YURISTGAMEINIGAMEID101

IBADAH HANYA UNTUK ALLAH

Ibadah kepada Allah swt. merupakan suatu hal yang penting. Karena itulah, Allah swt berkehendak menciptakan kita dan Dia pulalah pokok misi di dalam kehidupan ini. "Dan tidaklah aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Allah mewajibkan ibadah kepada kita bukan untuk kepentİngan-Nya, tetapi justru untuk kebaİkan kita sendiri, agar kita mencapai derajat takwa yang dapat menyucikan kita dari kesalahan dan kemaksiatan, sehingga kita dapat keuntungan dengan keridhaan Allah dan surgaNya serta dijauhkan dari api neraka dan azab-Nya. Allah berfirman,

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu mencapai derajat takwa. " (al-Baqarah: 21)

Pada hakikatnya, jika kita isi seluruh kehidupan kita ini untuk beribadah dan beramal dalam rangka taat kepada Allah, maka semua itu belum seimbang apabila kita belum mensyukuri nikmat-nikmat yang Dia berikan kepada kita—salah satunya, seperti nikmat penglihatan yang merupakan bagian dari nikmat Allah yang tak terbatas dan tak terbilang jumlahnya. Allah berfirman,

"Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya benar-benar Allah itu Maha Pengampun dan Penyayang." (an-Nahl: 18)

Sesungguhnya pengabdian dan ibadah kita semata-mata hanyalah untuk Allah. Karena, hal itu merupakan kemuliaan yang agung dan mempunyai kedudukan yang tinggi. Sehingga Allah menyifatinya sebagai rnakhluk termulia di sisi-Nya, sebagaimana disebutkan di dalam KitabNya,

"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkati sekelilingnya." (al-lsraas: I)

Akidah tauhid dan Ibadah kepada Allah merupakan risalah (mission) yang didatangkan oleh-Nya kepada seluruh para rasul-Nya. Maka, setiap rasul berkata kepada kaumnya,

"Hai kaumku beribadahlah kepada Allah karena sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. " (al-Mukminun: 23)

Kami ingin mengingatkan makna ibadah dalam artian sempit yang banyak dipakai Oleh kebanyakan umat Islam, juga yang telah melingkupi pemahaman ibadah atas kewajiban yang empat, yaitu shalat, zakat, puasa, dan haji-sebagaimana disebutkan berulang-ulang dalam kitab-kitab fiqih Ibadah.

Firman Allah tentang beribadah yang termaktub dalam AI-Quran surah adz-Dzaariyaat ayat 56, dapat dipahami agar menjadikan seluruh kehidupan kita hanya dalam rangka beribadah kepada Allah, dengan catatan ibadah-ibadah yang empat itu (shalat, zakat, puasa, dan haji) tidak terhapus Oleh pengertian tersebut, tetapi merupakan bagian tersendiri yang tentukan berdasarkan waktu yang kita miliki. Alhasil, setiap tuntutan Islam Yang diwajibkan kepada kita merupakan ibadah. Dakwah kepada Allah— ibadah menyeru kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar—adalah ibadah menegakkan dinullah di atas bumi ini adalah ibadah, berhukum pada syariat Allah adalah ibadah, jihad di jalan Allah adalah ibadah, dan setiap Yang berindikasi ibadah adalah ibadah. Oleh karena itu, makan dan minum juga ibadah jika kita niatkan untuk memperkokoh penghambaan kepada Allah dan mentaati-Nya dengan syarat bahwa makanan dan minuman tersebut bersifat halal, baik zat maupun pengadaannya.

Pengkajian bagi setiap pelajar muslim adalah ibadah jika diniatkan untuk kemanfaatan Islam dan kaum muslimin dengan ilmu yang dipelajarinya itu. Beramal di setiap sektor dapat digolongkan sebagai ibadah, jika diniatkan untuk menjadikan diri kita sebagai pelayan Islam dan kaum muslimin. Melangsungkan perkawinan adalah ibadah jika dimaksudkan untuk membangun keluarga muslim dan melahirkan keturunan yang saleh.
Begitu pula olahraga dapat tergolong ibadah jika dimaksudkan untuk menguatkan badan agar mampu memikul beban dakwah dan jihad.

Berdasarkan pemahaman tersebut, kita dapat menjadikan rumah kita sebagai mihrab, fakultas sebagai mihrab, pabrik sebagai mihrab, begitu juga sawah ladang, tempat berdagang, tempat main sebagai mihrab untuk ibadah. Kita mengabdikan diri kepada Allah di tempat-tempat tersebut, dengan berbagi aktivitas yang diniatkan untuk menegakkan syarİat. Dunİa kita jadikan mihrab raksasar kita dapat mengabdikan diri kepada Allah di dalamnya melalui segala aktivitas kita, dan pada setiap waktu luang kita. Dengan demikian, kita merealisasikan apa yang tertera dalam ayat 56 surah adz-Dzaariyaat tersebut.

Kita dituntut untuk selalu kokoh dalam ibadah dan menyempurnakan ke tingkat yang paling ünggi dalam tingkatan din, yaitu ihsan sebagaimana telah didefinisikan oleh Rasulullah saw.

"Al-ihsan itu mengabdi kepada Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya maka jika kamu tidak melihat-Nya ketahuilah bahwa Allah melihatmu.”

Maka kokoh dalam ibadah sangat dituntut dan gigih beramal juga dituntut. Ketika menunaikan shalat, pada hakikatnya kita bertujuan untuk mencapai tingkat dan mewujudkan "kehidupan di mihrab shalat”. Jika setiap muslim mendambakan kondisi semacam ini, peran para dai yang menyeru kepada Allah di lapangan dakwah Islam sangat memerlukan kelebihan-kelebihan dalam langkah dan metodenya agar menjadi panutan yang saleh bagi umat.

____
Sumber: Berjumpa Allah Lewat Salat, karya Syekh Mushthafa Masyhur, Penerjemah Abu Fahmi, Jakarta: Gema Insani, 2002.

ADMIN

BACA JUGA