YURISTGAMEINIGAMEID101

TENTANG HAYY IBN YAGZHAN KARYA IBNU THUFAIL

Tentang Hayy ibn Yagzhan karya Ibnu Thufail

Roman filsafat Hayy ibn Yagzhan banyak menarik perhatian para sastrawan dan filsuf di Timur dan Barat sejak ditulis oleh Ibnu Thufail pada abad ke-6 Hijriyah (abad ke-12 M) hingga era kebangunan menyeluruh bangsa Arab modern. Anehnya, perhatian kita terhadap kisah klasik ini selalu terfokus pada perhatian Barat melalui terjemahan, komentar, dan penjelasan mereka atasnya. Upaya Barat inilah yang memberikan kepada kita keterangan menyangkut pelbagai dimensi perkembangan pemikiran Arab-Islam pada periode klasik itu, dan pada sebuah episode yang di dalamnya bertaburan nama-nama Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan filsuf-filsuf ‘Arab’ besar lainnya.

Apa yang ditulis para sarjana Barat, berikut sumber-sumber mereka, menyangkut roman ini memang sudah jauh melampaui tulisan-tulisan hasil karya bangsa Arab sendiri. Substansi gagasan yang diusung roman ini bukanlah sesuatu yang sama sekali baru, dan bukan pula hal baru yang pernah ditulis. Yang baru dalam karya ini hanyalah cara Ibnu Thufail dalam menyampaikan gagasan filsafatnya yang dikemas dalam bentuk sebuah roman. Substansi gagasannya sendiri adalah perjumpaan manusia dengan fitrah primordialnya di tengah alam yang primitif, dan pengembaraan intelektualnya mencapai “Kebenaran Puncak (The Ultimate Truth)” tanpa pengaruh sosial sedikit pun. Gagasan inilah yang pada gilirannya betul-betul menguras perhatian intelektual Barat dengan berbagai mazhab pemikirannya.

Sedangkan gagasan mengenai pulau terpencil dan pertumbuhan seorang anak manusia di sana yang diasuh oleh hewan, burung, dan tetumbuhan sudah banyak dijumpai dalam cerita-cerita rakyat, yang dalam roman ini tokoh Hayy ibn Yagzhan dirawat oleh seekor rusa yang mengasuhnya dari kecil. Orang tua kita dulu pernah mendongeng untuk kita sewaktu kecil kisah Taranjah binti Rahiyyah yang dibesarkan oleh burung-burung sehingga ketika dewasa ia serasa seekor elang.

Gagasan yang sama seperti inilah yang juga pernah diusung oleh lusinan pujangga di Timur dan Barat: mulai dari Daniel Defoe (1660-1731) dalam kisah petualangan Robinson Crusoe yang terdampar sebatang kara di sebuah pulau antah berantah, hingga Rudyard Kipling (1865-1936) dalam romannya yang berjudul The Jungle Book yang ditulis pada 1894 dan 1895 bertutur tentang seorang bocah bernama Mowgli yang diasuh oleh kawanan serigala. 

Namun, yang terpenting di sini adalah Ibnu Thufail menggunakan kerangka umum tersebut sebagai jalan untuk mempertunjukkan pengembaraan intelektual seseorang dengan “fitrah primordial”nya, dan pencerapannya atas segala wujud, hingga pencapaiannya pada jiwa kosmik yang berujung pada pengetahuan tentang Tuhan sebagai “Realitas Tertinggi (The Ultimate Reality)”.

Inilah analisis mendalam yang dipaparkan Aggad yang mengagumi roman ini berdasarkan penilaiannya bahwa riwayat Hayy ibn Yagzhan adalah sebuah fenomena, mazhab pemikiran, dan filsafat kemanusiaan.

ADMIN

BACA JUGA