YURISTGAMEINIGAMEID101

PENYAIR DAN SUFI - M. FUDOLI ZAINI

Penyair dan Sufi
oleh M. Fudoli Zaini

Seorang penyair berteriak di depan umum. Ia ingin menjadi seorang sufi. Buku-buku telah banyak dibacanya, terutama buku tentang mistik dan tasawuf. Setiap hari ia tenggelam dalam buku-buku itu, dari pagi sampai malam. Lewat Zuhur ia terlupa sembahyang, saking asyiknya dengan buku-buku itu. Ia hanya ingat makan siang tatkala perutnya tiba-tiba keroncongan. Lewat Asar, ia juga tidak salat, sebab tertidur oleh kantuk yang tak tertahankan sampai habis maghrib. 

Bangun tidur ia kembali sibuk dengar buku-buku itu sambil diskusi dengan beberapa orang kawan tentang tasawuf. Habis makan malam sekadarnya, tiba-tiba sang penyair seperti tersentak oleh sesuatu. Malam itu ia harus menulis sebuah puisi paling jempolan yang bernapaskan ketuhanan. 


Sampai jauh malam ia menekuni puisinya, dengan gejolak jiwa dan perasaan yang paling tuntas. Dekat fajar baru ia tertidur capek. Subuh dilewatinya, sebab ia baru bangun tatkala matahari hampir mencapai puncak langit. Tapi sang penyair merasa senang sekali. Sajak itu dimuat di sebuah majalah sastra yang paling kompeten. Sebuah sajak berbau "tasawuf" yang berat dan dalam, penuh dengan nilai-nilai falsafi dan ditulis dengan gaya pembaruan yang paling orisinal.

Sementara itu seorang lelaki lain sibuk bekerja di sebuah kantor pajak. Hidupnya biasa saja dan sederhana, walau ia bekerja di kantor perpajakan. Ia terlalu jujur dan apa adanya, ia tidak mau pungli. Dan kawan-kawannya pada menertawakan dan menyebutnya sebagai ”si bodoh” dalam hidup yang serba gemerlapan ini. Buku-buku juga telah banyak dilalapnya. Buku-buku tentang tauhid, fikih, filsafat, sastra-budaya, tasawuf dan lain-lain. Tapi tidak hanya berhenti pada buku-buku. Buku-buku itu baginya hanyalah penunjuk jalan belaka. Jalan itu harus ditempuhnya, harus ditempuhnya, harus ia mulai dengan langkah pertama. Maka lelaki itu pun melangkahlah: satu,dua, tiga langkah sampai cukup jauh juga ia berjalan.

Mulailah ia mengoreksi dirinya. Kalau dulu ia suka membual, sekarang ia lebih banyak diam merenung, tidak bisa yang lima waktu ia lupakan. Bahkan ibadah-ibadah sunah lainnya pun ia kerjakan dengan penuh ikhlas dan khusyuk. Sering juga ia bangun lepas tengah malam untuk sembahyang tahajud. Juga membaca wiridan yang diberikan seorang gurunya, mursyidnya. Makin lama ia makin merasakan betapa syahdu dan indahnya mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia telah jatuh cinta kepada Allah.

Namun dalam kehidupan sehari-hari, lelaki itu nampak biasa saja. Orang-orang tidak banyak tahu tentang dirinya. Ia hanya dikenal sebagai seorang yang baik dan jujur, tenang dan tekun, ia menulis sajak-sajak cinta yang dalam dan syahdu. Orang-orang mengira ia adalah penyair yang lagi sibuk berasyik-maksyuk. Dan ia tidak peduli akan sebutan orang tentang dirinya, penyair nomor wahidkah atau tidak. Apalagi untuk memproklamirkan dirinya sebagai jago penyair, seperti jago gulat atau lainnya. Sebutan baginya tidaklah penting. Dan ia tetap ajeg melangkah di ”jalan” yang telah ditempuhnya, di "tarigah” yang telah dipilihnya.

Jelas sekali perbedaan antara penyair pertama dengan penyair kedua, yang pertama adalah penyair yang berteriak dengan kenes di depan umum bahwa ia ingin menjadi seorang sufi. Yang kedua adalah sufi penyair yang tak mau menyebut dirinya demikian, bahkan tak peduli akan sebutan dirinya. Yang menjadi pokok perhatiannya hanyalah bagaimana ia bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Sajak-sajaknya lahir secara intens dari luapan rindu dan cinta kepada-Nya. Sajak-sajak yang lahir dari pengalaman dan penghayatan yang paling sublim dan dalam.

Ia seorang seniman, karena seorang sufi memang seorang penyair atau seniman yang terpikat oleh keindahan dan kepuitikan yang mutlak. Akan tetapi seorang seniman belum tentu seorang sufi. Buku-buku tasawuf dan teriakan saja tidak bisa membikin seorang penyair tiba-tiba berubah menjadi seorang sufi. "Tasawuf adalah pembersihan diri dan penyaksian”, kata Al-Kattani, seorang sufi dari abad ke 3 H/9 M. Pembersihan diri atau tasfiyah adalah langkah pertama pertama dalam dunia tasawuf. Ia harus bertolak dari aturan hidup atau syari'ah (syariat). Syari'ah ini harus bertumpu pada keyakinan yang benar yaitu agidah (akibat). Dus, seseorang pertama kali harus berbekal agidah, menjalankan syari'ah, menempuh tarigah untuk kemudian sampai kepada hagigah, yaitu taraf sufi, taraf akhlak atau ihsan.

Tapi tidak setiap orang sanggup menempuh tarigah menuju hagigah. Hanya orang-orang yang mempunyai kesiapan rohani tertentu yang sanggup untuk itu. Dengan kata lain, hanya orang-orang yang punya kepekaan dan kebeningan jiwa, punya bakat dan apresiasi yang tajam menghayati keindahan secara intens. Sebab itu kata Al-Ousyairi berkata: "Situasi-situasi (ahwal) adalah bakat, dan tahapan-tahapannya (magamat) adalah hasil daya usaha”. 

Situasi-situasi rohani, kebeningan jiwa dan keterpikatan akan keindahan merupakan bakat kurnia pemberian Tuhan, sedangkan tahapan jenjang-menaik dalam menuju hagigah merupakan hasil daya usaha dan jerih payah yang harus dengan sungguh-sungguh dilakukan oleh seseorang yang ingin mencapai taraf sufi. Bakat atau mauhibah tanpa jerih payah pembersihan diri atau tasfiyah, tak akan ada artinya. Sedangkan jerih payah pembersihan diri tanpa bakat, tak akan menghasilkan apa yang diharapkan. Sebab itu tidak setiap orang bisa dan perlu menjadi sufi, sebagaimana tidak setiap orang “bisa dan perlu menjadi seniman". 

Orang-orang yang tidak punya kesiapan rohani dan kebeningan jiwa tidak bisa dihalau untuk ramai-ramai masuk tasawuf. Fakultas-fakultas sastra dan seni tidak otomatis bisa mencetak para sastrawan dan seniman, sebagaimana juga perkumpulan-perkumpulan tarikat tidak otomatis bisa mencetak para sufi.

Tentu saja agar mencapai tujuan dengan tepat, usaha dan jerih payah tadi tak ayal lagi memerlukan ilmu. Ilmu itu adalah tentang agidah dan syariah serta penerapannya. Kalau tadi telah dikatakan, bahwa untuk mencapai hagigah seseorang harus berbekal agidah, menjalankan syariah dan menempuh tarigah, maka ketiga-tiganya merupakan trio yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. 

Tarigah senantiasa diikat oleh agidah dan syari'ah. Kalau aqidah dan syari'ah saja dicukupkan untuk orang awam, maka tarigah saja bagi seorang calon sufi tanpa mengindahkan agidah dan syari'ah, akan membuahkan hasil yang menyesatkan. Aliran-aliran kebatinan yang banyak menyeleweng adalah karena kekeliruan-kekeliruan mereka dalam menempuh tarigah, tanpa mengindahkan agidah dan syari'ah.

Lantas, bagaimana proses kelahiran karya-karya seorang sufi? Sudah dikatakan, bahwa seorang sufi adalah seorang seniman. Pada taraf-taraf permulaannya tentu saja karya-karyanya lahir dari pengalamannya yang biasa. Pada taraf-taraf berikutnya karya-karyanya akan lahir dari pengalaman yang makin dalam dan sublim. Hingga tatkala ia telah mencapai puncak pengalamannya, maka tak tahanlah lagi sang sufi akan dirinya. Meluapkan karya-karyanya begitu saja tanpa ia sadari, seperti sebuah gelas kecil yang kecurahan air samudera. 

Di sini sang sufi telah berada keadaan "mabuk” atau sakr, karena tak tahan lagi menyaksikan keindahan yang maha indah. Tak mengherankan mengapa karya-karya prosa dan puisi sufi begitu dalam, dan indah. Bahkan doa-doa mereka, munajat-munajat mereka dengan Tuhan dan buku-buku mereka yang ditulis untuk tujuan-tujuan pelajaran menampilkan kedalaman dan keindahan yang sangat tinggi. Nyanyian-nyanyian dan musik sufi telah dibawa ke dunia Barat dari Andalusia melalui Province di Perancis. Dan melalui San Juan de la Croix, nyanyian sufi telah pula merembes dan mempengaruhi lagu-lagu gereja.

Seorang sufi adalah seorang seniman yang melengkapi dirinya dengan pelbagai ilmu pengetahuan. Sebab berbakti dan mendekatkan diri kepada Allah tidak bisa dilakukan dengan kebodohan. ”Siapa yang menginginkan dunia, maka haruslah dengan ilmu pengetahuan. Dan siapa yang menginginkan akhirat, maka haruslah dengan ilmu pengetahuan. Dan siapa yang menginginkan keduanya, maka harus pula dengan ilmu pengetahuan”, kata Rusulullah.

Dari itu, maka para sufi macam Al-Makki, Al-Hasibi, Al-Junaid, Al-Bustami, Al-Ghazali, Ibnu Arabi, Ibnul Faridh dan lain-lain merupakan puncak-puncak cendekiawan pada zamannya. puas dengan segala macam ilmu itu. Mereka tidak puas dengan hanya mengetahui dan mereka ingin langsung ”menyaksikan” sendiri hakikat. ”Bagiku ilmu itu jauh lebih gampang daripada amal”, kata Al-Ghazali. "Karena aku tahu dengan penuh yakin, bahwa para sufi itu adalah mereka yang tenggelam dalam situasi-situasi dan bukan orang-orang yang hanya banyak bicara”, katanya lagi. 

“Situasi” di sini adalah situasi rohani yang sangat bening, khusyuk dan dalam, dan bukan macam ”Situation” punya Sartre misalnya yang dituangkan dalam filsafat eksistensialisme-nya. Kalau Sartre dalam 'L'Etre et Le Neant' menyebutkan bahwa "situation” memiliki empat ciri, antaranya rakitan antara paksaan dan kemerdekaan, maka ”situasi” para sufi yang lebih dari sepuluh macam itu senantiasa berada dalam -bebas dan merdeka. Inilah antara lain yang menyebabkan perbedaan konsepsi tentang kemerdekaan antara filsafat eksistensialisme macam punya Sartre dengan konsepsi kemerdekaan dalam filsafat sufisme.

Jadi, jauh sekali perbedaan antara seorang penyair tok dan seorang sufi. Seorang sufi adalah seorang penyair dalam arti luas, seorang seniman. Sedang seorang penyair belum tentu ia seorang sufi. Sebagaimana seorang mukmin, seorang sufi adalah seorang yang senantiasa rendah hati. Ia adalah contoh-teladan dalam hal akhlak dan budi pekerti. Seorang sufi bukanlah seorang yang mengasingkan diri dari kancah kehidupan. Ia seperti juga orang-orang sibuk dalam hidup dan menempuhnya dengan penuh keberanian. Ia bukan seorang yang tidak mau kepada dunia, melainkan melihat dunia tak lebih hanya sebagai alat dan bukan sebagai tujuan. 

“Tuhanku. Jadikanlah dunia ini berada di kedua belah tanganku, dan jangan jadikan ia berada dalam kalbuku”, kata Ibnu Athaillah dalam sebuah munajatnya. Seorang sufi bisa saja seorang yang kaya raya, akan tetapi melihat harta hanya sebagai alat dalam menuju ke kebaikan, dalam menuju kepada Allah. Seorang sufi bisa saja seorang pegawai pajak, seorang guru. seorang sopir taksi, seorang pedagang atau seorang presiden. Al-Muhasibi seorang pedagang, Al-Ghazali seorang mahaguru, Dzunnun Al-Masri seorang ahli kimia. Ibnu Adham seorang pangeran, Al-Hallaj seorang pemimpin gerakan rakyat, dan di masa kini Abdul Halim Mahmud seorang Syaikh Al-Azhar dan Mustafa Mahmud seorang dokter bedah. Namun semuanya menyatu dalam cinta mereka kepada Allah yang begitu dalam dan syahdu. Sebab tasawuf sebenarnya tak lain adalah seni berbakti kepada Allah, seni cinta kepadaNya dan seni mendekatkan diri ke hadiratNya.

Bukankah penyair pertama tadi patut menjadi tertawaan dan patut dikasihani, kalau keinginannya menjadi seorang sufi hanya terhenti pada teriakannya yang kenes di depan umum? Semoga saja tidak.

ADMIN

BACA JUGA