YURISTGAMEINIGAMEID101

HAKIKAT KERJA DALAM PANDANGAN SUFI


Bekerja adalah sesuatu yang wajib sebagaimana shalat, puasa. haji dan lain sebagainya. Pekerjaan termasuk bagian dan pendukung kekuatan iman. Laki-laki yang tidak bekerja adalah sama seperti perempuan. Rasul sendiri membawa risalah bukan dengan memerintahkan para sahabat meninggalkan pekerjaannya. Sebaliknya, Rasul tetap memerintahkan mereka aktif pada apa yang telah dilakukan. Rasul hanya memerintahkan mereka berbuat baik dan jujur dalam pekerjaannya.

Karena itu, untuk menempuh jalan menuju Tuhan, guru pembimbing yang sempurna adalah guru yang tetap menganjurkan para muridnya bekerja. Bukan guru yang melarang muridnya bekerja untuk kemudian membimbing mereka menuju Tuhan. Sesungguhnya, pekerjaan yang diperbolehkan agama tidak akan menghalangi seseorang untuk masuk dalam hadirat Ilahi. Berbeda dengan pekerjaan-pekerjaan yang dilarang. 

Bekerja sangat penting untuk menjaga keimanan, kehormatan, dan kemandirian. Sedemikian, sehingga orang mukmin yang bekerja adalah lebih baik daripada guru tarekat yang tidak mempunyai pekerjaan, yang makanannya hanya mengharap dari pemberian sedekah dan penyaluran zakat masyarakat. 

Orang yang bekerja mempunyai kelebihan-kelebihan dibanding mereka yang tidak bekerja: Pertama, ia makan dari hasil usahanya sendiri secara halal dan suci, bukan dari sedekah atau zakat yang semua itu pada hakikatnya adalah harta kotor. Kedua, ia terhindar dari anggapan bahwa dirinya adalah orang yang berilmu, sehingga tidak akan muncul sikap sombong dan menganggap remeh orang lain. Ketiga, orang yang bekerja akan terselamatkan dari ketidakjelasan tentang sifat Allah, Rasul dan hukum-hukum-Nya. Keempat, bila terjerumus dalam maksiat, ia akan mudah sadar dan mengerti, dan tidak meremehkan kesalahan dengan jalan bahwa hal itu bisa dihapuskan dengan istighfar.

Demikianlah di antara kelebihan-kelebihan orang yang bekerja. Bahkan, Ali Al-Khawash pernah menyatakan: "Orang yang makan dari hasil usahanya sendiri, walau dari pekerjaan yang makruh, masih lebih baik daripada seorang ahli ibadah yang makan dengan mengharap pemberian dari orang lain". Akan tetapi, perlu diingat, sebuah pekerjaan yang dilakukan untuk menumpuk-numpuk harta dan untuk kesombongan juga sangat dicela. Diriwayatkan dalam sebuah hadis:

"Siapa yang mencari harta secara halal, dengan maksud menumpuk-numpuknya dan untuk kesombongan, Tuhan akan menemuinya di akhirat kelak dengan kemurkaan-Nya" (Hadis).

Imam Syafii menyatakan, mencari kelebihan dari perkara halal adalah siksaan sebagaimana yang pernah diberikan Tuhan kepada para ahli tauhid. Alquran sendiri senantiasa memerintahkan manusia untuk bekerja, mencari karunia Allah. Tidak melulu hanya shalat dan ibadah. "Bila selesai shalat, segeralah bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah" (QS. alJum'ah, 10)

Dilihat dalam sejarah, para rasul juga bekerja. Mereka tidak hanya berdakwah dan makan dari pemberian orang. Rasulullah sendiri, misalnya, bekerja sebagai penggembala dan berdagang. Diriwayatkan, Nabi Zakaria bekerja sebagai tukang kayu (HR. Muslim). Bagitu pula Nabi Daud.

___
Rujukan: -Sumber: Menjadi Kekasih Tuhan, Sayyid Abdul Wahab asy-Sya'rani, terjemahan Ach. Khudori Soleh dari kitab AI-Minah as-Saniyah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2002

ADMIN

BACA JUGA