YURISTGAMEINIGAMEID101

PUISI-PUISI ABDULLAH MAMBER

Puisi-Puisi Abdullah Mamber

Pojok Batu Karang

Meretas batas gelap dan terang
Kau temu aku di pojok batu karang yang tajam
Membilas darah di sukma yang luka

Kau papah aku ke rumahmu
Kau perbal luka
Kau obati sakitku

Kini
Setelah luka sakit sembuh
Izinkan aku menetap di hatimu

2013

Hajat Munajat

Telah kugali-gali
Dengan cangkul tadabbur
Kulubang lubangi
Dengan linggis tangis

Ladang-Mu
Kutanam benih doa

Tumbuhkanlah, Tuhan!

2014

Sihir Luka

Ketika sihir luka
Masih berumah di sukma
Bagaimana ruh cahaya dapat nyala?

Kalbu menangis di cangkang pilu
; Rindu itu empedu

2014

Kenangan 1

Kenangan adalah setitik cahaya
Berkedap kedip di langit ke tujuh
Kepadamu kepadaku

2013

Tanggal Tua Sepertiga Malam

Bila yang kau lihat
Hanya kerdip terang bintang
Di kolong langit tanggal tua sepertiga malam

Maka kau belum sepenuhnya bertuhan

2013


Tentang
Abdullah Mamber atau akrab disapa Pak Dul lahir 17 April 1983di Banuaju Barat, Batang Batang, Sumenep, Madura. Menyelesaikan sekolah dasar di tanah kelahiran, kemudian hijrah ke Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk Guluk, Sumenep sampai selesai program S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah (kini INSTIKA). 

Selama di Annuqayah, dia tersesat ke dunia seni, mulai dari teater sampai sastra. Dia sempat menjabat sebagai ketua Sanggar Andalas beberapa periode. Pak Dul dikenal sebagai pribadi yang unik, kocak, cerdas, dan bersahaja. Lelaki yang punya hobi makan ini, selalu ramah kepada siapa saja, bahkan kepada kawan-kawan yang kerap meledeknya; jarang mandi.

Pemandangan yang paling diingat selama di Annuqayah oleh teman-temannya adalah ketika dia berjalan gontai memegang gayun. Mereka bisa langsung menebak dua hal: “Itu Dullah sedang mencari air buat mandi” atau “Itu Dullah sedang mencari kawan buat ngopi.” Jadi, fungsi gayun di tangannya, bisa menjadi alat untuk mandi, atau wadah untuk kopi.

Selepas Annuqayah, dia mengembara ke Bandung dan aktif di Jendela Seni bersama Faisal Er. Di sana, dia memperdalam seni peran, dan ilmu kehidupan sebagai pengembara. Namun pengembaraannya hanya terhitung bulan, dia akhirnya pulang kampung karena tak tahan pada panggilan tanah kelahiran.

Pak Dul kini menetap di Longos, tetangga desa Banuaju bersama keluarga kecilnya. Sehari-hari aktif mengabdikan ilmunya kepada masyarakat melalui beberapa lembaga pendidikan, tempat dia mengajar. Di tengah kesibukannya sebagai pendidik, dia tetap berjuang untuk menulis, karena menulis baginya adalah belajar mengendalikan diri di tengah situasi Indonesia yang semakin tidak terkendali.

Karya-karyanya sudah pernah dimuat sejumlah media, sampai buku puisi bersama. Kini dia sedang mempersiapkan buku puisi tunggal pertamanya dengan judul yang masih dirahasiakan. Pintu silaturahmi: ra_mamber@yahoo.com.

ADMIN

BACA JUGA