YURISTGAMEINIGAMEID101

HIDUPKAN HATI MELALUI SALAT

Telah banyak referensi yang membahas shalåt dari segi fiqih, hukum-hukum shalat, dan segala sesuatu yang menjadi syarat keabsahannya, serta apa saja yang dapat merusak nilai-nilai shalat atau yang membatalkannya. Karena itu, maksud penulisan ini untuk membahasnya dari segi aspek rohani dan nilai-nilai tambahan shalat. Juga sangat kami tekankan peningkatan nilai tambah untuk mengarahkan kita dan kehidupan hati kita, di saat kebanyakan manusia menyibukkan diri dalam upaya memperoleh materi yang lebih. Adalah suatu kepentingan mendesak, yaitu perlunya menghidupkan shalat, sebagaimana Rasulullah saw. menghidupkannya, sehingga dengan shalat, kita merasakan kebahagiaan rohani dan kelezatan ketaatan, serta selalu dengan setia menunggu tibanya waktu shalat, dan menyambutnya dengan luapan kegembiraan. Hal ini sebagaimana kegembiraan seseorang yang ketika sedang haus dahaga, tiba-tiba ia memperoleh seteguk air dingin dan segar. 

Rasulullah saw. mengibaratkan perihal perasaan semacam itu sebagaimana sabdanya,
"Aku jadikan shalat itu menyejukkan hatiku." 



Beliau juga bersabda, "Hai Bilal, puaskanlah kami dengan shalat.”
Beliau bangun tengah malam untuk melakukan shalat malam sampai kedua kakinya bengkak dan tanpa dirasakan, seakan-akan tak ada rasa sakit sedikit pun. Sebab beliau merasakan adanya kebahagiaan rohani dan berkhalwat dengan Allah swt., bersama-Nya semua penderitaan fisik menjadi kecil.

Tak diragukan lagi bahwa kebanyakan di antara kita "shalatnya tidak hidup”, menurut gambaran yang indah nan tinggi seperti itu, yang menghidupkan hati kita dan melapangkan dada kita. Bahkan, ada pula sebagian di antara kita yang merasa berat ketika menyambut waktu shalat. Malah seandainya boleh, beban berat iłu ingin dibebaskannya. Yang demikian ini justru menjauhkan kita dari hakikat shalat dan dari hakikat "hidup dałam mihrab shalat". Maka marilah kita melangkah untuk memperoleh secara saksama suatu kehidupan di dałam shalat, yang dengannya pula hati kita menjadi hidup, begitu pula rohani kita. Mari kita raih ”kehidupan dałam mihrab shalat”.

___Sumber: Berjumpa Allah Lewat Salat, karya Syekh Mushthafa Masyhur, Penerjemah Abu Fahmi, Jakarta: Gema Insani, 2002.

ADMIN

BACA JUGA