YURISTGAMEINIGAMEID101

TAK ADA GANDUM, KURMA KERING PUN JADI

TAK ADA GANDUM, KURMA KERING PUN JADI



Suatu malam, ketika Jawad Al-Amili hendak makan, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu rumahnya. Jawad merasa bahwa yang datang pastilah pembantu Bahrul Ulum, maka segera dia membukakan pintu. Orang itu berkata: 

"Tuan Bahrul Ulum sudah mempersiapkan makan malam, beliau menunggu Tuan". 

Segeralah Jawad memenuhi undangan tersebut. Sesampainya Jawad di rumahnya, Bahrul Ulum berkata kepadanya: 
"Apakah engkau tidak takut kepada Allah, tidak mendekatkan diri kepada-Nya, tidak malu kepada-Nya?" 
"Apa yang Tuan maksudkan?", tanya Jawad tidak mengerti.


"Salah seorang saudaramu mengambil kurma kering setiap siang dan malam dari seorang grosir karena ingin menghidupi keluarganya. Tidak ada jalan lain baginya selain itu. Sudah tujuh hari mereka tidak mencicipi gandum dan beras, tidak makan selain kurma kering. Hari ini dia pergi hendak mengambil kurma kering untuk makan malamnya, tapi grosir itu berkata: 'utangmu sudah sekian dan sekian! Dia jadi malu kepada grosir itu dan tidak ada sesuatu yang dapat diambilnya. Malam ini pun dia dan keluarganya tanpa makan malam, sedang engkau makan dan bernikmat-nikmat, padahal dia sering datang ke rumahmu dan engkau mengenalnya. Dialah si Fulan", kata Bahrul Ulum setengah berteriak. 

"Demi Allah, aku tidak tahu keadaannya". 
"Jika engkau telah tahu, dan engkau masih mau makan dan tidak menoleh kepadanya, berarti engkau seorang Yahudi atau kafir. Yang membuatku marah kepadamu karena kamu tidak mengontrol saudara-saudaramu dan tidak mengetahui keadaan mereka. Ambilah talam ini. Biarkan pembantuku membawanya dan menyerahkannya kepadamu di depan pintu rumah-Fulan itu. Katakan kepada Fulan bahwa engkau hendak makan bersamanya malam ini. Letakkan lembaran ini di bawah kasur atau tikarnya, dan tinggalkan talam itu untuknya".

Talam tersebut berisi hidangan makan malam, diantaranya berisi daging masak yang lezat dan hanya cocok untuk makanan orang-orang kaya. Bahrul Ulum memperingatkan: 

"Ketahuilah, aku tidak akan makan sampai engkau datang kembali memberitahukan kepadaku bahwa orang itu telah makan dan kenyang". 

Berangkatlah Jawad bersama pembantu Bahrul Ulum ke rumah Fulan. Setelah sampai, pembantu terus pulang, Jawad. mengetuk pintu rumah Fulan yang Mukmin itu. Tuan rumah pun keluar. Jawad berkata: "Aku ingin makan bersamamu malam ini".

Setelah duduk bersama, Fulan berkata: 
"Ini bukan makanan Anda karena makanan ini dimasak, mewah dan mahal, tidak sesuai untuk orang Arab. Aku tidak akan memakannya sedikit pun sampai engkau menceritakan masalahnya". Jawad berusaha memaksanya untuk makan, tapi ia menolak. 

Akhirnya Jawad menceritakan masalahnya. Lalu Fulan berkata: "Demi Allah, tak seorang pun dari tetanggaku yang mengetahui keadaan ini, apalagi yang lain. Sungguh ini suatu hal yang luar biasa".

ADMIN

BACA JUGA