YURISTGAMEINIGAMEID101

KUNCI-KUNCI UNTUK MEMAHAMI AJARAN IBN ARABI



KUNCI-KUNCI UNTUK MEMAHAMI AJARAN IBN ARABI

Selain ratusan kitab karangan ulama-ulama terkenal yang berbicara tentang ajaran Syaikh Akbar dengan nada positif, tidak sedikit juga terdapat kitab-kitab bernada negatif yang menentang dan sepenuhnya menganggap ajaran-ajaran beliau salah dan keliru. “Abd Al-Bagi Miftah dalam kitab yang sama mengemukakan dua sebab yang mendasari sikap sedemikian:

Yang pertama adalah lemahnya daya dan kapasitas ilmiah untuk mendedah tulisan-tulisan Syaikh Ibn “Arabi ra., karena tulisan-tulisan beliau bagaikan sekumpulan enigma dan misteri yang diselimuti kabut. Penuh dengan ungkapan-ungkapan paradoksal dan teka-teki yang sulit dipecahkan.

Sebab kedua adalah lemahnya daya dan kapasitas spiritual ruhani yang mengakibatkan pemahaman yang salah terhadap apa yang disampaikan Syaikh. Terkadang disebabkan oleh wawasan dan pemahaman yang sempit, bisa juga karena ketidakmampuan dan keengganan untuk melepas pola pikir dan doktrin-doktrin yang sudah terlanjur mengakar dalam diri, atau terkadang karena niat yang salah dan fanatisme berlebihan.

Lemahnya daya intelektual dan spiritual tersebut disebabkan karena tidak adanya kunci-kunci yang lazim harus dimiliki untuk memasuki ekstensivitas medan pembahasan Syaikh yang luas tak bertepi. Jika seseorang memiliki kunci-kunci tersebut, akan terbuka baginya gerbang-gerbang simpanan harta karun irfani yang melimpah dan tiada habisnya. Kunci-kunci pembuka yang berkenaan dengan daya dan kapasitas intelektual secara ringkas terbagi menjadi enam hal:

1. Penguasaan bahasa Arab yang mumpuni. Bukan hanya sekedar penguasaan secara umum tentang nahwu, shorof, uslub-uslub balagah dan pengertian beragam dari sebuah kata atau klasifikasi fungsi-fungsi huruf, tetapi juga pengetahuan yang matang terhadap terminologi bahasa Arab khusus yang terkait dengan tasawuf serta isyarat dan rumus-rumusnya. Tanpa pemahaman mendalam tentang hal tersebut, tulisan-tulisan Syaikh akan tetap menjadi sebuah misteri yang tak terkuak, atau bisa dipahami namun dengan pemahaman yang salah.

2. Kunci kedua adalah kunci terpenting dalam memahami ajaran Syaikh, yaitu pengetahuan yang mengakar kuat tentang Al-0ur'an, baik dari segi hafalan maupun pemahaman. Semua kitab Syaikh Akbar tidak mungkin bisa dipahami dengan benar dan mendalam kecuali dengan memahami kunci-kunci dan asas-asas Our'ani yang tersembunyi di balik tulisan-tulisan beliau. Tidak hanya pemahaman dari segi bahasa, fikih atau tafsir bil-ma'sir, tetapi juga pemahaman dari segi isyarat irfani dan tasawuf.

3. Pengetahuan tentang hadits-hadits nabawi dan hukum-hukum syariat, karena banyak dari tulisan-tulisan beliau, baik secara eksplisit maupun implisit, adalah sebuah apendiks atau penjelasan tentang hadits-hadits nabawi dan aturan-aturan syari'at.

4, Pengetahuan tentang ilmu falak dan astrologi kuno, karena banyak dari tulisan Syaikh yang tidak mungkin bisa dipahami tanpa pengetahuan ini. Korelasi antara pergerakan bintang-bintang dan susunan alam dengan pergerakan manusia di bumi adalah salah satu tema sentral tulisan Syaikh yang mengharuskan pemahaman lebih lanjut mengenai ilmu ini.

5. Pengetahuan tentang angka dan bilangan huruf-huruf Arab beserta rumus-rumusnya, juga apa saja manzilah-manzilah perbintangan yang terkait dengannya. Terdapat ratusan tulisan maupun catatan Syaikh di sepanjang kitab-kitab beliau yang terkait dengan hal ini.

6. Pemahaman tentang terminologi filsafat dan ilmu kalam. Sering kali Syaikh memakai istilah yang hanya dipahami oleh mereka yang terbiasa dengan terma-terma filsafat dan ilmu kalam dengan tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.

Kunci-kunci untuk memahami ajaran-ajaran Syaikh yang terkait dengan daya dan kapasitas spiritual ruhani berkisar pada lima hal:

1. Kesiapan diri, baik yang bersifat bawaan maupun yang diupayakan melalui usaha. Tidak semua orang memiliki kesiapan untuk mampu dan mau memahami serta mendalami diskursus-diskursus tasawuf secara umum dan ajaran Syaikh Ibn “Arabi ra. secara khusus. Kesiapan diri adalah syarat wajib yang harus ada. Syaikh memberi contoh bagaimana kurangnya kesiapan bisa menghalangi seseorang untuk menerima ilmu yang berbasis anugerah Ilahi, bahkan pada diri seorang alim ulama setingkat Ibn Rusyd ra. Beliau melihat keengganan Ibn Rusyd ra. melalui sebuah visi imajinal dan memberi komentar, “Ia tidak terlalu berminat dengan apa yang kami geluti.” Kisah selengkapnya bisa dilihat pada bab 15.

2. Keikhlasan dan ketulusan niat. Dalam mempelajari kitab-kitab Syaikh, seorang hamba diharuskan hanya berpegang dan memohon pertolongan kepada Allah Swt. semata agar Dia sudi menyingkapkan pemahaman yang benar. Sejauh mana ukuran ketulusan niat seseorang akan mempengaruhi kebenaran pemahamannya. Niat yang cacat bisa berdampak pada pemahaman yang juga cacat dan cenderung salah.

3. Iktikad dan keyakinan yang kuat, sahih dan bersih bahwasanya semua perkataan Syaikh Akbar muncul dari kehadiran Al-0ur'an Al-'Azim dan berasas kuat darinya, serta berada dalam bingkai akidah Islamiah yang merupakan akidah para ahli salaf, sahabat-sahabat Rasul dan ahli sunah. Keyakinan ini memiliki peranan yang sangat penting untuk setiap murid, karena keyakinan yang berseberangan akan membalik cahaya-cahaya ilmu menjadi kegelapan dan mengubah hidayah dan petunjuk-petunjuknya menjadi kesesatan dan kebingungan.

4, Meyakini dengan benar bahwa perkataan Syaikh tidak ada yang bertentangan satu sama lain. Hal ini bisa didapatkan melalui pengetahuan tentang magam-magam yang mendasari setiap perkataan beliau. Magam-magam berbeda-beda satu sama lain, sesuai dengan Nama-nama Ilahi yang terkait dengannya yang juga memiliki makna-makna yang berbeda-beda. Terkadang aturan Nama-nama tersebut saling bertentangan, seperti Nama Al-Mu'izz (Maha Memuliakan) dan Al- Muzill (Maha Menghinakan) atau Nama Al-Gaffar (Maha Pengampun) dan Al-Muntagim (Maha Pembalas Dendam dan Penyiksa).

5. Memahami ajaran-ajaran Syaikh melazimkan penjagaan adab dan prasangka yang baik kepada beliau. Juga rasa cinta yang kuat kepada ilmu dan ma'rifah serta kerelaan untuk melepaskan segala macam doktrin dan pandangan yang sudah ada sebelumnya, atau setidaknya bersikap objektif dan adil dalam penilaian. Semua itu agar terjalin ikatan antara kesadaran pembaca dengan sisi ruhani Syaikh, sehingga terjadi transmisi spiritual dan pertolongan ruhani melalui pemahaman yang sahih dalam bingkai tawakal dan kefakiran kepada Allah Swt., karena pada hakikatnya tiada taufik dan pertolongan kecuali dari-Nya.

Pada bagian akhir Khutbah Kitab, Syaikh Ibn “Arabi ra. Memberikan kiat untuk membantu para pembaca memahami tulisan-tulisan beliau: “Sesungguhnya, sebuah permulaan yang sulit bagi seseorang akan terasa mudah jika ia mengetahui adanya tujuan akhir yang mulia. Terutama jika ia bisa merasakan manis buahnya dan apa yang ia dapatkan sesuai dengan apa yang ia harapkan. Ketika mata lahir mengamati dengan seksama sebuah bab tertentu, mata batin seorang bijak akan mengulang-ulang hingga ia dapat melihat dan mengeluarkan bermacam permata serta perhiasannya. Hingga akhirnya bab itu akan memberikan kepadanya hikmah-hikmah ruhaniah dan inti sari Rabbaniah yang ada di dalamnya. Sesuai dengan seberapa besar daya tangkap dan pemahaman orang itu serta kekuatan tekad dan keinginannya, dan juga seberapa panjang nafasnya bisa bertahan untuk dapat menyelam di kedalaman
lautan Ilmu-Nya.”

Selain itu, berulang kali Syaikh mengatakan bahwa jenis ilmu yang beliau bicarakan ini tidak bisa semata-mata dipahami melalui akal pikiran. Seringkali beliau mengingatkan ketika satu bagian tertentu terasa sulit untuk dipahami, pembaca harus mencarinya melalui khalwat, zikir, takhlis (pemurnian dan pengosongan pikiran dari selain Allah), serta meletakkan akal pikir dan memusatkan himmah hanya kepada Allah. Ketika akal pikiran mulai terasa gelap, nur-nur dari khalwat, zikir dan takhlis itulah yang akan bertindak memancarkan cahaya pemahaman


___
Sumber: Al-Futuhat al-Makkiyah: Risalah tentang Ma‘rifah Rahasia-Rahasia Sang Raja dan Kerajaan-Nya Ibn Arabi, Penerjemah: Harun Nur Rosyid dari Al-Futūḥāt Al-Makkiyyah karya Muḥyiddīn Ibn Al-‘Arabī ra., Darul Futuhat, Yogyakarta, 2017.

ADMIN

BACA JUGA