YURISTGAMEINIGAMEID101

9 BENTUK RIYA’ TERMASUK BERIBADAH AGAR DEKAT DENGAN ALLAH

9 BENTUK RIYA’ TERMASUK BERIBADAH AGAR DEKAT DENGAN ALLAH
SUFINESIA.COM - Orang yang ingin mencapai Tuhan harus menghindarkan diri dari riya' (pamer). “Riya' adalah racun yang mematikan dan melebur pahala”, kata Ibrahim al-Matbuli. Riya' mensia-siakan amal dan mematikan hati. Rasulullah saw. sangat mengkhawatirkan soal riya' ini. Beliau menyebutnya sebagai syirik kecil: "Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil: riya" (Hr. Ahmad). Allah sendiri memerintahkan agar manusia melakukan ibadah dengan ikhlas. "Mereka tidak diperintahkan kecuali melakukan ibadah dengan ikhlas.” (QS. al-Bayyinah, 5). 

Berikut beberapa tanda atau bentuk-bentuk riya’ dalam beragama:

1. Melakukan ibadah agar bisa dekat kepada Tuhan.

Ini seperti melakukan pekerjaan yang bertujuan untuk mencari upah. Ini juga termasuk riya' yang sangat halus. Para ulama menyatakan, penyakit ibadah ini sangat sulit dirasakan. Terkadang ada orang yang telah melakukan ibadah begitu lama dan mencapai kedudukan di sisi Tuhan. Akan tetapi, kemudian ditolak, "Kembalilah! Kamu bukan termasuk ahli ibadah". Sesungguhnya, ibadah yang benar adalah melakukan amal perbuatan semata-mata hanya untuk memenuhi perintah dan hak-hak Allah SWT.

2. Menganggap enak dalam melakukan ibadah. 

Ini bertentangan dengan watak asli manusia. Manusia, pada umumnya, tidak akan menganggap enak dalam melakukan ibadah, kecuali bila perbuatan tersebut sesuai dengan seleranya. Bila tidak, pelaksanaan ibadah akan terasa sangat berat. 

3. Melakukan amal untuk Allah tetapi masih dibarengi dengan tujuan-tujuan lain. 

Abdul Qadir ad-Dasthuthi mengatakan, "Murnikan tujuan amalmu hanya kepada Allah. Jangan sepelekan masalah ini dengan membaurkannya dengan hasrat-hasrat nafsumu. Bila tidak, amal ibadahmu akan rusak". Pendorong amal perbuatan manusia biasanya ada dua: kepentingan dunia dan kepentingan akhirat. Ini sesungguhnya juga termasuk jalan menuju riya' yang sangat sulit dihindarkan. Bila kepentingan akhirat mengalahkan kepentingan duniawi, berarti amalnya masih bercampur dengan riya'. Namun, sebagian ulama menyatakan, kepentingan akhirat yang mengalahkan kepentingan duniawi masih sama artinya pekerjaan yang melulu didorong oleh kepentingan duniawi. Artinya, amal tersebut tidak termaafkan, tidak diterima.

Contoh perbuatan yang didorong kepentingan ukhrawi dan duniawi. Misalnya, seseorang punya kepentingan dengan pembesar. Kebetulan pembesar tersebut melakukan salat jamaah di suatu
depan. Orang itu pun melakukan jamaah di masjid yang sama dan mengambil barisan paling depan dengan niat: selain untuk memenuhi kewajiban, juga agar kepentingannya dengan pembesar tersebut bisa tercapai.

Jelas, niat ibadahnya bukan sekadar untuk Tuhan; masih ada tujuan-tujuan lain. Bahkan tujuan lain yang bersifat duniawi justru tampak lebih dominan. Karena itu, para ulama menyatakan bahwa men-tauhid-kan niat adalah wajib, agar manusia tidak terpengaruh dengan apapun dan bisa menyatukan pikiran dan hatinya hanya untuk berhubungan kepada Allah.

4. Mengaku punya kedudukan tertentu di sisi Tuhan.

Padahal ia sebenarnya belum mencapai derajat itu. Atau, telah mencapai derajat yang dikatakan namun belum boleh diberitahukan. Pengakuan ini akan mendatangkan siksaan dan menghalangi orang tersebut dari kedudukan yang diklaimnya. Selamanya, ia tidak akan bisa mencapai derajat yang dikatakan.

5. Merasa senang jika ibadahnya bisa dilihat orang lain.

Perasaan semacam ini adalah penyakit yang sangat berbahaya. Menurut Abu Hasan as-Syadzili, amal yang disertai perasaan senang seperti ini tidak bisa menaikkan kedudukannya di sisi Tuhan, melainkan justru mendatangkan murka dan semakin menjauhkan dari-Nya. Persoalan ini jarang disadari dan dimengerti oleh orang pada umumnya. Karena itu, para ulama mewajibkan seseorang untuk senantiasa merahasiakan amal perbuatan baiknya, sehingga ia kuat dan siap untuk melakukan perbuatan dengan ikhlas. Terkadang memang ada seseorang yang melakukan perbuatan tertentu sehingga dia dipuji masyarakat, dan dia tidak menghendaki pujian itu. Dengan itu, ia mengira bahwa dirinya sudah termasuk orang yang ikhlas. Maka, hal ini pun termasuk juga riya'. Atau, ada orang yang menolak pemberian demi menjaga kehormatan dirinya. Dia kemudian dipuji masyarakat. Ia sendiri tidak menghendaki pujian itu, tetapi kemudian memperhatikannya. Maka perbuatan ini pun kembali kepada riya', walau pada asalnya tidak ada maksud demikian.

6. Meninggalkan amal ibadah karena manusia. 

Fudail ibn Iyadh berkata: "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', dan melakukan amal karena manusia adalah syirik. Apa yang dinamakan ikhlas adalah kamu menjaga dari keduanya". Maksudnya, orang yang hendak melakukan ibadah kemudian diurungkan karena khawatir pujian manusia, maka itu termasuk riya'. Sebab, ia berarti telah meninggalkan sesuatu karena manusia; bukan karena Allah. Akan tetapi, bila meninggalkan ibadah tersebut untuk kemudian melakukannya di tempat yang sepi agar tidak diketahui orang, maka itu adalah lebih baik. Namun, untuk ibadah-ibadah wajib atau bila orang yang bersangkutan termasuk pembesar atau pemuka masyarakat yang selalu diikuti, maka hal itu lebih baik dilakukan secara terang-terangan.

7. Menceritakan kebaikan-kebaikan di masa lalu, tanpa ada maksud-maksud tertentu yang bisa dibenarkan menurut agama. 

Sesungguhnya, mengungkap kembali kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan di masa lalu tanpa ada tujuan yang bisa dibenarkan, bisa merubah amal tersebut dalam bentuk riya'. Ali Al-Khawash menyatakan, jangan sampai seseorang mengungkit-ungkit atau menceritakan amal baik yang pernah dilakukan. Sebab, hal itu sama artinya dengan riya'. Ia bisa melebur pahala amalnya yang telah lalu. Namun, kesalahan ini bisa dipulihkan; dengan tobat. Bila seseorang bertobat dengan benar dan sungguh-sungguh, maka amal yang telah dilakukan akan kembali menjadi amal yang sah, dengan kehendak Allah.

8. Menghentikan senda gurau yang diperbolehkan agama, karena munculnya orang yang disegani. 

Fudail ibn Iyadh berkata, "Seandainya dikabarkan padaku bahwa seorang pemimpin tinggi akan datang, kemudian aku merapikan rambut dan jenggotku, sungguh aku takut bahwa hal itu akan menyebabkan aku ditulis sebagai orang yang munafik". Karena itu, hendaknya seseorang tidak menghentikan senda-guraunya yang diperbolehkan agama hanya karena masuknya orang yang disegani, kecuali dengan niat baik. Sesungguhnya, terbukanya rahasia seseorang di tangan pemimpin atau orang yang disegani adalah lebih baik daripada berlaku munafik.

9. Menundukkan kepala dan berlaku khusyuk karena munculnya seseorang. 

Ali Al-Khawash berkata, "Bila seorang pemimpin datang dan kalian lagi bertasbih, maka jangan kamu teruskan bacaan tasbihmu kecuali dengan niat baik. Hati-hatilah. Jangan bersenda-gurau dengan melupakan Allah, tetapi segera membaca tasbih begitu seseorang yang disegani muncul. Tanpa didasari niat baik, maka perbuatan seperti itu justru akan menghancurkan semua amal perbuatan".

Itulah beberapa contoh riya’, baik yang samar maupun yang terang. Dalam wasiatnya kepada Imam Ali ra, Rasul juga berkata: "Lakukanlah ibadah hanya melulu karena Allah. Sesungguhnya, Allah tidak menerima ibadah kecuali yang dilakukan secara murni (ikhlas) untuk-Nya".
_____

-Sumber: Menjadi Kekasih Tuhan, Sayyid Abdul Wahab asy-Sya'rani, terjemahan Ach. Khudori Soleh dari kitab AI-Minah as-Saniyah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2002

ADMIN

BACA JUGA