YURISTGAMEINIGAMEID101

MASALAH ETIKA DALAM PEMENTASAN SENI BUDAYA ISLAM - SYU’BAH ASA

Masalah Etika dalam Pementasan Seni Budaya Islam
Oleh Syu’bah Asa


MASALAH ETIKA DALAM PEMENTASAN SENI BUDAYA ISLAM

Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih. 

'Etika” adalah barang yang tergolong baru dalam pengertian muslimin. Dan tidak asli. Bukan karena ia kata Arab. Melainkan karena, seperti ada dikatakan Leopold Weiss Mohammad Asad, dunia Islam sebenarnya menghadapi krisis istilah bila ia selalu mencoba mengekspresikan apa yang bergerak dalam tradisinya lewat kata-kata yang siap pakai yang diambil begitu saja dari khazanah Barat. 


Kita mengenal istilah 'akhlak'. Dan ini biasanya ki ta terjemahkan dengan moral? Untuk falsafah moral, Barat memakai istilah 'etik' — dan kita tetap saja memakai 'falsafah akhlak”. Tetapi falsafah akhlak bukanlah etik, sejarah tidak mencatat perkembangannya di kalangan Islam, dan ia bukan bagian organik dari hidup seorang muslim. Kita mengatakan, bila agama-agama Kristen menyata dalam kehidupan umatnya sebagai ajaran etik, Islam menyata dalam kehidupan sehari-hari muslimin sebagai kesadaran hukum. Itulah sebabnya, agaknya, mengapa kita lebih bicara tentang 'masalah hukum dalam pementasan seni drama' daripada 'masalah etik'. 

Mungkin pula yang terjadi adalah perbedaan dalam pemberian prioritas. Ada Hukum Gereja, tapi itu memang benar-benar tersimpan di gereja. Etik telah sekaligus merupakan penjabaran hukum-hukum itu, dan itulah yang aktual. Dalam Islam sebaliknya hukum menempati kedudukan etik -sementara falsafah akhlak merupakan sebuah sport. Itu juga menunjukkan betapa agama-agama Kristen "lebih berfalsafah” dibanding Islam yang "lebih berhukum' yakni hukum yang sendirinya menolak falsafah se bagai hasil akhir kemenangan golongan nagli atas golongan ra'yi pada abad-abad II — III Hjjri. 

Tapi itulah pula agaknya kita tidak membicarakan "masalah hukum seni budaya”. Dengan pemakaian 'etik”, kita agaknya bermaksud membicarakan 'sebuah sikap, yang berdasar pada akhlak Islam, tetapi bukan melulu hukum?

Ada sesuatu yang "lebih ruhani' di situ, bila tidak dikatakan lebih falsafi. Sesuatu yang memang tidak sejalan dengan kaidah "Nahnu nahkumu 'alazh-zhawahir (kita hanya menghukumi hal-hal yang lahir)”. Tulisan ini akan dengan sendirinya mengedepankan mengapa "nahkumu 'alazh-zhawahir” itu bukan yang paling relevan dalam pembicaraan subyek ini. 

Hal pertama ialah, sekali kita membicarakan masa lah etik (dan bukan 'hukum') pementasan seni budaya, waktu itu pula kita mengakui sahnya kehadiran seni budaya itu, atau pementasan itu, dalam kehidupan muslimin. Zaman ketika masalah pementasan dibicarakan memang bukan lagi zaman ketika nahnu nah kumu 'alazh-zhawahir diundangkan. Tak ada pembicaraan tentang pementasan waktu itu, sebab memang tak ada pementasan di zaman itu atau di lingkungan itu. Dan selama-lamanya memang tidak akan ada pementasan, di kalangan muslimin, kalau saja kita menganggap bahwa Islam memandang zaman sebagai tidak berubah dan sejarah tidak berjalan. Konsepsi Islam tentang sejarah inilah memang yang lebih da hulu patut dipertanyakan. 

Maka, lewat abad-abad yang panjang, bila ada sesuatu yang tetap dalam Islam, yang tetap itu belum tentu yang terkandung dalam fikih. Masalahnya, yang muncul sekarang ini bukan saja barang-barang yang belum ada pada waktu fikih "selesai dibuat”, Yang muncul sekarang adalah juga konteks-konteks baru. Masalah hubungan laki-wanita, misalnya. Konteks fikih dalam pembicaraannya adalah sebuah pasar, atau kehidupan sehari-hari di rumah atau di jalan. Dan bukan sebuah pementasan. Masalahnya bukanlah, misalnya, laki-wanita bukan mahram tak boleh bersentuhan, "kecuali di panggung”, atau "'termasuk di panggung”, atau "lebih-lebih di panggung” Masalahnya ialah, apakah sebenarnya pementasan itu, konteks baru itu. 

Dan pementasan, seperti kita tahu, adalah sebuah laku transitif. Nilainya tidak maujud dalam dirinya, tapi dalam dampaknya kepada publik. Yang dipandang bukanlah apakah seorang pemain menyentuh atau memeluk, melainkan apakan sentuhan dan pelukan itu (ibu dan putranya yang dewasa, gadis dan pacarnya, seorang suami dan istrinya yang baru dipisahkan oleh perang) punya dampak positif atau negatif atau netral saja. Yang dipandang bukan apakah seorang penari penutup aurat atau tidak menutup. Tapi apakah kehadirannya dan gerakannya menimbulkan hikmah ataukah fitnah. Di sini kita bicara tentang seni sebagai medium. Mereka, dalam interferensi publik dan karya seni, hanyalah alat. Yang di lihat penonton sebuah drama bukanlah para pemain drama. Yang dilihat adalah tokoh-tokoh yang dimainkan itu. Para anak wayang itu hanya mengantarkan mereka ke sebuah dunia yang lain, dalam imajinasi di kepala penonton sendiri. 

Dari situlah baru dimengerti apakah sebuah pementasan, sebuah laku pemain atau artis, etis atau tak etis. Dan mungkin, memang, kemudian dibikin pula fikih dengan konteks itu. 

Dalam pada itu adanya penilaian etis-tak-etis menunjuk pada corak tertentu dalam konsep estetis. Dengan kata lain, tidak semua yang estetis layak dianut bila ia dinilai tak etis — setidak-tidaknya bila kita am asumsikan ”bersih”nya estetika dari etika. Ini memang pandangan yang sejajar dengan keyakinan kaum moralis: seni, yang berporos pada puisi, yakni rangsang tertentu yang merasuk dalam diri seniman dan galibnya menghardiknya ke dalam proses penciptaan, hakikatnya religius. Setidaknya pada kadar seni yang 'tinggi', unsur haru mengembang, dan men jadikan seni hanya wujud yang berbeda dari pelahiran mistik. Igbal menyatakan begitu, dan Bergson mengatakan begitu. Ini adalah haru yang menandai satu saat 'keheningan transendental”, kita katakan sajalah begitu, yang mungkin hanya sekejap-sekejap, tapi yang menyebabkan seluruh bangunan hanya berbeda dalam tebal-tipis warna bagai sebuah lukisan transparan, dan yang menyebabkan seseorang mungkin "menangis bukan karena sedih”. Igbal mengatakan, ilham kepenyairannya hanya berbeda dengan ilham kenabian oleh gradasi. Di situ lebih bisa dipaham bila estetika akrab dengan etika. 

Tetapi teori estetik memang tak hanya satu. Dalam dunia yang bergalau dalam teknologi, ketika manusia menjadi mesin-mesin dan diprogram dalam schedule yang ketat, ketika orang kehilangan hubungan satu sama lain dan tidak merasa dituntut oleh apapun kecuali aturan-aturan sosial dengan sanksi-sanksi otomatis, dan ketika kejutan apapun tak lagi mampu menyentuh jiwa yang tenggelam dalam yang rutin, demikianlah gambaran yang diekstrimkan dari masyarakat Barat, orang membenci klimaks dalam seni, mencurigai renungan” dan mencibir kepada "yang transendental”. Keberadaan manusia ada lah hidupnya yang setengah alpa namun bergerak. Se ni sebagai cermin masyarakat adalah riak yang datar, sederhana, sekilas-sekilas, sementara eksplorasinya dijalarkan sampai sperma dan ludah dan kelenjar — yang juga tak lagi ditakjubi karena sudah bagian dari 'permainan' sehari-hari. Itulah karya-karya yang pada kita sering sama sekali tidak bicara. 

Dan di mana yang 'mistik'? Toh mungkin masih ada 'kemanusiaan, kalau saja tidak dikaburkan oleh nada putus asa dan ajakan bunuh diri. Dalam gambaran yang diekstrimkan, kita melihat kadang-kadang seni sebagai objek. Bukan subjek yang melakukan interferensi bersama kita, melainkan benda asing yang tiba-tiba teringat, yang mungkin juga membuat kita terharu -seperti bila kita terharu melihat seorang yang mabuk. Untuk "konsep” di atas itu, pembicaraan tentang etika akan terlalu mengada-ada. 

Tetapi itu juga menunjukkan, bukan terutama disebabkan oleh ”konsep” bila sebuah kesenian buruk. Dalam kenyataan, di samping itu juga terdapat — bahkan agaknya jumlah terbesar -pementasan dan karya yang lain yang hakikatnya sedikit saja menyentuh dimensi transendental yang dimaksud. Meskipun paham estetik tentang seni yang "dengan sendirinya religius” merupakan paham kita (merupakan 'dlia'ul mukmin', barang si mukmin yang selama ini hilang), layaknya apa yang kita namakan Seni Budaya Islam juga harus memberi tempat kepada bentuk-bentuk yang lazimnya "hanya” dihargai sebagai 'hiburan? Andai pun sebuah tontonan hanya mencapai tingkat itu, selama ia masih bisa dipandang etis, ia punya fungsi sebagai pemenuh kebutuhan ekspresi atau penglepasan ketegangan massal yang sehat -meski lazimnya tak dipahami para fukaha. (Dalam segala abad, jumlah orang yang saleh selalu lebih sedikit ketimbang yang sebaliknya, dan yang terakhir ini tak bakalan merasa cukup hanya dengan sembahyang, tanpa masukkan rohani yang lain). Seni, betapa pun rendahnya 'kadar' nya, memperluas horison. 

Tetapi sebuah kesenian buruk mutunya tak lain karena tiadanya rangsang puitik pada penciptaan. Tiadanya 'haru? Tiadanya imajinasi, dan hanya tempel-tempelan. Tiadanya keakraban kemanusiaan, dari hati ke hati, melainkan dari doktrin ke kepala, dari khotbah ke sasaran. Tiadanya kejujuran pengucapan dari dalam, dan hanya keindahan suara dan gerak bikin-bikinan. Tiadanya pengabdian yang penuh, dan hanya kemampuan memperalat. Dan tiadanya teknik. 

Semua itu memang masalah estetik. Tetapi , bila kita bicara dalam konteks seni budaya Islam, yang di harapkan "tidak memalukan Islam”, mutu yang buruk bisa menjadi masalah etik. 

Bogor, 22 Desember 1982.

ADMIN

BACA JUGA