YURISTGAMEINIGAMEID101

SHALAT MENURUT JALALUDIN RUMI

 Shalat menurut Jalaludin Rumi

Rumi menulis:

"Tuhan telah menempatkan sebuah kerajaan ke dalam Al-Fatihah
Diperuntukkan bagi orang yang ikhlas, tanpa kerepotan tombak dan tameng"

Surat Al-Fatihah memang bagi Rumi adalah kunci pembuka kerajaan ruhani, seperti dikatakan Rumi di tempat lain: 

“Ketika orang melafalkan: ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus’, 
Tuhan mengambil tangannya dan menjelmakannya menjadi cahaya.”

Rumi melihat kata-kata Al-Fatihah termanifestasikan bahkan dalam pepohonan di kebun: 

“Engkaulah yang kami sembah” 
adalah doa si kebun di musim dingin. 

Di musim semi, ia bermunajat:
“Kepada-Mulah kami minta tolong”
“Engkaulah yang kami sembah” 
adalah aku telah datang ke pintu-Mu 
Bukakan gerbang kegembiraan 
Agar tak lebih lama aku nelangsa

“Kepada-Mu kami minta tolong”
(Adalah keluhan si pohon:) 
Oleh suburnya bebuahan 
aku pun patah tak tertahankan
Wahai Penolong, jaga aku baik-baik

Merujuk kepada firman-Nya (QS Al-Ma‘├órij [70]: 23), Rumi melihat shalat sebagai percakapan paling dalam dan mesra antara pencinta dan yang dicinta. Rumi sendiri, dari berbagai ungkapannya, adalah seorang sufi yang keadaan mistikalnya diperdalam oleh pengalaman melakukan shalat:

Di waktu shalat magrib
Kala semua menata lilin dan meja
Aku di sana dengan bayangan mimpi sahabatku
Penuh keluh, kesah, dan ratapan
Kala aku berwudhu dengan air mataku,
Doaku jadi berkobar
Ia bakar pintu masjidku,
Saat seruan-azanku menyentuhnya

Sepahsalar, salah seorang penulis mengenai Rumi, berkisah:

Pada suatu malam musim dingin—dan musim dingin di Konya amatlah ganas—Rumi melakukan shalat di masjid. Ia menangis begitu tersedu ketika bersujud sampai bulir-bulir air matanya membeku di pipi dan janggutnya, terus menjulur ke tanah. Hingga, pagi harinya, para muridnya harus mencairkan es itu dengan cara menyiramnya dengan air panas.

Lalu Rumi pun berkata:

Ada ratusan macam shalat, ruku‘ dan sujud
Bagi sesiapa yang menjadikan
Kecantikan Sang Teman sebagai mihrabnya
Inilah sabdanya di tempat lain:
Tuhan kita berkata:
“Sujud dan mendekatlah”  
Sujudnya badan kita adalah mendekatnya jiwa kita

Rumi terkadang menyinggung beberapa keistimewaan shalat. Termasuk bahwa, dalam bulan Ramadhan, shalat punya peluang lebih besar untuk diterima. Demikian pula, shalat (tahajud) dini hari di hadirat Yang Hidup dan Yang Jaga amatlah dianjurkan. Shalat seperti ini adalah bagaikan “lilin yang bercahaya di mata Tuhan”

Bukan tanpa maksud tertentu jika Rumi beberapa kali menyebut contoh shalat Nabi Yunus di perut ikan hiu. Dengan itu, ia ingin menganjurkan agar orang shalat di kegelapan keberadaannya, dan sekali lagi melakukannya ketika subuh tiba, setelah terselamatkan dari kegelapan “perut ikan” malam.

Berkali-kali Rumi mengungkapkan keyakinan-totalnya akan makbulnya shalat: 

“Orang yang tak punya informasi tentang kami, 
berkata bahwa shalat tak ada manfaatnya.” 

Padahal, menurut Rumi, shalat sungguh adalah “kunci bagi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan orang”. Karena ia sepenuhnya percaya pada kata-kata Al-Quran (QS Al-Mu’min [40]: 60) bahwa Tuhan “telah mengikatkan shalat kepada janji-Nya: ‘Aku pasti kabulkan.’ Munajat manusia, yang ditujukan kepada Tuhan, dapat menjadi tali yang mengangkatnya dari sumur gelap keputus-asaan.”***

ADMIN

BACA JUGA