berarti segala sesuatu yang datang kepada kalbu tanpa disengaja atau diundang. Ketika dikontraskan dengan magam, hal adalah setiap sifat yang kita disifati dengannya pada waktu tertentu tetapi tidak di waktu yang lain, seperti mabuk (sukr), keterhapusan (mahw), ketidakhadiran diri (gaybah) dan ridla (rida): atau setiap sifat yang terjadi karena satu syarat tertentu dan akan hilang ketika syarat tersebut hilang, seperti bersabar terhadap ujian dan bersyukur terhadap nikmat.

HAQIQAH. Hakikat atau realitas dari segala sesuatu. Kata hagigah juga terkadang bersinonim dengan kata 'ayn (entitas), seperti dalamungkapan, “Wajah sesuatu adalah hagigah dan “ayn-nya.” Hakikat sesuatu adalah apa dan bagaimana sesuatu tersebut sebagaimana yang diketahui oleh Allah (entitas sesuatu itu di dalam Ilmu Allah). Hakikat adalah dimensi yang nonmanifes dari sesuatu yang terlihat. Hakikat benda eksisten bukanlah apa yang kita lihat secara fisik, tetapi “entitas tetapnya” yang hanya dapat dilihat oleh Allah dan para wali-Nya. Kata hagigah terkadang juga dipakai untuk menunjuk pada Nama-nama Allah yang menjadi pola dasar segala sesuatu. “Hakikat” dari ilmu manusia adalah Nama Ilahi Al-'Alim (Maha Berilmu), hakikat kehidupan kosmis adalah Nama Ilahi Al-Hayy (Maha Hidup), dan seterusnya. Terkadang Syaikh juga memakai kata hagigah dalam makna yang sama dengan kata hagg.


HAQQ dan AL-HAQQ. Kata hagg tanpa artikel definitif (al-) berarti segala sesuatu yang nyata atau benar adanya, sedangkan Al-Haqq dengan al-adalah Allah Swt. Yang Maha Nyata/Benar. Hagg tanpa al- menunjukkan pada segala macam bentuk manifestasi Al-Haqq. Ungkapan dari hadits Rasulullah Saw., “Setiap hagg memiliki hagigah” berarti segala sesuatu yang memanifestasi dari Al-Haqq pasti memiliki hakikat.


HIMMAH. Kepenghadapan (tawajjuh) kalbu beserta segala maksud tujuannya dengan seluruh kekuatan ruhaninya hanya kepada Al-Haqq demi mencapai kesempurnaan bagi dirinya atau selain dirinya. Himmah bisa dicapai melalui pelepasan kalbu dari keinginan, ketulusan yang terbaik dari seorang murid atau menyatukan segala keinginan dengan ilham yang bersih dan suci.


KASYF. Dari segi bahasa berarti tersingkapnya hijab. Dari segi istilah berarti diperlihatkannya makna-makna gaib dan perkara-perkara hakikat yang ada di balik hijab, baik secara penemuan wujudi maupun penyaksian.


KHALWAT. Percakapan antara sirr seorang hamba dengan Al-Haqq yang tidak ada satu orang pun atau satu malaikat pun yang mengetahuinya. Dalam percakapan itu terdapat rahasia-rahasia antara hamba dan Al-Haqq yang tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh dua malaikat

pencatat amal.

KHATIR (j. KHAWATIR). Bisikan yang muncul dalam hati dengan tanpa disengaja. Bisikan tersebut terbagi menjadi empat: (1) Rabbani, yaitu khawatir yang muncul pertama kali. Khawatir seperti ini tidak pernah salah. Dapat dikenali melalui kekuatan dan pengaruhnya yang membuat orang yang bersangkutan tidak kuasa menolaknya, (2) malaikati, yaitu setiap khatir yang mendorong untuk melakukan amalan-amalan sunnah maupun fardlu, (3) nafsani, yaitu khatir yang melibatkan nafsu/ diri orang yang bersangkutan: (4) syaitani, yaitu khatir yang mendorong untuk melakukan kemungkaran.


MANZIL (MANZILAH) dan MUNAZALAH: Secara harfiah manzil berarti tempat turun (nuziil), terminal atau stasiun. Manzil (manzilah) adalah sebuah magam yang di dalamnya Allah turun kepada (nazala ila) hamba atau hamba turun menuju (nazala 'ala) Allah. Mungzalah adalah ketika Allah berkehendak untuk turun kepada hamba dan menempatkan dalam kalbu hamba sebuah tuntutan untuk turun menuju Allah. Kemudian bergeraklah himmah hamba dengan gerakan yang bersifat ruhani dan lembut untuk turun menuju Allah, sehingga berhimpunlah hamba dengan-Nya di antara kedua penurunan (nuzil) tersebut. Yaitu penurunan hamba menuju Allah sebelum ia mencapai sebuah manzilah dan penurunan Allah kepada hamba berupa kepenghadapan sebuah Nama Ilahi sebelum Dia sampai kepada sebuah manzilah. Terjadinya perhimpunan (ijtima') di luar kedua manzilah itulah yang disebut dengan munazalah.


MAQAM (j. MAQAMAT). Secara harfiah berarti tempat berpijak (mawdi' al-gadamayn). Secara teknis magam adalah memenuhi hak-hak atau menahkik sebuah kualitas ruhani secara sempurna. Jika seseorang belum bisa memenuhi hak atau menahkik manzilah-manzilah yang ada pada kualitas ruhani tersebut, ia tidak diperbolehkan naik menuju kualitas yang lebih tinggi. Seperti jika seseorang belum menahkik dengan sempurna sifat gana'ah hingga ia benar-benar memilikinya, maka ia belum bisa naik menuju tawakal. Jika seseorang belum menahkik dengan sempurna sifat tawakal, maka ia belum bisa naik menuju kepasrahan, dan seterusnya. Jika dibandingkan dengan hal, karakteristik magam adalah setiap sifat yang mengharuskan adanya kepermanenan (rusiikh) di dalamnya dan tidak diperbolehkan untuk berpindah darinya.


MA'RIFAH. Pemahaman akan sesuatu sebagaimana mestinya. Ma'rifah selalu didahului oleh ketidaktahuan, berbeda dengan ilmu. Oleh karena itu, Al-Haqq hanya memiliki nama Al-'Alim tetapi tidak memiliki nama Al-'Arif dalam Nama-nama Terindah-Nya. Ma'rifah adalah beragam ahwal ruhani yang terjadi dalam diri seorang “Arif.


MASYHAD. Lokus penyaksian atau tempat/objek yang disaksikan melalui musyahadah. Masyhad juga bersinonim dengan kehadiran (hudir).


MAWTIN. Secara harfiah berarti tempat tinggal atau tanah air. Bersinonim dengan kata “maskan” (rumah atau domisili) dan terkadang dikontraskan dengan kata “manzil” (tempat turun, terminal atau stasiun). Sebuah manzil disebut manzil (tempat turun) karena saat itu seseorang turun di dalamnya. Tetapi jika ia menetap di dalamnya dan tidak berpindah maka inilah yang disebut dengan “mautin” karena seseorang menetap di sana, atau “maskan” karena seseorang merasa puas di sana dan tidak hendak berpindah ke manzil yang lain.


MIZAJ (KOMBINASI TABIAT). Berasal dari kata m-z-j yang berarti mencampur. Mizaj adalah kombinasi tabiat-tabiat yang mendasari susunan jasmani. Kedokteran terdahulu meyakini mizaj adalah kombinasi yang paling mendominasi dari 4 cairan tubuh, yaitu darah, empedu kuning, empedu hitam dan lendir yang mempengaruhi temperamen manusia. Syaikh memakai istilah ini secara khusus untuk menunjukkan perpaduan tabiat, seperti dingin kering, dingin basah, panas basah dan panas kering. Meskipun berasal dari kata dasar yang sama, mizaj berbeda dengan imtizaj. Imtizaj adalah percampuran zat-zat, apa pun itu, untuk menghasilkan satu zat baru, sedangkan mizaj hanya dikhususkan untuk percampuran tabiat (IV 127.18).

MUHAQQIQ. Kategori tertinggi dari para wali Allah. Mereka tidak bertaklid kepada siapa pun, karena mereka telah memverifikasi (tahgig) dan merealisasi (tahaggug) kebenaran (hagg) dan hakikat (hagigah) segala sesuatu melalui kasyf dan wujiid (penemuan).

MUSYAHADAH. Penyaksian secara langsung. Bersinonim dengan kasyf dan mukasyafah tetapi dalam artian yang lebih luas, karena musyahadah dapat terjadi melalui mata lahir maupun mata batin. Musyahadah adalah melihat benda-benda melalui bukti-bukti tauhid (menyaksikan makhluk dalam Al-Haqq), atau melihat Al-Haqq dalam segala sesuatu (menyaksikan Al-Haqq dalam makhluk), atau keyakinan yang hakiki dengan tanpa keraguan (menyaksikan Al-Haqq tanpa makhluk). Musyahadah datang setelah mukasyafah, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa mukasyafah datang setelah musyahadah.


POSIBILITAS (IMKAN) dan BENDA MUNGKIN: Yaitu posibilitas eksistensi segala sesuatu selain Allah jika dibandingkan dengan Eksistensi Allah yang bersifat pasti dan wajib (Wajib Al-Wujud). Segala sesuatu selain Allah memiliki keterkaitan yang sama kepada eksistensi dan non-eksistensi. Mereka dapat ada dan dapat pula tidak ada di dalam kosmos. Dari sudut pandang ini, segala sesuatu selain Allah disebut “posibilitas” (imkan) atau benda mungkin (mumkin j. mumkinat).


RAQIQAH (j. RAGA'IQ): Secara literal berarti “sesuatu yang tipis, lembut atau sangat halus”. Syaikh memakai kata ragigah untuk menggambarkan sebuah bentuk atau keterkaitan lembut bersifat ruhani yang menjadi penengah yang menghubungkan dan mengikat antara dua level eksistensi yang berbeda. Contoh, pertolongan (madad) dari Al-Haqq yang sampai kepada hamba disebut ragigah an-nuziil (ragigah penurunan): wasilah atau perantara berupa ilmu, amal atau akhlak mulia yang melaluinya hamba bisa mendekatkan diri kepada Al-Haqq disebut ragigah ar-ruji' (ragigah pengembalian) atau ragigah al-irtiga” (ragigah pendakian). Dalam pengertian secara umum pada tarekat dan suluk, raga'ig adalah segala sesuatu yang bisa melembutkan sirr seorang hamba dan menghilangkan kerasnya jiwa.


SALIK (SALIK). Orang yang berjalan melintasi magam-magam dengan halnya, bukan hanya dengan ilmunya. Ilmu yang ada dalam dirinya menjadi “mata” yang ia pakai sebagai petunjuk di jalan Allah, sehingga ia berjalan (salaka) berdasarkan penglihatan batin (basirah) dan huda.


SIRR. Dari segi bahasa berarti rahasia atau misteri (j. asrar). Sirr Juga bisa diartikan sebagai inti sari (khalis), asal/pokok (asl) dan bagian dalam (jawf) sesuatu. Kata “sirr al-hayah” berarti asal kehidupan. Sirr seseorang adalah kesadarannya yang paling dalam. Ungkapan “tidak ada yang bisa mencintai Al-Haqq kecuali Al-Haqq, tidak ada yang bisa mencari Al-Hagg kecuali Al-Haqq dan tidak ada yang bisa mengetahui Al-Haqq kecuali Al-Haqq” menunjukkan kepada sirr yang berasal dari Al-Haqq yang menemani hamba dengan corak/wajah (wajh) yang diketahui oleh hamba tersebut. Sirr inilah yang mencari, mencintai dan mengetahui Al-Haqq.


TAJALLI. Berasal dari kata “tajalla” yang berarti tampak, terbuka dan menjadi terang. Dalam dunia Islam tradisional, mempelai putri dijadikan tetap terkerudungi dari suaminya hingga malam perkawinan. Lalu datanglah saat jilwah (penyingkapan kerudung mempelai). Dari akar

kata yang sama, kita menemukan kata tajalli (penampakan diri) yang kemudian diartikan “Allah memperlihatkan Diri-Nya kepada makhluk.” Tajalli adalah cahaya-cahaya gaib yang ditampakkan dalam kalbu.

TAHQIQ (TAHKIK). Proses realisasi, verifikasi dan memastikan sebuah masalah berdasarkan dalil-dalilnya. Tahgig bagi Para Muhaggig adalah menyaksikan Al-Haqq dalam bentuk-bentuk Nama-nama-Nya yang ada pada benda-benda jadian, hal itu membuat seorang Muhaggig tidak pernah terhijab oleh Al-Haqq dari makhluk atau oleh makhluk dari Al-Haqq.


TABPAH (TABIAT). Berasal dari kata tab' yang berarti “cetakan”. Tabrah adalah sebuah domain yang menerima bekasan “cetakan” dari domain-domain spiritual. Tabiat ada empat: dingin, panas, basah dan kering. Dingin dan panas bersifat aktif, sementara basah dan kering bersifat pasif karena dihasilkan dari dua tabiat pertama. Dari perpaduan keempat tabiat ini terlahir empat unsur (“unsur j. 'anasir) atau elemen/rukun (ruknj.arkan), yaitu tanah, air, api dan udara.

TANZIH (TRANSENDENSI). Tanzih berasal dari akar kata n-z-h, yang berarti “jauh dari, tak tersentuh oleh, dan terbebas dari”. Tanzih adalah mengakui dan mengafirmasi bahwa sesuatu jauh atau terbebas dari sesuatu yang lain. Berkenaan dengan Allah, tanzih adalah mengakui bahwa bahwa Zat Allah tidak dapat dinilai, diukur, ataupun diketahui oleh makhluk apa pun dan melampaui sifat apa pun yang dimiliki oleh makhluk-Nya.

TASYBIH (PENYERUPAAN). Tasybih berakar dari sy-b-h, yang berarti serupa atau sebanding. Tasybih adalah mengakui atau mengafirmasi bahwa sesuatu serupa dengan sesuatu yang lain. Berkenaan dengan Allah, tasybih adalah berpendapat bahwa terdapat suatu keserupaan tertentu antara Allah dan makhluk, Allah sebagai pemilik Nama-nama telah menyusun pelbagai keterkaitan tertentu dengan benda-benda, dan bahwa keterkaitan-keterkaitan tersebut dapat diketahui dan dapat dinilai dalam suatu derajat tertentu.

WARID. Setiap bersitan, lintasan atau bisikan mulia yang mendatangi kalbu tanpa usaha, atau setiap perkara yang memasuki kalbu dari sebuah Nama Ilahi. Terkadang warid-warid tersebut bisa membuahkan haqqul yakin bagi orang yang menerimanya.

ADMIN

BACA JUGA