YURISTGAMEINIGAMEID101

TAKWIL DAN METAFISIKA SUFI

oleh Abdul Hadi W.M.


Takwil dan Metafisika Sufi

Telah dijelaskan bahwa takwil adalah sebuah upaya untuk menyelami teks hingga makna yang terdalam. Dalam konteks syair-syair tasawuf, seperti telah dikemukakan, makna batin itu berkaitan dengan tahapan-tahapan dan keadaan-keadaan rohani yang dialami seorang ahli suluk dalam perjalanannya mencapai hakikat segala sesuatu. Kecuali itu ia juga berkaitan dengan metafisika sufi. Dalam metafisika sufi, alam ini dipandang memiliki tatanan wujud yang berperingkat. Tatanan terendah disebut alam nasut (alam jasmani), di atasnya alam malakut (alam rohani), dan di atasnya lagi berturut-turut disebut alam jabarut, alam lahut (alam ketuhanan) dan alam hahut. Kewujudan di alam yang satu berhubungan dengan kewujudan di alam lain, baik yang di bawah maupun di atasnya. Alam jasmani adalah tempat fenomena-fenomena kehidupan tampak, disebut juga sebagai alam shahadah (dunia penampakan) dan alam zawahir (duria fenomena-fenomena). Alam rohani disebut juga alam mithal atau dunia imaginal, merupakan penghubung antara alam jasmani dan alam ketuhanan. Pengaruh metafisika sufi ini tidak hanya tampak dalam syair-syair Melayu lama, tetapi juga dalam puisi Indonesia modern. Misalnya dalam sajak “Berdiri Aku” (dalam Buah Rindu) Amir Hamzah seperti berikut:

Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun ayun di atas alas

Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengorak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak

Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju

Melalui gambaran alam zawahir, penyair berhasil menggambarkan Wujud Tertinggi dan keberadaan alam ftanzih (transendental) secara sugestif dan simbolik. Kejadian yang disaksikan di alam syahadah dijadikan tangga naik menuju alam yang lebih tinggi, yaitu alam malakut (alam kerohanian) dan alam lahut (alam ketuhanan). Penyair menunjukkan bahwa ta wil, sebagai semacam metode, dapat diterapkan juga dalam penulisan puisi, yaitu apabila takwil dipahami sebagai cara menafsirkan hubungan tersembunyi antara berbagai fenomena di alam kejadian dan membayangkan adanya keberadaan alam lain di atasnya. Dengan mengubah fenomena alam menjadi tamsil atau simbol, serta tangga naik ke alam yang lebih tinggi, Amir Hamzah menepati apa yang dikatakan Ibn al- Arabi tentang kaidah takwil, yaitu sebagai penerobosan ( 'ubur) terhadap wujud lahir sesuatu sehingga memperoleh keterangan (i'tibar) tentang hakikat atau maknanya yang terdalam (Md. Salleh Yaapar 1992).

I’tibar dalam sajak “Berdiri Aku” dapat dilihat pada bait terakhir. Dengan meninggalkan keterpukauan pada keindahan zahir dan juga kesadaran rasional, Amir Hamzah secara intuitif tiba pada kesimpulan bahwa semua bentuk keindahan zahir di dunia ini secara rahasia sebenarnya merupakan manifestasi dari keindahan Yang Mahatinggi yang sempurna. Ke arah Yang Satu inilah segala sesuatu menetapkan tujuan. Bait ketiga sajak tersebut memberi isyarah atau sugesti tentang kenaikan jiwa penyair dari alam syahadah menuju alam yang lebih tinggi. Kenaikan terjadi melalui kelekaan dan kemabukan mistikal. Penggunaan tamsil elang, simbol jiwa manusia yang mencapai hakikat dirinya, sangat tepat dalam baris “Elang leka sayap tergulung/ Dimabuk warna berarak-arak”.

Sebagaimana alam kehidupan memiliki tatanan, begitu pula halnya dengan teks, khususnya puisi. Tatanan alam dalam puisi dapat disebut sebagai tatanan atau lapisan makna, dan berperingkat mulai yang lahir sampai yang batin. Makin tinggi lapis makna yang ditempati, makin tersembunyi dari pengenalan indra dan pikiran.

ADMIN

BACA JUGA