YURISTGAMEINIGAMEID101

KISAH KETIKA HAMBA MELIHAT ALLAH DI SURGA

Kisah Ketika Hamba Melihat Allah
Kisah Ketika Hamba Melihat Allah di Surga

SUFINESIA.COM - Anas bin Malik r.a. meriwayatkan dari Nabi saw.: Setelah menempatkan penduduk surga di surga dan penghuni neraka di neraka, Allah turun ke surga setiap 7.000 tahun sekali dalam tahun akhirat. Sedang satu hari akhirat adalah seperti yang difirmankan Allah, “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu” (9S. al-Hajj: 47). Allah Swt. turun di taman surga. Lalu Dia membentangkan hijab cahaya dari taman tersebut hingga tempat penduduk surga berada. Setelah itu Dia mengutus Jibril as. untuk menemui penduduk surga dan menyuruh mereka mengunjungi Allah . 

Seseorang berangkat dalam satu rombongan besar yang dikelilingi suara sayap para malaikat, gema tasbih mereka, dan cahaya yang tinggi dari arah depan mereka laksana gunung. Penduduk surga melongok ke depan dan bertanya-tanya, “Siapakah orang yang telah diizinkan Allah untuk mengunjungi-Nya?” “Ini adalah orang yang diciptakan dengan tangan-Nya, yang menjadi tempat-Nya meniupkan roh-Nya, yang diajari-Nya nama-nama makhluk-Nya, dan yang menjadi objek sujud malaikat-malaikat-Nya. Ini Adam as. Dia telah diizinkan mengunjungi Allah ” Jawab para malaikat. 

Kemudian seseorang berangkat dalam satu rombongan yang sama yang dikelilingi gema tasbih malaikat dan cahaya yang tinggi di hadapannya. Penduduk surga melongok ke depan dan bertanya-tanya. “Siapakah orang yang telah diizinkan Allah untuk mengunjungi-Nya?” “Ini adalah orang yang dipilih-Nya untuk menerima wahyu-Nya, yang dipercaya-Nya untuk mengemban risalah-Nya, yang diutus dengan kenabian-Nya, dan yang api dijadikan-Nya dingin untuknya. Ini Ibrahim kekasih Tuhan semesta alam dan kekasih-Nya yang tiada duanya.” Jawab para malaikat. 

Lalu seseorang berangkat dalam satu rombongan yang sama yang dikelilingi gema tasbih malaikat dan cahaya yang tinggi di hadapannya. Penduduk surga melongok ke depan dan bertanya-tanya, “Siapakah orang yang telah diizinkan Allah untuk mengunjungi-Nya?” “Ini adalah orang yang dipilih untuk diri-Nya, yang dicintai-Nya, yang batu dilembutkan-Nya untuknya, yang diberi manna, salwa, dan awan, yang didekatkan-Nya kepada-Nya, serta yang diberi-Nya lempengan-lempengan berisi segala sesuatu dan yang diajak-Nya bicara. Ini Musa bin Imran as. Allah telah mengizinkannya mengunjungi-Nya.” Jawab para malaikat.

Lalu seseorang berangkat dalam rombongan seperti rombongan Adam, rombongan Ibrahim, rombongan Musa, dan seluruh rombongan penduduk surga serta dikelilingi gema tasbih malaikat dan cahaya yang tinggi di hadapannya. Penduduk surga melongok ke depan dan bertanya-tanya. “Siapakah orang yang telah diizinkan Allah untuk mengunjungi-Nya.” “Ini adalah orang yang dipilih-Nya untuk menerima wahyu-Nya, yang dipercaya-Nya untuk mengemban risalah-Nya dan yang diutus-Nya dengan kenabian-Nya. Dia adalah penutup para nabi dan rasul, pemilik wa'ul hamd (panji-panji pujian), orang pertama yang keluar dari bumi, pemimpin anak Adam as., nabi yang memiliki telaga terluas dan tempat tinggal terbesar, pemberi syafaat paling awal dan penerima izin memberi syafaat paling dahulu. Ini Ahmad, Allah telah mengizinkannya mengunjungi-Nya.” Jawab para malaikat. 

Lalu seluruh nabi keluar bersama semua umatnya. Disusul kemudian oleh syiddigin dan syuhada berdasarkan kedudukan mereka. Kemudian mereka berkumpul di sekeliling Arsy. Kemudian Allah —dengan suara-Nya yang merdu dan menawan—berfirman kepada mereka, “Selamat datang, wahai hamba-hamba-Ku, makhluk-Ku, tamu-Ku, dan tetangga-Ku. Muliakan mereka!” Para malaikat langsung bangkit dan memasang mimbar dari cahaya untuk para nabi, ranjang dari cahaya untuk para shiddig, dan kursi dari cahaya untuk syuhada. Sementara manusia-manusia yang lain ada di atas gundukan minyak kasturi. 

Para malaikat tidak mempunyai bagian sedikit pun dari surga, tidak makan dan tidak minum di dalamnya, dan mereka adalah makhluk yang diciptakan untuk beribadah di dunia dan di akhirat. Mereka dijadikan cinta pada tasbih sebagaimana manusia dijadikan cinta pada syahwat. Pemandangan inilah yang dimaksud dengan firman Allah: “Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling Arsy bertasbih memuji Tuhannya” (OS. az-Zumar: 75). Kemudian Allah berfirman kepada mereka, “Selamat datang, wahai hamba-hamba-Ku, makhluk-Ku, tamu-Ku, dan tetangga-Ku. Berilah mereka makan!”

Tiba-tiba di hadapan penduduk surga yang terendah kedudukannya telah disiapkan 70.000 talam emas yang warna-warni dan berisi berbagai macam jenis daging burung. Kelembutannya seperti kelembutan keju, baunya bak minyak kasturi, dan manisnya laksana madu. Ia tidak memiliki bulu maupun tulang. Ia tidak dimasak dengan api dan tidak diiris dengan pisau. Penduduk surga itu memakan dari semua jenis dan ia mendapati rasa makanan terakhir yang dimakannya berbeda dengan rasa makanan yang pertama. Setelah itu Allah berfirman kepada mereka, “Selamat datang, wahai hamba-hamba-Ku, makhluk-Ku, tamu-Ku, dan tetangga-Ku. Berilah mereka makan!” 

Tiba-tiba di hadapan penduduk surga yang terendah kedudukannya berdiri 70.000 anak muda laksana mutiara yang berjajar sambil memegang wadah-wadah perak dan cerek-cerek emas yang berisi minuman yang dinginnya seperti es, manisnya laksana madu, dan baunya seperti minyak kesturi. Ia dicampur dengan jahe dan kamper serta distempel dengan tinta minyak kasturi. Rasa antara satu jenis minuman dengan yang lain tidak sama. 

Anak-anak muda itu menyuguhkannya hingga ke mulutnya selama 40 hari. Ia tidak pusing dan tidak mabuk. Ia tidak sama dengan minuman keras yang menghilangkan akal, melemahkan kaki, dan memabukkan. Lalu Allah berfirman kepada mereka, “Selamat datang, wahai hamba-hamba-Ku, makhluk-Ku, tamu-Ku, dan tetangga-Ku. Makanlah buah-buahan surga!” 

Ternyata tinggi pohonnya setinggi gunung dan besarnya sebesar tempayan besar. Ia mengundang selera, berasa segar dan berlemak. Ia adalah kurma segar yang pernah disebutkan Allah untuk Maryam. Kemudian Allah berfirman kepada mereka, “Selamat datang, wahai hamba-hamba-Ku, makhluk-Ku, tamu-Ku, dan tetangga-Ku. Berilah mereka pakaian!” 

Tiba-tiba mereka berada di depan sebatang pohon emas yang berpelepah perak dan yang menumbuhkan sutra tipis, sutra tebal, dan sutra halus. Lalu mereka menerima pakaian-pakaian terlipat yang diseterika dengan cahaya Allah dan dihias dengan wahyu. Setelah mereka memakainya, Allah berfirman, “Hamba-hamba-Ku, makhluk-Ku, tamu-Ku, dan tetangga-Ku telah makan, minum, menyantap buah-buahan, dan berpakaian. Sekarang, berilah mereka minyak wangi!” 

Maka angin di surga yang bernama “mutsirah' (perangsang) berembus dan menyebarkan wangi minyak kasturi putih yang sangat wangi dan mengenai mereka lewat celah-celah pepohonan hingga membasahi pakaian dan serban mereka. Setelah itu Allah Swt. berfirman, “Hamba-hamba-Ku, makhluk-Ku, tamu-Ku, dan tetangga-Ku telah makan, minum, menyantap buah-buahan, berpakaian, dan memakai wewangian. Demi kebesaran-Ku, Aku akan memperlihatkan wajah-Ku kepada mereka.” 

Maka Allah Swt. menampakkan diri kepada mereka sambil berfirman, “Assalamualaikum, wahai hamba-hamba-Ku. Lihatlah Aku! Aku telah meridhai kalian!” Serentak mereka mengatakan, “Mahasuci Engkau. Mahasuci Engkau.” Lalu mereka menggunakan matanya untuk menatap wajah Allah yang dulunya tidak mampu untuk sampai kepada-Nya, Yang menampakkan diri pada gunung lalu ia menjadi pecah berantakan, Yang menyebabkan Musa as. terjatuh tak sadarkan diri, yang memegang segala isi bumi pada hari kiamat, yang melipat langit dengan tangan kanan-Nya, dan yang menyebabkan bumi bersinar dengan cahaya-Nya. Mahasuci dan Mahaluhur Allah. Penduduk surga menganggap remeh surga dan semua isinya saat mereka melihat Allah."

Catatan:
Hadis tersebut dianggap hadis munkar, yakni hadis yang diriwayatkan oleh seorang diri periwayat yang dhaif, atau hadis yang bertentangan dengan periwayat yang lebih kuat. Hadis tersebut, di dalam sanadnya terdapat Yahya bin Abdullah al-Harani seorang yang didha'ifkan Abu Zar'ah dan ulama lainnya. Lihat al-Mizan (4/390) dan syaikhnya, Dhirar, seorang yang matruk dan didustakan oleh Ibnu Ma'in. Lihat adh-Dhu'afa wa al-Matrukun, Daruguthni (302 dan catatan kakinya). Di dalam sanadnya juga terdapat Yazid bin Aban ar-Ragasyi seorang yang di-matruk-kan Nasa'i dan Daruguthni. Lihat adh-Dhu'afa wa al-Matrukun, Daruguthni (593 dan catatan kakinya).Namun meski demikian, kisah dalam hadis tersebut, bisa menjadi gambaran bagaimana keadaan surga dan perasaan ketika para hamba melihat wajah Allah. 


-Sumber: Ar-Riggah,  Syaikhul Islam Muwaffaguddin Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Oudamah al-Magdisi, Editor: Saptorini, S.S., Indiva Pustaka, Surakarta, 2009.

ADMIN

BACA JUGA