YURISTGAMEINIGAMEID101

BERJUMPA ALLAH LEWAT SALAT

Hakikat kehidupan manusia bukanlah kehidupan biologis semata, sebagaimana halnya kehidupan binatang, tetapi merupakan hidupnya hati seseorang dengan cahaya iman dan makrifat kepada Allah serta dengan akidah tauhid yang bersih. Allah berfirman:

"Dan apakah orang yang sudah mati (mati hatinya/kafir) kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang.yang keadaannya dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?..." (al-Ansaam: 122)

Pengerfian kata "mati" di ayat tersebut adalah buta bahsirah-nya 'mati hatinya', kafir Iagi sesat. Maka, Allah menghidupkan hatinya dengan iman bersama petunjuk hidayah cahaya agung yang memuat segala persoalan hidup, sekaligus berfungsi sebagai pembeda antara yang hak dan batil. Makna kehidupan manusia dengan keimanan diperkuat Iagi oleh firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu pada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu...." (al-Anfaal: 24)

Mereka memenuhi panggilan Allah dan RasuI-Nya yang menyeru kepada iman, maka jiwa dan hatinya menjadi hidup. Dengannya pula dapat dipersiapkan kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Allah berfirman,

"Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. la mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.... (al-Fajr: 23-24)

Allah swt. Mahakaya ketimbang kita karenanya dari ibadah-ibadah kita, dari shalat-shalat kita, menunjukkan bahwa kita ini fakir dan sangat membutuhkan AlIah, sedangkan Allah tidak membutuhkan apa-apa dari kita. Kita semua membutuhkan fadilah-Nya, rahmat-Nya, dan ampunan serta keridhaan-Nya.

Kita dapat mengambil fadilah kemuliaan dan ihsanat dari-Nya di dalam suatu kesempatan bagi kita di.saat bersimpuh di bawah kekuasaan-Nya, ketika Shalat lima kali sehari.  Bahkan jika di dalam shalat tersebut kita tidak sempat memperoleh nilai tambah, Dia senantiasa membukakan pintu-Nya bagi kita semua.

Di dalam shalat, kita menyucikan-Nya, bermunajat dengan kalam-kalam-Nya, kita ruku dan sujud untuk-Nya, kita menghubungkan ruh kita dengan Sang Maha Pencipta. Kita renungi kembali asal penciptaan kita yang berasal dari tanah serta unsur-unsur alam yang ada. Dari bahan baku tersebut, Dia melengkapi dengan kemauan dan kekuatan sehingga kita mampu menyucikan, menjunjung tuntutan-tuntutan fisik dan syahwat, menjernihkan insting, kecenderungan menegakkan kesucian, dan berusaha melawan penyimpangan-penyimpangan serta penyelewengan-penyelewengan yang berkenaan dengan kekejian dan kemungkaran.

Ringkasnya, hidupnya hati di dalam shalat akan menjadikan hati sebagai tempat bagi seseorang untuk dapat berjumpa dengan Allah swt.. Perihal gerakan-gerakan fisik seperti berdiri, ruku, dan sujud semata-mata merupakan gambaran yang tampak untuk suatu kondisi hidupnya hati bagi yang menunaikan shalat di sela-sela kekuasaan Allah. Di dalamnya termasuk pengagungan, penyucian, kepasrahan, kerendahan, kekhusyuan, dan pendekatan diri kepada-Nya.

____
Sumber: Berjumpa Allah Lewat Salat, karya Syekh Mushthafa Masyhur, Penerjemah Abu Fahmi, Jakarta: Gema Insani, 2002.

ADMIN

BACA JUGA