YURISTGAMEINIGAMEID101

FESTIVAL PUISI MIRBID - A. MUSTOFA BISRI

oleh A. Mustofa Bisri
Festival Puisi Mirbid - A. Mustofa Bisri

Pada zaman Jahiliyah ada sebuah pasar terkenal bernama Al-Ukadh. Pasar terpenting yang didirikan 15 tahun sesudah Tahun Gajah itu setiap tahun (ada yang mengatakan tiap awal Dzul Gaidah, ada yang mengatakan pada setiap bulan Syawal) didatangi oleh tokoh-tokoh Arab dari berbagai kabilah. Tidak hanya untuk berdagang, tapi juga untuk keperluan pertukaran tawanan, menyelesaikan pertikaian, dan.... adu kehebatan berpuisi dan berpidato. 

Di Pekan Al-Ukadh inilah, para penyair Jahiliyah kenamaan seperti An-Nabighah Adz-Dzubyany, Umru- ul Uais, Zuheir bin Abi Sulma dan lain-lain membaca-pamerkan puisi-puisi mereka yang terbaru. Di Irak, tepatnya di daerah Basrah, ada pasar unta yang kemudian berkembang mirip Al-Ukadh, menjadi tempat para penyair dan ahli pidato memamerkan dan mengadu kehebatan mereka. Namanya Al-Mirbad (biasa ditulis dengan huruf latin: Mirbid).

Pada tahun 1971 ketika diadakan peringatan mengenang penyair As-Sayab (penyair pembaru Irak yang sangat dipuja. Barangkali semacam Chairil Anwar kita. Meninggal tahun 1964) yang patungnya dipajang di Syath-el-Arab, timbullah gagasan untuk menyelenggarakan Mahrajan Sanawy lisy-syi'ri, Festival Puisi tahunan, untuk menghidup-hidup dan mengenang Pasar Al-Mirbad yang unik itu.

Setelah dilakukan pengkajian secukupnya, maka diputuskan: menyelenggarakan Festival Arab khusus untuk Puisi dan Kritik Puisi. Juga diputuskan tempat penyelenggaraannya di Basrah dan pembukaannya di tempat di mana Pasar Al-Mirbad dahulu terletak, dekat kota Az-Zubeir sekarang.

Festival yang pertama diselenggarakan pada tanggal 1 s/d 5 April 1971 dengan tema “Puisi dan Peradaban”. Tenda-tenda model “rumah-rumah puisi” Baduwi kuno pun sengaja dipasang untuk para utusan dan peserta. “Defile unta”, kafilah ala Arab zaman Bahela pun disiapkan untuk berparade di depan para peserta dan undangan lengkap dengan peragaan Hidaa Badawy, menggiring unta sambil berdendang. Sayang pada waktu itu cuaca Basrah tidak mendukung. Hujan turun sangat lebat.

Ketika pecah perang Irak-Iran, penyelenggaraan Festival yang pernah terhenti — karena kelesuan perpuisian terutama di Irak tahun 1974 sampai dengan 1978 — dialihkan ke ibu kota, Baghdad, sampai sekarang. Meskipun demikian, ziarah ke Basrah tetap menjadi tradisi setiap Festival.

Semula acara Festival hanyalah baca puisi yang kemudian disusul dengan diskusi tentang puisi-puisi yang dibaca, oleh para penyair bersama kritikus-kritikus sastra yang diundang. Pada waktu pertama kali diselenggarakan, yang diundang hanya sekitar lima puluhan penyair dan pakar sastra dari Arab. Ditambah para wartawan dan peserta dari Irak sendiri, tidak sampai 200 orang.

Kini yang diundang tidak saja dari negara-negara Arab, tapi juga dari negara-negara Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Sejak Festival ke-9, undangan mencapai seribu orang yang terdiri dari para penyair, tokoh-tokoh dan pengamat sastra, serta wartawan, ditambah seribu undangan dari Irak sendiri.

Tahun 1989, Festival Mirbid X yang panitianya diketuai oleh Latief Nasief Jasim, menteri Kebudayaan dan Penerangan Irak, juga mengundang tidak kurang dari seribu sastrawan dari luar Irak, termasuk —untuk pertama kali— dari Indonesia. Festival kali ini bertemakan “Untuk Masa Lalu Kita Bernyanyi... dan Untuk Masa Depan Kita Melepas Kata”, dan berlangsung dari tanggal 24 November sampai dengan 1 Desember. 

Acaranya, di samping Baca Puisi yang dilangsungkan di ruang teater Ar-Rasyid dan di Universitas Baghdad (untuk Non-Arab), juga dilangsungkan seminar-seminar tentang sastra.

Hari pertama, semua peserta dibawa berkunjung ke Basrah, kota bersejarah yang sering mereka sebut “Kota Penyair” dan ke kota perbatasan dekat Syath el-Arab, tempat pertemuan sungai Tigris dan Efrat, Fao yang kini mereka juluki “Kota Pengorbanan dan Pintu Gerbang Kemenangan Agung”

Di kedua kota ini, para penyair Arab membacakan puisi-puisi yang rata-rata memuji-muji kedua kota tersebut, Irak, dan Saddam Husein. (Ternyata belakangan, puisi-puisi pujian semacam itulah yang mendominasi hari-hari Pekan Puisi Mirbid).

Dari Irak sendiri, cobalah dengar cuplikan puisi penyair kenamaan mereka, Abdul Razzag Abdul Wahid, puisi panjang berjudul “Wahai Mahkota Segala Debu Bumi”:  

Inilah Fao ... siapa berani menyebutnya
Di tanahnya terpendam berita paling nyata
Siapa dapat melukai kebanggan? Tanah inilah wibawanya
Karena lukanya yang menyatu adalah panji-panjinya

Inilah Fao .. Maha Besar Allah yang menghendakinya
Lebur lalu dari puing-puing Ia kembali menciptanya
Agar menjadi bukti abadi yang nyata
Bahwa kehidupan yang sesungguhnya kematianlah mulanya!

Penyair Irak yang lain, Abdul Wahab Ai-Bayaty, berdendang dalam puisinya yang berjudul “Al-Basrah”.

Ia, seperti biasa, penduduknya yang bersahaja
Melakukan kepahlawanan dan pengorbanan
Menyuling mukjizat dari sejarah
Dan tanda-tanda kemenangan
Dan dengan wajahnya yang polos
Di segala masa
- Kota para penyair dan ulama —
Melawan para penyerang

Anthoan Ra'd dari Libanon juga berbicara tentang kota perbatasan yang berhasil direbut kembali dari Iran itu. Dalam puisinya yang berjudul "Pengantin Fao", dia berkata:

Ialah pengantin maka berdendanglah para pendendang
Ialah pengantin maka menarilah para penari
Bersiullah ibu-ibu Irak! "
Pengantin wanita telah dikembalikan kepada kita
Ia semula tertawan
Kini kembali kepada kita berseri-seri
Bagai mentari Irak
Suci
Bagai air Irak
Anggun
Bagai rakyat Irak
Bersiullah ibu-ibu Irak!

Dr. At-Tuhamy, penyair dari Mesir membaca sajaknya, “Fao Saddam":

Di Fao ... dalam pelukannya tak tersisa batu
Kecuali di dalam relung-relungnya hidup manusia
Ruh mengalir bersamanya memberinya hidup dan
: kedamaian
Mengharap-harap kebangkitannya dan menanti
Dari Fao mengalir api ke dalam darah mereka
Mengajarkan kepada manusia bagaimana menang

Dari Yaman, penyair Ali Mahmud Afif memuji Baghdad dan tentara Saddam:

Baghdad demi Allah hari-hari menjadi saksi
Kalau saja ia tak ada Arab pun tak kan pernah ada
Kalau saja tak ada pasukan Saddam tak akan ada
lagi
Bangsa Arab boleh dikafani

Meski pembacaan puisi sudah dimulai di Basrah dan Fao, namun secara resmi, Festival baru dibuka esok harinya, tanggal 25/11. Dalam acara pembukaan, selain sambutan menteri Kebudayaan dan Penerangan mewakili Presiden Saddam Husein dan hiburan kesenian, nyanyian dan tarian tradisional, kembali puisi-puisi dibacakan. Putri Kuwait yang cantik, Dr. Su'ad As-Shabah, mengawali dengan puisi yang “lain”, puisi emansipasi berjudul “Pembrontakan Babon Yang Dimanja”.

Akan kuumumkan atas nama Su'ad
Hindun dan Lubna
Atas nama perawan
Akan kuumumkan atas nama beribu-ribu babon
yang dimanjakan
Atas nama ribuan babon
yang dikalengkan
Aku mencekikmu di bawah jalinan rambutku
Aku minum darahmu bagai alkohol
Dan aku tak akan menarik kembali pernyataanku

Setelah itu, beberapa penyair, antara lain Muhammad Miftah Al-Faitury dari Sudan dan Abdul Mun'im Al-Anshary dari Mesir, membaca sajak-sajak yang rata-rata mirip dengan sajak-sajak yang kemarin dibaca di Basrah dan Fao.  

Setelah acara pembukaan, semua peserta dan undangan beramai-ramai menuju ke tugu peringatan Unknown Soldier untuk meletakkan karangan bunga. Kemudian kembali ke Hotel Mansour Melia, acara pembukaan pameran buku kebudayaan Irak. Sore harinya mulailah parade baca puisi dan seminar.  Hari-hari berikutnya acaranya sama, pagi sore baca puisi dan seminar. Hanya diselingi kunjungan-kunjungan ke Saddam Art Centre, ke Babylon, dan musium Irak. Dan kadang-kadang malam hari dipertunjukkan kesenian tradisional.  

Selain panitia sendiri menerbitkan journal “Al-Mirbad” yang memuat berita kegiatan Festival dan beberapa puisi yang dibaca, semua mass media tak ada yang lupa meliput kegiatan sastra itu.

Dulu pernah diadakan acara pemberian hadiah kepada penyair yang puisinya dinilai paling baik, tapi karena sering terjadi protes peserta terhadap keputusan juri, acara itu pun ditiadakan. Namun sebagai gantinya, Presiden Saddam Husein setiap tahun memberikan hadiah penghargaan di bidang kesusasteraan. 

Dalam Festival X ini, hadiah dan medali penghargaan diberikan sebelum Festival berakhir oleh Izzat Ibrahim, wakil Majlis Komando Revolusi, mewakili Saddam Husein. Dan yang memperoleh penghargaan adalah Dr. Nouri Hamoudi Al-Gaisy dari Irak di bidang sejarah kebudayaan, Dr. Ahmad Muchtar Umar dari Mesir di bidang studi bahasa, Muhammad Miftah Al-Faitury dari Sudan di bidang puisi, Dr. Muhammad Miftah dari Maghribi di bidang studi sastra, Fathi Ghanim dari Mesir untuk penulisan cerita dan naskah drama. Di samping itu, juga diberikan, untuk pertama kali, penghargaan kepada Muhammad Bahjah Al-Atsary dari Irak sebagai penulis paling produktif.

Ternyata, meskipun kini tidak hanya negara-negara yang berbahasa Arab saja yang diundang, namun tetap saja Festival Mirbid adalah Festival Arab. Kehadiran sastrawan-sastrawan non Arab di  Festival lebih diperlukan secara politis daripada untuk partisipasi. Seminarnya pun mendiskusikan topik-topik khas Arab, seperti tentang Fenomena Seni dalam Puisi Perang, Bahasa puisi Arab Modern, dan Penyair Arab Modern, Puisi-puisi yang dibaca selama Festival, seperti telah disinggung di muka, bahkan kebanyakan lebih menyengatkan bau politis. 

Keuntungan yang diperoleh oleh para peserta non Arab tentu tetap ada. Paling tidak mereka dapat mengikuti dari dekat perkembangan kesusasteraan Arab, khususnya perkembangan perpuisiannya. Di samping mereka dapat saling kenal dan saling tukar informasi serta berdiskusi di antara mereka sendiri maupun dengan sastrawan-sastrawan dari negara-negara Arab.

Saya sendiri dalam setiap kesempatan, selalu berusaha “mempromosikan” kesusasteraan Indonesia sambil tidak lupa membagi-bagikan puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, Taufig Ismail, Abdul Hadi W.M., Leon Agusta, dan Abdul Hamid Jabbar, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dan Alhamdulillah, saya bangga, banyak dari mereka yang dengan tulus memuji puisi-puisi kita itu. Sastrawan-sastrawan Tunisia bahkan membicarakannya di antara mereka, pimpinan redaksi koran Asy-Sya'b dan penulis novel, Mohammed Dahou dari Aljazair, Ast Director majalah Homeros, U. Yasar Isikhan dari Turki minta wawancara dengan delegasi kita dan minta izin memuat puisi-puisi Taufig Ismail cs dalam terbitan mereka, dan kritikus sastra dari Libia dan rekannya dari Mesir — setelah membaca dan membicarakan puisi-puisi kita itu — menganjurkan agar produk-produk sastra Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Demikianlah selayang pandang mengenai Festival Puisi Mirbid yang ditutup bersamaan dengan hari besar Irak, Ied asy-Syuhadaa (Agaknya ditradisikan setiap tahunnya demikian). Saya tidak tahu — jika “model” Festival tetap begitu — apakah sastrawan-sastrawan kita masih akan mau diundang.  Untuk kelengkapan laporan ini, rasanya perlu saya menerjemahkan beberapa puisi Arab yang nadanya agak “lain” dari yang kebanyakan tadi.

(Catatan Gus Mus setelah memenuhi undangan Panitia, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Taufig Ismail, Leon Agusta, A. Hamid Djabbar dan K.H. Mustofa Bisri berangkat ke Bagdad menyertai Festival Puisi Mirbid X di Irag, 25 Nopember — 1 Desember 1989.)

>Sumber: Majalah Sastra Horison, Nomor XXIV/473 Tahun 1990

ADMIN

BACA JUGA