YURISTGAMEINIGAMEID101

JUJUR DALAM AMANAT

JUJUR DALAM AMANAT


Abdurrahman ibn Siyabah masih muda belia ketika ayahnya meninggal dunia. Kematian ayahnya membuatnya sedih, di samping kekurangan dan kemiskinan membuatnya menderita. Suatu ketika salah seorang teman ayahnya datang menghiburnya dan mengharapkannya bersabar. 

Orang itu bertanya: "Apakah ayahmu meninggalkan sesuatu?" 
"Tidak", jawab Ibn Siyabah.

Kemudian orang itu memberikan sebuah kantong berisi uang sebesar seribu dirham, seraya berkata: "Pergunakan uang ini, dan makanlah selebihnya". 

Setelah itu orang itu pun pulang, sementara Abdurrahman masuk ke rumahnya dengan riang gembira dan memberitahukan berita gembira itu kepada ibunya. 

Ketika malam tiba, dia pergi kepada salah seorang teman ayahnya yang lain, memintanya membelikan barang-barang untuk berdagang. Setelah sekian lama, perdagangannya meningkat dan meraih untung besar, Ketika datang musim Haji, ia berniat menunaikan ibadah Haji. Hal itu disampaikannya kepada ibunya. Si ibu berkata: 

"Kembalikan uang si Fulan itu dulu, baru kau persiapkan dirimu untuk Haji". Pergilah Abdurrahman kepada teman ayahnya yang memberinya uang dulu, dan menyerahkan uang kepadanya. Orang tersebut justru mengira uang yang diberikannya dulu terlalu sedikit, sehingga ia berkata kepada Abdurrahman: 
"Jika kurang akan kutambah?".

Abdurrahman menjawab: 
"Tidak. Aku ingin menunaikan ibadah Haji dan hendak mengembalikan uang Anda yang dulu".

Setelah Abdurrahman pergi ke Makkah dan menunaikan Haji, ia pergi ke Madinah berkunjung kepada Imam Abu Abdillah r.a. bersama orang-orang lain. Abdurrahman duduk di belakang tamu-tamu lain. Mulailah para tamu bertanya, dan al-Imam r.a, menjawab. Sampai gilirannya, Imam Abu Abdillah mengisyaratkan Abdurrahman agar mendekat, lalu beliau bertanya: 

"Apakah engkau mempunyai suatu keperluan?" 
"Saya Abdurrahman ibn Siyabah", kata Abdurrahman, 
"Apa yang dikerjakan ayahmu?" 
"Beliau telah meninggal", 
Mendengar jawaban itu, Imam Abu Abdillah tersentak dan merasa iba, kemudian bertanya: 
"Adakah dia meninggalkan sesuatu?" 
"Tidak". 
"Dari mana kebutuhanmu?".

Abdurrahman pun menceritakan kepada al-Iman tentang teman ayahnya itu sampai beliau bertanya: 
"Apa yang engkau perbuat dengan uang itu?"
"Saya telah mengembalikannya". 
"Engkau benar. Maukah engkau aku beri nasihat?", tanya Imam.
"Dengan senang hati". 
"Jujurlah dan tunaikan amanat jika engkau bekerja sama dengan orang lain dalam hal harta".

ADMIN

BACA JUGA