YURISTGAMEINIGAMEID101

TENTANG KEGIATAN SENI SEBAGAI IBADAH - SYU'BAH ASA

Tentang Kegiatan Seni sebagai Ibadah
oleh Syu'bah Asa



Bismillaahirrahmaanirrahiim

I
Ibadah adalah satu hal yang sudah mafhum. Tetapi ibadah melalui kesenian, dengan kata lain, menjadikan kegiatan kesenian sebagai laku ibadah, merupakan pengertian yang masih boleh dibahas — sebab kegiatan kesenian merupakan satu bidang yang betapapun juga masih mengandung sifat ikhtilafi (kontroversial). 

Juga walaupun kesenian yang dimaksud dikenal sebagai kesenian Islam (yaog kurang lebih berarti kesenian dari umat-Islam yang diilhami oleh ajaran, semangat atau tradisi tertentu dari ajaran, sambil mengangkut warna lokal). Sejarah sendiri telah memaparkan kepada kita bahwa, di masa lampau peradaban Islam yang gemilang yane dari jauh tampak sebagai satu kebulatan itu hakikatnya terdiri dari dua komponen yang setelah didekati, masing-masing mempunyai otonomi atau setidak-tidaknya batas pinggir tertentu. Yakni ajaran di satu segi, dan kebudayaan (termasuk di dalamnya kesenian) di segi lain. 

Memang, dalam teori, kebudayaan Islam (termasuk keseniannya) diilhami yang terpenting ajaran Islam, seperti telah disebut, dan dua-duanya merupakan satu tubuh. Tetapi warisan dari masa-masa Umawi, Abbasi, Khilafat Spanyol, Fathimi, Shafawi, Ustmani, kiranya tidak selalu sah bisa dianggap murni berdiri di atas ajaran Islam. Para imam mutakallimin dan para imam mazhab fikih mewariskan hasil-hasil studi mereka seperti yang sebahagiannya tetap kita pelajari sekarang. Para arsitek, penyair, astronom, muhandis, tabib, musikus, menebarkan karya mereka dan bersama dengan kalangan 'ulama di atas membangun peradaban Islam. Tetapi bukankah Ghazali, yang telah berjasa mengembalikan mistik Islam ke pangkalannya, menyingkap ilmu kalam dan mengutuk kaum filosof seperti yang diwakili Ibnu Rusyd? Bisakah diharapkan bahwa para ulama, akan sudi memandang sekadar sebelah mata kepada kaum pemusik penari dan mereka yang tenggelam dalam segala bentuk malahi lainnya? 

Bukankah menara pengamat bintang di kota Isfaham yang dibangun Umar Khayyam konon dikutuk Ghazali sebagai hasil perbuatan setan? Dan bukarkah, sebaliknya, Imam Malik sampai-sampai dipenjara, bahkan imam Abu Hanifah yang mubia meninggal di dalam bui? Dan bukankah Sultan Harun Al-Rasyid, Al-Amin atau Al-Makmun, yang bijak dan banyak muncul dalam dongengan itu, tak lain adalah sultan-sultan dalam rentetan tradisi tangan besi yang mendapatkan kekuasaan bukan oleh pilihan, melainkan kalau perlu oleh segala intrik dan pembunuhan, yang tidak membutuhkan ulama kecuali sebagai jembatan ke arah rakyat? Dan bukankah, tragisnya pula, sultan-sultan itu jugalah yang berjasa memajukan peradaban Islam dengan menyediakan segala dana dan sarana bagi penerjemahan? karya-karya besar asing dan ”mengislamkan"nya, dengan memperkerjakan para teknokrat baik Yahudi atau Nasrani, dengan memperkaya bentuk-bentuk pelahiran dengan unsur-unsur Persi atau Turki atau warna lokal manapun? Dan bukankah mereka, yang memungkinkan para ilmuwan, budayawan dan seniman hidup? 

Demikianlah, tampak bahwa para 'ulama dari pihak ajaran berada pada satu seberang, sementara kaum budayawan berada di seberang lainnya. Memang berbagai paham dimunculkan dalam dunia fikih, berbagai renungan menghasilkan sistematik ilmu kalam, dan semuanya sudah tentu — dan memang harus — tidak saling sepakat sama sendiri. Tetapi kiranya tidak ada satu golongan yang cukup fenomenal di kalangan "ulama, dalam sejarah, yang berdiri 1 kalangan seni, Padahal ajaran agama Islam sudah tentu. diwakili oleh ulama dan bukan seniman. Kalaupun ada kalangan ulama yang paling dekat dengan kalangan seni (dalam arti dekat dengan semangat atau ruh kesenimanan. dan tentu bukan dalam bidang keseharian) tentulah itu kalangan tasawuf — dan kebetulan pula bukan tasawuf Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Singkatnya, sekiranya peradaban Islam dahulu murni berdiri di atas landasan ajaran (yang diwakili ulama) bisalah dibayangkan warna berbagai pemerintahan Islam akan jauh lebih baik dari itu, sebaliknya bisa pula dibayangkan peradaban Islam tidak seluhur itu. 

Dari situlah bisa timbul! pikiran: Sekiranya Islam akan dipahami tidak melulu sebagai ajaran, tetapi juga atau terutama sebagai peradaban (dengan dua komponen agama dan kebudayaan), barangkali lebih selayaknya bila kesenian tidak terlalu bergantung pada kalangan ulama. Tepatkah pikiran itu? 

II 
Sebenarnya bisa dilakukan koreksi terhadap asumsi kesejarahan tentang hubungan dunia ulama dan dunia sani seperti dicobakan di atas itu, Koreksi yang pertama akan mengingatkan kita pada sifat-sifat kesenian Timur Tengah (di masa itu), yang mewakili apa yang di dalam Alquran disebut sebagai la'ibun walahwun atau main-main dan buang waktu, alias pekerjaan iseng atau batukan lebih dari itu. Seni adalah barang kesenangan saja-raya, para hartawan, dan kaum dekaden — dan tumbuh dalam satu suasana yang katakanlah dekat dengan keadaan di Perancis sesudah Revolusi, ketika seni menghamba kepada kaum borjuis dan karena itu lahirlah gerakkan yang ingin memurnikan seni : Yart pour Part. Gambaran di Timur Tengah itu tentulah hanya garis besar. Tetapi pada abad-abad yang masih lebih dekat ke zaman permulaan Islam itu, bisalah diterima bila pernyataan Our'an tentang dekadensi penyair yang tercantum dalam Surah Asy'ara masih berlangsung — lebih-lebih karena peradaban Islam yang dimaksud itu terjadi dikalangan bangsa Arab atau Timur Tengah umumnya. Banyaknya disebut kata khamr dalam berbagai syair bisa dipastikan bukan saja karena khamr dan sakar (arak dan mabuk) adalah lambang 'isyg (cinta berlarat) kepada Allah. Tapi juga karena, paling tidak, peristiwa mabuk-mabukan itu begitu kuat rangsangannya sehingga muncul dalam syair-syair Umar Khayyam misalnya, Bukankah gambaran populer adalah gambaran raja yang bertelekan pada bantal guling beledu, minum khamr atau mengisap oga dan menonton tari-tarian? Dan apakan tari Timur Tengah itu? Tak lain permainan perut dan kaki — sejumput keindahan untuk mengundang syahwat. Ulama mana gerangan yang mau dekat ke situ — yang mau mempertimbangkan seni seperti itu sebagai "ibadah? 

Koreksi kedua akar menunjukkan, bahwa walaupun telah kita coba melihat dunia seni dan dunia ulama secara terpisah, namun Imam Syafi'i misalnya adalah seorang sastrawan, hanya saja kekuatan beliau di bilang tersebut tertimbun oleh keunggulannya sebagai sarjana besar fikih. Memang ada kaum Dahriy (kaum Mekanis?) yang menolak Tuhan. Tetapi adalah tradisi setiap karya di dunia Islam untuk tidak meninggalkan menyebut nama Allah Gan bahkan segala tahmid dan selawat nabi di dalamnya. Barangkali juga ini memang hanya menunjukkan, bahwa sastra adalah bidang yang paling ramah diterima kaum ulama — sambil mengingat bahwa sastra Arab, berdasar bekal yang diberikan oleh kekayaan dan terutama watak bahasa Arab, memang sudah cukup menjadi sastra hanya dengan bahasa yang enak dan saj (persamaan bunyi akhir yang klop saja sementara ia boleh dimuati pesan apa pun ("prose and poetry work with words and not with idea” kata Ibnu Khaldun). Ini berbeda dengan sastra Barat (atau sastra mutakhir kita) yang misalnya mementingkan imaji (citra).

Tapi yang terpenting agaknya koreksi yang ketiga. Sistematisasi ajaran-ajaran Islam waktu itu sedang berada di masa-masa awal. Dan segala sesuatu yang sedang di masa awal sudah tentu menunjukkan kecenderungan "pengerasan batas Pinggir” yang luar biasa, Cenderung menolak. Maka hasil-hasil budaya yang bagus pun, yang tidak jelas-jelas ada manfaat bagi kehidupan rohaniah menurut dalil, cenderung ditampik. Tambahan lagi muslimin pada waktu itu belum lagi menghadapi tantangan ilmu pengetahuan modern dari luar kalangan mereka, yang memaksa mereka misalnya untuk menerima input dan menyeleksi — dibanding keadaan di abad ini — karena justru merekalah di zaman itu pemilik pengetahuan. — 

Ketiga-tiga koreksi itu bisa menunjukkan, bahwa ”friksi” antara kalangan agamawan dan kalangan seni sebenarnya tidak esensial, melainkan sekadar temporal. Dengan kata lain : Zaman ini bukanlah lagi zaman itu. Apa yang dicapai di masa-masa itu bukanlah "puncak pencapaian Islam” (kita ingat saja aspek pemerintahan sejak zaman Umayyah itu misalnya), melainkan persisnya batu kilometer dalam perjalanan kita yang sudah lewat. Islam, terbukti sampai zaman ini, tetap saja merupakan satu tenaga besar yang belum sepenuhnya di eksploitir dan tiap kepuasan pada kulitnya akan menunjukkan dimensi-dimensi baru — berbeda misalnya dengan agama lain yang nyata-nyata sudah lampau masa jayanya. Lepas dari masa penjajahan di mana-mana, bagi Islam kesempatan bahkan tampak jelas sedang dibuka — untuk memuat berbagai "pilot project”, berbagai percobaan menerapkan Islam dalam konteks dan situasi yang nyata, yang tidak lagi hanya impian masa lampau. 

Tak diherankan bila dalam perjalanan timbul kegagalan. Seperti juga tak bisa disangkal bahwa sebagai pilot project orang bahkan, seperti di Saudi Arabia, kembali kepada ”minimalisasi” peradaban, bersama dengan purifikasi ajaran. Adakah Saudi, negeri kaya-kaya yang tidak mengizinkan berdirinya sebuah bioskop — konon pula untuk mengkhayalkan sebuah panggung teater atau grup tari-tarian, kecuali tarian kabiah dan syair-syair tradisional mereka yang sederhana sudah merupakan contoh sukses? Mengapa Pakistan mempunyai Bul-bul Academi of Fine Arts — yang agaknya tak terbayangkan untuk Saudi — yang misalnya mengekspor group balet khas Islam ke mana-mana? Mengapa pula seni baca Quran begitu gencar di Indonesia, juga dengan suara wanita — yang tak terbayangkan bisa" terjadi di negeri Timur Tengah yang manapun, bahkan untuk membiarkan suara ustazah berteriak nyaring? Tidakkah itu menunjukkan bahwa Dunia Islam memang sedang berada di saat-saat awal pelaksanaan yang penuh kemungkinan? 

Banyak orang dikalangan kita yang kemudian, dengan menyadari atau tidak menyadari hal itu, memilih kemungkinan yang sebuah ini: Tidak hanya bergabung dalam semangat kemurnian ajaran seperti diwariskan Rasulullah, tetapi jaga mendukung warisan peradaban yang telah diberikan sejarah dan meneruskannya dengan berbagai versi — dan kedua-duanya didenguskan dalam satu napas. Itu berarti pembedaan "kalangan ulama” dan "kalangan seniman” bisa menjadi ketinggalan zaman. Perhatian kalangan ulama kepada kesenian, dan kalangan seni kepada agama, agaknya memang merupakan bab baru yang alhamdulilah sedang kita alami, Tetapi bila seni dan ajaran memang satu wadah, bila seni diharapkan merupakan ajang pelaksanaan ibadah, toh dua aspek masih dipertanyakan: pertama konsep estetik pihak seniman, dan kedua penafsiran ajaran pihak ulama, 

III 
Apa sebenarnya manfaat kesenian? Banyak jawaban dari para estetikus abad-abad lampau, setelah mencoba menerangkan apakah seni itu sendiri. Seni, sambil memperhitungkan adanya berbagai trend, dalam keadaannya yang murni (yang tidak dikalahkan oleh aspek dulce alias kesenangan dan karena itu jatuh dalam kadar yang biasa disebut hiburan), lazim ditanggapi sebagai kekayaan rohaniah manusia yang memberikan satu pesona, satu pengalaman sehari-hari, sesuatu yang transendental, yang dalam bahasa Piano merupakan bayangan Keindahan Yang Sejati, yang oleh Berson maupun Igbal ditanggapi kurang lebih sebagai ilham ilahiat yang dansa layak diperbandingkan (bukan disamarkan) dengan ilham kerasulan. Walhasil sesuatu yang' luhur. Oleh watak seni yang menuntut kejujuran (hanya melahirkan apa yang memang hidup dalam jiwa), yang menuntut simpati kemanusiaan (hanya berbicara dari hati ke hati dan bukan dari ideologi ke ideologi), dan yang mengungkapkan haru (bukan ”kesedihan”), maka seni memang bergerak pada arus bawah hidup dan memunculkan ke permukaan undangan ke arah kedalaman itu Arus bawah ini dalam bahasa orang agama adalah religiositas — bukan keberagamaan, melainkan lebih mirip ketasawufan. Haru itu sendiri, memang, agaknya tak lain dari rasa hening yang aneh (yang sering tak disadari) yang menyebabkan orang tersentak dan menyebut : "Allah”. Ia rasa-rasanya seperti tangis di dalam sembahyang, dan bukan atau lebih dari sekadar tangis karena kematian. Atau seperti tangis melihat seekor anjing melahirkan anak, yang kanya lebih dari. pada melihat cerita tentang anak tiri dipukuli ibu tiri. Di dalam religiositas itulah, di dalam karya yang digerakkan oleh religiusitas, terdapat nilai ibadah, Dapat dipahami mengapa semangat seni dengan semangat tasawuf dekat sekali atau bahkan itu-itu juga.

Umumnya pandangan yang "meninggi-ninggikan” seni seperti itu tetap hidup, juga sekarang. Walaupun lebih banyak hanya dalam teori — sebab berbagai jenis kesenian sebenarnya hanya bergerak-gerak saja di sekitar nilai ideal itu. Meski begitu memang terdapat karya-karya besar, yang Kita suka mengulang membacanya walaupun tak selalu faktor hakiki yang mana sebenarnya yang mengikat kita. 

Tetapi dalam pada itu abad mutakhir juga diwarnai oleh bergalaunya hidup metropolitan seperti di kota-kota dunia di Barat — yang dalam kesenian memunculkan kesan sekilas-sekilas yang bukan saja jauh dari sifat formil dan angker, melainkan juga menunjukkan kebosanan pada sensasi — pada daya kejut, pada klimaks, Berbagai jenis seni rupa Barat mutakhir misalnya, yang sulit berkomunikasi dengan kebanyakan dari kita, antara lain memang disebabkan oleh latar belakang kita yang memang berbeda dari mereka yang — seperti dikatakan para pengkritik, seni kontemporer sendiri — sudah tawar dan inhuman. Hampir-hampir tanpa dimensi, mandul pula konsep-konsep estetik yang bukan saja meniadakan “beauty sebagai ideal melainkan juga menganggap "totalitas manusia” sebagai juga meliputi atau lebih banyak bahkan hanya kelenjar-kelenjar jasadi. Eksplorasi seks misalnya, bukan sebagai medium melainkan sebagai subjek sendiri, dibarengi betapapun juga oleh dekadensi akibat kegagalan mereka mempercayai yang transenden. 

Filsafat Islam sangat sedikit sekali berbicara tentang estetika — ia diabaikan di tengah maraknya bahasa teologi dan metafisik. Tapi seorang seniman muslim betapapun juga akan tahu atau seharusnya tahu memilih juga akan tahu menggunakan kebebasannya berdasar pilihan yang telah diambilnya. Sekadar kata-kata mutiara Tolstoy seperti: siapa yang sangat jauh mengejar keindahan, ia meninggalkan budi, dari segi ini bisa menunjukkan bahwa fanatisme — yang biasanya hanya dikaitkan dengan kalangan ulama, padahal sebenarnya pada kalangan apa saja, lebih-lebih seniman — memang bisa menyeret ke arah alternatif lain yang bukan alternatif kita. Maka penyadaran akan sikap seperti ini pun, sebelum berkarya, merupakan ibadah. 

Kalangan ulama dalam pada itu menghadapi situasi yang memang sudah berbeda dari situasi ketika sistematisasi ajaran sedang menunjukkan tubuhnya yang pertama (dimulai dari Bukhari, dan katakanlah berakhir pada Imam Hanbali dan berulang pada setiap kelahiran mujaddid atau gerakan tajdid). Kalangan agama umumnya memandang sekarang bahwa betapapun pentingnya 'purifikasi, yang tidak kurang penting adalah partisipasi — dari sebagian besar rakyat, Dan sebagian besar rakyat, mayoritas manusia, adalah, — orang-orang yang berkebudayaan lebih dari sekadar berpakaian, berkendaraan dan semacamnya. Setidak-tidaknya, kesadaran untuk menolak mafsadat (daf'ul mafasid) mendorong para ulama untuk 'melihat medan yang sebenar-benarnya — dan, seperti juga dikerjakan oleh para seniman muslim yang sadar, memikul tugas untuk berbuat agar, paling tidak, jangan sampai barang yang subhat berlanjut menjadi barang yang haram. Dalam hal para seniman, untuk itulah mereka diharapkan berprestasi dalam kesenian dan dengan demikian punya wibawa sebagai musim. Wibawa itu sendiri, walau tampa diisi apapun juga adalah sendirinya dakwah, sendirinya ibadah. 

Tapi kalangan ulama sendiri masih dihadapi oleh satu pertanyaan: seberapa jauhkah sebenarnya mereka memberi "konsesi” kepada kesenian? Adakah ia memang berhak berkembang sebagai salah-satu komponen peradaban Islam, ataukah ia hanya hendak dijadikan perangkat dakwah, misalnya? Mungkinkah cita-cita terakhir itu bisa berhasil dengan baik? Pernahkah diadakan survey berapa Orang yang masuk Islam misalnya akibat dibawahi oleh kesenian? Bukankah lazim terjadi bahwa sebuah seni dakwah, hilang seninya dan tinggal dakwahnya? Mengapa, gerangan? Pernahkah kita berfikir, faktor apa sajakah kiranya yang mendukung perkembangan kesenian Islam, yang diharap merupakan ajang ibadah itu?

ADMIN

BACA JUGA