YURISTGAMEINIGAMEID101

PRO KONTRA TAFSIR ALQURAN DENGAN ILMU MODERN

PRO KONTRA TAFSIR ALQURAN DENGAN ILMU MODERN

Pro Kontra Tafsir Alquran dengan Ilmu Modern

Menurut Muhammad Isma'il Ibrahim dalam kitabnya Alquran Ijazuh al-Ilmi, penafsiran Alquran dengan ilmu pengetahuan modern merupakan sebuah metode dan usaha baru dalam menafsirkan Alquran. Namun, hal ini bukan berarti kita diperbolehkan menganggap para mufasir terdahulu adalah bodoh karena tidak bisa menafsirkan dengan ilmu pengetahuan modern.[1]

Pada dasarnya, penafsiran Alquran dengan menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan modern dapat dikategorikan sebagai bentuk tafsir bir ra'yi. Dalam konteks ini, yang dimaksud sebagai ilmu pengetahuan modern yaitu ilmu astronomi, kedokteran, dan ilmu ekonomi yang menjadi pembahasan buku ini. Penafsiran seperti ini menuai banyak kontroversi di kalangan para ulama ahli tafsir. Ada yang memperbolehkan, tetapi ada juga yang melarang. Di antara ulama yang melarang penafsiran seperti ini adalah Syekh Syaltut, Sayyid Quthb, dan asy-Syathibi.[2]


Yang Melarang


Syekh Syaltut benar-benar mengecam sekelompok cendekiawan yang menguasai ilmu pengetahuan kontemporer atau mengadopsi teori-teori ilmiah, filsafat, dan lainnya. Selanjutnya, dengan bekal pengetahuan tersebut mereka menafsirkan ayat Alquran dengan kerangka pengetahuan yang mereka kuasai. Menurut beliau hal tersebut dianggap salah karena mereka menghadapkan Alquran kepada berbagai ilmu di setiap tempat dan masa, sedangkan ilmu pengetahuan tidak mengenal konstansi, kemutlakan, dan pendapat final. Boleh jadi hari ini benar, tetapi keesokan harinya dianggap salah. Jika ini terjadi, kita telah menjadikan Alquran tidak konstan dan tidak mutlak kebenarannya.[3]


Pendapat Syekh Syaltut di atas sesuai dengan kritik Sayyid Quthb terhadap orang yang berusaha menafsirkan Alquran dengan ilmu pengetahuan modern. Komentar beliau dalam hal ini dikemukakan dalam kitabnya Fi Zhilaalil Qur'aan ketika menafsirkan surah al-Baqarah ayat 189. Beliau berkata:


"Sungguh aku sangat heran dengan orang yang sangat bersemangat terhadap Alquran yang berupaya menambahkan suatu yang bukan bagiannya, menginterpretasikan kepada apa yang tidak Alquran maksudkan, serta menggali beberapa bagi dari Alquran. Mereka bersikap seakan-akan dengan perbuatan itu mereka telah mengagungkan dan memuliakan Alquran."[4]


Sehubungan dengan itu, asy-Syathibi berpendapat bahwa menafsirkan Alquran dengan ilmu pengetahuan tidak diperbolehkan karena Alquran dalam bentuk dasar untuk komunitas ummiy (awam atau buta huruf). Dengan demikian, Alquran adalah syariat ummiyyah. Oleh karena itu, tidak seharusnya kita mengeluarkan Alquran dari sifat aslinya sehingga dipaksakan, dipersulit, serta difalsafahkan.[5]


Pendapat asy-Syathibi ini beliau dasarkan kepada firman Allah SWT dari ilmu kedokteran, kimia, astronomi, dan sebagainya:


"Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (al-Jumu ah: 2) 


Yang Membolehkan

Sementara itu, ulama yang memperbolehkan penggunaan ilmu pengetahuan dalam menafsirkan Alquran sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Qardhawi ialah al-Ghazali dan as-Suyuthi. Menurut al-Ghazali, secara global semua ilmu pengetahuan termasuk dalam perbuatan dan sifat Allah SWT. Sementara itu, Alquran menerangkan dzat, perbuatan, dan sifat Allah SWT, adapun ilmu pengetahuan ini tidak bersifat final. Dalam Alquran, hanya terdapat sinyal secara global terhadap ilmu tersebut. Lebih lanjut, al-Ghazali menjelaskan semua ilmu pengetahuan itu terkumpul dalam satu lautan di antara beberapa lautan pengetahuan Allah SWT, yaitu lautan perbuatan.[6]

Jalan Tengah

Mengacu kepada beberapa pendapat yang salíng bertolak belakang tersebut, al-Qardhawi memilíh bersikap moderat dalam masalah penafsiran Alquran dengan ilmu pengetahuan modern. Beliau memilih sikap moderat di antara dua pendapat yang ekstrem. 

Pendapat ekstrem pertama adalah yang menolak mentah-mentah untuk memasukkan ilmu pengetahuan modern dalam bidang tafsir, dengan tujuan menjauhkan Alquran dari terjadinya trial and error yang selama ini menjadi citra buruk dari ilmu pengetahuan yang kesimpulannya selalu berubah. 


Sementara itu, pendapat ekstrem yang kedua adalah terlalu berlebihan dalam menggunakan ilmu pengetahuan umum dalam menafsirkan Alquran. Di mana mereka terlalu memaksakan diri dalam menginterpretasikan Alquran sehingga memaksa Alquran tampak mencakup semua ilmu pengetahuan yang telah tersusun teorinya dan telah ditemukan faktanya.


Lebih lanjut, al-Qardhawi menjelaskan bahwa sebagaimana fatwa hukum yang berbeda bentuknya sesuai dengan perbedaan masa dan tempat, demikian pula penafsiran Alquran, penjelasan hadits dan metode dakwah. Semuanya berbeda sesuai perbedaan masa dan tempat. Selain itu, penafsiran Alquran juga sangat dipengaruhi oleh spesifikasi ilmu yang dikuasai oleh orang yang hendak menafsirkannya. 


Seorang pakar fiqih akan menggali hukum syari at yang terkandung dalam Alquran. Seorang pakar balaghah (sastra Arab) akan lebih tertarik terhadap pembahasan tentang keindahan sastra dalam Alquran. Begitu pula dengan pakar sosiologi, ekonomi, dan disiplin ilmu lainnya, mereka akan lebih tertarik untuk menggali kandungan Alquran sesuai dengan bidang yang mereka kuasai.[7]


Meskipun menafsirkan Alquran dengan ilmu modern diperkenankan, ada beberapa syarat yang dikemukakan oleh al-Qardhawi bagi siapa saja yang ingin menggunakan ilmu pengetahuan modern dalam menafsirkan Alquran, yaitu sebagai berikut:[8]


1. Berpegang pada fakta ilmiah bukan hipotesis 


Dalam hal ini ilmu pengetahuan yang dijadikan dasar dalam menafsirkan Alquran harus berupa ilmu pengetahuan yang sudah diakui oleh para pakarnya serta telah menjadi fakta ilmiah yang dijadikan rujukan. Bukan menggunakan hipotesis atau teori yang belum dibuktikan. Hal ini sangat penting mengingat ketika menafsirkan Alquran melalui hipotesis, penafsiran yang dibuat akan berubah-ubah mengikuti hipotesis yang ada. Meskipun fakta-fakta ilmiah yang dianggap pasti itu bersifat nisbi (relatif), tetapi hal tersebut diperbolehkan. Mengingat hal tersebut sesuai dengan kapasitas kita sebagai manusia biasa. Hal ini sesuai dengan definisi tafsir yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tafsir adalah menerangkan maksud Allah SWT sesuai dengan kadar kemampuan manusia.


2. Menjauhi pemaksaan diri dalam memahami nash


Dalam hal ini, kita dilarang memaksakan sebuah nash Alquran dengan makna yang ingin kita simpulkan. Akan tetapi, kita hendaknya harus mengambil beberapa makna yang sesuai dengan bahasa dan sesuai dengan alur redaksi nash yang ada. Oleh karena itulah, kita seharusnya tidak menginterpretasikan beberapa lafazh Alquran berdasarkan makna-makna kontemporer yang secara yakin bukan yang dimaksud oleh nash tersebut. Seperti mengartikan kata dzarrah ke dalam terminologi dalam ilmu fisika atau yang lainnya.


3 Menghindari menuduh umat seluruhnya bodoh

Ketika kita menafsirkan Alquran dengan ilmu pengetahuan, jangan pernah menganggap umat Islam atau bahkan ulama terdahulu adalah bodoh karena tidak mampu menafsirkan seperti yang kita tafsirkan.

Endnote:


[1] Az-Zurqani, Manahilul Irfan fi 'Ulum Al-Qur'an, (Libanon: Darul Fikr, 1996], Vol. 2, hlm. 57.

[2]Ayyub, Ulum Al-Qur'an wa al-Hadits, (Kairo: Darus Salam, 2004), hlm. 161.
[3] Ibrahim, Al-Qur'an wa ljazuh al-Tlmi, (Mauqi Ya'sub, tanpa tahun), Vol. 1, hlm. 44.
[4] Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 3 karya Yusuf al-Qaradhawi hlm. 37-54.
[5] Al-Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), Vol. 3, hlm. 38
[6] Al-Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), Vol. 3, hlm. 40.
[7] Al-Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), Vol. 3, hlm. 45-46.
[8] Al-Qaradhawi. Fatwa-Fatwa Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), Vol. 3, hlm. 43.
[9] Al-Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), Vol. 3, hlm. 49-50.
[10] Al-Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), Vol. 3, hlm. 53-54


Sumber: Tafsir Ekonomi Kontemporer: Menggali Teori Ekonomi dari Ayat-Ayat Alquran, Abdul Wahid al-Faizin dan Nashr Akbar, Gema Insani, Depok: 2018

ADMIN

BACA JUGA