YURISTGAMEINIGAMEID101

BAHAYA MENIPU DALAM HIDUP

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” 
(QS. An-Nahl [16]: 105).


Menipu atau berlaku curang dalam pekerjaan adalah perbuatan yang sangat dicela oleh agama. Diriwayatkan, suatu ketika Rasul pergi ke pasar dan dijumpainya di sana setumpuk makanan. Rasul memasukkan tangannya dalam makanan tersebut, dan ternyata di dalamnya basah. "Mengapa ini?", tanya Rasul kepada si penjual. "Wahai Rasul, makanan itu tadi terkena hujan", jawab si pemilik makanan. "Mengapa makanan yang basah tidak kamu taruh di atas sehingga orang-orang bisa tahu". Rasulullah selanjutnya bersabda, "Siapa yang menipu (berlaku curang), bukan termasuk golonganku".

Di hadis lain, Rasulullah menekankan: “Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik menunjukkan kepada surga dan sesungguhnya seseorang yang membiasakan jujur ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan, sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang yang biasa berdusta ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”(HR. Bukhari Muslim).

Setiap manusia, pada dasarnya, sadar akan apa yang ia lakukan, apakah dia telah berlaku jujur atau curang. Allah menjadikan manusia terpercaya atas dirinya sendiri. Bila menipu, berarti mengkhianati agamanya, dirinya sendiri dan masyarakatnya. Para ulama menyatakan:


"Siapa yang berlaku baik dalam pekerjaannya, Allah berikan berkah dalam usahanya. Sedemikian, sehingga tanpa disadari, ia menjadi orang yang berkecukupan. Sebaliknya, siapa yang menipu, niscaya terbuka kejelekannya. Ia segera menjadi buah bibir masyarakat. Sesungguhnya, Allah menjadikan kemiskinan dalam penipuan dan menjadikan berkah dalam ketelitian dan kejujuran."
Sejak awal, para guru pembimbing tarekat senantiasa menekankan agar para murid berlaku jujur dalam pekerjaannya. Bahkan, para guru dari kalangan Syadziliyah sangat menekankan soal pekerjaan ini. Abu Hasan as-Syadziliyah mengatakan: 

"Siapa yang bekerja keras dan tetap teguh dalam menjalankan perintah Allah, ia berarti telah sempurna mujahadahnya".

Sedang Abu Abbas al-Mursi berkata; "Bekerjalah. Jadikan alat tenunmu sebagai tasbih. Jadikan kapakmu sebagai tasbih. Jadikan jahitmu sebagai tasbih dan jadikan pula perjalananmu sebagai tasbih."


Rujukan: -Sumber: Menjadi Kekasih Tuhan, Sayyid Abdul Wahab asy-Sya'rani, terjemahan Ach. Khudori Soleh dari kitab AI-Minah as-Saniyah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2002

ADMIN

BACA JUGA