YURISTGAMEINIGAMEID101

ALASAN TOLERANSI BERAGAMA SYEKH SUPI


SUFINESIA.COM | Selepas salat Asar, Syekh Supi kedatangan seorang tamu. Pemuda berkaca mata tebal, rambut gimbal, dengan ransel besar.

Setelah salam-salaman dan memperkenalkan diri, suasana jadi hening. Hanya suara detak jam dinding langgar terdengar mencuri detik demi detik dari kehidupan dunia. Syekh Supi memandang pemuda itu dalam-dalam, sampai membuatnya salah tingkah. Satu persatu buku dia keluarkan dari dalam ranselnya.

"Sebentar ya..."

Syekh Supi turun dari langgar berjalan memasuki rumah. Beberapa saat kemudian, keluar membawa cangkir berisi kopi.

"Silakan diminum, tetapi mohon maaf ya, di sini minuman adanya hanya air putih atau kopi. Kalau Soju, Mezcal, Applejack, Bacardi Rum, The Dalmore, atau Jack Daniel's, tidak ada."

"Hem, Terima kasih, ini sudah lebih dari cukup, Syekh," dengan wajah tertunduk. Dia merasa sedang dikuliti.

Suasana kembali hening. Hanya suara daun-daun Jambu terdengar sama di halaman langgar dipukul angin berulang. Pemuda itu membolak balik buku di depannya. Mulai dari buku John Hick, Rene Guénon, Gus Dur, Cak Nur, Harun Nasution, Djohan Effendi, sampai Ulil Abshar Abdalla.

"Semua buku bagus..." celetuk Syekh Supi.
"Iya, Syekh, tetapi saya belum bisa paham, terutama soal toleransi beragama."
"Loh, ada apa dengan toleransi beragama?"
"Itu sebabnya, saya datang kemari untuk bertanya, Syekh..."
"Ah, tahu apa saya ini selain telur..."
"Tetapi saya disuruh datang kemari oleh seorang dosen."
"Dosen siapa?"
"Namanya Pak Rahman, beliau dosen Sosiologi Agama."
"Oh, berarti Anda kuliah di Universitas Jalaluddin Rumi ya?"
"Benar, Syekh..."

Perbincangan mulai bergairah, serupa bubuk kopi yang menemukan air panas. Mendadak Syekh Supi tergenang sebuah kenangan:

"Rahman itu, teman saya waktu di Pondok dulu. Hanya beda nasib, dia kini jadi dosen di kampus, saya jadi kuncen di langgar ini. Dia sudah hatam buku-buku Max Weber, Talcott Parsons, Ferdinand Tocnnis, Emile Durkheim, Neil Smelser, dan lainnya, saya masih mengulang Iqra' 1 sampai 6 karya KH As'ad Humam."

"Hehe, begitu ya, Syekh..."

"Iya, bahkan ibaratnya, dia  sudah di bulan, saya masih saja di bumi. Untungnya, bulan dan bumi masih sama-sama ciptaan Allah."

"Iya, benar, Syekh."

Suasana lagi-lagi, kembali hening. Syekh Supi memejamkan mata dan menarik napas dalam. Pemuda itu hanya memandang cangkir masih berisi kopi tinggal separuh.

"Oya, jadi apa yang bisa saya bantu."
"Iya, itu soal toleransi beragama, Syekh. Hakikat toleransi agama itu kita menghargai agamanya apa pemeluknya?"
"Agamanya.”
"Alasannya?”

“Dengan menghargai agamanya, otomatis kita akan menghargai pemeluknya.”
“Kok bisa begitu, Syekh?”

“Bisa saja. Orang yang menghargai pemeluk agama lain, belum tentu bisa menghargai agamanya. Sebab kadang kita menghargai seseorang yang beda agama, hanya karena dia teman kelas atau atasan di kantor, misalnya.”

Pemuda itu terdiam, lalu berkata:

"Kalau kita menghargai agama lain, berarti kita telah mengakui kebenaran agama tersebut, Syekh?"

"Tidak juga. Namun lebih baik mengakui kebenaran agama mereka, toh kita tidak akan memeluknya, daripada mengakui salah agama mereka, nanti malah terjadi perang lahir batin."

"Lalu bagaimana dengan Allah, Syekh?"

"Allah Maha Tahu. Biarkan Allah melihat niatmu, Nak..."

Pemuda itu kembali terdiam seraya memandangi satu persatu buku di depannya. Sesekali melempar pandang ke wajah Syekh Supi yang penuh garis waktu.

"Lalu menurut, Syekh, apa alasan kita harus bertoleransi dalam beragama?"

"Alasannya banyak, Nak. Satu saja yang harus Anda ingat."
"Apa itu, Syekh?"

"Kita hidup di Indonesia, maka kita harus menghargai semua agama yang ada. Kenapa? Karena agama-agama tersebut telah banyak memberi kita hari libur tiap tahunnya."
"Hahahaha." 

Mendadak saja tawa pemuda itu meledak serupa petasan.

“Lah, iya. Masak karena Anda muslim, tidak mau libur kerja di hari Kenaikan Isa al-Masih atau sebaliknya?”
“Iya juga sih. Berarti toleransi beragama itu liburan, Syekh?”
“Liburan apa hiburan?"
"Liburan, Syekh..."
"Saya tidak mau jawab ya.”

Suasana Kembali hening. Kembali pada diri masing-masing. Beberapa saat kemudian, dia pamit untuk pulang setelah berbasa-basi basah sekali.

“Hati-hati dan mata-mata di jalan. Salam untuk Pak Rahman ya, dan selamat berlibur...”

ADMIN

BACA JUGA