YURISTGAMEINIGAMEID101

ORANG-ORANG YANG TIDAK BISA MERASAKAN MANISNYA IBADAH

ORANG-ORANG YANG TIDAK BISA MERASAKAN MANISNYA IBADAH

Abu Abdullah al-Maghribi juga menyatakan:
"Orang fakir yang tidak banyak melakukan amal masih lebih baik daripada ahli ibadah tetapi bergelimang harta. Bahkan amal sedikit dari orang fakir yang tidak tersibukkan dunia adalah lebih baik daripada amal yang menggunung dari seseorang yang hatinya sibuk memikirkan dunia".
Abu al-Mawahib as-Syadzili juga menyatakan:
"Ibadah yang disertai cinta dunia hanya melelahkan hati dan badan. Ia kelihatan banyak, padahal sedikit. Ia hanya tampak banyak menurut orang yang melakukannya. Ibadah yang seperti itu bagai raga tanpa nyawa, kosong tanpa isi".
Karena itu, banyak kita saksikan orang yang berpuasa, shalat malam, dan haji, tetapi tidak pernah merasakan manisnya beribadah, karena tidak ada cahaya zuhud dalam hatinya. 

Apa yang dimaksud zuhud? Zuhud adalah mengosongkan hati dan pikiran dari pengaruh dunia. Namun, hal ini bukan berarti seseorang harus mengosongkan tangannya dari menguasai harta. Sebab, Allah dan RasulNya' tidak pernah melarang umatnya melakukan transaksi dan berbisnis. Tidak pernah seorang pun melarang hal itu.

Akan tetapi, sebagian sahabat dan tabiin memang banyak yang meninggalkan sama sekali dan menampakkan ketidaksukaannya terhadap urusan dan kemewahan dunia, Hal itu dimaksudkan agar orang awam mau dan bisa mengikuti mereka. Mereka khawatir, dengan kehidupan yang mewah dan bergelimang harta, orang awam yang tidak mengerti akan terjebak dalam masalah dunia ini; lupa terhadap Tuhan ketika mengikuti pola hidup para sahabat.

Sesungguhnya, orang yang sempurna (innsaul kamil) tidak akan tersibukkan oleh apa pun kecuali Allah, walau bergelimang harta. Berbeda dengan orang awam. 

Sebab itu, hati-hatilah bila melihat orang besar yang menjadi panutan, hidup dalam kemewahan dan kenikmatan. Jika khawatir bahwa hal itu akan dianut masyarakat tanpa tahu maksud yang sebenarnya, maka ia harus diperingatkan. Tentu saja, kemewahan dan kekayaan orang besar tersebut dari harta halal. Bila dari harta
haram, maka harus disingkirkan.

Dengan demikian, jelas bahwa zuhud tidaklah berlaku kecuali pada apa yang bukan menjadi milik dan haknya. Sedang pada apa yang menjadi haknya, maka ia tidak boleh meninggalkannya. Sesungguhnya, zuhud dalam masalah ini adalah mengosongkan hati dari pengaruh dunia. Tidak kikir terhadap peminta dan tidak tersibukkan sehingga lupa pada Allah. Sedetik pun!

_____

-Sumber: Menjadi Kekasih Tuhan, Sayyid Abdul Wahab asy-Sya'rani, terjemahan Ach. Khudori Soleh dari kitab AI-Minah as-Saniyah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2002

ADMIN

BACA JUGA