YURISTGAMEINIGAMEID101

FIRMAN - A RAHIM QADAR

Firman
Oleh A Rahim Qadar



Senja lagi sekarang, tapi tak semerah kemarin. Sekarang kuning keemasan. Burung-burung enggan keluar sarang.

“Bagaimana sekarang, apakah kalian serempak mengatakan belum mau mati? Kita baru saja menyaksikan bagaimana dia kedinginan dengan selimut enam meter itu.”
”Lebih baik kedinginan. Neraka bisa terasa berkurang kadar panasnya.”
”Dia belum sampai ke sana. Tapi akan sampai juga.” 
”Itu bukan urusannya lagi.” 
”Aku nyeri!” 
”Aku kembut!”
”Aku kecut!”
”Aku belum siap!”

Mereka sikut menyikut. Saling lirik dan kerling. Tapi akhir dari sikut-menyikut, lirik dan kerling itu bergumpal sejumlah senyum. Mereka bersipandang. Berbareng senyum, kendatipun senyum kecut. Senyum sepakat belum mau mati cepat. Padahal maut datang teramat cepat, lebih cepat dari pesawat multi supersonic.

"Aku mau hidup seribu tahun lagi!” kata seseorang dengan bombastis. 
”He, klise! Apa tak ada kalimat lain?” Yang lain membumbui pula. 
”Itu kan kalimat Chairil!” 
”Bukan, kata Pak Jassin, itu ayat!” 

Aku sudah tak sabar lagi melihat diskusi sambil berjalan ini. Dengan melangkah lebih cepat dan berbalik hadapan, aku buka mulut 
”Sudahlah, asal-muasalnya itu firman. Kalian salah satu harus bisa mengalah!”
”Buat apa?” 
”Mengalah untuk kalah?”
“Mengalah sekali untuk menang seratus kali, tak apa!” bujukku. 

Kupikir, sifat manusia yang mempertahankan kebenaran tanpa alasan kuat, selalu dibayangi oleh kadar egois. Tapi dunia juga tidak bervariasi andai kebenaran selalu saja disetujui secara aklamasi. 

Konon pula kadar kebenaran itu sendiri tidak sama bagi setiap orang. 
”Eh, kita sudah jauh dari makam. Agaknya lebih dari seratus langkah?” ujar seseorang. 
”Dia sedang menjalani testing terakhir”, kataku. 
"Testing terakhir?”
”Dari Mungkar dan Nakir, setelah ditalginkan dan kita tinggalkan tujuh langkah dari tempat pembaringannya.”
”Mungkin ia tidak hafal semuanya.” 
”Mana tahu, barangkali dia bawa kaset“, kelakar yang lain. 
”Di sana tidak ada listrik, giliran gelap terus”
”Dia mampu berimprovisasi. Dia itu pemain sandiwara, bahkan dalam realita hidup ia pintar bersandiwara. Bukankah dunia ini panggung sandiwara, seperti kata Ahmad Albar?” 
”Bukan, Taufig, dia yang bikin liriknya!” sela yang lain. 
”Tidak. Itu kalimat Shakespeare!” bantah yang lain pula. 
"Semua benar dan semua salah!” kataku gencar, dan kembali menghadang jalan mereka. 
"Itu firman,”' tegasku lagi.

Kupikir, kenapa firman bisa berpindah menjadi milik orang lain. Barangkali ini juga sifat manusia, merasa memiliki bila sesuatu itu sudah dikuasainya. Atau ini juga fitrah manusia yang selalu enggan menjelas-terangkan dari mana sumber sesuatu yang telah diperolehnya. Atau inikah bukti kemurahan Tuhan yang merelakan setiap firman dimiliki oleh semua golongan? Tapi apakah semua golongan juga mengerti akan kemurahan yang tak terbatas itu? 

”Bulu kudukku mendengar talgin pak Lebai tadi!” 
”Kusangka habis mati semua serba tamat”, 
"Tidak. Seluruh kecurangan dan kebaikan akan dihitung!” 
”Pakai kalkulator?” 
”Itu gampang. Beberapa saat akan mati, kita berbuat baik terus beramal terus!” 
”Tapi mati itu tidak pasti, kapan?” 
”Bisa. Misalnya kanker. Bisa ditentukan berapa lama lagi nyawa seseorang bertahan!” 
”Ya, mungkin bisa saja. Komputer untuk itu juga bisa dibikin!” 
"Semakin tua dunia, semakin tua juga akal manusia,” tambah yang lain. 

Kubayangkan, ini juga sebagian sifat manusia yang mempunyai daya fantasi yang teramat tinggi dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki. Hal ini juga yang membedakan manusia dengan hewan. Kalau saja hewan boleh berfantasi, manusia tak punya kesempatan untuk berambisi. 
“Aku pakai aspri untuk bayar dosa-dosaku!” 
”Mana bisa.” 
“Bisa. Pasti dikabulkan. Tokh Dia Maha Pemurah. Dia sudah menjanjikan, mintalah niscaya diberikan!” 
”Ya, itu firman juga!” jelasku menengahi lagi. 
"Tapi firman itu tak sesuai dengan apa yang kalian maksudkan. Salah adres. Dosa kita tak bisa dipikul oleh orang lain!” 
“Benar! Itu benar, seperti kata pepatah .... tak ada pemikul beban yang mau memikul beban orang lain!” ujar yang lain pula. 
"Itu, pepatah?” tanya seseorang. 
”Bukan. Kalau tak salah, itu adalah penggalan puisi ...... akh aku lupa nama penyairnya!” selah yang lain. 
”Pepatah!” 
”Bukan!” 
”Pepatah!” Aku sudah tak sabar lagi. Kuhadang lagi yang menantang tak karuan itu. 
”Itu juga firman!'', kataku lebih gencar. 
"Tak ada pemikul beban yang mau memikul beban orang lain, itu pasti firman!” ulangku lebih tegas dan haggul-yakin. 

”Pepatah!”
”Firman!” 
”Pepatah!”
“Firman!”
"Pepatah!" 
”Firman! Firman! Firmaaaan!” Agak naik darahku. 

Kata ”Pepatak” dan ”firman” itu saling menombak ke tempurung kepalaku. Kupikir, firman itu sebenarnya sesuatu yang tak ternilai, sesuatu yang amat besar, maka karena kebesarannya itulah ia diperebutkan orang, dijadikan obat, diperjual-belikan bahkan diperalat. 

Untungnya suhuku tidak cepat naik. Kalaupun mereka itu ilalang kering semua, dan seseorang menyiramkan bensin, lalu aku punya korek api, belum tentu aku bersedia untuk membakarnya. 

”Kita lupa”, ucapku datar sembari melangkah bersisian dan menggiring mereka seperti calon Hansip menggiring para penjambret ke kantor Polisi. 
"Kita telah memperoleh dua bukit besar”, kataku meyakinkan. 
”Bukit besar?”, tanya yang lain heran. 
”Ya, Qiroth!”, kataku. 
”Kirot? Apapula itu?” 

"Bukit!” jelasku. 
”Kami tidak mengerti!” 
”Pahala!” jelasku lagi. 
”Pahala apa?” 
”Ya pahala. Kita sudah menunggui jenazah, mengantarkannya dan memakamkannya, itu berarti kita telah memperoleh pahala ganda sebesar dua giroth, dua bukit besar? 

Ucapanku terakhir ini kuharap bisa mengimbau angin sejuk di balik bukit. Nyatanya benar, angin seketika terasa bergulir menyusup ke pori-pori. Mereka saling lirik dan senyum. Mereka bersipandang lalu senyum. Mereka masing-masing telah mengantongi dua bukit besar, tapi siapa tahu berapa ribu bukit dan gunung yang telah mereka runtuhkan? Maghrib makin tua juga. Ada orang tua sedang menggulung benang layang-layangnya yang mulai lembab. 

Kami bergegas.

Medan, 1980

ADMIN

BACA JUGA