YURISTGAMEINIGAMEID101

MERAYU ALLAH DENGAN ASMAUL HUSNA

Merayu Allah dengan Asmaul Husna

Allah terbebas dari nama-nama yang buruk, rendah dan menghinakan. Sebab Dia melekat dengan nama-nama yang baik (asma’ul husna). Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur’an:

  “Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Dia mempunyai asma’ul husna (nama-nama yang baik)”.[1]

“Allah memiliki asma’ul husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu…”[2]  

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa nama-nama yang baik bagi Allah itu ada 99 (sembilan puluh sembilan). Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw.. bersabda:

“Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, yaitu 100 kurang satu…..”[3] 

Al Qur’an maupun As-Sunah sendiri tidak secara tegas menyebutkan satu per satu ke-99 nama tersebut. Itulah sebabnya, sejumlah perawi merasa perlu melakukan ijtihad untuk dapat mengetahuinya.

Pada akhir abad II hingga awal abad III Hijriyah, tiga perawi hadits yaitu Al-Walid bin Muslim, Abdul Malik As-Shan’ani dan Abdul Aziz bin Hashin berijtihad dalam mengungkap 99 asma’ul husna ini. Ijtihad ditempuh dengan cara menyimpulkannya dari Al Qur’an, As-Sunah serta ijtihad ulama yang hidup di zamannya.[4]

Dari ketiga perawi di atas, ijtihad Al-Walid bin Muslim (wafat tahun 195 H) merupakan yang terkenal dan diakui. Beliau, menurut para ulama al-jarh wa at-ta’dil,[5] banyak melakukan tadlis[6] ketika meriwayatkan haditsnya.[7] Al-Walid pun sering menceritakan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim.

Adapun ijtihad Abdul Malik As-Shan’ani, tidak diterima karena meriwayatkan hadits maudhu’ (palsu).[8] Begitu pula dengan Abdul Aziz bin Hashin  – yang menurut Imam Muslim[9] –  dianggap sebagai perawi yang lemah. Terkait dengan ini Ibnu Al-Wajir mengatakan, “Menetapkan nama Allah yang sembilanpuluh sembilan itu harus berdasarkan nash shahih atau berdasarkan dari ketentuan Allah, meskipun penentuan nama-nama Allah tidak ada nash shahih yang menetapkannya. Menetapkan nama-nama tersebut harus berdasar pada Al-Qur’an dan hadits yang shahih.”[10]

Untuk mengetahui nama-nama Allah, Mahmud Abdur Raziq Ar-Ridhwani (2008) menyebutkan ada lima syarat yang menjadi pedomannya, yaitu: 1) nama tersebut harus mengacu pada ketetapan nash Al-Qur’an atau hadits shahih; 2) dapat dibuktikan secara ilmiah serta sesuai dengan kaidah bahasa Arab; 3) menggunakan isim mutlaq yang tidak disandarkan dengan kata lain; 4) kata sifat yang terkandung dalam setiap asma’ul husna harus menunjukkan kesempurnaan; 5) nama-nama tersebut harus menunjukkan sifat Allah.

Persyaratan ini menunjukan bahwa penentuan atau penyebutan nama-nama Allah tidak boleh dilakukan sembarangan. Melainkan, harus dilakukan secara cermat dan disertai latar keilmuan yang mendukung serta memadai. Pasalnya, keagungan, kemuliaan, kedalaman, dan keluasan makna dari sifat-sifat Allah tidak boleh menyamai sifat-sifat makhluk. Apalagi sampai merendahkan-Nya.

Alhamdulillah, kini kita telah mengetahui sifat-sifat Allah sebagaimana yang bisa kita pahami dari nama-nama-Nya (asma’ul husna).  Banyak kitab yang menguraikan mengenai sifat-sifat Allah yang terkandung dari masing-masing nama-Nya itu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah r.a. kembali mengingatkan, “…. Nama-nama Allah yang telah dikenal di kalangan umat Islam adalah riwayat At-Tirmidzi yang diriwayatkan dari Al-Walid bin Muslim dari Syu’aib dari Abu Hamzah. Ulama hadits berkata, “Penentuan (nama-nama Allah – pen) tersebut adalah hasil ijtihad Al-Walid bin Muslim….[11]

Demikianlah, semoga Allah menjadikan Al-Walid bin Muslim termasuk salah seorang “hamba terpilih”, karena berkat hasil ijtihadnya dan hidayah dari-Nya, kita bisa mengenal satu per satu dari 99 nama-nama yang baik bagi Allah termasuk di dalamnya lafzh al-jallālah (Allah), Ar-Rahman, serta nama-nama yang lainnya. Meskipun memang, hanya Allah jua yang tahu persis mengenai nama-nama-Nya itu. 

“Allah memiliki asma’ul husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu…”.[12]

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asma’ul husna (nama-nama yang terbaik)….”.[13]

Berdasarkan ayat-ayat di atas, Allah memerintahkan setiap hamba-Nya untuk menyeru dan memohon dengan menyebut nama-nama-Nya yang baik (asma’ul husna). Maka dari itu, berdoa lah dengan “kekuatan” asma’ul husna.

Berdoa dengan “kekuatan” asma’ul husna yaitu, memanjatkan permohonan kepada Allah melalui kesungguhan dalam mengagungkan asma’-Nya. Tetapi, pengagungan ini tidak sebatas terucap oleh bibir (tatkala kedua tangan menengadah kepada-Nya), tetapi harus terpatri di dalam hati dan terejawantahkan melalui sikap serta perilaku sehari-hari. Sebab, seandainya pengagungan terhadap asma’-Nya sudah melandasi hati dan perbuatan kita, insya Allah, segala doa yang kita panjatkan kepada-Nya akan memancarkan energi atau kekuatan yang bersumber dari (pengagungan terhadap) asma’-Nya itu.
Endnote:

[1] QS. Thā Hā [20] : 8.
[2] QS. Al-A’rāf [7] : 180.
[3] HR. Bukhari.
[4] Mahmud Abdur Raziq Ar Ridhwani, 2008. Khasiat Asmaul Husna: Cara Berdoa dengan Asmaul Husna Sesuai Sunnah Nabi SAW.. Cet. 1. Klaten, Wafa Press.
[5] Ilmu mengenai cacat-tidaknya seorang perawi dalam meriwayatkan hadits.
[6] Tadlis adalah tindakan seorang perawi yang tidak mencantumkan atau mengaburkan status salah seorang perawi dalam silsilah sanadnya.
[7] Ibnu Hajar, Taqrīb at Tahdzīb, 2/336.
[8] Imam Adz-Zahabi,  Al-Kāsyif, 2/214.
[9] Adh-Dhu’afā’ Wa al-Matrūkīn, 2/109.
[10] Al-Awāshim, 7/228.
[11] Al-Fatawā al-Kubrā, 1/217.
[12] QS. Al-A’rāf : 180.
[13] QS. Al-Isrā’: 110.


ADMIN

BACA JUGA