YURISTGAMEINIGAMEID101

ESENSI KEADABAN HIJRAH - MASDURI

Esensi Keadaban Hijrah
oleh Masduri

Umat Islam di seluruh dunia, kini sudah memasuki tahun baru Hijriah. Sebuah catatan sejarah penting dalam perjalanan umat Islam. Sebab penanggalan menandai gerak waktu, bahwa perjalanan umat Islam terus menapaki penuaan. Pergantian tahun baru Hijriah mengingatkan kita tentang sebuah sejarah besar hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, telah berumur 1435 tahun, kini memasuki tahun ke 1436. Gerak waktu adalah gerak sejarah, sehingga pergantian tahun baru mestinya menghadirkan kesadaran eksistensial secara lebih nyata, bukan sekadar renungan, refleksi kolosal, ataupun euforia perayaan tahun baru, namun yang paling penting, kerja nyata dan karya apa yang telah disumbangkan umat Islam kepada dunia selama bertahun-tahun itu. Pertanyaan ini penting dijawab agar umat Islam tidak terjebak pada fanatisme buta, yang tidak pernah ada ujung pangkalnya memperdebatkan benar-salah, baik-buruk, halal-haram, muslim-kafir, dan beragam perdebatan teologis yang tidak akan pernah selesai selama manusia masih menggunakan otaknya untuk berpikir. 


Oleh sebab itu, kini umat Islam harus menghadirkan diri pada dunia nyata, bahwa bukan saatnya lagi memperdebatkan kebenaran teologis, sebab setiap orang punya ukuran dan pandangan sendiri-sendiri tentang kebenaran. Kini yang paling penting adalah upaya membangun harmoni untuk saling menghargai, serta membangun keadaban hidup dalam kebersamaan tanpa sentimen apapun. Tidak ada manusia yang ingin hidupnya dipaksa atau diintervensi oleh orang lain, apalagi menyangkut hal esensial seperti keyakinan keagamaan. Kenyataan ini mestinya menyadarkan kita sebagai umat Islam, bahwa realitas kebenaran adalah kehendak Tuhan yang harus kita terima sebagai kenyataan. Menentang jamaknya kebenaran sama saja dengan menentang kehendak Tuhan. Pada posisi ini manusia harusnya sadar makna esensial kehadiran dirinya ke dunia yang membawa tugas besar sebagai khalifah fil ard. Tugas ini terlalu berat jika harus dipikul secara individu, sebab itulah tugas ini harus dibangun secara kolektif dalam harmoni kebersamaan, tanpa sentimen pada perbedaan yang melekat dalam diri masing-masing individu. 

Sejarah hijrahnya Nabi Muhammad, memberi pelajaran berharga bagi kita sebagai umat Islam, betapa sangat pentingnya membangun harmoni dalam kebersamaan. Kehadiran Piagam Madinah sebagai penyangga tegaknya persatuan dan kedamaian masyarakat Madinah waktu itu, menjadi catatan penting betapa harga perdamaian itu sangat mahal sekali. Sebagai seorang pemimpin, Nabi tidak memunculkan egoisme diri, beliau tetap menghargai perbedaan sebagai kenyataan riil, sehingga melalui Piagam Madinah masyarakat Islam dan non-Islam dapat hidup berdampingan secara damai. Namun kenyataannya sekarang ini di Indonesia, banyak realitas yang paradoks dengan spirit perdamaian yang diajarkan oleh Nabi dalam Piagam Madinah. 

Betapa akhir-akhir ini konflik yang dipicu oleh kayakinan teologis masih sangat banyak. Mereka merasa paling benar dan paling berhak atas surga, sementara perilaku mereka sangat kontradiktif dengan nilai-nila keislaman yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Setiap tahun kita disadarkan dengan makna penting hijrahnya Nabi Muhammad melalui perayaan tahun baru Hijriah, tetapi semua itu tidak memebekas. Seperti halnya upacara-upacara perayaan yang lain, umat Islam lebih banyak terjebak pada euforia perayaan, dan mereka meninggalkan esensi hijrah yang sesungguhnya. Sehingga do’a-do’a kebaikan umat Islam pada tahun baru Hijriah serasa hambar di muka bumi. Sebab mereka hanya mengetuk pintu langit, namun lupa bahwa keinginan apapun dalam hidup di muka bumi harus diupayakan dengan usaha yang besar. Maka harapan kebaikan dalam setiap perayaan tahun baru Hijrah seperti ilusi yang hanya terus dibayangkan. 

Konteks Keindonesiaan 
Di tengah karut-marutnya persoalan kebangsaan yang sedang kita hadapi, tentu pergantian tahun baru Hijriah memiliki makna penting bagi umat Islam Indonesia dalam membangun bangsanya agar lebih bermartabat. Pergantian tahun baru Hijriah menyimpan spirit hijrah Nabi Muhammad, karena itulah pembacaan terhadap keberhasilan Nabi dalam menata masyarakat Madinah dapat menjadi referensi bagi kita dalam membangun Indonesia ke depan. Tentu pula, upaya ini tidak hanya cukup dengan renungan, refleksi kolosal, ataupun euforia perayaan tahun baru. Butuh kerja nyata dari kita semua dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih baik. 

Keberhasilan Nabi Muhammad yang digambarkan oleh Michael H. Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, sebagai satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal spiritual maupun kemasyarakatan. Sehingga mampu membawa bangsa Arab yang awalnya, egoistis, barbar, terbelakang dan terpecah belah oleh sentimen kesukuan, menjadi bangsa yang maju dalam bidang ekonomi, kebudayaan, dan kemiliteran. Bahkan militer Nabi sanggup mengalahkan pasukan Romawi yang saat itu merupakan kekuatan militer terdepan di dunia. Hal ini menunjukkan bawah Nabi telah bekerja keras bersama-sama dengan sahabatnya dalam mencapai kemajuan umat Islam. 

Demikian pula, seorang sosiolog Amerika Serikat, Robert N. Bellah, menyebut masyarakat Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad sangat modern, bahkan melampaui zamannya waktu itu. Bellah menyebut sistem yang dibangun Nabi di Madinah sebagai a better model for modern national community building than might be imagined (suatu contoh bangunan komunitas nasional modern yang lebih baik dari yang dapat dibayangkan). 

Masyrakat Madinah disebut modern karena adanya keterbukaan bagi partisipasi seluruh masyarakat, serta adanya kesediaan para pemimpin untuk menerima penilaian berdasarkan kemampuan. Hal tersebut dapat dilihat melalui penghilangan nilai kesakralan dalam memandang suatu kabilah, sehingga tidak dibenarkan untuk menjadikan kabilah sebagai tujuan pengkudusan dan ekskulisivisme. Bellah menyebut sistem Madinah ini sebagai bentuk equalitarian participant nationalism (nasionalisme yang egaliter partisipatif). 

Sebab itulah, hal mendasar yang dapat kita lakukan dalam tahun baru Hijriah ini adalah upaya membangun harmoni kebersamaan, tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras, bahasa dan budaya. Kita harus dapat duduk secara bersama-sama, merumuskan gerakan hijrah keindonesian dari beragam keterpurukan yang dialaminya saat ini untuk menjadi lebih baik. Jika bangsa ini terus dirisaukan dengan konflik perbedaan, terutama agama, kita sebenarnya telah mendustai keberhasilan Nabi waktu itu, yang mampu mewujudkan nasionalisme yang egaliter partisipatif. Sebagai umat Islam, mestinya kita mampu meneladani dengan baik contoh kepemimpinan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Karena sejatinya inilah esensi keadaban hijrah, hidup terus menjadi lebih baik dari masa ke masa dan dari tempat ke tempat. Semoga!

*Pengelola Laskar Ambisius (LA) dan Akademisi Teologi & Filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sumber: Radar Surabaya, Minggu, 26 OKTOBER 2014

ADMIN

BACA JUGA