YURISTGAMEINIGAMEID101

DI MANAKAH WAJAH ALLAH?

Di Manakah Wajah Allah?


DI MANAKAH WAJAH ALLAH?

Allah Swt ada di setiap arah dan tempat. Tetapi mengapa kita harus menghadap ke arah kiblat dalam shalat? 

Sudah sama-sama kita ketahui bahwa menghadap ke kiblat tidak berarti membatasi Zat Pencipta di suatu tempat dan suatu arah. Tetapi manusia adalah maujud materi, sehingga ia harus shalat dengan menghadap ke arah tertentu. 

Selanjutnya, untuk tujuan persatuan dan menyatukan barisan kaum Muslim, maka dalam shalat, mereka harus menghadap ke satu arah. Jika tidak menghadap ke satu arah, maka akan terjadi kekacauan dan barisan mereka tercerai-berai. 

Di samping itu, Kabah yang merupakan kiblat kaum Muslim merupakan titik suci dan salah satu pilar tauhid yang paling penting. Dengan demikian, menghadap ke arah Kabah dapat memunculkan kenangan-kenangan tentang perjalanan tauhid di dalam jiwa. 

Seorang pendeta Nasrani datang kepada Imam Ali As dan bertanya tentang beberapa hal. Di antaranya, ia berkata:

“Beritahukan kepada saya di mana wajah Tuhan!” Imam Ali As meminta diambilkan api dan kayu bakar lalu membakarnya. Ketika api menyala, Imam Ali As bertanya, “Di mana wajah api ini?” Pendeta Nasrani itu menjawab, “Wajahnya adalah di semua sisinya.” Maka Imam Ali As berkata, “Api ini adalah ciptaan Allah, tetapi tidak diketahui di mana wajahnya, sementara Penciptanya tidak serupa dengannya. Timur dan barat adalah milik Allah. Ke mana saja kalian menghadap, di situlah Allah. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Tuhan kami.” (ash-Shafi, jil. 1, hal. 165). 

Sesungguhnya, perbedaan-perbedaan yang ada di antara agama-agama sebenarnya bukanlah perkara besar. Hal itu hanya dibesar-besarkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan-kepentingan tertentu. Salah satunya adalah masalah kiblat. Allah adalah Tuhan di langit dan bumi serta di timur dan barat. Kekuasaan-Nya meliputi segala arah, dan Dia mengetahui siapa saja yang beribadah kepada- Nya ke mana pun ia menghadap, baik ke timur maupun ke barat. Yang terpenting di sisi Allah adalah kepasrahan dan kepatuhan serta melawan dorongan syahwat di dunia ini untuk kemaslahatan di akhirat kelak, bukan ke arah mana manusia beribadah kepada Tuhan mereka. 

Sumber: The Miracle of Shalat, Irwan Kurniawan, Marja: Bandung 2015.

ADMIN

BACA JUGA