YURISTGAMEINIGAMEID101

PUISI-PUISI M. NASRUDDIN ANSHORIY CH

Puisi-Puisi M. Nasruddin Anshoriy Ch

M. Nasruddin Anshoriy Ch, lahir di Yogyakarta 4 Mei 1965. Menempuh pendidikan di berbagai pesantren, antara lain: Pesantren Al-Muayyad, Solo dan Tebuireng, Jombang. Pria yang akrab dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang.


Menulis artikel, puisi, kolom, dan resensi buku di berbagai media, seperti Horison, Prisma, Pelita, Amanah, Panji Masyarakat dan Kompas. Melakukan berbagai penelitian sosial dan keagamaan untuk LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat), P3M (Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat), dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Sedangkan Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika. Gus Nas sempat menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesantrend Budaya Ilmu Giri.


KUTEBANG-TEBANG SENDIRI

kutebang-tebang sendiri semua pohon
di hutan ini yang mau tinggi sendiri

kalian boleh kecewa kalian boleh tak
suka kalian boleh memaki-maki kalian

kutebas-tebas sendiri semua duri yang
menancap di kaki-kaki juga kaki Kau

orang bilang aku ini Kau tapi orang
bilang kau ini Aku tapi kalian Lalai

1989

REQUIEM

Melambai, melambailah hatiku sampai
Kini aku sirna. Sirnalah bonekaMu
Karam di palung menjelma karang-karang

Tuhanku, kini aku abadi di kefanaanMu

Maka catatlah tebal-tebal di buku Rindu
Bahwa aku pernah mengintipMu malam-malam
Bahwa aku pernah mabuk kepayang dan

gugur dalam persemaianMu. Aku binasa

dalam kekekalanMu. Aku kini sampai

1989

DI BATU CAVE
buat yy

Ada embun tak henti-henti menetes
Menyejukkan gelisahku melihat Kau membisu
Mengapa harus cemburu, kekasih? Semua
bisa bermula di sini tapi tak segalanya
harus berakhir di sini. Biarkan embun itu
terus menetes sepanjang musim melesung batu.
Karena aku bisa berguru padanya untuk tetap
mencintaiMu walau dengan beban kesabaranku.
Di Baru Cave aku semakin rindu.

Kuala Lumpur, 1987.

VOILA I

Aku adalah orang yang berada jauh
di sudut malam. Beringsut-ingsut di celah gelap.
Berselingkuh di subuh-subuh riuh.
Kugilas duka jadi luka

Kutepis sepi jadi nyeri
Aku kelojotan di jauh malam. Melagukan sorga
dan kehangatan, Voila
Aku terhuyung di jauh malam. Menerkam rindu
dan kekecewaan, Voila

Aku mengerang mengaum bimbang
Kudedah sejarah dalam darahku. Kuterjang lengang
dalam tembangku. Saat bibirmu merekah menyemburkan
resah para penyair yang gelisah di lembah-lembah.

Aku kasmaran menyanyikan lagu para musafir yang
tersesat-sesat di rimba raya, Wahai! Adakah aku
masih tersisa seperti sediakala?

Kini aku sudah menyeberangi malam

Aku bebas menafsirkan gemuruh dalam hatimu.
Aku bebas mengurai perih dalam rintihmu. Sebab
dingin dan keringat telah lumat dalam pekat.
Karena hasrat aan taubat tak lagi bersinggat-singgat.

Aku berdansa dalam nganga
Aku menari di duri-duri
Mereguk kegetiranMu
Engkau di mana Voila?

Temani aku menenggak arak pada marak kasihMu
Pada makam-makamku yang hitam pada lumut-lumut
di selimutku pada kubur-kuburku yang digusur.
Temani aku Voila! Temani aku!
Menikam diam menebas bebas di perih-perih ini.

Musik apalagi akan mengusik kasmaran ini, Lagu
apalagi akan merayu kenestapaan ini: Dansa apalagi
akan melepas siksa-siksa ini jika aku kini lenyap
di sergap gelap?
Biarkan aku terkapar pada altarMu
sampai fajar menebarkan cahayaNya dalam
lapar-laparku!

Solitude, 1987-1988.

PENGANTIN LAUTAN

Akulah nelayan di laut lepas
Menginap bertahun-tahun berkasur karang
Berselimut ombak berbantal sepi

Aku sudah tenteram disini
Meniduri sepi berkali-kali
Menciumi sepi berganti-ganti
Aku sudah bahagia disini
Di laut lepas bercinta denganmu

Tak kenal perih tak dengar rintih
Kecuali desahmu yang bergema di hati
Di laut lepas aku terus bernyanyi
Menerjang lengang menuju Matahari

Di pantai-pantai kalian memanggil
Dan aku menutup seluruh pintu
Tak ada jendela yang masih terbuka
— Dan aku mengunci semuanya

Aku sudah bahagia disini
Tanpa kapal tanpa pantai tanpa rindu
Bersetubuh denganMu selama-lamanya

Yogya, 1988

AKU PULANG

Aku pulang malam-malam. Kuputuskan untuk
pulang malam-malam. Di kegelapan aku meng
hilang agar kalian yang menghadangku tak
tahu kemana nafas menyerbu dan sepi menyeru-nyeru. 
Keputuskan pulang malam-malam.

Di pintu-pintu Sepi kuketuk subuh agar

Kau yang di dalam sana merapikan ranjang
untuk Bersetubuh sampai kaki tak kuat lagi
mengayuh. Siapakah Kau yang di dalam sana?

Dan keesokan harinya kalian tak mungkin
menemukan diriku seperti diriku yang dulu.

1989

ADMIN

BACA JUGA