YURISTGAMEINIGAMEID101

TUHAN MILIK PRIBADI - PUTU WIJAYA

Tuhan Milik Pribadi
Oleh Putu Wijaya
TUHAN MILIK PRIBADI

Bicara tentang Tuhan bagi saya sangat pribadi sifatnya. Saya dilahirkan dari keluarga yang menganut agama Hindu di Bali. Tetapi masa kanak-kanak saya tidak dipenuhi oleh penghayatan terhadap agama melalui informasi yang jitu. Saya dekat dengan upacara-upacara rituil yang setiap hari sambung-menyambung, tetapi bukan kepada inti dari agama Hindu itu sendiri. Sejak waktu itu saya belajar untuk menerima Tuhan sebagai sebuah konsepsi pribadi di atas keterbatasan saya, yang tidak perlu dipersoalkan lagi. Saya menerima cara saya itu tanpa perasaan terpaksa Saya merasa sangat bebas. 


Belakangan, agama Hindu mulai diajarkan secara intensif di sekolah-sekolah. Filsafat dan etikanya mulai dibentangkan, jadi bukan hanya sekadar rentetan-rentetan upacara saja, sebagaimana yang dihayati oleh ibu atau saya sendiri misalnya. Saya pun memiliki kesempatan untuk setiap kali meluruskan penghayatan saya menurut jalan yang dibentangkan oleh agama saya tersebut. Tetapi sesuatu telah telanjur membentuk penghayatan saya, sehingga kalau pun saya berusaha memahami, saya tetap ingin berpijak pada dasar penghayatan saya. Bahwa Tuhan sifat penghayatannya sangat pribadi. 

Tatkala saya harus hidup dengan cucur keringat saya, penghayatan saya kepada Tuhan bertambah pribadi lagi. Saya tak ingin orang lain terganggu oleh cara saya dan saya sama sekali tidak suka diganggu oleh cara penghayatan orang lain. Tetapi tatkala saya memilih seorang wanita sebagai istri, saya disadarkan bahwa saya berada di tengah banyak orang yang memiliki penghayatan terhadap Tuhan dengan cara yang berbeda. Persoalan yang timbul kemudian adalah karena saya harus mentolerir cara penghayatan orang lain, kalau saya juga ingin ”ditolerir”.  Lalu saya masuk agama lain untuk tidak menggagalkan pernikahan. Lalu sesudah itu saya mengajak istri saya, juga untuk tidak menggagalkan pernikahan menu rut agama Hindu. Kemudian persoalan agama tidak saya bicarakan lagi. Saya tidak mau agama membuat orang batal menikah. 

Sekarang saya memiliki dua agama dalam keluarga saya, bahkan mungkin dalam perjalanan hidup saya. Tapi penghayatan saya terhadap Tuhan rasanya tidak pernah berubah. Saya teringat kepada seseorang kawan yang mengetik naskah drama saya yang berjudul Dag-Dig-Dug. Ia mengatakan bahwa saya tak memiliki penghayatan terhadap surga dan neraka sehingga menulis drama itu. Seorang kawan lain mengritik saya juga dan mengatakan seandainya saya memiliki latar belakang agama yang tebal, mungkin novel Stasiun akan lebih menampilkan dimensi. Ingatan itu tidak pernah mematahkan semangat saya untuk menghayati Tuhan dengan cara saya sendiri. Dengan seluruh keterbatasan dan keadaan saya yang ada, tan pa perasaan bersalah. 

Saya merasa ada kekuatan besar yang tak pernah saya capai dengan pikiran. Ada sesuatu yang monumental yang hanya sayup-sayup, samar dan pelik sekali rasanya terhayati tetapi tak bisa diucapkan. Saya tak habis-habisnya mempersoalkannya, tetapi saya tak pernah memaksa diri saya untuk menyelesaikan proses tersebut. Saya merasa berada dalam sebuah perjalanan yang tak pernah terpecahkan atau sele sai di mana saya hanya sebagian kecil saja dari orang lain. Tak ada yang bisa saya lakukan lebih dari merasakan. Saya merasa mendapat kewajiban untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sampai di tangan saya dengan sebaik-baiknya. Dan kalau itu saya laksanakan, saya merasa bahagia. Dan kalau saya berada dalam keadaan bahagia dengan cara tersebut, saya merasa tak langsung dekat dengan Tuhan. 

Saya tak peduli apakah Tuhan dekat kepada saya. Saya sendiri tidak terlalu sering menyebut-nyebut Nya. Kalau saya sakit, kalau saya menyesal, kalau saya merasa lemah, kecil, tergencet, pendeknya perlu pertolongan, saya akhirnya selalu berdoa dan memanipulir-Nya sebagai Sumber Kekuatan. Saya tak pernah menunggu jawaban. Kadang-kadang kalau sa ya mendadak dapat keuntungan, dalam wujud mate rial maupun spiritual, saya pun dengan sengaja mengingat-Nya untuk mengendalikan nafsu-nafsu angka ra saya Apakah ini namanya persahabatan, pengabdian, penaklukan, keterikatan atau pemanfaatan, saya tidak mempersoalkannya. 

Jalan yang saya tempuh ini amat sesuai dengan pekerjaan saya sebagai penulis. Dengan penghayatan yang demikian, saya merasa bebas. Konsepsi Tuhan tidak pernah memaksa saya melakukan sesuatu dengan rasa tertekan. Ia menjadi sangat akrab. Ia tidak menakutkan saya, bahkan memaklumi apa pun yang saya lakukan, sehingga saya merasa malu dan kecil, atau apa saja, itu tidaklah disebabkan karena Dia membatasi saya, tapi karena saya membatasi diri saya sendiri. 

Karena hubungan saya dengan Tuhan sangat pribadi, kadangkala saya menganggap-Nya Teman. Kepada Nya saya bisa marah, dongkol dan jengkel. Kalau saya sedang latihan sandiwara di lapangan terbuka, lalu mendadak hujan, saya memandang ke langit dan marah kepada-Nya. Kalau saya melihat orang terlalu miskin dan tergencet oleh orang lain dengan terangterangan, saya marah kenapa Dia tidak bertindak. Ini hanya contoh kecil yang kenaifannya justru saya sukai. Saya lakukan semua itu dengan spontan, justru karena saya mengerti kebesaran-Nya. Saya hanyalah seekor tikus yang dekil dan kadangkala kurang ajar tetapi tanpa kebencian yang laten. 

Kadang-kadang saya memikirkan kenapa ada orang begitu fanatik, militan dan kaku, padahal saya lihat di antara banyak orang itu termasuk pintar. Saya mencoba memahami jalan pikiran mereka. Saya melihat logikanya dan berusaha keras memahami kenapa mereka sampai mengambil jalan pikiran seperti itu. Hal mana juga saya lakukan terhadap mereka yang ber-Tuhan dengan cara yang fanatik. Lalu saya merasa berhadapan dengan sebuah paham, temperamen, suasana dan penghayatan yang berbeda, Saya menghormati setiap jalan pikiran, sejauh jalan pikir an itu tidak menyerang. 

Saya biasa-biasa saja dengan Tuhan, saya merasa tidak dapat melampaui-Nya. Tetapi saya tak menahan diri kalau kadangkala mengikutkan keterbatasan saya, untuk degil kepadaNya. Orang bilang barangkali saya bukan pemeluk yang teguh. Tegasnya, hubungan saya dengan-Nya tidak lazim. Barangkali juga tidak sebagaimana yang sudah digariskan oleh agama saya, Dengan demikian apakah saya membuat agama baru untuk diri saya sendiri? Ini tidak akan saya persoalkan selama ini. Saya merasa tidak pernah ada soal apa-apa yang terlalu gawat, karena itu akan membuat saya tidak spontan lagi. Saya berhenti memikirkan bentuk hubungan saya dengan Dia. Saya hanya memikirkan yang dekat-dekat saja dan saya gauli sehari-hari. 

Demikian awalnya kemudian saya banyak memikirkan soal-soal kerja. Saya menuntut banyak pada diri saya dan kawan-kawan yang kebetulan bekerja dengan saya. Saya juga menuntut banyak dari orang-orang besar yang saya anggap telah menjadi contoh atau tumpuan harapan dari orang-orang di sekeliling nya. Dan kalau saya tiba-tiba dikecewakan, saya mendongakkan kepala dan menanyakan kepada-Nya kenapa hal tersebut terjadi. Dia tidak pernah menjawab. Dia seperti menyuruh saya menjawabnya sendiri. Lalu saya tahu bahwa meskipun saya adalah ternak-Nya saya tetap sendirian untuk kepentingan kepentingan saya sendiri. Sebaliknya adalah mustahil juga saya melakukan sesuatu untuk kepentingan-Nya. 

Atas dasar rasa Ketuhanan semacam itu saya akan sangat terganggu kalau berhadapan dengan sesuatu yang fanatik. Propaganda anti Tuhan maupun propaganda ber-Ketuhanan dengan cara tertentu. Yang saya maksudkan dengan fanatik adalah keyakinan yang sudah demikian tinggi dan kerasnya, sehingga jadi tajam dan bersifat menyerang terhadap segala sesuatu yang berada di luarnya. Baik terhadap pandangan sosial maupun konsep Ketuhanan orang lain. Saya merasa terganggu berada di tengah orang yang berpikir dengan menutup seluruh pintu dan jendela. Kecuali kalau itu dilakukan dengan kesadaran untuk merampungkan target tertentu, dalam jangka waktu tertentu. Tetapi target itu pun hanya penting untuk pergaulan kita sesama manusia. Tuhan di luar target itu, di luar jangkauan. 

Tuhan bagi saya sampai sekarang adalah jalan pada kebebasan. Saya sering tawar menawar dengan-Nya. Satu ketika misalnya saya membujuk-Nya harus berbohong, karena saat itu sangat penting sekali untuk menjaga sesuatu. Lain kali saya mesti bersumpah untuk sesuatu yang mustahil, tapi toh saya lakukan juga, karena menjaga kepentingan yang lain. Dalam keadaan seperti itu saya tahu saya telah melakukan kejahatan-kejahatan pikiran. Tapi saya tidak merasa berdosa mengingat adanya target ter tentu. Inilah konsekuensi dari konsepsi Tuhan yang pribadi itu, konsepsi dosa jadi berlainan. 

Saya pikir mungkin orang-orang besar, orang-orang yang mempunyai kekuasaan, yang menentukan nasib orang lain, orang yang membolak-balik sejarah itu, barangkali juga memiliki konsepsi penghayatan Ketuhanan yang radikal. Cara yang akrobatik, sehingga setiap kali dalam setiap tindakan, orang mendapat kebenaran dari rasa Ketuhanan-Nya, sehingga ia tetap yakin, melakukan kejahatan-kejahatan sekalipun. Saya tidak punya kekuasaan. Saya hanya pu nya sedikit kekuasaan terhadap hidup saya sendiri dan barangkali juga sedikit untuk tokoh-tokoh da lam karangan saya sebagai penulis. Dari sudut itu sa ya mengerti bahwa saya kadangkala dengan sadar menulis seperti tiran, seperti orang diktator. Karakter, logika, akan sehat dan sebagainya kadangkala saya jungkir balik untuk membuat karangan bertambah tajam, jitu ke arah sasaran yang hendak dipompakan kepada pembaca. 

Mungkin saya terlalu mendramatisir. Tapi saya sudah melakukan apa saja yang bisa saya lakukan kalau saya dengan demikian dapat menjotos lebih langsung pada subjek-subjek yang hendak saya kemukakan. Mata, hidung, khayal, mimpi dan sebagainya saya kocok. Saya berbohong, melakukan kejahatan, penggelapan, apa saja yang dapat mengangkat cerita. Tidak ada nilai-nilai yang mengganjal saya. Tidak ada konsepsi dasar yang membatasi keterbatasan sebagai manusia biasa. Kalau perlu saya bikin, lahir dan hidupkan sesukanya suasana, sehingga cerita itu tetap hanyalah cerita. Dengan begini saya percaya penghayatan pada Tuhan mempengaruhi pekerjaan. Atau sebaliknya. Pekerjaan menentukan bentuk penghayatan pada Tuhan. 

Konsespsi saya tentang Tuhan, pribadi atau kemu dian mulai tidak pribadi, tetap hanyalah cara pendekatan saja. Hal mana sewaktu-waktu bisa berubah. Sementara saya percaya Dia tidak berubah dengan cara pendekatan saya. Ia tidak berubah dengan cara penghayatan yang dilakukan orang lain. Yang berubah mungkin hal-hal yang kita terima karena akibat bentuk penghayatan itu. Di sini saya hendak mengatakan bahwa cara memang hanyalah jalan. Cara tersebut erat hubungannya dengan profesi. Cara tersebut kemudian banyak menentukan. Saya kira terlalu banyak. 

Sering saya bertemu dengan orang yang menghayati Tuhan dengan cara sedemikian rupa sehingga kemudian saya lebih banyak melihat seorang yang tidak menghayati apa-apa. Sebaliknya tanpa menyebut ia orang yang saleh atau orang alim dengan perbuatannya saya segera tahu ia menghayati Tuhan dalam hidup dan tindak-tanduknya. Saya tak akan membandingkan keduanya. Tetapi kalau saya ingin memilih, kalau saya boleh memilih, saya akan memilih kecenderungan kedua, untuk lingkungan hi dup saya. Mungkin karena kengebetan untuk hidup sebagai manusia biasa. 

Tuhan bagi saya akhirnya adalah Kemerdekaan Tak Terbatas. Ia tidak pernah memberikan perintah. Ia selalu memberi. Dengan cara demikian Ia benar-benar telah mengikat dan berkuasa dalam diri setiap manusia –setidak-tidaknya menurut pikiran saya. 

Jakarta, 25 Februaru 1979

ADMIN

BACA JUGA