YURISTGAMEINIGAMEID101

MEMBUANG DAN MERAWAT RASA MALU KEPADA ALLAH

MEMBUANG DAN MERAWAT RASA MALU KEPADA ALLAH

Rasa malu yang dimaksud di sini adalah malu yang muncul karena adanya sifat sombong dan gengsi. Sebagai contoh, seseorang merasa malu untuk ikut salat berjamaah bersama masyarakat kecil, karena merasa dirinya adalah orang besar. Merasa malu berzikir bersama orang-orang awam, karena merasa dirinya alim dan telah dekat dengan Allah. Itulah rasa malu yang menghancurkan dan menjadi tirai antara Allah dengan dirinya. Hal semacam itu, banyak kita jumpai di masyarakat. Umumnya rasa malu semacam itu, bersumber dari kesombongan dan rasa gengsi. Padahal, seorang hamba untuk bisa menggapai Tuhan, ia harus menghancurkan rasa malu tersebut sebelum rasa malu yang menghancurkan dirinya.

Dalam syairnya, Umar ibn Farid menyatakan:

"Peganglah ujung cinta Allah
Buanglah rasa malu
Lepaskan semua untuk menuju Allah
Walau tinggi kedudukanmu"

Bahkan untuk mengajari para muridnya membuang rasa malu dalam mendekat kepada Allah, Syekh Muhammad kerap memerintahkan mereka untuk berzikir keras-keras di pasar, jalan-jalan dan tempat-tempat kosong. "Zikirlah di tempat-tempat itu -dengan keras- sehingga kelak akan menjadi saksi untukmu. Teroboslah rahasia nafsu dan hancurkanlah rasa malu. Tanpa bisa menundukkan nafsu dan kesombongan, kamu tidak akan pernah sampai pada hadlirat Ilahi".

Rasulullah saw. menjelaskan lebih lugas perihal rasa malu dalam konteks ini dengan bersabda:

"Malulah kalian kepada Allah". Para sahabat berkata, "Kami telah malu". "Bukan demikian", jawab
Rasul. "Malu kepada Allah yang sesungguhnya adalah menjaga kepala dari pikiran-pikiran yang tidak
benar; menjaga perut dari makanan yang tidak halal; menjaga kemaluan, kaki dan tangan dari perbuatan-perbuatan yang tidak benar".

Malu untuk melakukan sesuatu yang didasarkan atas kesombongan, kecongkakan dan sejenisnya memang dilarang oleh agama. Akan tetapi, kalau malu untuk melakukan perbuatan maksiat, maka itu termasuk bagian dari iman.

Dengan demikian, ada dua rasa malu di sini yang harus dibedakan. Satunya dibuang jauh-jauh. Satu lagi dirawat baik-baik. Orang yang tahu dan bisa menempatkan dua jenis rasa malu tersebut, akan menjadi orang yang mulia dan terhormat, baik di dunia sampai akhirat.

_____

-Sumber: Menjadi Kekasih Tuhan, Sayyid Abdul Wahab asy-Sya'rani, terjemahan Ach. Khudori Soleh dari kitab AI-Minah as-Saniyah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2002

ADMIN

BACA JUGA