YURISTGAMEINIGAMEID101

DUA CARA MENUNDUKKAN NAFSU KEPADA ALLAH

Dua Cara Menaklukkan Hawa Nafsu kepada Allah

Nafsu adalah bagian dari jiwa manusia yang selalu mengajak kepada kejahatan dan penyelewengan. Untuk bisa mencapai hadirat Ilahi yang suci, seseorang harus mampu menundukkan dorongan-dorongan hawa nafsunya. Sahal at-Tastary berkata:
"Sejelek-jeleknya maksiat adalah mengikuti bisikan nafsu. Banyak manusia yang tidak menyadari akan hal ini. Bila seorang murid mampu menjaga dirinya dari gejolak nafsu dan melakukan zikir, hatinya menjadi bersinar dan terjaga. Setan lari menjauh, sehingga gejolak perasaannya menjadi ringan. Saat itu, ia menjadi mudah untuk menundukkannya".

Untuk menundukkan nafsu, caranya dengan mengurangi makan, sedikit demi sedikit.
Berpuasa dan menahan lapar sangat penting dilakukan, sebab gejolak nafsu memang tidak bisa ditundukkan selain dengan lapar. Dengan mengurangi makan, maka energi nafsu menjadi lemah dan akhimya mudah ditundukkan.

Dalam kitab Futuhat al-Makkiyah, Muhyiddin ibn Arabi menceritakan bahwa ketika pertama kali menciptakan nafsu, Tuhan bertanya, "Siapa Aku?" Nafsu membangkang
dan balik bertanya, "Siapa pula aku ini?" Tuhan murka, kemudian memasukkan nafsu dalam lautan lapar sampai 1000 (seribu) tahun. Kemudian dientas dan ditanya lagi: "Siapa Aku?" Setelah dihajar dengan lapar barulah nafsu mengakui siapa dirinya dan Tuhannya. "Engkau adalah Tuhanku Yang Maha Agung dan aku hamba-Mu yang lemah".

Sejalan dengan itu, Abu Sulaiman ad-Darani juga berkata: "Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar". Maksudnya, Allah memberikan ilmu dan hikmah pada orang-orang yang lapar (puasa) dan menjadikan kebodohan dan tindak kemaksiatan pada mereka yang kenyang. 

Makan kenyang dan nafsu adalah dua komponen yang saling mendukung. Yahya ibn Muadz ar-Razi menyatakan: "Kenyang ibarat api, sedang nafsu ibarat kayu kering. Kayu nafsu yang membara karena energi makanan tidak akan mati sampai membakar habis orang bersangkutan". Karena itu, Sahal ibn Abdullah juga menyatakan: "Siapa yang makan lebih dari dua kali sehari, maka hendaknya ia bersiap menjadi kuda liar".

Untuk menundukkan dorongan-dorongan nafsu, selain dengan lapar, juga dengan bangun
salat malam (mengurangi tidur) dan melakukan amalan-amalan yang berat. Nafsu bisa
diibaratkan sebagai anak sapi yang nakal. Untuk menundukkannya, anak sapi perlu dilaparkan, ditutupi kedua matanya dan di putar-putar pada gilingan kosong sambil dipukuli. Setelah sekian lama, ia akan menjadi tunduk dan penurut. Saat itu, barulah dilepaskan penutup kedua matanya.

Begitu pula, untuk menundukkan nafsu, seorang harus sedapat mungkin mengurangi tidurnya. Tidur adalah ibarat mati. Waktu tidur, seseorang tidak bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Memilih tidur daripada bangun untuk salat malam, berarti sama dengan mengikuti hawa nafsu. Juga merupakan petunjuk bahwa dalam diri seseorang belum ada rasa cinta kepada Allah.

Sebaliknya, dengan bangun salat malam, akan menghancurkan dan melepaskan manusia
dari empat unsur kejadiannya: air, tanah, udara, dan api. Selanjutnya, mereka akan mampu naik dan melihat alam malakut, alam "atas" yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Dia akan semakin bergairah dalam mencari keridlaan Allah.

Abu Hasan al-Azzaz menyatakan: "Persoalan ini (manusia mampu mencapai alam malakut) dibangun atas tiga hal: (1) tidak makan sampai lapar, (2) tidak tidur sampai sangat kantuk, (3) tidak berbicara bila tidak perlu". Karena itu, sebagaimana dikatakan Ibn al-Hawari, "seorang yang ingin masuk hadlirat Ilahi tetapi tidak meninggalkan tiga masalah; pengaruh harta, makan, dan tidur, maka itu sia-sia atau omong kosong belaka."

'Rasulullah menyatakan, "Siapa yang mampu menundukkan nafsunya, sorgalah tempatnya. Sebaliknya siapa yang mengikuti hawa nafsunya, neraka tempat kembalinya". Diriwayatkan dari Bukhari, Rasulullah sampai wafatnya belum pernah sekalipun kenyang, walau dengan roti dan gandum. Mengurangi dan menjalankan salat malam adalah tuntunan Rasul. Ini adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Diriwayatkan, Rasul sendiri melakukan salat malam, sampai bengkak kakinya. Ketika ditanyakan, mengapa begitu rajin padahal dosanya telah diampuni, beliau menjawab: "Apakah tidak sebaiknya kalau aku menjadi hamba yang bersyukur" (H.R. Bukhari Muslim). Bahkan, Rasul mengatakan: "Banyak tidur akan mematik├ín hati"

_____

-Sumber: Menjadi Kekasih Tuhan, Sayyid Abdul Wahab asy-Sya'rani, terjemahan Ach. Khudori Soleh dari kitab AI-Minah as-Saniyah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2002

ADMIN

BACA JUGA