YURISTGAMEINIGAMEID101

APRESIASI MAHASISWA DAN MASYARAKAT TERHADAP SENI BUDAYA ISLAM - ALI AUDAH 

APRESIASI MAHASISWA DAN MASYARAKAT TERHADAP SENI BUDAYA ISLAM 
Oleh Ali Audah 
APRESIASI MAHASISWA DAN MASYARAKAT TERHADAP SENI BUDAYA ISLAM

Sebelum membicarakan salah satu cabang kesenian, seperti musik, teater atau pementasan lainnya, seni rupa, sastra dan sebagainya, apalagi jika dihubungkan dengan agama, terlebih dulu kita ingin melihat secara umum adanya interaksi dan reaksi antara agama dengan kesenian. Dalam sejarah kesenian Islam orang sering memberikan interpretasi yang beraneka ragam, malah sering pula disertai vonis tanpa terlebih dulu mengadakan penyelidikan hukum agama yang lebih mendalam mengenai sesuatu masalah yang akan dihadapinya. Sebaliknya, kadang ada pula pihak yang beranggapan, bahwa seni dan kreativitasnya itu diatas segalanya, sehingga ia dapat berbuat apa saja demi kebebasan kreativitas. 


Berikut ini saya ingin meninjaunya sepintas lalu secara umum, dengan catatan apa yang saya kemukakan ini, mudah-mudahan tidak menyimpang dari yang dimaksud kalau saya tidak langsung membicarakan apresiasi mahasiswa dan masyarakat seperti yang kita lihat pada judul kertas kerja ini. Tujuan saya tidak berbeda, tapi saya ingin lebih menekankan pada segi seni dan Islam sebagai titik tolak. 

Seperti kita ketahui, baik mahasiswa maupun masyarakat banyak membicarakan masalah ini dalam kegiatan kesenian pada umumnya, termasuk seni pementasan, di dalam dan di luar kampus. 

Dibandingkan dengan kebudayaan lain pada umumnya, dalam kebudayaan Islam, kesenian, terutama seni rupa, musik dan teater, dapat dikatakan perkembangannya tidak begitu subur, kecuali pada beberapa pribadi. Mungkin saja ini membangkitkan pertanyaan dalam hati kita, barangkali malah pertanyaan besar, yang jawabannya saya rasa belum tentu sudah tuntas sampai sejauh ini. Sebabnya tentu, masalah kesenian ini secara ketat sering dikaitkan dengan hukum Islam dari segi ibadah, tidak lagi dari segi muamalat, atau paling tidak dari dua-duanya. Kita ambil sebagai contoh, sudah berapa sering orang berdiskusi mengenai seni rupa, yang menggambarkan makhluk manusia atau makhluk-makhluk lain misalnya. Berapa Hadis Rasulullah dikemukakan mengenai ancaman bagi orang yang mengerjakannya atau menyimpannya. Tapi untuk itu masih terdapat banyak argumen lain untuk mencari jalan keluarnya, baik dengan argumen Hadis sendiri, apalagi jika dihadapkan pada ayat-ayat Alquran, sehingga keraguan orang untuk mengerjakan dan menyimpan karya-karya seni berupa patung dan lukisan makhluk-makhluk itu dapat dihilangkan, dan umat Islam dapat menikmatinya dengan perasaan aman. Tapi ini juga masih sangat terbatas. Jika kita lihat sepintas lalu sekali pun, akan tampak jelas, bahwa sejarah kebudayaan Islam sedikit sekali melahirkan karya-karya seni rupa, dan karenanya lahir sebagai gantinya karya-karya kaligrafi dan seni arsitektur. Kalaupun ada hasil seni lukis hanya dalam bentuk-bentuk alam lain, seperti pohon, rumah, gunung dan sebagainya. 

Seperti halnya dengan seni rupa, begitu juga dalam kesenian lainnya, seperti musik dan pertunjukan misalnya, termasuk teater sudah tentu. Dalam hal ini juga tidak sedikit orang mengemukakan argumen-argumen keagamaan yang sifatnya melemahkan kreativitas, sehingga orang yang merasa ragu tidak ingin terjun ke dalam kegiatan ini. Sebagai ganti musik, katanya, lebih baik orang membaca ayat-ayat Alquran dengan giraat yang baik, yang indah dan merdu. Seterusnya dalam kegiatan pertunjukan, pihak yang keberatan mengemukakan alasan adanya larangan pergaulan laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim serta terkadang memperlihatkan aurat yang batas-batasnya sudah ditentukan oleh agama. 

Apa yang saya kemukakan selintas ini, sudah tentu tidak untuk direntang menjadi bahan diskusi dari segi hukumnya. Masalahnya akan sangat panjang, dan bukan itu tujuan masalah ini, hanya sekadar gambaran umum bila kita menyebut kesenian dalam sejarah kebudayaan Islam. 

Di samping alasan-alasan keagamaan yang verbatim sifatnya sering dikemukakan orang, bukan tidak mungkin bukti sejarah lahirnya Islam juga dipakai salah satu argumen untuk menguatkan pendapatnya. Pada masa Rasulullah, misalnya tak pernah kita dengar ada kegiatan-kegiatan kesenian selain sastra, terutama dalam bentuk puisi dan pembacaan puisi, yang bahkan dibacakan di dalam masjid di depan Nabi. Dibandingkan dengan seni patung, yang dalam keluarga Nabi Sulaiman mendapat tempat yang baik (Q.S. 34:13), para penyair, kecuali mereka yang beriman dan berbuat kebaikan, dinilai sebagai mereka yang diikuti oleh kesesatan, mengembara di tempat-tempat dan dengan sifat-sifat yang rendah, yang hanya bisa bicara tapi tidak berbuat (Q.S. 26:24-27). Secara umum barangkali dapat kita lihat pada dampak kebudayaan setempat. Standar kesenian yang paling tinggi di Mekah dan sekitarnya, sejak lebih kurang setengah abad sebelum Rasulullah lahir, ialah puisi atau syair. Kita tidak melihat dalam sejarah pada masa itu dan di sekitar kawasan itu, ada corak kesenian lain yang lebih menonjol dari pada puisi, yang memang mendapat tempat tersendiri pula dalam hati Rasulullah, sehingga dalam menanggapi sajak-sajak Umayya bi Abi'sh-Shalt beliau berkata, bahwa ”Sajaknya sudah beriman tapi hatinya tetap kufur”. Sedang kegiatan lain, seperti pembuatan dan penyimpanan patung dan lukisan, hanya untuk pemujaan dan ritus-ritus keagamaan yang justru menjadi pangkal syirik. Jadi kalau di tempat itu dan pada waktu itu kegiatan semacam ini dilarang, kita dapat mengerti. Setiap manifestasi ke arah itu oleh masyarakat diartikan lain, yang sama sekali tak ada hubunganya dengan seni. 

Demikian suasana kesenian yang ada pada masa Rasulullah. Dan ini berlaku sampai pada masa-masa Khulafa'r-Rasyidin yang juga tidak kita lihat adanya perkembangan baru dalam kesenian. Warna kebudayaan dalam sejarah Islam baru kemudian mulai bersemarak, yakni pada masa dinasti Banu Umayya di Damsyik, pada masa dinasti Banu Abbas yang berpusat di Bagdad dan pada masa Islam Andalusia. 

Kenapa terjadi demikian? Dalam uraian singkat ini saya hanya dapat memintas dengan satu kesimpulan umum saja. 

1, Rasulullah diutus Allah pertama-tama bukan untuk membawa konsep kesenian, tapi untuk merombak satu sistem masyarakat dari yang politeistik dan yang tidak mempunyai nilai-nilai moral yang tinggi, kepada ajaran-ajaran tauhid dan akhlak, dengan risiko besar menghadapi pelbagai macam tantangan, baik -fisik maupun mental, sehingga akhirnya beliau dan sahabat-sahabat hijrah ke Medinah. Dan selama di Medinah pun tidak kurang pula berat nya cobaan yang harus dihadapi, yang bukan saja masalah-masalah agama tapi sudah harus berhadapan dengan masalah-masalah politik serta kemiliteran yang cukup rumit dan berat. 

2. Abu Bakr, pengganti pertama Rasulullah pilihan yang tepat untuk menghadapi suasana ketika itu, yang sekiranya bukan Abu Bakr orangnya, barangkali sejarah Islam akan lain wamanya. Kabilah-kabilah dan orang-orang Arab pinggiran kota banyak yang memberontak dengan berbagai macam motif, yang dalam sejarah dikenal dengan nama Perang Ridda. Pada masa inilah Abu Bakr menghadapi ujian yang sungguh berat, sehingga sekaligus pribadi beliau berubah dari sikap yang biasa lemah-lembut, menjadi begitu keras dan tegas. Umar yang terkenal garang dan tegas, malah berbalik. Ia berusaha hendak meredakan sikap Abu Bakr yang sudah tak kenal kompromi itu. Tapi berkat kebijaksanaan Abu Bakr itu, kabilah-kabilah dan orang-orang Arab pinggiran yang murtad, yang cenderung hendak kembali ke masa kehidupan jahiliah, kembali ke pangkuan Islam. 

3. Umar, pengganti Abu Bakr, begitu memangku jabatan sebagai kepala negara dan pemimpin agama, sebagai khalifah kedua, ditakdirkan hidup dalam penderitaan yang amat pahit. Selain harus mengadakan konsolidasi pasukan Islam yang ketika itu menghadapi dua kekuatan raksasa dari luar, Romawi dan Persia, di dalam negeri terjadi musim kering yang sangat mencekam. Agaknya ujian yang dihadapi Umar ini tidak kurang beratnya dari yang sebelumnya. Ia bekerja keras siang malam, sehingga sejarah mengatakan kepada kita, bahwa karena kurang tidur selalu dan makan sangat sederhana, kondisi fisiknya menurun sekali, dan sampai-sampai terpaksa ia memperlakukan hukum darurat selama musim paceklik yang dahsyat dan panjang itu, orang dibolehkan makan bangkai, tikus dan kadal. 

4. Disusul dengan Usman, pengganti Umar sebagai Khalifah ketiga. Ketika itu tangan-tangan politik sudah terlalu banyak memasuki kekuasaan, sehingga Usman adalah orang pertama yang menjadi korban pembunuhan politik. 

5. Dan akhirnya Ali, Khalifah keempat, yang juga tidak kurang sibuknya menerima suasana kritis yang ditimbulkan oleh api kekuasaan politik. Ali di satu pihak dan Muawiyah di pihak lain, yang kemudian melahirkan sistem khilafah secara turun-temurun, tidak lagi dengan musyawarah. Ketika itu timbul kelompok-kelompok politik atau partai-partai yang berakhir dengan pecahnya perang saudara yang berkepanjangan. 

Kalau kita sudah melihat — secara sepintas lalu — betapa dahsyat dan berat perjuangan Rasulullah memikul amanat Allah untuk disampaikan kepada umat manusia, diteruskan oleh pengganti-pengganti beliau yang sungguh cemerlang meneruskan amanat Nabi, maka kita tidak heran bila masalah-masalah kesenian itu tidak sempat mendapat perhatian yang lebih sungguh-sungguh. Ini suatu rahmat besar. Bayangkan, andaikata waktu itu ada kegiatan kesenian, tentu akan ada pula batasan-batasannya, sehingga akan mempersempit ruang gerak kesenian itu. Kita merasa bersyukur, bahwa pertama-tama Islam datang memang bukan untuk membawa konsep kesenian, tapi lebih-lebih tentang moral yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan agama. Jangkauan pikiran dan pengembangan kreativitas seni akan lebih luas dan terbuka apabila yang menjadi pegangan dasar ialah moral. Ini adalah suatu rahmat besar, suatu 'blessing in disguise', bukan saja buat umat Islam, tapi buat seluruh umat manusia. Jadi seni tidak langsung ”ditangani” Islam dari segi agama, melainkan sudah menjadi bagian moral, yang pola dasarnya sudah ditentukan oleh ajaran agama. Dalam ruang lingkup inilah kreativitas seni akan lebih lentur. 

Timbul pertanyaan dalam hati kita kalau begitu, Apakah kreativitas itu harus dibatasi? Dan kalau sudah dibatasi apakah itu masih dapat disebut suatu kreativitas? Pada dasarnya kreativitas itu tak dapat dibatasi selain oleh hati nurani manusia, dan hati nurani inilah yang kita sebut moral, yang dalam ajaran Islam disebut akhlak. Istilah moral atau etika yang didasarkan pada ajaran filsafat, pada dasarnya berbeda dengan akhlak yang didasarkan pada ajaran agama. 

Yang pertama berpangkal pada otak dan pikiran, yang kedua berpangkal pada hati nurani manusia. (Sudah bukan tempatnya di sini saya menguraikan secara terperinci perbedaan antara kedua pengertian ini). Tetapi dalam hubungan ini ada baiknya apabila saya mengemukakan sebuah perbandingan sederhana tapi jelas, perbedaan antara konsep kebudayaan Barat dengan kebudayaan Islam (meskipun dalam ajaran Islam tak ada perbedaan Barat dan Timur). Ada paragraf yang menarik dalam buku Marmaduke Pickthall, The Cultural Side of Islam. Dalam pers Inggris pernah diadakan suatu diskusi, yang intinya andaikata ada patung Yunani yang sangat indah dan terkenal, dan itu hanya satu-satunya, tak dapat diganti dengan yang lain. Patung tersebut ada dalam sebuah kamar bersama-sama dengan seorang bayi yang masih hidup. Kamar itu terbakar. Yang masih mungkin diselamatkan hanya satu dari dua patung atau bayi Yang mana yang harus diselamatkan? Dari peserta-peserta yang banyak sekali itu, yang terdiri dari kaum intelek dan orang-orang berkedudukan tinggi, memilih patung itulah yang harus diselamatkan dan membiarkan si bayi dimakan api. 

Argumen mereka, bayi-bayi itu lahir jutaan banyaknya setiap hari, sementara patung itu merupakan masterpiece sebuah karya seni Yunani kuno yang tak mungkin lagi ada gantinya. Tak seorang muslim pun akan dapat menerima sikap ini, yang berarti sudah merupakan suatu penyembahan berhala. Islam bagaimanapun mempunyai pandangan yang optimis terhadap keturunan umat manusia. Setiap Muslimin menilai hidupnya sangat rendah dalam pengabdiannya kepada Allah, yang berarti juga suatu pengabdian kepada umat manusia. Ia takkan pernah bermimpi mau mengorbankan nyawa anak manusia untuk sesajen kepada hasil tangan manusia, betapapun tampaknya manusia itu tidak penting. Pemujaan berlebih-lebihan terhadap karya seni sama dengan mengingkari bimbingan Allah dan tujuannya menciptakan umat manusia. 

Dengan gambaran singkat ini jelas buat kita bagaimana sikap seorang Muslim menghadapi kesenian. Hati nuraninya akan bicara sendiri sesuai dengan keimanannya, dan ia takkan dapat mendustai kata hati nya itu, atau ia akan menjadi seorang munafik. Dengan tidak berlebih-lebihan memuja seni dan karya-karya seni, tapi dengan tujuan mengangkat martabat manusia sesuai dengan amanat dan tujuan Allah men ciptakan manusia (Q.S. 17:70: 95:48), maka dengan seninya itu sekaligus ia telah menjalankan ibadahnya kepada Al-Khalik, dan dengan agamanya ja dapat menciptakan karya-karya seni yang besar. Sejarah sudah memperlihatkan kepada kita, betapa besar agama itu memberi motivasi kepada pemeluknya. Seorang seniman Muslim akan selalu ingat, bahwa Allah itu indah mencintai keindahan.

"Dan dengan agama tidak dimaksudkan supaya kamu dalam kesulitan”. (Q.S. 22:78) dan sekian banyak lagi ayat-ayat yang memberi kemudahan kepada kita dalam segala hal, dalam batas-batas moral (Q.S. 2:110: 7:158) di samping hadis yang sama pula nadanya atau hampir sama. Selain pengabdiannya kepada Allah manusia Muslim juga dituntut pengabdiannya kepada sesasama manusia: apakah ia seniman, sarjana, pedagang dan sebagainya. 

Watak Islam ialah sosial, bukan individual. Ini sekadar pola umum pandangan Islam menghadapi kreativitas seni, yang tak bisa tidak ia juga harus berhadapan dengan manusia lain, sekadar contoh dan bahan perbandingan. 

Seperti sudah disebutkan di atas, dalam sejarah kebudayaan Islam yang paling menonjol adalah sastra, bahkan karya tulis pada umumnya. Tidak ada dalam sejarah dunia suatu bangsa dan umat manusia yang mempunyai literatur begitu kaya selama sebelas abad, sejak abad ketujuh sampai sekitar abad ketujuh belas, seperti literatur Islam dalam pelbagai bidangnya. Ini tidak berarti bahwa dalam bidang lain tidak ada, ”Muslim art and literature”, kata Picthall, ”even in the darkest period, has never died”. Dalam zaman yang paling gelap sekalipun, seni dan sastra Islam tak pernah mati. 

Tetapi kenapa kalangan Islam dalam sejarah kebudayaannya yang panjang itu tidak pernah sungguh-sungguh dalam menghadapi teater misalnya? Tidakkah mereka mengenal bentuk seni dalam sejarah mereka? Seperti kita ketahui kebudayaan Islam lama sekali bergumul dengan kebudayaan Hellenisme. Bahkan pemikir-pemikir Muslim telah memperkenalkan pikiran Yunani itu melalui terjemahan-terjemahan bahasa Arab, ke dunia barat, sehingga Barat mengenal Socrates, Plato dan Aristoteles dan seterusnya, dan ini sudah tidak asing lagi dalam sejarah. Tetapi kenapa drama dan komidi Yunani yang begitu cemerlang tidak pernah. disentuh oleh pemikir-pemikir Muslim ketika itu? Mereka sudah mengenal benar karya-karya tragedi Aeschylos, Sofokles dan Euripides, begitu juga karya-karya komidi Aristofanes, misalnya. Tapi kita tak bertemu dengan terjemahan-terjemahan karya teater itu dalam literatur Islam. Mungkin sebabnya, karya-karya teater Yunani itu karena bercampur aduk dengan mitologi, dan kadang dewa-dewa turut menjadi pelaku aktif, turut menentukan nasib manusia, yang menurut ajaran Islam yang pokok, yaitu tauhid, sangat bertolak belakang. Tapi tak adakah jalan keluarnya? Bagaimana ”mengislamkan” Oedipus atau Antigone dan membuang sifat individu Eropa itu menjadi sifat sosial Islam? Separti pernah dilakukan oleh para wali di Indonesia ketika ''mengislamkan”' wayang? 

Kalangan teater Muslim masih dapat menggali lebih banyak bibit-bibit yang dapat dipentaskan tanpa harus mengambil bahan-bahan dari luar. Di sekitar kita sendiri masih banyak objek yang perlu kita garap, mungkin dari dunia kampus sendiri, dari pesantren, dari rumah tangga, pasar, pabrik, kantor dan sebagainya. Yang penting memberi idea ke dalam karya itu, menterjemahkan filsafat Islam ke dalam tokoh dan peristiwa, tanpa harus diberondong dengan ayat-ayat Alquran, hadis-hadis dan kata-kata Islam dan semacamnya. Kalangan teater Muslim dewasa ini mempunyai kecenderungan bermain hanya di kota-kota besar, lalu ke TVRI. Kenapa tidak ditempuh jalan ke desa-desa, dengan menghidupkan kembali teater rakyat dengan pelbagai bentuknya, termasuk randai, ludruk, ketoprak dan sebagainya. Di Eropa modern sekarang ada kecenderungan orang mengolah kembali teater-teater klasik Yunani, bahkan cerita-cerita mitologi ke dalam pola teater modem dengan diisi filsafat atau idea penulisnya, seperti yang banyak dilakukan oleh golongan humanis dan eksistensialis. 

Di kalangan kita lebih banyak yang senang meniru dari pada merintis suatu pembaharuan dalam dunia pementasan ini. 

Dalam sejarah teater Islam kalangan Sunni memang tidak begitu berhasil menciptakan dunia teater sekalipun mereka cukup mendalami kebudayaan Yunani dan India, dibandingkan dengan golongan Syiah dengan warna khas teater Persia. Dengan latar belakang keagamaan yang kuat, mereka berhasil menciptakan drama, dengan tokoh sentral Husein, putra Ali bin Abi Talib. Kegiatan dimulai menjelang Muharam tiap tahun tanggal sepuluh atau Asyura. Husein dilukiskan sebagai pahlawan dan sampai pada puncaknya pada hari Asyura. Husain yang tak berdosa itu dilukiskan sebagai Syahid. Pertunjukan demikian diadakan di masjid-masjid, di tenda-tenda dan di halaman-halaman terbuka. Drama ini dikenal dengan sebutan "drama duka” atau ”masrahiyat'tr'azi”. Drama ini biasanya dipentaskan sangat plastis dalam bentuk tragedi sehingga tidak jarang menimbulkan sikap-sikap historis penonton dan berakhir dengan tangisan dan cucuran air mata. (Muhamad Azizah, Al Islam wal-Masrah). 

Sampai sekarang drama-drama ini masih diterbitkan, seperti dua drama masing-masing Husain Pemberontak dan Husain sebagai Syahid oleh Abdurrah man Syargawi, seorang tokoh teater terkemuka di Mesir dewasa ini. Sudah tentu dengan pola ini penulisnya ingin mengisinya dengan idea-idea baru. Husain sebagai seorang intelek yang penuh tanggung jawab tidak sudi hidup di bawah kekuasaan despotisme yang bertentangan dengan akidahnya. Untuk mencari selamat, sebenarnya bisa saja ia diam dan malah akan dijamin hidupnya lebih tenang dan lebih enak di Madinah. Tetapi kesadaran akidahnya menolak. Ia dan teman-temannya yang sehalauan memberontak terhadap kekuasaan itu. Sikap Husain ini dilukiskan untuk mewakili pikiran kaum intelek zamannya dengan memikul risiko menghadapi bahaya, Sedang buku kedua, Husain sebagai Syahid melukiskan betapa perlunya orang harus berkorban demi keyakinan hidupnya. 

Ini hanya sekadar contoh. Dua drama ini saya singgung untuk melukiskan, betapa cerita-cerita itu dapat dipakai sebagai bingkai untuk diisi dengan idea-idea dan pikiran-pikiran baru yang sejalan. Bingkai serupa di Indonesia cukup banyak, tinggal bagaimana kita mengolah dan mengisinya. 

Sebagai penutup saya ingin menyinggung sedikit kegiatan-kegiatan pementasan yang hari-hari belakangan ini kita lihat membawa napas baru, baik di luar maupun di tanah air kita, terutama dalam bentuk film. Saya rasa, idea dan pikiran besar yang sekarang sedang menunggu kita dan meminta tangan yang lebih serius, ialah tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah Islam di Indonesia, untuk ditampilkan ke atas pentas, entah teater atau film, dengan bobot seninya yang dapat dipertanggungjawabkan sampai ke dunia internasional. Dan untuk sampai ke batas ini, kita memerlukan adanya grup-grup teater Muslimin yang profesional, atau sekurang-kurangnya yang menuju ke arah itu. 

Jakarta, 16 Desember 1982

ADMIN

BACA JUGA