YURISTGAMEINIGAMEID101

TIGA PENGARUH SHALAT DALAM HIDUP

Tiga Pengaruh Shalat dalam Hidup


Tiga Pengaruh Shalat dalam Hidup

Shalat merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari kaum muslim. Sekurang-kurangnya, lima kali dalam sehari semalam, kita sebagai kaum Muslim mengkhususkan sebagian waktu kita untuk menunaikan shalat. Sejak kecil atau mungkin sejak beberapa puluh tahun yang lalu, kita menunaikan shalat, sehingga shalat sudah menjadi kegiatan rutin yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Jika kita lupa shalat, baik karena kesibukan dalam pekerjaan maupun karena sebab yang lain, kita akan merasakan seperti ada sesuatu yang tertinggal. 

Kita tidak lagi merasakan shalat sebagai beban, tetapi dengan sendirinya kita mengambil wudhu ketika waktu shalat telah tiba. Namun, adakah pengaruh shalat yang kita lakukan itu terhadap diri kita? Adakah “sesuatu yang lain” yang kita rasakan setelah shalat? Adakah perbedaan antara sebelum shalat dan sesudah shalat, baik dalam tindakan, sikap, perilaku maupun suasana hati kita? 

Ketika menjelaskan ihwal shalat di hadapan para sahabatnya, Rasulullah Saw bersabda:

 “Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sungai air tawar yang mengalir di depan rumah seseorang dari kalian. Ia mandi di situ lima kali setiap hari. Maka, apakah menurut kalian, akan ada kotoran yang melekat pada badannya?” Para sahabat menjawab, “Tidak sedikit pun.” Kemudian beliau bersabda, “Shalat lima waktu dapat menghilangkan dosa sebagaimana air membersihkan kotoran.” 

Sungguh perumpamaan yang tepat. Seseorang yang mandi lima hari sekali, tentu tidak akan ada lagi kotoran yang tertinggal pada badannya. Selain dapat membersihkan kotoran, air (yang bersih) juga dapat memberikan kesegaran pada tubuh dan melancarkan peredaran darah. 

Dengan demikian, jika sebelum mandi seseorang merasa badannya tidak nyaman dan lusuh, maka setelah mandi, selain badannya menjadi bersih, ia juga akan merasakan kesegaran. Apalagi jika mandi itu dilakukan lima kali dalam sehari. Oleh karena itu, Jika ada orang yang mandi lima kali sehari, tetapi masih ada kotoran yang tersisa pada badannya dan tidak merasa bugar, berarti ada yang tidak beres pada mandinya. Ada beberapa kemungkinan penyebabnya, bisa karena airnya tidak bersih dan bisa juga karena cara mandinya tidak benar. Demikian pula dengan shalat. 

Orang yang shalat lima kali dalam sehari, tidak ada lagi dosa yang melekat pada dirinya, karena salah satu hikmah shalat adalah menghapuskan dosa. Selain itu, orang yang shalat akan mendapatkan pengaruhpengaruh positif dan memiliki sifat-sifat terpuji. Namun, jika ada orang yang rajin shalat, tetapi perilakunya masih buruk, kata-katanya masih kotor, masih melakukan kemaksiatan dan kezaliman seperti mengambil hak orang lain, korupsi dan manipulasi, dan sikapnya belum berubah menjadi lebih baik, berarti ada yang tidak beres pada shalatnya. 

Penyebabnya bisa karena shalatnya belum benar—yakni yang berkaitan dengan lahiriah shalat, seperti kesucian pakaian, kesucian tempat, tatacara bersuci atau tatacara shalat—dan bisa juga karena hatinya belum bersih atau niatnya belum tulus dan ikhlas. Padahal, jika shalat dilaksanakan dengan benar dan dengan hati yang jernih dan khusyuk, selain dapat menghapuskan dosa, shalat itu juga dapat mendatangkan pengaruh-pengaruh positif dalam diri, batin, sikap dan perilaku. Oleh karena itu, untuk mengetahui sejauh mana kualitas shalat yang kita lakukan, di antaranya dapat dilihat dari sejauh mana pengaruhpengaruh positif itu muncul dalam diri kita. 

Apabila kita meneliti hikmah shalat dalam Alquran, kita akan menemukan sekurang-kurangnya tiga pengaruh positif yang bisa diperoleh dari shalat:

1. Shalat dapat mendatangkan ketenteraman jiwa dan ketenangan batin karena merupakan zikir kepada Allah. Dia berfirman: “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (Os Tha Ha (20): 14). Sementara itu, zikir kepada Allah akan menjadikan hati merasa tenteram. Dia berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Os ar-Ra'd (131: 28). 

2. Shalat dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” (OS al-Ankabit (29): 45).

3. Shalat dapat mencegah seseorang dari sifat kikir dan keluh kesah. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (Os al-Ma'arij (701: 19-22). 

Dalam hal ini, setiap orang memiliki pengalaman shalat yang berbeda dari orang lain. Mungkin ada orang yang merasakan pengaruh itu besar sehingga ia merasakan kenikmatan dalam shalat. Namun, ada juga orang yang merasakan keadaan yang biasa-biasa saja, tidak merasakan perbedaan antara sebelum dan sesudah shalat. 

Hal ini bergantung pada tingkat pemahaman dan penghayatan masing-masing terhadap shalat. Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua orang dari umatku yang sama-sama mendirikan shalat. Mereka rukuk dan sujud dengan cara yang sama. Akan tetapi, kualitas shalat mereka jauh berbeda sejauh antara langit dan bumi.” 

Hadis ini menunjukkan bahwa shalat tidak dinilai dari aspek-aspek lahiriahnya semata, tetapi yang lebih penting lagi adalah dari sejauh mana penghayatan dan kekhusyukan dalam menunaikannya. Oleh karena itu, jika gerakan dan bacaan shalat diibaratkan raga, maka kekhusyukan merupakan ruhnya. Shalat merupakan tugas yang mahapenting. 

Perintah shalat difirmankan oleh Allah Swt beberapa kali dalam Alquran—itu saja sudah cukup untuk menunjukkan betapa besar kepentingannya. Di samping itu, shalat juga merupakan salah satu pesan yang selalu diwasiatkan oleh para nabi, para wali, orang-orang saleh, dan para orang tua yang bijaksana. Salah satu pesan Lugman sang bijak bestari kepada putranya adalah agar mendirikan shalat, dan salah satu doa Ibrahim As agar dijadikan orang yang selalu mendirikan shalat. 

Isa As juga mengatakan bahwa ia telah diperintahkan untuk mendirikan shalat sepanjang hayatnya. Bahkan, salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, yaitu isra-mi'raj, berkaitan dengan shalat. Dari peristiwa ini dapat dipahami bahwa Allah tidak hanya menyampaikan titah-Nya tentang shalat dalam Alquran, tetapi juga memanggil nabi-Nya agar datang ke Sidratul Muntaha untuk menerima langsung perintah shalat ini dari-Nya. 

Dengan demikian, kita dapat menunaikan shalat seperti yang dikehendaki oleh Allah, sehingga menunaikan shalat bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban kepada-Nya semata, tetapi juga kita mendapatkan pengaruh-pengaruh positif dalam jiwa yang dapat menjadi bekal dalam mengarungi samudera kehidupan ini sehingga kita dapat sampai ke tempat tujuan di akhirat dengan selamat. Shalat tidak lagi dipandang sebagai beban yang mengganggu dan memberatkan, tetapi menjadi kebutuhan yang selalu dirindukan.


Sumber: The Miracle of Shalat, Irwan Kurniawan, Marja: Bandung 2015.

ADMIN

BACA JUGA