YURISTGAMEINIGAMEID101

BANYAK BICARA MENJAUHKAN KITA DARI ALLAH - SOFYAN RH. ZAID

BANYAK BICARA MENJAUHKAN KITA DARI ALLAH


BANYAK BICARA MENJAUHKAN KITA DARI ALLAH
oleh Sofyan RH. Zaid


"Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna, aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan." 
Soe Hok Gie (1942-1969)

Kadang kita jumpai, ada orang bicara berapi-api sambil berasap-asap sampai berbusa-busa di depan kita. Mengeluarkan semua ilmu pengetahuan yang dia miliki tanpa kita minta, tanpa kita butuhkan. Orang seperti itu, biasanya hanya ingin menunjukkan bahwa dia pintar, berpengetahuan luas, dan sejenisnya.

Tujuan dari pertunjukannya itu, dia ingin menjual ‘udang di balik batu bata’ berupa ingin dipuji atau menarik simpati. Dengan banyak berbicara, dia pikir bisa menunjukkan banyak kebenaran tentang dirinya. Padahal “orang yang banyak berbicara, akan semakin banyak melakukan kesalahan” dan terbuka lebar untuk ‘melukai orang lain sebagai pendengarnya’.

Selain itu, orang yang banyak bicara, biasanya menunjukkan kedangkalan ilmu yang dia miliki. Sebagaimana dua pepatah: “Tong kosong nyaring bunyinya,” atau “air beriak, tanda tak dalam”. Pepatah ini senada dengan Lao-Zu bahwa "mereka yang punya pengetahuan tidak akan banyak bicara. Mereka yang banyak berbicara, biasanya tidak tahu apa-apa." 

Kalau kita perhatikan, orang-orang yang sudah sampai pada dejarat bijak, dia tidak suka obral kata dan pengetahuan. Dia hanya bicara seperlunya. Namun sekali dia berbicara, ada banyak hikmah yang bisa kita petik, tidak sekadar pengetahuan belaka yang tidak menggerakkan apa-apa. Benar kata Konfusius kalau "orang hebat itu tidak banyak bicara, tetapi hebat dalam berkarya."

Lantas apa hubungan antara banyak bicara dengan proses mendekat kepada Allah? Sayyid Abdul Wahab asy-Sya'rani dalam kitab AI-Minah as-Saniyah -yang diterjemahkan jadi Menjadi Kekasih Tuhan oleh Ach. Khudori Soleh- menyampaikan pesan tentang hal ini:

Untuk mendekatkan diri kepada Allah, seseorang hendaknya bisa menjaga mulutnya; tidak banyak bicara kecuali ada perlunya. Rasullulah bersabda: "Siapa yang ingin selamat agamanya, hendaknya diam."

Dalam tarekat pun, sebagaimana dikatakan al-Qusyairi, para murid juga disuruh belajar diam, sebab berbicara sebenarnya adalah cobaan.  Dengan banyak bicara, nafsu akan memperoleh alat dan kesempatan untuk menyalurkan hasrat-hasrat jahatnya, seperti menunjukkan kebaikan diri, sombong, congkak, dan lain-lain. "Banyak bicara."  menurut Abu Bakar ibn Ayyas, "juga bisa menyerap kebaikan-kebaikan yang kita lakukan sebagaimana tanah kering menyerap air hujan". 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa siapa yang banyak bicara, akan semakin jauh dari Allah. Sebab orang yang bicara, -lebih lanjut asy-Sya'rani- punya peluang besar untuk menyelipkan kebohongan. Ketika mereka bohong, hatinya menjadi gelap, mati, dan dirinya akan terlempar dari jalan menuju Allah.

Lantas kapan kita boleh berbicara? Kapan waktunya kita harus berbicara, atau sebagaimana hadis nabi: "Kunci ibadah adalah diam, kecuali untuk zikir kepada Allah". Maka, sudah saatnya "saya belajar diam dari yang banyak bicara...," kata Khalil Jibran.***

ADMIN

BACA JUGA