YURISTGAMEINIGAMEID101

SASTRA SUFISTIK SEBAGAI ESKALASI KESADARAN

SASTRA SUFISTIK SEBAGAI ESKALASI KESADARAN
Wawancara dengan Dr. Nurcholish Madjid


SASTRA SUFISTIK SEBAGAI ESKALASI KESADARAN

Substansi sufi atau mistisisme adalah penghayatan esoteris dari kesadaran f agama. Ia menjangkau bagian terdalam dari hakikat kehidupan manusia dan menembus dunia ruhani sebagai sublimasi atas dunia jasmani yang sarat dengan keserakahan dan kemunafikan. Setidaknya ada tiga jenjang untuk mencapai puncak kesufian itu. Pertama, tahap moral: kedua, tahap etiko-psikologi, dan ketiga, tahap metafisik. 

Dalam tahap moral, sufi muncul sebagai ilmu etika yang berorientasi untuk menyempurnakan moral individu. Dalam tahap etiko-psikologi, sufi menerobos dari moralitas praktis ke psikologi Individual yang tidak lagi membicarakan tindakan lahir maupun rekayasa sosial, melainkan lebih menekankan tindakan batin untuk mencapai kesalehan dan kearifan. Puncaknya ialah tahap metafisik, ketika kesufian melintasi kawasan hati melalui penghayatan esoteris. Maka, pada saat itu, setiap langkah para sufi tidak lagi mengandalkan anggota-anggota tubuh, melainkan lebih terfokus pada tindakan-tindakan hati. Di dalam fase puncak ini. yang oleh sementara orang dianggap sikap eskapisme, perilaku para sufi tidak hanya membereskan kemiskinan material masyarakat, tapi lebih mengarah kepada pembentukan swadaya mental masyarakat guna membereskan kemiskinan jiwa manusia melalui keteladanan spiritual. Para sufi lebih terpanggil untuk menerbitkan akhlak masyarakat dari nafsu hedonis dan materialis. 

Setidaknya, itulah benang merah yang dapat ditarik dari dialog antara Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang pakar teologi dan mengaku peminat sastra ini dengan M. Nasruddin Anshoriy Ch (Gus Nas) yang berlangsung di LIPI Jakarta. Selanjutnya, dialog ini semakin berkembang ke pembicaraan soal-soal sastra sufi, variabel sosial ekonomi dalam dunia sufi, relevansi dan atau korelasi sastra dan sufi, tradisi dan budaya sufi, serta makna rekayasa sosial di dalam persepsi para sufi. Menurut Cak Nur yang lulusan Chicago University of America ini, gerakan sufi adalah gerakan batin, suatu gerakan spiritual yang sifatnya pribadi. 

Gerakan sufi muncul sebagai bandingan dari gerakan sekuler yang mengacu ke benda-benda. Jika kekuasaan politik telah merampas hak-hak asasi manusia: jika kekuasaan ekonomi telah merampok hati nurani dan menjejalkan kerakusan-kerakusan akan harta benda: jika kekuasaan hukum hanya menjadi dalih bagi kepentingan pribadi dan mengabaikan kedaulatan kemanusiaan, maka gerakan sufi bertujuan mempertahankan kekuasaan batin yang berlandaskan agama guna memperoleh pencerahan hati dan kekayaan Jiwa. 

Merujuk pada argumentasi itulah, sastra sufi memekar dan memperoleh momentumnya. Sastra sufi lebih mencerminkan sikap halus dalam tutur kata, dalam bahasa, serta dalam perilaku manusianya. 


Gus Nas: Anda tahu, bahwa sufi atau tasawuf, atau yang dalam bahasa populer disebut mistisisme, adalah bagian integral dari kebudayaan Islam. Bahkan dalam literatur pesantren ditegaskan, bahwa, sufi merupakan salah satu dari empat besar ilmu rasional atau agli yang lebih bersifat tradisional atau nagli. Seusai serangan Al-Ghazali atas ilmu-ilmu rasional yang diwakili oleh filsafat, yang melalui ilmu ini Teologi Mu'tazilah berhasil menampilkan rasionalisme Islam selama empat abad, dari abad dua sampai lima hijriyah, sufi menjalin hubungan dengan teologi tradisional, yaitu:

Asy'ariyah melalui teologi Asy'ariyah inilah sufi mengambil alih semua ilmu Islam selama tujuh abad berikutnya dan sepanjang periode kerajaan Ottoman hingga gerakan Pembaharu Modern. Pertanyaan saya ialah, apa sebenarnya substansi sufi itu, sehingga ia memperoleh momentum di dunia Islam? 

Cak Nur: Sebenarnya, sudah banyak sekali di Indonesia ini bacaan tentang apa itu sufi. Apalagi di dunia pesantren seperti yang saudara sebutkan itu. Tapi, baiklah, sayaakan mencoba memberikan suatu persepsi. Saya pikir, sufi atau tasawuf, kalau dilihat dari sudut ajaran atau filosofinya, itu memperoleh momentum oleh Al-Ghazali. Dengan buku-bukunya seperti Ihya Ulumuddin, Al-Mungidz Minadzalal, dan Minhajul Abidin itu, maka Al-Ghazali begitu populer. Bahkan Minhajul Abidin itu sekarangsudah diberi syarah atau telaah yang begitu panjang lebar oleh Kyai Ihsan dari Jampes dalam bahasa arab yang bagus sekali dan mendapat pengakuan internasional. Tapi sebelum Al-Ghazali ini memang sudah ada tokoh-tokoh sufi, seperti Dzun Nun, Al-Hallaj, Rabi'ah Al Adawiya, Abu Yazid Al-Busthomi, dan beberapa yang lain. Juga ada orang seperti Ibnu Arabi, Ibnu Sina, dan Al Kindi. 

Nah, substansi sufi itu apa, barangkali bisa kita sebutkan bahwa kekayaan Islam tentang literatur sufi itu betul-betul tidak tertandingi. Islam sangat kaya sekali dengan literatur sufi ini. Substansi dari sufi itu ialah, penghayatan esoteris dari kesadaran agama. Jadi lebih bersifat batin. Karena itu, dulu di Jawa ini dikenal adanya golongan kebatinan. Sebetulnya, golongan kebatinan ini merupakan kelanjutan dari gerakan sufi. Nah, perkataan batin sendiri sudah menunjukkan kedalaman, suatu hal yang lebih pribadi dan spiritualistik, sebagai bandingan dari golongan lahiriah. Tapi dalam bahasa Indonesia, perkataan lahir ini tidak begitu banyak dipakai. Tidak ada golongan yang menamakan kelompok lahiriyah. Tapi dalam bahasa Arab golongan 2ahiriyah atau lahiriyah itu ada. Kalau golongan kebatinan disebut Ahlul Bawathin, maka polongan zahiriyah disebut Ahlul Dzawahir. 

Jadi pada umumnya, golongan yang disebut Ahlul Dzawahir ini adalah para ahli Fikih. Yaitu orang yang menghayati agama Islam lebih banyak sebagai suatu sistem hukum. Karena itu, kesibukannya lebih terletak pada pengaturan masyarakat, atau yang biasa disebut keterlibatan sosial. Sedangkan sufi sebagai Ahlul Bawathin atau golongan kebatinan itu lebih banyak riyadzah atau exercise. Lalu ada istilah riyadzah nafsaniyyah, yang sebenarnya bermakna spiritual exercise. Untuk itu, para sufi ini membahas persoalanpersoalan agama mengenai hal-hal yang lebih spiritual. 

Contohnya begini, kalau para ahli fikih membahas mengenai shalat, biasanya akan dibahas segisegi dari shalat itu yang ada kaitannya dengan sah dan tidaknya shalat. Seperti pakaiannya bagaimana, suci dan tidak sucinya, wudzu dan kiblatnya, bahkan sampai gerak shalatnya. Dalam membahas gerak shalat ini, sampai-sampai Mazhab Syafii berpendapat bahwa, kalau seseorang sedang sembahyang bergerak tiga kali berturut-turut maka dia batal. Nah, kesemuanya itu dalam pandangan kaum sufiitu straggle things, suatu hal yang remeh sekali. Bagi para sufi, sembahyang itu sebagai suatu peristiwa menghadap Allah (tawajjub), shalat itu sebagai peristiwa dialog dengan Allah, serta sebagai peristiwa mengintenskan kesadaran akan kehadiran seorang makhluk di depan Khaliknya dan kehadiran Khalik dalam hidup seseorang.

Maka para sufi ini suka mengatakan, bahwa, shalat itu merupakan mikraj ataueskalasi orang yang beriman. Jadi kalau Nabi Muhammad itu mikrajnya menghadap Tuhan di Sidratil Muntaha atau di atas langit ke tujuh, maka orang yang beriman mikraj melalui shalatnya. Nah, itulah yang disebut esoterisisme. Kemudian, karena tindakan para sufi yang lebih menekankan hal-hal yang batin tersebut, maka seringkali lalu timbul ekses. Penekanannya kepada segi-segi yang intrinsik dan seolah-olah mengabaikan yang instrumental itulah sebenarnya yang menjadi ekses. Karena yang intrinsik dalam sembahyang itu ingat kepada Tuhan, maka kadangkadang para sufi ini lalu loncat dengan dalil: Kalau begitu, shalat sebagai sesuatu yang nilainya instrumental, suatu ketika bisa tidak perlu. Nah, hal semacam ini yang sering mengganggu di mata kaum fikih. Sebab apa? Sebab sekali agama di ajarkan semacam itu, maka agama akan mengalami interpretation away. Terus-menerus ditafsirkan, sehingga habis. 

Sebetulnya, banyak unsur filsafat juga di dalam sufi atau tasawuf ini. Misalnya saja filsafat Isyragiyyah yang sangat banyak terpengaruh oleh neo-platonisme, yakni mengenai teori emanasi. Dan yang kemudian merembes atau terwariskan melalui berbagai karya filosof, termasuk Ibnu Sina. Nah, Ibnu Sina ini, disinyalir bahwa dia seorang Syiah aliran Ismailiyyah. Dan aliran Ismailiyyah ini yang sering disebut Al-Bathiniyyun atau kaum kebatinan. Jadi Al Ghazali waktu mengangkat pena untuk menuliskan karya-karya polemisnya itu, sebetulnya yang ada di benak Al Ghazali itu adalah Ibnu Sina. Sewaktu Al Ghazali menulis mengenai AtTahafutul Falasifah atau kerancuan Para Filosof, sebenarnya yang hendak ia hantam adalah Ibnu Sina. Jadi boleh diganti menjadi At-Tahafutu Ibnu Sina atau Kerancuan Ibu Sina. Sebab apa? 

Di dalam filsafat Ibnu Sina itu memang ada hal-hal yang sulit diterima oleh kaum Ortodoks, terutama mengenai takwil (interpretasi) yang bersifat metaforik. Artinya, suatu pendekatan kepada agama yang mencoba untuk memahami apa yang ada dibalik lafal-lafal lahiriyah dan mau mencapai hal-hal yang lebih batiniyah. Sebab orang-orang kebatinan dalam arti Ismaili ini sangat banyak menggunakan takwil. Karena itu mereka tidak begitu banyak terikat pada kewajiban-kewajiban lahir. Shalat, misalnya, mereka itu kurang begitu memperhatikan. Tapi ini tidak berartibahwa mereka itu kurang saleh. Hanya saja, kewajibankewajiban yang sifatnya lahiriyah itu tidak terlalu diperhatikan. Sebenarnya, sufi atau tasawuf ini lebih banyak di kalangan kaum Sunny dibanding kaum Syiah. Karena apa? Sebab di kalangan kaum Sunny, tasawuf berfungsi sebagai reaksi terhadap orientasi eksoteris, terutama dari segi hukum. 

Sedangkan di dalam Syiah, antara fikih dan tasawuf itu berjalan seimbang. Antara dimensi esoteris dan dimensi eksoteris berjalan sekaligus. Karena itu, kaum Syiah tidak begitu perlu kepada sufi. Sebab kesufian itu menjadi built in di dalam kesyiahan sendiri. Sedangkan di dalam Sunny, sufi merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. i Sufi itu akan diamalkan orang dalam bentuk amalan-amalan atau ritus-ritus nyata melalui tarekat. Jadi tarekat itu adalah wujud nyata dari sufi, meskipun sufi itu sendiri tidak selalu menghasilkan tarekat. Seperti Al Ghazali sendiri, misalnya, ia tidak mengikuti salah satu tarekat, meskipun kesufian dalam dirinya jelas. Sebaliknya ada orang seperti Nagsyabandi, Rifai, Tijani, Abdul @adir AlJaelani, dan banyak lagi para sufi yang mendirikan cabang tarekat. Makna dari tarekat itu sendiri ialah jalan menuju kesucian batin. 

Gus Nas: Oke. Cukup luas dan jelas Anda menjawab. Tidak hanya substansi sufi saja, tapi juga menguak sejarah dan tradisi sufi, khususnya yang berkembang di Timur Tengah. Argumentasi yang lebih bersifat historis mengenai kemunculan sufi, menurut saya, tidak hanya sebagai bandingan atas membengkaknya eksoterisisme. Memang benar bahwa gerakan sufi menang kalanya ada bahaya yang datang dari Teologi Muktazilah dan Filsafat. Tapi, terdapat hal lain yang menandai kebangkitan gerakan sufi ini, seperti akal yang telah dijadikan sumber kebenaran dan pengetahuan yang sejajar dengan wahyu: lima rukun Islam ditransformasikan kepada bentuk-bentuk ritual murni, yang berarti artikulasi-artikulasi anggota tanpa peningkatan spiritual, pemupukan modal melalui perdagangan dan gaya hidup yang materialistis dan konsumeristis, ancaman-ancaman budaya luar yang merusak tata krama dan sopan santun: serta berbagai macam motivasi lain. Tapi, intinya sama, yaitu sebagai suatu mekanisme defensif untuk melawan ancaman-ancaman tersebut. Nah, lalu bagaimana dengan yang terjadi di Indonesia? Bagaimana sosok sufi di Indonesia itu? 

Cak Nur: Sufi di Indonesia cukup jelas dan banyak, terutama dalam arti tarekat itu. Sudah jelas bahwa buku-buku Al-Ghazali dibaca oleh kalangan ulama dan santri, yang berarti ada sikap untuk mengapresiasi karya-karya kesufian. Malahan seperti Buya Hamka almarhum, banyak sekali dipengaruhi oleh Al-Ghazali. Meskipun: sebagai orang Muhammadiyah beliau itu banyak mengambil prinsip-prinsip dasar dari keyakinan keagamaannya orang seperti Ibnu Taimiyah, tetapi dia seperti tercermin dalam buku-bukunya itu sangat banyak terpengaruh oleh Al-Ghazali. Dan memang, Buya Hamka adalah orang yang punya akses karena ada kemampuan untuk membaca. Sehingga wajar kalau dia menjadi kaya dalam pemikiran sufi ini. Saya kira, tidak banyak orang seperti Buya Hamka itu, dimana di satu pihak begitu modernis dan reformis, tapi di lain pihak dia juga menerima dan mengembangkan sufi. Maka diaj juga menulis buku Tasawuf Modern. Dalam buku Tasawuf Modern itu, Buya Hamka bermaksud menonjolkan segi-segi kesufian dari ibadah Islam, tanpa menjadi pengikut gerakan tarekat. Jadi bertasawuf dalam artinya yang murni. 

Gus Nas: Apakah relevansi sufi dengan sastra? 

Cak Nur: Banyak sekali. Banyak sekali ungkapan-ungkapan dari pikiran-pikiran kesufian dan intuisi-intuisi kesufian itu yang berbentuk sastra. Karena sastra adalah memang suatu pengungkapan yang halus dari dalam diri manusia, dan sastra menjadi wahana yang paling tepat untuk mengungkapkan konsep-konsep kesufian. Rubaiyat Al Khayyam, misalnya, itu kan suatu karya sastra yang tinggi sekali, sekaligus merupakan karya sufi yang tinggi juga. Saya tidak tahu bagaimana sastra sufi di Indonesia pada zaman klasik. Tapi orang seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniri, dan Raja Ali Haji juga mengutarakan pikiran-pikiran kesufiannya dalam bentuk sastra. Jadi, cabang-cabang keilmuan dalam Islam yang banyak menggunakan idiom-idiom sastra untuk mengekspresikan dirinya memang sufi. 

Saya pikir karena sastra mampu dipakai untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang halus dan menjadi medium yang tepat bagi sufi. Lain sekali dengan ilmu Kalam atau teologi. Ilmu ini tidak mengangkat sastra sama sekali, kecuali hanya untuk keperluan pedagogik. Ada kitab dari ilmu Kalam ini seperti Agidatul Awam dan Jawaratu at-Tauhid yang sengaja dibentuk seperti puisi, tapi sebetulnya itu bukan puisi. Itu hanya untuk keperluan pedagogik, supaya orang mudah menghafal.) NN Tapi ekspresi sastra atau ekspresi puitis yang sebenarnya dalam Islam itu ya berisi kesufian. Misalnya saja, kita ambil sebagai contoh yaitu Ibnu Arabi. Dia menulis buku namanya Fususul Hikam (Bezels of Wisdom). 

Nah, di dalam buku tersebut, kalau dia harus mengemukakan pikirannya yang mendalam tapi singkat, maka larinya ke puisi. Buku Fususul Hikam itu sendiri berupa prosa panjang, yang sesekali diselingi puisi. Ibnu Arabi ini terkenal sebagai pengembang Wahdatul Wujud (monisme) yang ekstrem sekali. Ini bisa kita lihat ketika dia membuat suatu puisi yang berbunyi: Fayahmaduni Wa Ahmaduhu / Waya'buduni Wa A'buduhu/Fii Khiinin Ugirrubihi/ Wa FilA'yaani Ajhadu. Ini kan satu puisi yang kalau orang yang tidak terbiasa dengan literatur kesufian, maka pasti kaget. Karena di dalam puisi ini, Ibnu Arabi mengklaim bahwa Tuhan itu memuji dia, lalu dia membalas memuji Tuhan. Dan Tuhan menyembah dia, lalu dia balas dengan menyembah Tuhan. Pada suatu ketika Tuhan diakui dan dibela, tapi pada saat yang lain dia tentang Tuhan. 

Nah, ini merupakan contoh dari sastra kesufian, yang sebetulnya sangat simbolik dan metaforik. Jadi tidak bisa dipahami secara literlijk. Masak Tuhan menyembah Ibnu Arabi? Kan tidak. Karena itulah, orang yang tidak terbiasa dengan karya sufi, akan kaget dan menolak. Ini juga yang menyebabkan kenapa Ibnu Arabi mengalami banyak kesulitan. Dan contoh-contoh seperti ini banyak sekali. Tapi kalau kita gabung secara keseluruhan, artinya kita pahami Ibnu Arabi secara menyeluruh, dia sebetulnya tidak perlu dituduh yang macam-macam. Kalau dia betul-betul mengklaim bahwa Tuhan menyembah dia, kan musyrik jadinya. Tapi karena ini suatu ekspresi simbolik dan metaforik, sebetulnya ini merupakan suatu pelukisan atau penggambaran betapa dekatnya dia dengan Tuhan. Lalu, dengan puisi dia bercanda dengan Tuhan. Contoh lain, misalnya, Abu Yazid Al Busthomi yang mengatakan: Ana Allah! Lailaha illa Ana! Fa'budnie. Akulah Tuhan! Tidak ada Tuhan kecuali Aku! Maka, sembahlah Aku. Lalu, dalam kesempatan lain dia berteriak: Subhanie! Maha Suci Aku.

Juga Al-Hallaj dan Rabiah Al Adawiya yang begitu masyhur itu. Memang, di dalam agama Islam atau Al-Gur'an itu, banyak keterangan yang mengatakan bahwa Tuhan itu Transendental. Jadi, seperti yang Dia firmankan sendiri: Walam Yakun Lahu Kufuwa Ahad. Yaitu tidak ada seorang pun yang menyerupai Tuhan. Dan Tuhan disebut Al-'Aliy (Maha Tinggi), Al-Lathief (Maha Lembut), Al-Qahhar (Maha Perkasa), dan lain-lain, yang kesemuanya itu transendental. Tapi sebetulnya, di dalam Alquran juga banyak indikasi, bahwa Tuhan itu juga Immanent (tetap Ada). Seperti misalnya, Wahuwa Ma'akum Ainama Kuntum. Tuhan itu beserta kamu dimana pun engkau berada. Tuhan itu lebih dekat dengan manusia daripada urat lehernya sendiri. Juga, Tuhan itu menjadi penghalang antara seseorang dengan dirinya sendiri. Maksudnya, Tuhan menjadi penengah antara hati dan keinginan-keinginan orang tersebut. Ini yang menyebabkan adanya Wahdatul Wujud (monisme) sebagai pengembangan lebih lanjut, dan secara eksesif terus memekar, daripada doktrin-doktrin mengenai immanentisme Tuhan. Dari situ, lalu muncul orang seperti Al-Hallaj, Abu Yazid AlBusthomi, dan Ibnu Arabi.) 

Gus Nas: Tapi di Indonesia sendiri, menurut pengamatan Anda sebagai pakar agama, apa ada sastra sufi semacam yang Anda kemukakan itu? Kalau ada, kapan tradisi sastra sufi itu dimulai? 

Cak Nur: Di Indonesia, bisa saya sebut Hamzah Fansuri dan Nurruddin Ar-Raniry di zaman klasik, lalu sesudah itu seakan terputus. Penyebabnya, mungkin, karena kita terlalu banyak dilanda oleh orientasi budaya yang didominir oleh kaum kolonialis dan imperialis. Juga tumbuhnya sekularisme yang cukup pesat. Tapi, saya melihat akhir-akhir ada kecenderungan untuk menghidupkan kembali sastra sufi itu di Indonesia. Kalau di dunia Islam secara keseluruhan, memang sejak awal sudah ada sastra sufi. Banyak kaum sufi sendiri yang mengklaim bahwa, ajarannya itu diambil dari Sayyidina Ali. Dan memang, Ali ini cukup banyak mewariskan ajaran-ajaran kesufian. Misalnya saja, Nahjul Balaghah, disana dapat kita temukan beberapa ekspresi kesufian yang berbentuk sastra. Apalagi kalau sastra tidak hanya terbatas pada puisi, maka Nahjul Balaghah sendiri merupakan satu karya sastra yang cukup masterpiece. Lalu yang cukup populer di negara-negara Barat sekarang ini ialah Rubai'at Al-Khayyam. Malahan, saya kira seperti Al-Barzanyji itu sendiri merupakan karya sastra dan bermuatan kesufian yang cukup baik. Baik dari sudut keindahan bahasa maupun pengutaraannya. 

Gus Nas: Oke. Sekarang kembali ke persoalan sufi itu sendiri. Karena sufi lahir dalam kondisi historis untuk menghadapi dan menanggulangi dekadensi budaya dan degradasi hukum, yang lalu berkembang untuk mencegah kekalahan politik dan militer dalam bentuk sublimasi bagi kemenangan batin, lalu sekarang ini dapatkah gerakan sufi ini membantu dalam menanggulangi kekalahan militer, politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang seringkali kita namakan keterbelakangan itu? Atau dalam bahasa yang lebih sederhana, pertanyaan saya berbunyi: Bisakah Anda membantu menjelaskan tentang fenomena sufi ini melalui variabel sosial ekonomi dan variabel politik-budaya? 

Cak Nur: Dari variabel sosial-ekonomi, kaum sufi sendiri melihat dirinya sebagai Al-Fagier. Sebetulnya, arti umum dari Al-Eagier itu sendiri ialah orang yang perlu. Jadi mereka sebagai manusia merasa perlu dengan Tuhan. Dan Al-Fagier ini, jika diterjemahkan secara literlijk menjadi orang miskin. Nah, bagi orang sufi, dunia menjadi rintangan untuk menuju kepada Tuhan. Jadi jelasnya, bagi gerakan sufi ini, demi mencapai tingkat tertinggi agar lebih dekat dengan Tuhan, maka kemiskinan menjadi alternatif. Tapi lama kelamaan terbalik. Kesufian pada akhirnya menjadi alternatif bagi orang-orang miskin. 

Oleh karena itu, banyak terjadi adanya semacam keparalelan, yaitu kesufian adalah suatu tempat pelarian. Tentu saja, sufi yang begini ini tidak genuine. Tidak banyak nilainya kalau sufi hanya dipakai sebagai tempat pelarian. Sebab dalam bentuknya yang asli, tidak ada korelasi antara kemiskinan dan kesufian. Begitu juga di dalam menjelaskan tentang variabel politik-budaya dalam sufi. 

Para pengikut Abah Anom di Tasikmalaya, misalnya, para pemilik perusahaan batik di Tasikmalaya itu banyak sekali yang menjadi pengikut Abah Anom. Mereka ini dari golongan kelas menengah-atas dalam sosial-ekonominya. Kemudian tentang variabel politik budaya, saya kira banyak juga orang yang kesadaran politiknya tinggi dan kesadaran budayanya memadai yang juga ikut terlibat dalam salah satu tarekat tertentu. Prinsipnya, gerakan sufi ini ingin mengembalikan kerangka dasar ihwal perjuangan antara kebenaran melawan kebatilan. Mengajak ke jalan kebaikan dan menolak jalan yang sesat. Sebab gerakan sufi ini merupakan suatu penyaluran dari kebutuhan spiritual yang hakiki. Jadi tidak bisa diklaim bahwa sufi identik dengan eskapisme. 

Gus Nas: Tapi apakah ada rekayasa sosial dalam gerakan sufi?

Cak Nur: Umumnya, karena gerakan sufi ini lebih bersifat esoteris, maka ya tidak concern terhadap pengembangan masyarakat dalam artinya yang eksoteris. Impact tidak langsung memang ada, yaitu mengenai konsep kerakyatan. Karena cita-citanya hanya membangun budi-pekerti dan menyempurnakan akhlak manusia, maka gerakan sufi ini jelas anti kepada kezaliman. Tapi bentuk antinya ini, umumnya pasif. Get away... 

Gus Nas: Kembali ke sastra sufi lagi. Apa ada konsep kesusastraan bagi gerakan sufl itu? 

Cak Nur: Saya tidak pernah mendapatkan suatu elaborasi mengerai bagaimana para sufi melihat kesusastraan. Tapi yang jelas, memang medium ekspresi daripada kesufian itu kebanyakan lewat sastra. Sastra merupakan wahana yang cocok bagi gerakan sufi. Itu saja. 

Gus Nas: Kasus Al-Hallaj, menurut sastrawan dari Egypt, Saleh Abdul Shabur, akibat propaganda politik. Menurut Anda bagaimana? 

Cak Nur: Yang menjadi korban propaganda politik itu tidak hanya kaum sufi semata. Ibnu Arabi, Ibnu Taymiyyah, Al-Asy'ari, semua tokoh ini juga menjadi korban propaganda politik. Yaitu dari suatu pemerintahan yang otoriter dan diktator. Juga di banyak cabang-cabang keilmuan lain, yang jadi korban para diktator dan totaliter tersebut cukup banyak jumlahnya. Di negara-negara Barat, ilmuwan dan sastrawan yang menjadi korban inguitation itu juga cukup banyak jumlahnya.***

ADMIN

BACA JUGA