YURISTGAMEINIGAMEID101

MISTERI SUFI ANA AL-HAQ - M. NASRUDDIN ANSHORIY CH

Misteri Sufi Ana al-Haq
Syaik Ibrahim Gazur Mengungkap Misteri Sufi Besar Mansur Al-Hallaj, Rajawali, Jakarta, 1986
oleh M. Nasruddin Anshoriy Ch


Misteri Sufi Ana al-Haq - M. Nasruddin Anshoriy Ch

Husein al-Manshur, seperti yang diceritakan A.J. Arberry dalam bukunya yang berjudul Muslim Saint and Mystics, mula-mula pergi ke Tustar dan ia mengabdi kepada Sahl bin Abdullah selama dua tahun. Setelah itu Manshur yang lazim dijuluki al-Hallaj ini pindah ke Baghdad. Ketika mulai mengembara, ia baru berumur delapan belas tahun. 

Al-Hallaj, yang nama lengkapnya Abul Mughits al-Hussein bin Manshur al-Hallaj, adalah tokoh sufi yang paling kontroversial di dalam sejarah mistisisme Islam. Ia lahir sekitar tahun 244 Hijriah atau sekitar 858 Masehi di dekat kota al-Baiza' di propinsi Fars. Al-Hallaj sangat sering melakukan pengembaraan: mula-mula ke Tustar dan Baghdad, kemudian ke Makkah, dan seterusnya ke Khuzistan, Khurasan, Transoxiana, Sistan, India dan terakhir ke Turkistan sebelum kembali ke Baghdad. 

Tapi karena khotbah-khotbahnya yang berani mengenai bersatunya manusia dengan Allah, alHallaj dipenjarakan, dengan tuduhan telah menyebarkan faham inkarnasionisme. Al-Hallaj dijatuhi hukuman mati. Dan, hukuman ini secara kejam dan sadis telah dilaksanakan pada tanggal 29 Zulkaidah 309 H atau 28 Maret 913 M. 

Setelah itu banyak cerita-cerita orang mengenai al-Hallaj, Mengenai pribadinya, orang-orang berpecah dua. Sekelompok orang dengan penuh kebencian menentang al-Hallaj serta ajaran-ajarannya. Sekelompok yang lainnya, dengan penuh kesetiaan mendukung al-Hallaj beserta seluruh ajarannya. Tapi yang jelas, baik kelompok yang membenci maupun kelompok yang mencintai al-Hallaj, masing-masing telah menyaksikan keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh al-Hallaj. Konon, sewaktu al-Hallaj masih hidup, lidah fitnah-lah yang menyerangnya. Ucapan-ucapan dan khotbah-khotbah al-Hallaj disampaikan para pemfitnah kepada khalifah. Walhasil, semua pihak lalu sependapat, bahwa, al-Hallaj harus dihukum mati karena menyatakan: Akulah yang Hag — Aku adelah Kebenaran. 

Kemudian ia digiring ke panggung penghukuman. Dengan menyeret tiga belas rantai yang mem. belenggu dirinya, al-Hallaj berjalan dengan mengacung-acungkan kedua tangannya. “Mengapa engkau melangkah sedemikian angkuhnya?' » Orang-orang bertanya pada al-Hallaj. Karena aku sedang menuju ke tempat penjagalan, jawabnya. Kemudian dengan suara lantang ia bersenandung: Sahabat karibku jangan engkau katakan lalim. Seperti untuk dirinya sendiri disajikannya aku minuman yang terbaik, seperti yang dilakukan tuan rumah yang pemurah kepada tamunya, dan apabila perjamuan selesai sudah dimintanya pedang dan segulung kertas. Demikianlah takdir seseorang yang minum berlebih-lebihan bersama Draco di musim panas. 

Tatkala mereka sampai ke panggung penghukuman di Bab at-Tag, al-Hallaj mencium panggung itu sebelum naik ke atasnya. "Bagaimana perasaanmu pada saat ini wahai al-Hallaj?”, tanya orang-orang menggoda al-Hallaj. "Kenaikan bagi manusia-manusia sejati adalah di puncak tiang gantungan,” jawabnya. 

Setelah kedua lengan dan kakinya dipotong, kemudian kedua biji matanya dicungkil. Orang-orang pun gempar. Sebagian menangis dan sebagian lagi terus melemparinya dengan batu. Ketika lidahnya hendak dipotong, barulah al-Hallaj bermohon: "Bersabarlah sebentar, berilah aku kesempatan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata.” Lalu dengan wajah menengadah ke atas ia berseru: "Ya Allah, janganlah Engkau usir mereka di akhirat nanti, karena mereka telah menganiaya aku demi Engkau juga. Dan janganlah Engkau cegah mereka untuk menikmati kebahagiaan ini. Segala puji bagi-Mu, karena mereka telah memotong kedua kakiku yang sedang berjalan di atas jalanMu. Dan apabila mereka memenggal kepalaku, berarti mereka telah mengangkatkan kepalaku ke atas tiang gantungan untuk merenungi keagunganMu.” 

Kata-katanya yang terakhir yang diucapkan al-Hallaj adalah, Cinta kepada Yang Maha Esa adalah melebur ke dalam Yang Esa”. 

Eksoteris dan Esoteris 

Buku yang judul aslinya The Secret of Ana Hagg ini, merupakan terjemahan dari judul sebelumnya dalam bahasa Persi, Irshadat. Ia cukup representatif untuk memenuhi permintaan berbagai kecenderungan filsafat abad ini. Secara filosofis ia menjelaskan rahasia dari ajaran bagaimana Tuhan menyatakan diri dalam manusia sebagaimana lazimnya yang tampak pada bentuk ucapan-ucapan singkat yang dikirimkan Tuhan kepada guru-guru sufi. 

Sejarah menunjukkan, bahwa orang-orang Barat masuk Islam terutama tertarik oleh aspek sufisme. Oleh karena itu, bagi mereka, yang menarik bukanlah Ibnu Taimiyah, akan tetapi Ibnu Arabi. Dan itu terbukti, akhir-akhir ini ada tendensi yang cukup kuat bahwa pamor Ibnu Taimiyah mulai disaingi oleh pamor Ibnu Arabi. Memang, banyak bukti yang mengatakan bahwa jika tekanan diberikan secara tak wajar kepada salah satu dari kedua aspek ini, yakni esoterik dan ekgoterik, maka akan timbul kepincangan. Tekanan pada eksoterisisme menghasilkan formalisme yang kosong, yang semestinya diluruskan dengan memberikan tekanan yang wajar kepada esoterisisme, yang kali ini diwakili oleh al-Hallaj. 

Tetapi kita juga tidak menutup mata, bahwa ekses-ekses dari tekanan yang tak wajar daripada aspek esoteris akan senantiasa ada. Legenda tentang Syekh Siti Jenar di Indonesia dan fakta historis tentang al-Hallaj yang terdapat dalam buku A.J. Arberry yang saya kutip di atas, mewakili ekses-ekses tersebut. Menurut legenda itu, Syekh Siti Jenar — yang mendapat pengaruh al-Hallaj — telah dihukum oleh para wali. Jika cerita tersebut betul-betul fakta sejarah, maka tindakan para wali itu bisa dibenarkan.

Karena apa? Sebab, ajarah Syekh Siti Jenar itu seharusnya bukan konsumsi masyarakat saat itu. Jelasnya, masyarakat belum magem. Dan itu lumrah. Karena sebagaimana yang telah disebutkan, adanya tekanan yang berbeda antara diama-ir (esoteris) dan zhawahir (eksoteris). Lepas dari semua itu, buku ini cukup menarik kehadirannya di Indonesia. Sebab sebelumnya: Imu-ilmu tasawuf kian jarang disebut-sebut, terutama semenjak kebangkitan modernisasi. Buku ini hanya sebuah alternatif di antara segudang alternatif lain. Tapi ia cukup mempunyai bobot bagi kondisi sosial kita. 

ADMIN

BACA JUGA