YURISTGAMEINIGAMEID101

KITAB AL-FUTUHAT AL-MAKKIYYAH IBN ARABI

KITAB AL-FUTUHAT AL-MAKKIYYAH IBN ARABI

Di antara karamah yang paling nyata dari Syaikh Ibn “Arabi ra. adalah karya tulis beliau. Dr. Osman Yahia memperkirakan dalam klasifikasinya terhadap karya-karya Syaikh, Histoire et classification de Voeuvre d'ibn Arabi, bahwa beliau telah menulis 700-an buku, risalah, serta berbagai kumpulan puisi, dan 400 buah di antaranya masih ada hingga sekarang. Dari ratusan karya itu, buku yang yang terbesar, terlengkap dan terpanjang adalah Al-Futuhat al-Makkiyyah. Sebuah ensiklopedi ilmu-lmu keislaman dalam konteks tauhid sebagai inti dari ajaran Islam.


Dalam kitab ini Syaikh Ibn Arabi ra. membicarakan dengan sangat mendetail mengenai Alquran, hadits, berbagai peristiwa dalam kehidupan Rasul, aturan-aturan mendetail dari syariat, prinsip-prinsip fikih, Nama-nama dan Sifat-sifat Ilahi, keterkaitan antara Allah dan alam semesta, struktur kosmos, penciptaan manusia, berbagai macam tipe manusia, tingkatan-tingkatan para wali, jalan untuk meraih keparipurnaan manusia, fase-fase di dalam mi'raj menuju Allah, berbagai peringkat dan macam malaikat, alam jin, karakteristik ruang dan waktu, simbol huruf-huruf, sifat alam penengah antara kematian dan hari kiamat, status ontologis dari surga dan neraka, dan lain sebagainya. Keseluruhan daftar babnya dalam terjemahan ini bisa mencapai 40 halaman.


William C. Chittick dalam pendahuluan karyanya The Sufi Path of Knowledge, sebuah rangkuman dari doktrin-doktrin metafisika Syaikh Ibn Arabi ra., mendeskripsikan bahwa dalam perbendaharaan kata Asy-Syaikh Al-Akbar, kata “futuh” (keterbukaan)—bentuk tunggal dari kata “futuhat” —adalah sebuah sinonim dekat untuk beberapa istilah yang lain seperti kasyf (ketersingkapan), zawg (merasakan langsung), musyahadah (penyaksian), alfayd alilahi (limpahan Ilahi), tajalli (penampakan diri) dan basirah (penglihatan batin). 


Setiap dari kata-kata ini menunjukkan sebuah mode dalam memperoleh ilmu mengenai Allah dan alam-alam gaib secara langsung tanpa melalui perantara belajar, guru, ataupun kekuatan akal. Allah Swt. “membukakan” kalbu untuk dapat mencerap ilmu. Kata “keterbukaan” di sini menunjukkan bahwa tipe ilmu seperti ini datang secara tiba-tiba kepada seseorang yang memiliki himmah atau kemauan yang sangat kuat, setelah menunggu dengan sabar dan penuh perhatian di depan pintu Tuhannya. Pencapaian ilmu semacam ini tidak melibatkan adanya usaha, penelitian maupun pencarian. “Keterbukaan”adalah tipe ilmu yang diberikan kepada para nabi (meskipun tidak harus berupa kitab suci) dan para wali. Mereka menerimanya secara langsung dari Allah tanpa penyelidikan akal maupun pengamatan pikiran.


Kata kedua dari judul kitab ini adalah sebuah kata sifat “al-makkiyyah”. Huruf ya yang di-tasydid di akhir kata berfungsi menunjukkan penisbahan sifat tertentu atau tempat di mana sesuatu berasal. Dengan demikian, kata “al-makkiyyah” di sini bisa diartikan “yang terjadi di Mekkah” atau “yang bersifat Mekkah”. Syaikh Ibn “Arabi ra. menjelaskan bahwa futuh-futuh khusus yang menyusun seluruh isi kitab ini dimulai sejak perjalanan beliau menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada tahun 598/1202.


Beliau memulai penulisan kitab ini pada tahun berikutnya dan belum menyelesaikannya hingga setelah menetap di Damaskus tiga puluh tahun kemudian pada tahun 629/1231. Sebagian besar dari apa yang beliau catat dalam kitab ini adalah segala sesuatu yang dibukakan Allah untuk beliau selama melakukan tawaf di sekeliling Rumah Allah (Baytullah) atau ketika sedang duduk ber-muraqabah dengan-Nya di Tempat Suci-Nya (haram).


Penjelasan ini menyiratkan bahwa kitab ini adalah catatan tentang futuh-futuh beliau yang terjadi di Mekkah atau bersifat seperti Mekkah sebagai Tempat Suci dan Rumah Allah.


__
Sumber: Al-Futuhat al-Makkiyah: Risalah tentang Ma‘rifah Rahasia-Rahasia Sang Raja dan Kerajaan-Nya Ibn Arabi, Penerjemah: Harun Nur Rosyid dari Al-Futūḥāt Al-Makkiyyah karya Muḥyiddīn Ibn Al-‘Arabī ra., Darul Futuhat, Yogyakarta, 2017.

ADMIN

BACA JUGA