YURISTGAMEINIGAMEID101

TIGA MAQAM CINTA MENURUT HARITS AL-MUHASIBI

TIGA MAQAM CINTA MENURUT HARITS AL-MUHASIBI



Dalam Risalah Al-Mustarsyidin, Al-Muhasibi menjelaskan seal "cinta" dalam kaitannya dengan seorang hamba yang beriman Di dalam kitab itu, Al-Muhasibi menyatakan bahwa cinta terbagi menjadi tiga maqam. Bagi al-Muhasibi, tiga maqam cinta ini harus ditempuh bagi seorang hamba untuk menggapai kesempurnaan diri. Tiga maqam cinta menurut Al-Muhasibi tersebut adalah: 



1. CINTA KEPADA ALLAH SWT

Dalam penjelasannya mengenai cinta kepada Allah Swt. itu, al-Muhasibi menyatakan: "Cinta kepada Allah Swt. ditandai dengan lebih mengutamakan ketaatan pada-Nya daripada kemaksiatan." Ketaatan dan kemaksiatan, dalam pandangan al-Muhasibi ini selalu bersaing untuk memengaruhi seorang hamba. Keduanya merupakan simbol dari cinta dan nafsu; malaikat dan iblis. Ketaatan mencerminkan cinta kepada-Nya, sementara kemaksiatan mencerminkan nafsu untuk menentang-Nya. Karenanya, dua jenis kekuatan ini senantiasa tarik menarik. Jika seseorang lebih cenderung meletakkan cintanya pada Allah di atas segala-galanya, maka berbagai jenis kemaksiatan, dosa, dan kemungkaran akan jauh dari dirinya. Sebaliknya, jika seseorang cenderung meletakkan cintanya pada dunia di atas cintanya pada Allah, maka segala bentuk dosa dan kemaksiatan akan lebih dekat kepadanya. Dari sinilah kemudian diri seseorang akan berlumuran dosa, sehingga akan membutakan hati dan pikirannya. Ketika hati dan pikiran sudah terbutakan karena banyaknya dosa, maka pertanda orang itu berada dalam kesesatan dan kehancuran baik di dunia maupun di akhirat. Na'udzubillah min dzalik! 

2. CINTA KEPADA RASULULLAH SAW

Tingkatan cinta yang kedua, menurut al-Muhasibi, adalah cinta kepada Rasulullah saw. Cinta kepada Rasulullah ini diaktualisasikan dalam bentuk mengerjakan amalan-amalan sunnah yang mulia, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi saw. Cinta kepada Rasulullah sejatinya juga cinta kepada Allah Swt. Salah satu perintah Allah, adalah mencintai Rasulullah saw. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali 'Imran [3] ayat 31: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah Ta'ala mengasihimu." Jadi, cinta kepada Rasulullah merupakan salah satu bukti seorang hamba untuk mencintai Allah. Jika ada orang yang mengaku cinta Allah, tetapi tidak suka dengan Rasulullah, itu namanya bohong. Karenanya, menjalankan amalan sunah dalam ibadah, selain untuk menyempurnakan ibadah kita kepada Allah, juga dalam rangka untuk mencintai Allah dan RasulNya. Amalan sunah ini tentu saja tidak hanya terbatas pada dipraktikkan Rasulullah. Sebab semua amalan sunah ini jika diniatkan untuk mencintai Allah dan Rasulnya, maka nilainya amalan-amalan yang besar, melainkan seluruh amalan yang tidak lagi kecil, melainkan sangat besar dan tak terkira. Namun, perlu diingat bahwa mengamalkan amalan sunah ini jangan dilandasi dengan hawa nafsu, melainkan harus dilandasi dengan hati nurani dan akal sehat disertai keikhlasan. Kalau mengamalkan sunah tapi dasarnya adalah nafsu, maka yang muncul adalah kelicikan dan cenderung mempermainkan agama. Sebagai contoh, orang yang melakukan poligami dengan alasan mengikuti sunah Rasul, padahal kenyataannya di balik poligami yang ia lakukan terdapat nafsu yang besar untuk menikahi banyak perempuan. Poligami yang seperti ini tentu saja dilarang karena dilakukan demi mengikuti hawa nafsu. Contoh lain, ada orang yang memanjangkan jenggut dan memendekan celana dengan dalih mengikuti sunah Rasul, namun kenyataannya ia melakukan semua itu karena terbentur misi tertentu. Dilihat dari kacamata agama, hal tersebut tentu tidak dibenarkan. Jadi, alasan sunah Rasul dalam konteks orang-orang ini bisa jadi hanya sebagai topeng belaka untuk menutupi hasrat dan nafsunya. Namun jika benar-benar diniatkan karena sungguh-sungguh hendak mengikuti sunah Rasul, masih banyak sunah-sunah Rasul lainnya yang lebih penting dan lebih mulia dari sekadar poligami atau memanjangkan jenggut, seperti salat Tahajud, puasa Senin-Kamis, menuntut ilmu, menyantuni fakir-miskin dan yatim piatu dan lain sebagainya. 

3. CINTA KEPADA ORANG BERIMAN

Kemudian magam cinta ketiga menurut al-Muhasibi adalah cinta kepada seorang mukmin karena Allah. Cinta kepada orang mukmin ini akan terpenuhi dengan sempurna, kata al-Muhasibi, jika memenuhi dua syarat: Pertama, tidak saling menyakiti, kedua, saling memberi manfaat sebagaimana yang diajarkan dan diteladankan oleh Rasulullah saw. Cinta kepada sesama kaum beriman ini, dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari seperti, bisa saling menjaga antara tetangga, memastikan bahwa tetangga merasa aman dari perkataan dan perbuatan kita. Jika dalam sebuah komunitas, tetangga kita justru merasa tidak aman akibat buruknya perbuatan dan perilaku kita, maka itu pertanda kita tidak cinta kepada saudara seiman kita. Tentu saja cinta saudara seiman ini tidak bisa dimaknai secara sempit. Maksud cinta kepada mukmin itu artinya bahwa orang itu bisa dikatakan beriman manakala keberadaannya bisa membuat seluruh orang di sekitarnya, baik yang sesama agama maupun tidak; bahkan terhadap seluruh makhluk hidup lainnya seperti binatang dan tumbuhan, itu merasa aman, nyaman dan damai. Artinya orang yang beriman kepada orang yang beriman itu orang yang tidak suka bikin onar dan kerusuhan. Dengan kata lain, orang-orang beriman yang saling mencintai karena Allah lebih gemar berbagi kebaikan dan kemanfaatan dan menghindari untuk saling memusuhi dan merugikan.

-Sumber: Kitab Cinta Ulama Klasik Dunia, Muhammad Muhibuddin, Araska, 2018

ADMIN

BACA JUGA