YURISTGAMEINIGAMEID101

SETAN SALAT

Orang tidak mampu memenuhi kriteria dalam melaksanakan shalat, kecuali bagi Yang memahami dan menghayati makna yang tersirat di balik shalat-shalat tersebut. Yaitu, adanya kebaikan-kebaikan di dunia maupun di akhirat kelak. Manusia senantiasa berada dalam konfrontasi hebat melawan setan beserta konco-konconya pada pergolakan antara mempertahankan kebaikan dan melawan kejahatan di satu Sisi (menurut kita), sebaliknya di Sisi Iain menuruti kemauan setan.

Shalat lima waktu yang waktunya terbagi pada waktu subuh, siang, sore, malam—ibarat terminal-terminal tempat berpangkalnya rohani, atau bagai minuman segar pelepas dahaga untuk mengobati kegundahan jiwa yang berasal dari Sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Yang demikian itu pantas untuk dijadikan Pelindung bagi kita dari batu ujian hidup, membentengi kita dari ketergelinciran sehingga tidak perlu memulai meniti jalan yang lurus. 

Kedisiplinan itu telah menghimpun kita dari shalat Yang satu ke shalat berikutnya. Tidak demikian halnya dengan mereka yang melalaikan shalatnya atau bagi meæka yang melaksanakannya namun tidak pada waktunya, atau melaksanakannya dengan tidak khusyuk dan tanpa kehadiran hati ketika shalat. Maka, kesempatan ini akan dijadikan peluang Oleh setan untuk sedikit demi sedikit menjauhkan kita dari jalan Yang lurus.

Sejalan dengan itu, jika waktu shalat yang lima kali sehari telah kita lenakan dan kita biarkan menggilas kita dalam perhitungan, maka kita dapati tidak sebatas sepersepuluh waktu sehari semalam saja, melainkan memberi peluang besar bagi setan untuk melemahkan sendi-sendi keampuhan yang dapat menghalangi cita-cita dan harapan suci serta dapat memengaruhi seseorang untuk sama sekali meninggalkan kewajiban shalatnya.

Alhasil, bagi siapa yang menghidupkan hakikat shalat dari kehidupan di dalam mihrabnya, maka ia akan merasakan nikmatnya iman dan kelezatan suatu ketaatan, tidak menunda-nunda waktu pelaksanaan atau memberatkannya, menjadikan shalat bagian dari hidupnya, menanti harapan tibanya waktu untuk bercumbu rayu karena bahagia berjumpa dengan Allah serta bersimpuh di bawah kekuasaan-Nya.

Berbeda sekali jika kita melihat sikap kaum munafik dalam menghadapi tibanya waktu shalat, bermalas-malas, menunda-nunda waktu, atau merasa berat melaksanakannya, sebagaimana disebutkan dalam ayat,

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali. " (an-Nisaa: 142)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

"Tidak ada shalat yang terberat atas diri orang munafik dari shalat subuh dan isya, andaikan mereka mengetahui di dalam kedua shalat tersebut terdapat kebaikan-kebaikan, pastilah akan mendatanginya (melakukan dengan baik) meskipun harus merangkak. " (HR Muttafaq 'alaih)

Setan itu tidak pernah letih dan bosan untuk berusaha membujuk rayu seseorang agar merasa berat di dalam menunaikan shalat, sehingga lebih mementingkan kesibukan urusan dunianya dan justru merusak nilai shalat itu sendiri atau merendahkan kepentingan shalat dengan kes11)t1kan urusan duniawi.
Allafi swt. berfirman,

"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau menggunakan akal." (al-Maidah: 58)

Dalam masalah ini, dapat kita petik hikmah kandungan ayat al-Muddatstsir: 38-48, mengisahkan kesaksian manusia di hadapan Allah pada hari kiamat yang dinyatakan sebagai berikut.

"Tiap-tiap diri manusia bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya kecuali golongan kanan, mereka berada di dalam surga, mereka tanya-menanya tentang keadaan orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian. ' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat. " (al-Muddatstsir. 38-48)

Adapun di tempat persaksian Iain, di sana setan berada di tengah-tengah api neraka Jahannam, ia berdiri berkhotbah di hadapan manusia yang telah ia sesatkan itu.

"Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya AIIah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi akan menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku atasmu, melainkan (sekadar) aku menyeru karnu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. ' Sesungguhnya orang-orang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. " (Ibrahim: 22)

Dengan demikian, shalat itu dahsyat keutamaannya, tetapi juga kuat setan menggoda kita. Bahkan, sejumlah ulama meyakini, salat punya setan sendiri yang khusus untuk menggoda orang-orang yang mendirikan shalat, baik sebelum, sedang, dan sesudah salat.

____

Sumber: Berjumpa Allah Lewat Salat, karya Syekh Mushthafa Masyhur, Penerjemah Abu Fahmi, Jakarta: Gema Insani, 2002.

ADMIN

BACA JUGA