YURISTGAMEINIGAMEID101

PUISI BAHASA MANUSIA - DAMIRI MAHMUD

Puisi Bahasa Manusia
oleh Damiri Mahmud
Puisi Bahasa Manusia - Damiri Mahmud

Puisi memberikan sesuatu kepada manusia. Sesuatu yang kompleks untuk begitu saja dirumuskan. Sulit untuk dilihat atau diraba dengan nyata atau dirasakan manfaatnya semata-mata dengan hanya indera lahiriah. Ia barangkali lebih memberikan kepada kita akan sesuatu yang bersifat spiritual dan menyelusup ke dalam ruang-ruang batin manusia yang misteri. Orang-orang bijak selalu mengatakan bahwa puisi ibarat air yang memercik di tengah gurun yang tandus. Syekh Hasan Al-Athar, seorang mahaguru Al-Azhar di abad XIII H berkata dengan liris sekali: “Orang yang tidak berkesan dengan kehalusan Puisi, yang dialirkan atas tali-tali gitar, melalui pantai-pantai sungai, melintasi nyamannya pohon-pohon yang merimbun, maka orang itu benar-benar telah kering jiwanya, tabiatnya adalah tabiat keledai.”[i]

Atau dalam bahasa yang ilmiah pengertian serupa ini diucapkan pula oleh Robert Frost: "A poem begins in delight and ends in wisdom."

Dengan bahasa puisi kita akan dapat merasakan bahwa kehidupan antara manusia ini bukan hanya beban dan hubungan manusia dengan Tuhannya, bukan semata-mata kewajiban seperti hubungan seorang budak dengan tuannya di mana apabila si budak telah mengerjakan tugasnya, ia akan mendapat upah dan sebaliknya apabila ia ingkar akan mendapat hukuman. Lebih daripada itu hidup ini dapat kita lihat sebagai suatu nikmat dan hubungan manusia dengan Tuhannya dapat ditingkatkan derajatnya kepada suatu tingkat yang mengasyikkan seperti yang banyak dilukiskan oleh penyair-penyair dalam lirik-lirik sajaknya terlebih-lebih oleh penyair-penyair sufi dalam dunia tasawuf Islam, yaitu ke suatu tingkat hubungan cinta.

Namun puisi bukan semata-mata keindahan yang merdu untuk didengar. Pada saatnya ia dapat menjelma dari air yang sejuk di tengah gurun atau kupu-kupu yang menari di taman menjadi kobaran api yang membakar semangat atau beribu anak panah yang menancap di medan perang! Nabi Muhammad saw. pernah berucap kepada seorang penyair yang bernama Ka'ab bin Malik:
''Sesungguhnya orang mukmin berjihad dengan pedang dan lidahnya. Demi Allah, sesungguhnya serangan Anda terhadap mereka dengan sajak-sajak Anda, laksana lemparan panah yang tajam.”[ii]
Dan jauh sesudah itu seorang pengamat sastra Barat, J.J. Moreno berkata pula: "Lebih penting dari puisi ialah efeknya, sebuah puisi dapat merangsang seratus perbuatan heroik”.

Sejalan dengan ini dalam sejarah tanah air kita menentang penjajahan Belanda dikenal perlawanan rakyat Aceh yang tak padam-padamnya. Salah satu unsur yang menjadi api untuk mengobarkan semangat perjuangan rakyat Aceh itu ialah Syair Hikayat Perang Sabi yang dikarang oleh Teungku Cik Pante Kulu.[iii] Syair Hikayat Orang Sabi inilah yang banyak menjiwai Perang Aceh melawan penjajah Belanda, di mana rakyat Aceh yang memang terkenal suka mendengarkan syair-syair, kepada mereka dibacakan syair hikayat-hikayat perjuangan Islam dan ganjaran bagi orang-orang yang berjuang  fi sabilillah.

Jadi puisi dapat berfungsi banyak dalam kehidupan manusia. Ia dapat menjelma sebagai air di tengah gurun, kupu-kupu dalam taman atau menjadi roti di tengah kelaparan. Namun ia dapat segera berubah menjadi api yang berkobar atau beribu anak panah yang menancap di medan perang.

Puisi merupakan manifestasi dari kepekaan seseorang terhadap alam dan kehidupannya. Dan berkomunikasi dengan orang lain secara spiritual. Ia dapat melenturkan perasaan seseorang selembut sutera, tetapi juga dapat menguatkan semangat sekeras baja.

Namun puisi bukanlah segala-galanya yang harus diagung-agungkan. Puisi bagaimana pun tetaplah sebagai bahasa manusia dengan segala keterbatasannya. Bukan bahasa Tuhan! Kata-kata Tuhan dalam kitab-kitab sucinya bukanlah puisi seperti yang banyak disangkakan oleh sebagian penyair dan ahli sastra masa dahulu bahkan juga sampai sekarang. Pendapat seperti itu timbul karena pengagungan yang terlalu jauh terhadap puisi itu sendiri.

Pada masa kitab suci Alquran diturunkan, saat itu di tanah Arab adalah merupakan zaman keemasan bagi kehidupan kesusastraan. Syekh Muhammad Abdul dalam kitabnya Risalatut Tauhid menerangkan bagaimana ketinggian dan kemajuan bahasa dan sastra di masa turunnya Alquran:

"Alquran diturunkan pada suatu masa yang telah sepakat ahli-ahli riwayat mengatakan, bahwa masa itu adalah masa yang amat gemilang ditinjau dari segi kemajuan bahasa dan pada masa itu banyak sekali terdapat ahli-ahli sastra dan ahli-ahli pidato.”[iv]

Sehingga pada waktu itu para penyair Arab yang besar seperti Musailimah al-Kazzab, Habalah bin Ka'ab, Thulaihah dan lain-lain mendakwa bahwa ayat-ayat Alquran adalah puisi. Dan karena mereka adalah penyair yang ulung mereka pun menyatakan bahwa puisi-puisi mereka adalah wahyu Tuhan. Lebih lanjut mereka melantik diri mereka sendiri menjadi nabi sebagai Muhammad. Dan menyatakan pula bahwa Muhammad itu pun adalah penyair sebagai mereka pula. Untuk menguatkan pengakuan mereka itu, para penyair itu banyak menciptakan puisi-puisi yang mereka anggap menandingi atau menyamai ayat-ayat Alquran. Salah sebuah puisi Musailamah Al-Kazzab itu berbunyi seperti ini:

"Yaa dhifda'u binta dhifda'asni naggit ma tunaggiina Aalaaki filmaa-i wa-asfalaki fith-thina”" (Hai katak anak dari dua katak. Bersihkan apa-apa yang akan engkau bersihkan. Bahagian atas engkau di air, bahagian bawah engkau di tanah).

Seorang sastrawan Arab yang termasyhur yaitu Al-Jahiz telah memberikan penilaiannya atas gubahan Musailamah ini dalam bukunya yang bernama Al-Hayawan sebagai berikut: 

"Saya tidak mengerti apakah gerangan yang menggerakkan jiwa Musailimah menyebut katak (kodok) dan sebagainya itu. Alangkah kotornya gubahan yang dikatakannya sebagai ayat Alquran itu yang turun kepadanya sebagai wahyu.”[v]

Dewasa ini pun masih ada para sastrawan dan pengamat sastra yang berpendapat bahwa kitab-kitab suci atau firman Tuhan itu dibahasakan dengan syair (puisi). Gambaran seperti ini barangkali dapat kita raba dalam sebuah esai yang ditulis oleh Goenawan Mohamad, seorang penyair dan esais Indonesia yang kenamaan. Dalam esainya yang berjudul Puisi Kitab Suci antara lain ia menulis:

”Seandainya kitab-kitab suci hanyalah buku-buku hukum yang tanpa puisi, maka manusia sudah lama akan hidup dengan rohani yang kering. Bhagawad Gita, Injil, Ouran. Di tengah-tengah pengalaman masa kita kini, salah satu kebutuhan kita adalah menghidupkan kembali puisi yang terdapat di dalamnya....Sebab Tuhan memang bersabda, dengan bahasa manusia, dalam puisi. Dan puisi, dengan perlambang-perlambangnya, dengan iramanya, dengan seluruh semangatnya, tidaklah mendikte. Puisi adalah pembicaraan ke dalam hati, yang mengimplikasikan pengakuan orang kedua sebagai person, dengan segala kemungkinannya. Menerima kitab suci sebagai puisi yang hidup berarti menerima sabda Tuhan bukan sebagai dekrit, melainkan panggilan dialog, bukan sebagai intimidasi, tapi sebagai pewedaran kasih sayang.”[vi]

Lebih jauh, seorang pengamat lain, Balya Soemawisastra, dalam sebuah tulisannya, meski terasa bernada epigon dari Goenawan di atas, secara lebih ekstrim menulis:

"Tuhan berkomunikasi dengan manusia lewat 'syair-syairnya’ lantaran Tuhan tahu manusia bakal lebih mudah mendengarkan 'suara Tuhan’ lewat syair-syair yang diucapkan-Nya. Secara tak langsung, lewat syair-syair Kitab Suci-Nya yang kelewat banyak itu, Tuhan mengajari manusia-manusia untuk jadi penyair. Dan memang begitu nyatanya, pada akhirnya, segala manusia dari bangsa apapun, adalah penyair. Kita bisa lihat. Hakikatnya seluruh kitab suci yang diturunkan Tuhan, hampir kesemuanya berisi syair. Tuhan menyampaikan segala ajarannya, lewat syair-syair kitab suci. Taurat, Mazmur, Injil, Alquran, seluruhnya berisi syair.”[vii]

Namun Tuhan dalam kitab suci Al-Gur'an itu sendiri, sebagai salah satu kitab suci yang disebut-sebut dalam pendapat di atas, anehnya dengan terang telah menyanggah bahwa Alquran itu berisi puisi atau syair, baik sebahagian atau seluruhnya. Kita petikkan satu ayat di bawah ini:

"Wamaa 'alamnaahusy-syi'ra wamaa yanbaghiilahu, n-hua iilaa zikrun-waagur aanun-mubunun.” (QS. 36 : 69). (Dan Kami tidak mengajarkan syair (puisi) kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Alquran itu tidak lain adalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.)

Dan Alquran dan kitab suci lainnya bagaimanapun tidak dapat diserupakan dengan Puisi atau syair bagaimana pun halus dan indahnya atau bagaimana pun hebatnya, karena puisi tetaplah bahasa manusia dan bukan wahyu atau suara Tuhan seperti yang didakwakan oleh penyair-penyair Arab itu tadi. Untuk ini Allah menegaskan lagi:

“Oul-lla Oinijtama'atil-insu wal-jinnu 'alaa an-yaa'tuu bimisli bhaazaa-1Our-aani laatuuna bimislihti walau kaana ba'dluhum biba'dlin zhahriran. (QS. 11:88) (Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk mengadakan yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuatnya, biarpun sebagian mereka membantu sebagian yang lain).

Memperkatakan puisi sama dengan suara Tuhan atau lebih lanjut menyebutkan kata-kata Tuhan dalam kitab suci sebagai syair atau puisi, menurut hemat saya adalah pendapat yang berasal dari keinginan menggunakan kedudukan dan fungsi daripada puisi itu ke atas menara gading. Seolah puisi dapat memberikan dan menunjuki segalanya kepada manusia.

Kalau kita rajin baca tulisan dan teori mengenai seni memang amat banyak pendapat yang memberikan gambaran pengagungan itu. "Manusia akan jadi biadab tanpa saya. Sayalah juru selamat umat, juru selamat kebudayaan.”[viii]


Endnote:

[i] Ali Hasymi, Sastra dan Agama, kertas kerja untuk Pertemuan Sastrawan 1979. Ditjen. Kebu- dayaan Dep. P&K, hal. 28.

[ii] Hadits yang diterima Imam Ahmad dari Kaab bin Malik. Selanjutnya lihat Ali Hasymi: Sastra dan Agama, hal 16.

[iii] Banyak yang berpendapat bahwa Hikayat Prang Sabi adalah buahkarya Teungku Cik diTiro. Pencantuman nama Teungku Chik Pante Kulu adalah mengikut pendapat Ali Hasymi dalam buku: Hikayat Prang Sabi Menjiwat Perang Aceh Lawan Belanda, Firma Pustaka Faraby, Banda Aceh.

[iv] Al-Our-an dan Terjemahnya, Departemen Agama R.I. hal. 120.

[v] ibid. hal. 119-120.

[vi] Goenawan Mohamad: Potret Seorang penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang, Pustaka Jaya, cetakan pertama, 1972, hal. 62.

[vii] Balya Soemawisastra: Hendaknya Tuhan Tidak Diobyekkan Para Penyair, ruangan seni-budaya ”Dialog”, "Berita Buana”, hal 6, 15 Juli 1980.

[viii] Sudjoko: Kita juga punya "Romantic Agony”, Pesta Seni 1974, Dewan Kesenian Jakarta, 1975.

ADMIN

BACA JUGA