YURISTGAMEINIGAMEID101

KESAKSIAN ADIY BIN HATIM

Kesaksian 'Adiy bin Hatim



'Adiy bin Hatim adalah pemimpin suatu kabilah yang sangat membenci Nabi s.a.w. Selaku pemimpin dia selalu mengambil bagian terbanyak dari harta rampasan yang diperoleh kaumnya, padahal yang demikian itu tidak dibenarkan oleh agama yang dianutnya. Ketika 'Adiy mendengar bahwa tentara kaum Muslimin bergerak ke daerahnya, segera dia melarikan diri dengan mengendarai unta yang kekar bersama keluarganya, kecuali saudara perempuannya yang bernama Sufanah, ditinggalkannya. 


Ketika tentara Muslimin telah memasuki daerahnya, mereka menangkap Sufanah dan membawanya kepada Rasulullah s.a.w. kemudian digabungkan dengan tawanan-tawanan lain di dekat masjid. Ketika Rasulullah datang, Sufanah berkata kepada beliau: 

"Hai Rasulullah, Orang tuaku telah tiada dan pelindungku melarikan diri. Kasihanilah aku",
"Siapa pelindungmu?", tanya Rasulullah.
"'Adiy bin Hatim", jawab Sufanah. 
"Yang lari dari Allah?", kata Rasulullah saw. sambil berlalu meninggalkan Sufanah. 

Pada hari berikutnya, Rasulullah S.a.w. datang kembali, dan Sufanah mengungkapkan hal seperti hari kemarinnya, sementara jawaban Rasululah pun sama dengan jawaban beliau sebelum ini. Keesokan harinya Rasulullah datang lagi. Sufanah merasa putus asa untuk mengungkapkan sesuatu kepada beliau, namun Ali bin Abi Thalib r.a yang berada. di belakang Rasulullah, menyuruhnya menyampaikan sesuatu kepada beliau.

Maka berdirilah Sufanah, kemudian berkata kepada Rasulullah: 
"Wahai Rasulullah, Orang tuaku telah tiada dan pelindungku melarikan diri. Kasihanilah aku niscaya Allah akan mengasihi Tuan".
"Hal itu sudah aku lakukan. Jangan terburu-buru pulang sampai datang sekelompok kaummu yang terpercaya yang akan membawamu Pulang ke daerahmu", jawab Nabi. 

Setelah itu Sufanah tinggal di Madinah untuk beberapa waktu. Ketika sekelompok kaumnya yang terpercaya datang, ia menjumpai Rasulullah s.a.w. dan berkata: 

"Wahai Rasulullah, sekolompok kaumku yang terpercaya telah datang".
Maka Rasulullah pun memberinya pakaian dan bekal, dan mengirimnya ke Syam. Sesampainya di Syam, Sufanah segera menjumpai saudaranya, 'Adiy bin Hatim. 

Sufanah memaki-maki saudaranya itu dengan berkata: 

"Kau bawa anak-anak dan keluargamu, dan engkau tinggalkan aku sendirian!"
'Adiy menjawab: "Saudariku, berbicaralah dengan baik. Sungguh aku tidak senang dengan cara seperti itu.”

Setelah diam, ia kemudian bertanya: 
"Bagaimana pendapatmu tentang orang itu (Rasulullah saw.)?", 
"Sebaiknya engkau segera menemuinya. Jika dia seorang Nabi maka keutamaanlah yang akan engkau terima, Jika dia seorang raja, sungguh engkau tidak akan merasa rendah diri di hadapannya”, Sufanah berkata kepada saudaranya. 
'Adiy bin Hatim bercerita: "Setelah itu aku datang menjumpai Rasulullah di Madinah. Ketika itu beliau sedang berada di masjidnya. Setelah aku memberi salam, beliau bertanya: Siapakah engkau?" 
" 'Adiy bin Hatim", jawabku. 

Lalu beliau mengajakku ke rumahnya. Di tengah jalan beliau dihentikan oleh seorang wanita tua yang lemah yang mengadukan kesulitan-kesulitan hidupnya kepada beliau. Demi Tuhan dia bukan seorang raja, pikirku. Setibanya di rumah, beliau mengambil bantal dan memberikannya kepadaku lalu menyuruhku duduk di atasnya. Aku menolak, namun beliau memaksaku, sementara beliau sendiri duduk di atas tanah. 

Demi Tuhan, ini bukan pekerjaan seorang raja, pikirku. Sejenak kemudian Rasulullah berkata: 
"Hai 'Adiy, bukankah engkau seorang Rukusiy (agama gabungan antara Nasrani dan Shabiah) ?". 
"Benar”
“Bukankah engkau selalu mengambil seperempat bagian dari rampasan?", tanya beliau lagi. 
"Benar", jawabku. 
"Bukankah itu tidak dibenarkan oleh agamamu?" 
"Benar", jawabku. 

Sungguh dia benar-benar seorang Nabi karena mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain, kembali aku berpikir. Kemudian beliau berkata lagi: 
"Hai 'Adiy, barangkali yang menghalangimu masuk Islam adalah karena engkau melihat kebutuhan kaum Muslimin yang banyak.” 

Sungguh, suatu ketika akan mengalir harta kepada mereka sehingga tak ada seorang pun yang mengambilnya. Ataukah yang menghalangimu masuk Islam adalah karena engkau melihat umat ini mempunyai banyak musuh sementara jumlah mereka sedikit, sungguh suatu saat engkau akan mendengar seorang wanita keluar dengan untanya dari kota Oadisiyah menuju Baitullah tanpa rasa takut. Atau barangkali yang menghalangimu masuk agama ini karena engkau melihat kekuatan dan kekuasaan berada di tangan bangsa lain  sungguh suatu ketika engkau akan menyaksikan istana-istana putih di Babilonia berada dalam kekuasaan umat ini. Setelah itu aku masuk Islam.”

 'Adiy bin Hatim selanjutnya berkata: "Dua hal terakhir dari pernyataan Rasulullah itu telah menjadi kenyataan, sedangkan yang pertama belum. Telah kusaksikan istana putih di Babilonia dikuasai umat ini, dan telah kusaksikan pula seorang wanita keluar dengan untanya dari Oadisiyah menuju Baitullah. Sedangkan limpahan harta sehingga tak seorang pun mengambilnya, masih akan terjadi". (Sirah Ibn Hisyam, jilid IV,-hal. 225 227)

ADMIN

BACA JUGA