YURISTGAMEINIGAMEID101

NILAI-NILAI MA’RIFATULLAH DALAM PUISI-PUISI A MUSTOFA BISRI (GUS MUS) - RIDWAN NURDIYANSAH

Nilai-Nilai Ma’rifatullah dalam Puisi-Puisi A Mustofa Bisri (Gus Mus)
oleh Ridwan Nurdiyansah
(Alumnus FA Universitas Paramadina, Slanker Sufi, dan Pelayan Umat)



Kecenderungan dimensi material pada masa ini telah menciptakan pencarian terhadap kebutuhan dimensi spiritual, karena masyarakat modern sadar bahwa mengejar nilai-nilai materi saja tidak bisa dijadikan sarana untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki. Spiritualisme memang tidak akan pernah mati, bukan hanya karena ia terus diwariskan secara turun menurun dari satu generasi ke generasi lainnya dari masyarakat yang masih memegang tradisi ini. Tapi, ia ternyata justru muncul di pusat budaya yang sesungguhnya tengah deras mengalir ke arah yang berbeda dengannya, yaitu ke arah dimensi material. Menurut Haidar Bagir, kekosongan spiritual itu dirasakan justru ketika manusia telah mencapai kemakmuran material, karena pada fase itulah yang menjadikan manusia berpikiran bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya bukan pada bentuk-bentuk material, melainkan ada pada bagian yang lebih bersifat kerohanian.[1]

Salah satu cara dan upaya dalam pencarian terhadap dimensi spiritual (kerohanian) dalam Islam tersebut dapat ditemukan salah satunya melalui tasawuf. Dalam khazanah keilmuan Islam, tasawuf hadir sebagai salah satu disiplin ilmu yang berperan dalam memperbaiki moral (atau dalam istilah Islam disebut akhlaq). Sebab, tasawuf mengajarkan bagaimana cara kita mengenal dan semakin dekat dengan Tuhan, bahkan lebih dari itu, tasawuf mengarahkan kita untuk meneladani Tuhan. Dengan kata lain, tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental ruhaniah agara selalu dekat dengan Tuhan sehingga tercermin akhlak yang mulia dan jauh dari perbuatan tercela.[2] Ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad mengemban ajaran mulia, seperti yang dicontohkan dalam sikap-sikapnya. Karena Nabi Muhammad merupakan sosok teladan bagi setiap manusia untuk mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan yang Allâh perintahkan sebagai khalifah di muka bumi. Nabi Muhammad merupakan representasi dari ajaran-ajaran Allâh yang diwahyukan kepada-Nya, untuk menjaga kelestarian bumi dari segala kerusakannya. Manusia sebagai khalifah Allâh seharusnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, agar terciptanya kehidupan yang harmonis dan dinamis.


Tasawuf adalah salah satu cabang ilmu Islam yang menekankan dimensi spiritual dari Islam. Dalam kaitannya dengan manusia, tasawuf lebih menekankan aspek rohaninya ketimbang aspek jasmaninya; dalam kaitannya dengan kehidupan, ia lebih menekankan kehidupan akhirat ketimbang kehidupan dunia yang fana; sedangkan dalam kaitannya dengan pehaman keagamaan, ia lebih mengedepankan aspek esoterik ketimbang aspek eksoterik. Islam pada hakikatnya sangat memperhatikan aspek keseimbangan dan keharmonisan, meliputi aspek lahir (eksoterik) dan batin (esoterik). Menurut Mahjuddin, dalam Islam terdapat tiga sendi yang dijadikan tolak ukur kualitas seorang Muslim. Pertama, masalah aqidah dibahas dalam ilmu Tauhid, yang meliputi keenam macam rukun iman, dengan kewajiban beriman kepada Allâh, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhirat-Nya dan Qadla dan Qadr. Kedua, masalah syari’ah dibahas dalam ilmu Fiqih yang meliputi pengabdian hamba terhadap Tuhannya, yang dapat dilihat pada rukun Islam yang lima. Dan peraturan-peraturan muam’alah. Ketiga, masalah ihsan dibahas dalam ilmu tasawuf yang meliputi hubungan baik terhadap Allâh, terhadap sesama manusia, serta terhadap seluruh makhluk di dunia ini.[3]

Untuk itu kajian-kajian tasawuf merupakan pengembangan dari ilmu-ilmu keislaman seperti ilmu Tauhid dan ilmu Fiqih. Dalam kaitan ini, Syeikh Fadhlalla Haeri pernah mengatakan bahwa sufisme dan Islam adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya nurani dan kesadaran tertinggi yang juga tidak dapat dipisahkan dari agama. Islam bukan saja sebuah fenomena sejarah yang dimulai sejak 15 abad lalu. Melainkan, merupakan suatu kesadaran abadi yang bermakna penyerahan diri dan ketundukan. Dengan bahasa lain, sufisme adalah hati Islam yang sudah renta, seusia dengan wujud kesadaran manusia.[4]

Dalam perkembangan khazanah keilmuan Islam, Tasawuf hadir sebagai ilmu akhlak. Tasawuf sebagaimana ditulis, dihayati dan dikembangkan berdasarkan pada pengalaman spiritual para perilaku Islam yang sebenarnya, yakni Islam sebagai penyerahan diri secara total kepada Tuhan semesta alam. Oleh karena itu tasawuf menempati posisi sentral di antara tiga aspek dasar Islam: Tauhid, syariat dan akhlak. Jika hakikat misi Islam adalah penyempurnaan akhlak dan moral, seperti yang diucapkan nabi “susungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, maka pelestarian tasawuf, baik dalam tataran teoritis maupun praktis, merupakan pelestarian nilai-nilai Islam itu sendiri.[5]

Secara etimologi, kata tasawuf berasal dari bahasa Arab yaitu tashawwafa, yatashawwafu, tashawwufan. Para ulama berbeda pendapat dari mana asal-usulnya. Ada yang mengatakan dari kata shûf yang berarti bulu domba, shaff yang berarti barisan, shafâ’ yang berarti jernih dan shuffah yang bermakna serambi Masjid Nabawi yang ditempati oleh sahabat Rasulullah.[6] Pemikiran masing-masing pihak dilatarbelakangi oleh fenomena yang ada pada diri sufi. Secara etimologi, pengertian tasawuf dapat dimaknai menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut:

1.   Tasawuf berasal dari istilah yang dikonotasikan dengan ahl ash-shuffah yang berarti sekelompok orang di masa Rasulullah yang banyak berdiam di serambi-serambi masjid dan mereka mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allâh. Mereka adalah orang-orang yang ikut pindah dengan Rasulullah dari Mekah ke Madinah, kehilangan harta, berada dalam keadaan miskin dan tidak mempunyai apa-apa. Mereka tinggal di masjid Rasulullah dan duduk di atas bangku batu dengan memakai pelana sebagai bantal. Pelana 
disebut shuffah dan kata sofa dalam bahasa-bahasa di Eropa berasal dari kata ini.[7]

2.   Tasawuf berasal dari kata shafâ’ yang artinya suci. Kata shafâ ini berbentuk fi’l Mabni Majhul sehingga menjadi isim mulhaq dengan huruf ya’ bisbah yang berarti sebagai nama bagi orang-orang yang bersih dan suci. Jadi maksudnya adalah para sufi ialah orang-orang yang menyucikan dirinya di hadapan Tuhan melalui latihan yang berat dan lama.[8]

3.   Tasawuf berasal dari kata shaff. Makna shaff ini dinisbahkan kepada orang-orang yang ketika sholat selalu berada di shaf (barisan) terdepan. Sebagaimana halnya sholat di shaf pertama mendapatkan kemuliaan dan pahala, maka orang-orang penganut tasawuf ini dimuliakan dan diberi derajat yang tinggi oleh Allâh.[9]

4.   Tasawuf berasal dari kata shûf. Artinya ialah kain yang terbuat dari bulu domba. Memakai pakaian yang terbuat dari bulu domba adalah simbol kesederhanaan, lawannya adalah memakai kain sutra.[10] Kain yang terbuat dari bulu domba dipakai oleh para sufi untuk menunjukan sikap hidup yang berlawanan dari gaya berpakain para bangsawan yang bermegah-megahan yaitu para pemerintah yang pada waktu itu menggunakan kain sutra.
Menurut KH. Ahmad Mustofa Bisri, yang selanjutnya dalam tulisan ini disebut Gus Mus, pendapat yang paling cocok mengenai pengertian tasawuf secara etimologi adalah pendapat yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari kata shûf yang berarti bulu domba. Karena menurut Gus Mus, kebanyakan ulama, termasuk kalangan tasawuf sendiri, cenderung berpendapat bahwa kata itu bermula dari shûf yang berarti bulu.[11] 

Seperti diketahui, para faqir yang mengkhususkan dirinya untuk Allâh, mempunyai kebiasaan berpakaian sangat sederhana dari bulu domba. Dan hal inilah yang dalam pandangan Gus Mus menjadi ciri khas tokoh sufi. Jadi tashawwafa-yatashawwafu-tashawwuf dalam pengertian Gus Mus artinya semula orang berpakaian bulu, seperti takhattama yang memiliki arti memakain cincin. Kemudian Barmawi Umari menambahkan, bahwa tasawuf secara etimologi dapat berkonotasi makna dengan tashawwafa ar-rajul yang artinya laki-laki yang bertasawuf. Maksudnya ialah seorang laki-laki yang telah berpindah dari kehidupan biasa menuju kehidupan sufi tasawuf. Karena apabila para sufi telah memasuki lingkungan tasawuf, mereka mempunyai simbol-simbol pakaian kesederhanaanya, yaitu pakaian dari bulu yang belum menjadi wol halus, bahkan hampir menyamai kain goni.[12]

Sekalipun demikian, tidak semua orang menggunakan kain wol kasar disebut sufi. Ibn Khaldun menegaskan bahwa seseorang tidak begitu saja disebut sebagai seorang sufi karena ia memakai kain wol kasar (shûf). Para sufi memiliki paradigma tersendiri dalam beribadah, mereka lebih tulus dan menjaga hatinya untuk tidak membenci seseorang, sedangkan orang yang benar-benar miskin dan tidak berharta namun tidak beribadah tidak dapat disebut sebagai sufi.[13] 

Adakalanya seorang sufi memiliki harta benda, tetapi mereka tidak menghambakan diri pada harta tersebut. Pakaian yang digunakan menggambarkan bahwa mereka adalah orang yang sangat sederhana dan tidak menampilkan diri dengan pakaian-pakaian yang bagus dan mewah, halus sekaligus mahal.

Dari segi bahasa atau dari asal-usul penggunaan kata tasawuf seperti yang telah dijelaskan di atas, dapat dikatakan bahwa kata tasawuf berkonotasi pada kebaikan, kesucian hati dari godaan hawa nafsu, memutuskan ketergantungannya dengan kehidupan material yang dapat menganggu hubungan dengan Tuhan, hidup dalam kezuhudan, serta menenggelamkan diri dalam ibadah sehingga semakin dekat dengan Tuhannya. Dengan bertasawuf, seseorang dapat dikatakan telah memasrahkan dirinya secara total kepada Tuhan.

Menurut sebagian penulis, selama ini ada tiga sudut pandang yang digunakan untuk mendefinisikan tasawuf: pertama, sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas. Kedua, sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang. Ketiga, sudut pandang manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas, tasawuf didefinisikan sebagai upaya menyucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allâh. Dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allâh. Dan dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan, tasawuf dapat didefinisikan sebagai kesadaran fitrah ketuhanan yang dapat mengarahkan jiwa agar tertuju pada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan.[14]

Dari sekian banyak definisi yang ditampilkan oleh para ahli tentang tasawuf, sangat sulit untuk mendefinisikannya secara lengkap karena masing-masing ahli mendefiniskan tasawuf hanya menyentuh salah satu sudutnya. Sebagaimana yang diungkapkan Syeikh Imam Qusyairi dalam kitabnya Risalah al-Qusyairiyah:

Ketahuilah bahwa setiap golongan dari para ulama mempunyai terminologi praktis yang selalu menjadi patokan. Mereka dengan penggunaan kata-kata tersebut, melakukan internalisasi yang berbeda dengan lainnya, sebagaimana mereka sepakati untuk tujuan mereka, agara dipahami kelompok massanya, atau terpaku pada makna-maknanya secara global. Mereka menggunakan kata-kata yang dimengerti oleh mereka, dengan maksud agar makna di dalamnya hanya bagi mereka, membuat tirai bagi yang menentang tharikatnya, agar makna kata-kata mereka menjadi samar bagi orang lain, sebagai bentuk fanatic terhadap rahasia-rahasia mereka, agar tidak tersebar kepada yang bukan ahlinya. Sebab hakikat mereka bukanlah kumpulan dari ragam tugas, atau tertarik oleh segala macam upaya. Namun, tasawuf merupakan makna-makna yang telah ditipkan Allâh SWT dalam setiap kalbu kaum sufi, dan hakikat-hakikatnya tersari dari rahasia-rahasia kaum sufi tersebut.[15]

Walaupun kata tasawuf merupakan sebuah kata yang sering digunakan, sebenarnya merupakan satu istilah yang samar yang memiliki pemahaman yang beragam dan berbeda-beda. Pengalaman sufistik secara substansi adalah satu, namun perbedaan antara sufi dengan sufi lainnya, tak lain disebabkan oleh penafsiran terhadap pengalaman sufistik yang dipengaruhi oleh peradaban setempat dan waktu ketika sang sufi itu hidup.
Untuk lebih memperjelas pengertian tasawuf dari sudut pandang istilah maka terdapat beberapa definisi yang dikemukakan para ahli, antara lain:

1.   Syeikh Al-Haddad, seorang tokoh Tarekat Alawiyah mendefinisikan tasawuf: yaitu menghindarkan diri dari setiap moral yang rendah dan melakukan setiap moral yang mulia.[16] Bagi Syeikh al-Haddad, sufi ialah siapa saja yang bersih hatinya dari kotoran dan hatinya penuh dengan hikmah, serta merasa cukup dengan Allâh dari pada makhluk-makhluk-Nya, dan dengan sikap ini baginya nilai emas dan tanah adalah sama.

2.   Sahilun A. Nasir menyatakan bahwa tasawuf adalah ilmu yang membahas tentang keadaan batin dari segi membersihkannya dari selain Allâh dan meninggalkan roh manusia ke alam kesucian dengan mengikhlaskan pengabdiannya hanya karena Allâh semata.[17]

3.   Syeikh Junaidi al-Baghdadi mengatakan bahwa tasawuf ialah membersihkan hati dari sifat yang menyamai binatang dan melepaskan akhlak yang fitri, menekan sifat basyariyah (kemanusiaan), menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi kerohanian, berpegang pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama atas dasar keabadiannya, member nasihat kepada umat, benar-benar menepati janji terhadap Allâh, dan mengikuti syariat Rasulullah.[18]

4.   Sayyid Hussein Nashr berpendapat bahwa tasawuf ialah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan manusia dari pengaruh kehidupan duniawi dan mendekatkannya kepada Allâh sehingga jiwanya bersih serta memancarkan akhlak mulia. Tasawuf secara hakiki mengingatkan manusia siapa ia sebenarnya. Artinya, manusia dibangunkan dari mimpinya yang disebut dengan kehidupan sehari-hari dan jiwanya yang memiliki timbangan objektif itu bebas dari pembatasan penjara khayali ego.[19]

5.   Syeikh Islam Zakaria Al-Anshari menyatakan bahwa tasawuf merupakan suatu disiplin ilmu yang menerangkan tentang cara-cara mencuci bersih jiwa, memperbaiki akhlak, dan membina kesejahteraan lahir serta batin untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.[20]

Dari beberapa definisi yang telah disebutkan di atas terdapat satu asas yang disepakati yaitu tasawuf sebagai disiplin moralitas yang berasaskan Islam. Artinya, pada prinsipnya tasawuf bermakna moral dan semangat Islam, seluruh ajaran Islam dari berbagai aspeknya adalah prinsip moral.[21] 

Menurut Samsul Munir Amin, pada hakikatnya Islam adalah agama yang berwatak profetik. Artinya, Islam datang untuk mengubah secara radikal tatanan sosial-kultural yang mengekang sehingga membuat manusia terbelenggu, saling menindas dan tidak jelas arah sejarahnya. Oleh karena itu Islam adalah agama yang meletakkan amal sosial sebagai sentral bagi makna keberadaan manusia. Keberadaan manusia dalam Islam sangat dihormati. Perilaku manusia dalam Islam diarahkan untuk mengisi kebaikan, baik bagi manusia maupun untuk Sang Pencipta. Karena itu manusia diarahkan untuk menjadi manusia yang mencapai kebersihan lahir dan batin. Maksudnya yaitu menjernihkan, menata dan mengatur jiwa dengan sedemikian rupa sehingga menjadi jiwa yang suci. Salah satu jalan menuju pencapaian jiwa yang suci adalah melalui pendekatan zuhud atau kemudian lebih dikenal dengan pendekatan tasawuf.[22]


Tasawuf adalah cabang keilmuan atau hasil kebudayaan Islam yang lahir setelah Rasulullah wafat. Ketika beliau hidup, istilah ini belum ada dan hanya sebutan bagi orang Islam yang hidup pada masa Rasulullah dan sesudah itu generasi Islam disebut tabi’in. Istilah tasawuf baru terdengar pada pertengahan abad II Hijriah, sedangkan menurut Nicholson dalam bukunya, At-Tashawwuf Al-Islam wa Tarikhih, pada pertengahan abad III Hijriah.[23] 

Tasawuf yang merupakan bagian dari syari’at, merupakan wujud dari ihsan, yaitu salah satu dari tiga kerangka ajaran Islam: Iman, Islam dan Ihsan. Tasawuf sebagai manifestasi ihsan, merupakan penghayatan terhadap agama yang dapat menawarkan pembebasan spiritual yang kemudian mengajak manusia mengenal dirinya sendiri sehingga akhirnya mengenal Tuhan.

Lahirnya tasawuf sebagai fenomena ajaran islam diawali dari ketidak-puasan terhadap praktek ajaran Islam yang cenderung formalisme dan legalisme. Selain itu, tasawuf juga sebagai krirtik terhadap ketimpangan sosial, politik, moral, dan ekonomi yang dilakukan oleh umat Islam, khususnya kalangan penguasa pada waktu itu. Pada saat itu, tampillah beberapa tokoh yang memberikan solusi dengan ajaran tasawufnya. Solusi tersebut berupa pembenahan dan transformasi tindakan fisik menuju tindakan batin.[24]

Selain sebagai sikap kritik, tasawuf hadir dengan mengajarkan tujuannya yang menurut banyak ahli sebagai berikut:

1.   Tasawuf yang bertujuan untuk pembinaan aspek moral. Aspek ini meliputi mewujudkan kestabilan jiwa yang berkeseimbangan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia konsisten dan komitmen hanya pada keluhuran moral. Tasawuf yang bertujuan moralitas ini, pada umumnya bersifat praktis.[25]

2.   Tasawuf yang bertujuan ma’rifatullah melalui penyingkapan langsung atau metode Al-Kasyf Al-hijab. Tasawuf jenis ini sudah bersifat teoritis dengan seperangkat ketentuan khusus yang diformulasikan secara sistematis analisis.[26]

3.   Tasawuf yang bertujuan untuk membahas bagaimana sistem pengenalan dan pendekatan diri kepada Allâh SWT. secara mistis filosofis, pengkajian garis hubungan manusia dengan Tuhan dan apa arti dekat dengan Tuhan.[27]

Dari uraian singkat tentang tujuan sufisme ini terlihat adanya keragaman tujuan itu. Menurut Mustafa Zahri tujuan puncak kaum sufi adalah fana untuk mencapai ma’rifatullah.[28] dan Syaikh Abdush Shomad al-Falimbani menyatakan bahwa tujuan akhir tasawuf adalah memberi kebahagiaan kepada manusia, baik dunia maupun akhirat dengan tujuan puncaknya adalah ma’rifatullah sehingga seorang hamba dapat menemui dan melihat Tuhannya.[29] Harun Nasution menyebutkan bahwa tujuan sebenarnya dari sufi adalah ma’rifatullah sehingga seorang hamba mampu berada sedekat mungkin dengan Tuhan.[30] Dengan demikian, dapat diketahui bahwa ilmu tasawuf merupakan tuntunan yang dapat menyampaikan seorang hamba mengenal Allâh (ma’rifatullah) dengan sebenar-benarnya.

Menimbang penjelasan di atas maka, pembahasan mengenai ma’rifatullah menjadi penting karena ma’rifatullah dalam spiritual Islam merupakan isi pokok sebagai pengukuran nilai-nilai ketuhanan dan ma’rifatullah ini adalah tingkat tertinggi dari pendekatan-pendekatan yang dilakukan manusia untuk mengenal Tuhan. Dengan ma’rifatullah seorang hamba akan merasa selalu dekat dengan Penciptanya sehingga seorang hamba akan selalu menjaga dan memeliharanya dirinya agar tetap berada dalam ketaatan, keimanan dan beramal sholeh.
Apa urgensi membicarakan ma’rifatullah? Selain alasan yang telah disebutkan di atas, alasan-alasan lainnya adalah karena ma’rifatullah merupakan bagian dari kajian ilmu tasawuf yang menjadi cita-cita tertinggi setiap penempuh tasawuf. Karena ma’rifatullah merupakan stasiun spiritual untuk menunjukan salah satu tingkatan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Pembahasan mengenai ma’rifatullah dalam Islam diakui penting oleh kalangan tasawuf merujuk kepada hadits Rasulullah: “awwaluddini ma’rifatullah” yang artinya: asas agama adalah ma’rifatullah.[31] Untuk itu tidaklah mengherankan jika kajian mengenai ma’rifatullah ramai dibicarakan oleh tokoh-tokoh besar dalam dunia Islam. Bahkan sampai saat ini masih terus diperbincangkan.

Mengenai urgensi ma’rifatullah ini, menurut Imam Qusyairi ma’rifatullah merupakan kewajiban yang pertama yang diwajibkan Allâh kepada makhluk-Nya, dengan mengutip surat Adz-Dzariyat ayat 56: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku”. Penjelasan sang imam dengan mengamini tafsir Ibn Abbas bahwa Illa liya’buduun yang dimaksudkan adalah illa liya’rifuun (kecuali untuk ma’rifat kepada-Ku). Kemudian sang imam melanjutkan penjelasan dengan mengutip pendapat Abu Bakar as-Syibli yang berkata: “Allâh adalah Yang Esa, Yang dikenal sebelum ada batas da huruf. Maha Suci Allâh, tidak atasan bagi Dzat-Nya, dan tidak ada huruf bagi Kalam-Nya”.[32] Jadi ma’rifatullah ini sebetulnya adalah hajat hikmah yang pertama yang dibutuhkan oleh seorang hamba. Karena bagaimana kita bisa menyembah Allâh dengan sempurna jika kita belum mengenal siapa yang kita sembah.

Dalam pembahasan mengenai urgensi ma’rifatullah, Sang Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali, berpendapat bahwa sesungguhnya kemuliaan dan keutamaan manusia yang menjadikannya lebih unggul dari makhluk-makhluk Allâh yang lainnya adalah kemampuannya untuk mengenal Allâh (ma’rifatullah), karena ma’rifatullah itu menjadikan kesempurnaan dan kebanggaannya di dunia dan itu menjadi simpanan baginya di akhirat kelak.[33] Menurut al-Ghazali ma’rifatullah adalah suatu ilmu yang tidak ada keraguan di dalamnya dan ma’rifatullah merupakan suatu ma’rifat kaum sufi yang memiliki arti suatu ilmu yang tidak mengandung keraguan sedikitpun, karena yang diyakini adalah Dzat dan sifat Allâh.

Kata ma'rifatullah terdiri dari dua kata bahasa Arab; pertama kata ma’rifat yang berasal dari kata ‘arafa, ‘irfatan, wa ‘irfȃnan, wa ‘arȃfatan, wa ma’rifatan yang berarti pengetahuan.[34] Kedua, Allâh berasal dari kata Ilaha yang berarti Tuhan atau Allâh. Dalam perkembangan kajian mengenai tema ma’rifat, ma’rifat bisa juga diartikan sebagai pengetahuan tentang hakikat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi dari pada pengetahuan yang didapati oleh orang-orang pada umumnya. Ma’rifat adalah pengetahuan yang objeknya bukan hal-hal yang bersifat zahir, tetapi lebih mendalam tentang batinnya dengan mengetahui rahasianya.[35] Adapun terma ma’rifatullah secara khusus menjelaskan suatu pencapaian penghayatan terhadap tujuan dan inti dari ajaran tasawuf yaitu ma’rifat pada Dzatullah, dan merupakan salah satu kajian tasawuf yang menunjukan suatu pengalaman batin seorang hamba akan Allâh.

Ma’rifatullah dalam wacana tasawuf diartikan secara beragam, karena perbedaan pengalaman spiritual yang dilalui oleh para sufi dengan Tuhannya juga berbeda-beda bentuknya. Secara umum terma ma’rifat sebetulnya sudah mewakili penjelasan mengenai pengetahuan akan Tuhan. Seperti yang dijelaskan Harun Nasution misalnya, yang mengartikan ma’rifat dengan menyebutkan bahwa ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan.[36] Tapi dengan ditemukannya penjelasan yang berbeda dalam bentuk yang masih umum dan pengertian dan pengungkapan yang beragam di buku-buku yang lain, maka dalam skripsi ini dipilih terma ma’rifatullah sebagai upaya menghindari pemaknaan yang masih umum dan kurang tegas. Keragaman pendapat, serta dikusi yang alot dari berbagai kalangan itulah yang menjadikan penulis untuk menspesifikasikan terma ma’rifat menjadi tema ma’rifatullah.
Dari semua penjelasan mengenai ma’rifatullah yang telah penulis kaji, penulis merangkum pengertian bahwa ma’rifatullah adalah suatu anugerah Allâh yang diberikan kepada setiap hamba pilihan-Nya yang beriman kepada-Nya dengan hati yang bersih setelah melewati proses ubudiyah, pembersihan hati dan melakukan perenungan dan tafakur terhadap-Nya dengan mengenali Sifat-sifat-Nya melaui ciptaan-Nya, sehingga setelah mencapai kedudukan ini seseorang mampu berakhlak mulia sesuai yang diajarkan Allâh kepada Nabi Muhammad SAW melalui Al-Qur’an dan Sunnahnya dan siapapun yang telah sampai pada kedudukan ini mengalami cinta yang mendalam terhadap Allâh.

Untuk mengkaji ma’rifatullah bisa dicapai dengan berbagai bidang studi keilmuan, misalnya: tasawuf, filsafat dan fiqih. Menurut kalangan sufi, ma’rifatullah merupakan pencapaian tertinggi dari al-mujahadah[37] dan riyadloh[38] untuk tercapainya al-mukasyafah[39] melalui pengetahuan batin.[40] Tetapi dalam pandangan ahli filsafat, ma’rifatullah bisa diperoleh melalui pengetahuan akal. Berbeda dengan para filosof, menurut ulama fiqih, ma’rifatullah mampu dicapai dengan menjalankan syariat secara total. Maka, untuk sampai pada tingkatan ma’rifatullah yang sempurna, manusia, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Khaldun, memiliki pancaindera, akal dan hati.[41] Ketiga potensi ini harus bersih, sehat dan berdaya-guna untuk mencapai tingkatan ma’rifatullah. Ilmu fiqih berperan dalam membersihkan pancaindra, pembersihan ini dalam fiqih dikenal dengan istilah thoharoh (bersuci). Filsafat berperan dalam meluruskan akal pikiran dengan satu kajiannya, logika. Tasawuf berperan sebagai suatu disiplin ilmu untuk membersihkan hati. Dengan menyempurnakan ajaran agama melalui ketiga disiplin ilmu tadi, seseorang dapat mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhannya. Sehingga mereka dapat ber-ma’rifat dengan Allâh tanpa sedikitpun tabir yang menghalangi.
Diskursus mengenai ma’rifatullah juga ramai dibicarakan oleh kalangan sufi yang juga sekaligus dinilai seorang penyair. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya puisi, sajak, aforisme dan karya sastra lain yang mengandung nilai-nilai ma’rifatullah dan melukiskan pengalaman spiritual. Sang lokomotif gerbong pembaharuan pemikiran Islam Indonesia Nurcholis Madjid berpendapat, bahwa sebagian besar sufi mengungkapkan gagasan sufisme dan pengalaman spiritualnya ke dalam bentuk puisi dan prosa.[42] Cinta dan syair, dalam keyakinan Gus Mus memang dianggap sebagai gaya bahasa seorang sufi.[43] Pendapat ini memang benar adanya, sebut saja misalnya, Hasan Bashri yang digadang-gadang sebagai ‘Bapaknya Para Sufi’ dan Rabiah Adawiyah yang masyhur dengan konsep mahabbah-nya sering kali menuliskan pengalaman spiritualnya melalui puisi. Dalam bukunya Koridor Renungan A. Mustofa Bisri, Gus Mus (2001: 51) menyatakan:

Bacalah matsnawi-nya Jalaluddin Rumi, Manthiqut-thoir-nya Fariddudin Aththar, atau Anggur Pujian-nya Ibn Farid, misalnya, maka anda akan mendapatkan makna-makna kesufian yang dalam melalui untaian kata-kata yang indah. Di samping itu, perhatikanlah ungkapan-ungkapan Syeikh Juneid Baghdady (w. 910 M) yang dikenal sebagai ‘Pemimpin Kaum Sufi’, misalnya, hingga Ibn Athaillah Sakandary (w. 1309 M) pemilik aphorisma Al-Hikam yang terkenal itu. Ungkapan-ungkapan mereka rata-rata sangat puitis.[44]

Puisi di samping merupakan karya sastra, juga merupakan gambaran dari realitas, baik realitas sosial maupun individu. Sebab keberadaan realitas di mata penulis, diolah dan dituangkan ke dalam wilayah pemikiran dan perasaan.[45] Sehingga fenomena yang terjadi dan pengalaman spiritual sang penulis dituliskan dalam bentuk kata-kata indah yang sarat dengan nilai sastra yaitu baik berupa puisi, sajak, aforisme, novel maupun bentuk sastra yang lainnya. Mengenai sejarah perkembangan puisi yang menggambarkan kedekatan seorang penulis dengan Tuhannya, di Indonesia menurut Aprinus Salam, orang pertama yang diyakini mengembangkannya ialah Hamzah Fansuri.[46] Dan kemudian dilanjutkan oleh penyair-penyair setelahnya seperti: Nuruddin Arraniri, Abdul Rauf al-Sinkili, Syaikh Palimbani, Raja Ali Haji, Syeikh Yusuf al-Makassari dan masih banyak yang lainnya. Ajaran puisi sufi Indonesia awal dirasakan pengaruhnya sampai pada abad ke-20 yang tampak pada karya-karya penyair modern seperti: Goenawan Muhammad, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, Emha Ainun Najib, Sutarji Calzoum Bachri hingga Gus Mus. Di antara sekian banyak penyair di Indonesia yang telah disebutkan di atas, Gus Mus memiliki ciri khas yang menarik dan berbeda. Kekhasannya bisa ditemukan dari setiap puisi yang pernah beliau tulis, yaitu gaya penulisan yang lugas dengan menggunakan bahasa yang cenderung bisa dinikmati banyak kalangan. Meskipun demikian, banyak puisi Gus Mus kental dengan nuansa sufistik yang menyiratkan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.[47]

Apa urgensi membicarakan nilai-nilai ma’rifatullah dalam puisi Gus Mus? Gus Mus selalu memasukan nilai sosial pada setiap karyanya meskipun puisi itu berupa puisi pribadi atau yang dikenal dalam istilah sastra sebagai puisi sunyi. Sebagaimana yang disebutkan oleh Jamal D. Rahman: “Itulah kiranya yang bisa menjelaskan kenapa pada puisi-puisi Mustofa Bisri yang paling sunyi sekalipun, kita toh tetap merasakan ada dimensi sosial, meskipun samar-samar. Puisi Sajak Putih Buat Kekasih dan  Seporsi Cinta, misalnya, sebenarnya merupakan puisi sunyi, namun ia tetap merefleksikan aspek sosial, setidaknya melibatkan “orang lain’ dalam situasi psikologis “aku-lirik” yang sesungguhnya sangat pribadi.”[48] Oleh karena itulah, dari setiap puisi Gus Mus selalu membawa dimensi sosial di dalamnya sebagai bentuk keteladanannya terhadap Nabi yang dicintainya, Nabi Muhammad. Dimensi sosial ini pulalah yang menjadikan nilai lebih pada nilai-nilai ma’rifatullah yang dipelajari, direnungi, diresapi, disyiarkan oleh Gus Mus dan digambarkannya melalui karya-karyanya. Dari puisi-puisi yang ditulis Gus Mus, kita bisa merasakan luapan-luapan ma’rifatullah yang dirasakan oleh Gus Mus. Puisi-puisi Gus Mus yang menggambarkan Ma’rifatullah yang mengandung nilai-nilai (yang dalam istilah Gus Mus) Kesalehan Total, yaitu kesalehan ritual dan kesalehan sosial.
Dalam pemahaman ma’rifatullah, Gus Mus yang berlatar belakang NU yang memang bermanhaj Ahlus Sunah wal Jama’ah, tentu saja sangat mengidolakan tokoh-tokoh seperti Imam Al-ghazali, Syeikh Abdul Qodir Jailani, Imam Al-Qusyairi An-Naisyaburi, Al-Muhasibi dan tokoh-tokoh sufi sunni lainnya. Oleh karena itu, gaya pemikiran Sunni mendominasi corak pemikiran Gus Mus. Sebagaimana dalam kajian tasawuf terdapat dua aliran besar yang berkembang yaitu tasawuf falsafi dan tasawuf sunni.[49] Gus Mus mengakui bahwa dirinya banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Sunni, seperti yang disebutkannya; “kenalan saya seperti as-Syafi’I, ar-Rafi’i, an-Nawawi, Ibnu Hajar, Romly, Ibnu Malik, al-Kholil, Abu Nawas, Al-bushiry, Al-ghazali, Juneid, Zakaria, al-Anshary…”[50] Untuk itu dalam penulisan puisi yang berkenaan dengan keintiman Gus Mus dengan Tuhan, Gus Mus berlandas pada pemikiran yang dipahaminya sebagai orang sunni, walaupun tentu saja puisi-puisinya itu lahir dengan sendirinya.

Dengan latar belakang pemikiran Gus Mus yang banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Sunni, Gus Mus mengartikan ma’rifatullah sebagai pengenalan sejati terhadap Allâh.[51] Dan menurut Gus Mus, tujuan dari ma’rifatullah ini adalah mengenal Allâh dengan sebenar-benarnya, sehingga seorang hamba mampu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat ketuhanan. Sifat-sifat ketuhanan itu seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Jadi dalam pembahasan ma’rifatullah Gus Mus tujuan utamanya adalah ilmu akhlak. Yaitu mengimplementasikan akhlak-akhlak ketuhanan kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan. Dan sebaik-baik contoh penjelmaan sifat-sifat Tuhan adalah Nabi Muhammad. Karena Nabi Muhammad adalah satu-satunya manusia yang mendapatkan bimbingan dan perlindungan langsung dari Allâh semenjak Nabi Muhammad masih kecil.

Keistimewaan Gus Mus diakui oleh semua kalangan, baik oleh masyarakat kelas atas sampai ke lapisan masyarakat paling bawah. Hal ini dibuktikan melalui terbitnya sebuah buku yang digagas oleh Labibah Zain dan Lathiful Khuluq: GUS MUS; Satu Rumah Seribu Pintu.[52] Buku ini menggambarkan, bahwa seorang Gus Mus selain seorang kiai pemimpin pesantren Roudlotu Tholibin, Gus Mus merupakan sosok yang memiliki banyak keahlian. Masyarakat luaspun telah mengenal sosok Gus Mus sebagai budayawan, penulis dan penyair yang produktif. Kemampuan Gus Mus dalam menulis tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Taufiq Ismail seorang penyair kenamaan Indonesia mengomentari Gus Mus dengan sebuah puisi:

    Teringat saya pada Mustofa Bishri
Satu-satunya penyair Kiai
Yang juga putera Kiai
Dalam Rombongan ini.[53]

Puisi Taufiq Ismail di atas menegaskan maqom (kedudukan) seorang Gus Mus. Bahwa Gus Mus dalam menulis, selalu berakar pada latar belakangnya sebagai seorang kiai. Sebutan Kiai dalam pandangan masyarakat Jawa khususnya, adalah sebutan yang menggambarkan kedudukan tinggi dalam strata sosial Islam di Jawa. Dalam puisi selanjutnya Taufiq Ismail kembali memuji kedalaman ilmu seorang Gus Mus, berikut ini petikan bait puisinya:

    Menyerap tarikh peradaban purba
    Gus Mus menuangkan kepada kami ilmunya
    Dari tekonya dicucurkan kepada cangkir kami berlima

Dengan latar belakang Kiai maka bisa dimaklumi betapa Gus Mus memiliki kedekatan khusus dengan Allâh dan telah sampai pada kedudukan ma’rifatullah. Pendapat ini tidak berlebihan karena pada skripsi ini akan dijelaskan mengenai argumen dari pernyataan yang tersebut di atas. Hal ini bisa dilacak melalui berbagai karya-karyanya, baik puisi, cerpen, kaligrafi atau tulisan-tulisan lainnya banyak yang menjelaskan ketinggian kedudukan spiritual yang telah diperoleh Gus Mus. Salah satu bukti yang menyatakan hal tersebut adalah salah satu puisi berikut yang melukiskan begitu akrabnya Gus Mus dengan Allâh:

    Aku bersaksi
Tiada Kekasih
kecuali Kau
aku bersaksi tiada kasih
kecuali kasih-Mu
aku bersaksi tiada rindu
kecuali rinduku kepada-Mu[54]

Puisi di atas mencoba mengekspresikan pengalaman mistik Gus Mus yang menggambarkan nilai-nilai ma’rifatullah, yaitu perasaan yang menggambarkan kemesraan dan kecintaan penuh kepada Kekasih (Allâh), dengan mahabbah (cinta) yang penuh nuansa syauq (rindu) dan ‘uns (kekariban). Tema-tema puisi yang ditulis oleh Gus Mus cukup beragam, dari puisi yang bertemakan sufistik, kritik sosial hingga puisi cinta. Namun dari keseluruhan tulisan Gus Mus akan selalu kita temukan sebuah nilai pemikiran yang mengemukakan gagasan keagamaannya yang khas dan konsisten yaitu hubungan manusia sebagai sesama (hablu minan nas) dan hubungan manusia sebagai hamba-Nya (hablu minAllâh). Melalui puisi yang ditulisnya Gus Mus mengekspresikan pemaknaan dan pelaksanaan dari pandangan hidup yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah.[55] Jadi, dalam menulis puisi, Gus Mus tidak hanya sekedar melukiskan pengalaman mistis, namun memberikan noktah perenungan pada setiap pembacanya tentang bagaimana mengambil sikap keberagamaan setelah merasakan mengenal Allâh (ma’rifatullah). Karena pada dasarnya, ajaran ma’rifatullah adalah pelajaran mengenai akhlak sebagaimana tasawuf. Karena seseorang yang telah mencapai kedudukan ma’rifatullah akan menjadikan sifat-sifat ketuhanan sebagai pedoman dalam etika bergaul sesama makhluk, baik manusia, tumbuhan, hewan dan segala makhluk yang ada.

Untuk itu dalam berbagai puisi Gus Mus yang mengandung nilai-nilai ma’rifatullah, Gus Mus mengemukakan gagasannya tentang bagaimana cara mengenal Allâh (ma’rifatullah). Salah satu metodenya adalah mengenal perbuatan Allâh melalui ibadah yang dalam konsep Gus Mus terbagi menjadi dua kategori yaitu kaselahan ritual dan kesalehan sosial. Dan dari pandangan-pandangannya mengenai ma’rifatullah, setiap pembaca puisi Gus Mus bisa mengambil pelajaran yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan beragama secara bijak dan benar. Sehingga dengan pemahaman nilai-nilai ma’rifatullah dalam puisi-puisi Gus Mus, bisa mengarahkan umat Islam (minimal) di Indonesia untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Gus Mus di mata penulis tidak hanya sebagai suri taulidan. Penulis sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh Labibah Zein dan Lathiful Khuluq bahwa Gus Mus merupakan sosok magnetis yang bisa menarik siapapun untuk memperhatikannya tanpa beliau harus bersusah payah menarik perhatian itu sendiri. Pemikiran-pemikiran Gus Mus adalah obat di tengah-tengah fenomena sosial masyarakat Indonesia yang akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Untuk itu disini penulis mengajukan Nilai-nilai Ma’rifatullah dalam Puisi KH. A. Mustofa Bisri pada tema skripsi untuk memenuhi syarat wisuda di Universitas Paramadina. Karena pemikiran-pemikiran Gus Mus harus terus diberdayakan oleh generasi-generasi setelahnya.
Gus Mus lahir di Desa Leteh, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah tepatnya pada tanggal 10 Agustus 1944 dengan nama lengkap Ahmad Mustofa Bishri. Dari mengetahui tahun kelahirannya kita bisa memaklumi bahwa Gus Mus ikut merasakan masa transisi dan mengikuti setiap perubahan yang terjadi pada bangsa Indonesia. Dari masa awal kemerdekaan, pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, masa reformasi hingga sampai saat ini. Jadi, sudah barang pasti beliau, Gus Mus, sarat dengan pengetahuan, pengalaman dan wawasan kebangsaan. Maka tidak heran namanya begitu besar di mata masyarakat Indonesia saat ini, terlebih di kalangan akademis, cendekiawan, seniman dan budayawan. Namun kebesaran nama Gus Mus tidak demikian membuatnya besar kepala. Justeru sebaliknya, ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk. Itulah pribadi Gus Mus yang disaksikan langsung oleh penulis.

Gus Mus lahir dan dibesarkan di lingkungan yang islami yaitu lingkungan pesantren yang didirikan orang tuanya pesantren Roudlotut Tholibin. Awal jenjang pendidikan Gus Mus adalah SR (Sekolah Rakyat) di daerahnya Rembang pada tahun (1950-19560. Kemudian Gus Mus melanjutkan pendidikannya ke pondok pesantren Lirboyo di Kediri selama dua tahun (1956-1958), pesantren Krapyak selama kurang lebih tiga tahun (1958-1962), Taman Pelajar Rembang (1962-1964) dan menempuh jenjang perguruan tinggi di Al-Azhar University Kairo (1964-1970).

Sepeninggal ayah Gus Mus KH Bisri Mustofa yang tilar dunia pada tahun 1977, Gus Mus bersama kakaknya KH Cholil Bisri melanjutkan perjuangan ayahandanya mengasuh pondok pesantren Roudlotut Tholibin yang terletak di jalan KH Bisri Mustofa, Desa Leteh, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah yang telah berdiri sejak tahun 1941. Namun saat ini, setelah KH Cholil Bisri meninggal Gus Mus melanjutkan perjuangan itu bersama putera dari KH Cholil Bisri. Oleh karena itu sesibuk apapun Gus Mus memenuhi undangan dari manapun, beliau selalu berusaha tinggal di pondok pesantren Roudlotut Tholibin hingga sekarang. Sampai saat ini Gus Mus aktif menulis buku, puisi, kolom dan juga masih aktif melukis, menulis kaligrafi. Gus Mus yang sudah masuk usia tua juga masih aktif menghadiri seminar-seminar, mengisi acara dengan pembacaan puisi, pidato.
Dalam skripsi ini akan dijelaskan bagaimana nilai-nilai ma’rifatullah dalam puisi-puisi Gus Mus. Puisi mempunyai kekuatan tersendiri dalam mempengaruhi pembacanya, karena bahasa yang digunakan dapat membawa pembaca seolah-olah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh penyair, sehingga pembaca terpengaruh oleh nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.[56] Nilai-nilai itu akan memunculkan hikmah-hikmah yang dalam dari suatu peristiwa atau kisah-kisah yang muncul dalam pernyataan-pernyataan puisi. Nilai puisi tersebut juga mampu memberikan manfaat bagi pembaca dalam rangka membentuk pandangan hidupnya, karena puisi sangat erat hubungannya dengan falsafah dan agama.[57] Sehingga tidak berlebihan apabila puisi dapat digunakan sebagai media pendidikan dalam menanamkan nila-nilai pendidikan Islam.

Dalam proses Gus Mus menulis sajak, beliau tanpa berharap apapun keculi memuji atas keindahan Tuhan. Keindahan yang mendatangkan rasa cinta (mahabbah) dan pengenalan terhadap Tuhan, ma’rifatullah. Bahkan bisa dikatakan kegiatan Gus Mus dalam menulis merupakan aktivitas yang dilakoninya sesuai peranannya. Namun berbeda dengan penyair atau penulis lainnya yang lebih pada orientasi keindahan kata-kata ataupun sistematika, Gus Mus lebih pada ungkapan jiwa, hal ini ditopang dengan berbagai segi perjalanan Gus Mus sebagai seorang kiai maupun sebagai hamba Allâh. Seorang penyair disebut sebagai penyair sufi bisa dilihat pada konsep ma’rifat dan ilham yang dicapai melalui keadaan ruhani tertentu seperti ‘isyq dan fana.[58] Maka tidak diragukan lagi bahwa puisi-puisi Gus Mus merupakan sebuah ekspresi dari pengenalannya terhadap Tuhan (ma’rifatullah).

Dalam tulisan ini juga akan dibahas tentang jalan-jalan menuju ma’rifatullah dalam puisi-puisi Gus Mus yaitu dengan ibadah (seperti dzikir, sholat dll.) dan tafakkur. Selanjutnya dalam tulisan ini akan dijelaskan konsep pemikiran Gus Mus tentang Kesalehan total. Konsep pemikiran Gus Mus mengenai kesalehan total adalah wujud dari nilai ma’rifatullah yang dipahami dan diamalkan oleh Gus Mus. Aktifnya Gus Mus dalam syiar-syiar keagamaan, baik melalui pengajian, seminar, pidato, karya seni, bahkan melalui media jejaring sosial menggambarkan perjuangan Gus Mus yang tanpa henti untuk terus mengingatkan setiap masyarakat pentingnya menghidupkan kembali ajaran-ajaran keagamaan yang sudah mulai tidak begitu diresapi oleh setiap pemeluk agama.

Nilai-nilai ma’rifatullah dalam puisi-puisi Gus Mus mengandung pemikiran mengenai hablu minAllâh (berhubungan denga Tuhan) dan habluminannas (berubungan dengan manusia), Gus Mus mengajak setiap pembacanya untuk mengenal Tuhannya, sehingga dengan pengenalan terhadap Allâh itu seorang hamba mampu mewujudkan sifat-sifat ketuhanan dalam bergaul dengan kehidupan sosial. Dalam etika bergaul dengan masyarakat sosial, Gus Mus menekankan setiap umat Islam untuk meneladani kpribadian Nabi Muhammad.
Nilai-nilai ma’rifatullah seperti yang terkandung pada puisi-puisi Gus Mus ini mesti dipromosikan secara terus-menerus demi terciptanya kehidupan masyarakat modern yang berakhlak lebih mulia. Mengenai pentingnya ma’rifatullah, Gus Mus berkomentar:
Ada hadits “barang siapa yang tahu dirinya, maka dia akan tahu Tuhannya”. Hadits ini mengungkapkan bahwa ada orang yang tahu diri, dan ada orang yang lupa diri. Memang, tidak berarti bahwa tahu diri, berarti tahu Tuhan, tetapi ini penting untuk simbolisasi, tentang siapa diri kita ini, yang bisa kita kenal melalui introspeksi atau mawas diri. Dengan itu kita akan mengalami peningkatan kualitas kemanusiaan kita sedemikian rupa, sehingga kita seolah-olah tahu Tuhan. Dalam diri orang yang ihsan inilah ada kecemerlangan suara hati.[59]

Perkataan Gus Mus di atas menjelaskan bahwa seseorang yang telah sampai pada tingkatan ihsan (ma’rifatullah) akan mencerminkan kecemerlangan bidang rohani dan dengan demikian terbukalah sifat-sifat ketuhanan, maka terpantullah akhlak Allâh. Sebagaimana hadits Nabi: “Hiasilah dirimu dengan akhlak Allâh”. Untuk itu, nilai-nilai ma’rifatullah dalam puisi Gus Mus ini, mengajak masyarakat agar berakhlak dengan akhlak Allâh.
Dari latar belakang yang telah dijelaskan di atas terlihat betapa pentingnya pembahasan dalam skripsi ini. Karena dengan mempelajari nilai-nilai ma’rifatullah dalam puisi-puisi Gus Mus, umat Islam modern diharapkan mampu mengejawentahkannya dengan memperindah akhlak-akhlak mereka. Dalam puisi-puisi Gus Mus terdapat nilai-nilai ma’rifatullah yang ditendensikannya sebagai prilaku sosial terhadap lingkungan baik, manusia, alam dan ciptaan Allâh lainnya. Masyarakat modern harus kembali memperbaiki iman mereka, karena iman merupakan akhlak yang pertama dan utama. Beriman kepada-Nya artinya meyakini bahwa Dia sungguh ada.

Endnote:

[1] Alwi Shihab, Antara Tasawuf Sunni & Tasawuf Falsafi: Akar Tasawuf di Indonesia, (Depok: IIMaN, 2009), hal. Xi.
[2] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002), hal. 180.
[3] Mahjuddin, Akhlak Tasawuf I, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hal. 174-175.
[4] Shaykh Fadhlalla Haeri, The Elements of Sufism, (Amerika Serikat: Element, Inc, 1993), hal. Vii.
[5] Alwi Shihab, Islam Sufistik: “Islam Pertama” dan pengaruhnya hingga kini di Indonesia, (Bandung: Mizan, 2001), hal. Xii.
[6] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf, (Jakarta: Amzah, 2012), hal. 3.
[7] Moh. Saifullah al-Aziz, Risalah Memahami Ilmu Tasawuf, (Surabaya: Terbit Terang, 1998), hal. 10-11.
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Samsul munir Amin, Ilmu Tasawuf, hal. 4.
[11] A. Mustofa Bisri, Mencari Bening Mata Air, (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2008), hal. 101.
[12] Barmawi Umari, Sistematika Tasawuf, (Solo: Siti Syamsiyah, 1966), hal. 9.
[13] A. Bahrun Rif’I, H. Hasan Mud’is, Filsafat Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hal. 26-27.
[14] Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo, 2000), hal. 180.
[15] Abdul Karim al-Qusyairy, Risalah Qusyairiyah; Induk Ilmu Tasawuf, terj. Mohamad Luqman Hakiem, (Surabaya: Risalah Gusti, 2006), hal. 19.
[16] Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf. (Jakarta: Amzah, 2005), hal. 246.
[17] Ibid., hal. 247.
[18] K. Permadi, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 28-29.
[19] Sayyed Hussein Nashr, Tasawuf Dulu dan Sekarang, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985), hal. 40.
[20] Mustafa Zahri, Kunci Memahami ilmu Tasawuf, (Surabaya: Bina Ilmu, 1997), hal. 31.
[21] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf, hal. 9.
[22] Ibid., hal. 10.
[23] M. Amin Syukur, Tasawuf Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 3.
[24] Ibid.
[25] A. Rivey Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo sufisme, (Jakarta: Rajawali Press, 1998), hal. 57.
[26] Ibid.
[27] Ibid., hal. 58.
[28] Mustafa Zahri, Kunci Memahami ilmu Tasawuf, hal. 164.
[29] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf, hal. 60.
[30] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 2008), jild II, cet. Ke-5, hal. 6.
[31]Muchtar Adam, dan Fadhlullah Muh. Said, Ma’rifatullah: Membangun Kecerdasan Spiritual, Intelektual, Emosional, Sosial dan Akhlak Karimah, Cet. III, (Bandung: Usaha Dakwah Islamiyyah Silaturahmi Indonesia dan Oase, 2007), hal.1.
[32] Abdul Karim al-Qusyairy, Risalah Qusyairiyah; Induk Ilmu Tasawuf, terj. Mohamad Luqman Hakiem, (Surabaya: Risalah Gusti, 2006), hal. 8.
[33] Imam al-Ghazali, Keajaiban Hati, terj. Mansyur al-Katiri, (Jakarta: Khatulistiwa Press, 2012), hal. 2.

[34] Ahmad Warson Munawir, Al-Munawwir; Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002), hal. 921.
[35] Ridjaluddin FN, Kehidupan Sufistik Versi Al-Ghazali, (Jakarta: LPSI, 2008), hal. 44.
[36] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 2012), hal. 59.
[37] Al-Mujahadah dalam kajian tasawuf merupakan istilah untuk menunjukan kesungguhan dalam melakukan ibadah seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits, yaitu sholat, puasa, membaca Al-Qur’an dan sebagainya.
[38] Riyadloh adalah pelatihan batin dengan melakukan pelatihan-pelatihan yang diajarkan oleh guru-guru sufi seperti puasa, sholat dan wirid-wirid tertentu dengan jumlah yang dijelaskan oleh guru sufi.
[39] Al-Mukasayafah adalah terbukanya hijab (rahasia-rahasia ketuhanan).
[40] M. Amin Syukur dan Masharudin, Intelektualisme Tasawuf: Studi Intelektualisme Tasawuf al-Ghazali, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal. 49.
[41] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2002), hal. 177.
[42] Nurcholis Madjid, “Sastra Sufistik sebagai Eskalasi Kesadaran”, Horison, 1989, 23.
[43] Ahmad Mustofa Bisri, Koridor Renungan A. Mustofa Bishri, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010), hal. 51.
[44] Ibid, hal. 52.
[45] Supaat I. Latief, Sastra: Eksistensialisme-Mistisisme Religius, (Lamongan: Pustaka Ilalang, 2008), hal. V.
[46] Aprinus Salam, Oposisi Sastra Sufi, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2004), hal. 31.
[47] Ida Nurul Khasanah, Ekspresi Sosial Sajak-sajak K.H.A. Mustofa Bisri, (Yogyakarta: Logung, 2005), hal. 4.
[48] Labibah Zein, Lathiful Khuluq (eds.), Gus Mus; Satu Rumah Seribu Pintu, hal. 31.
[49] A. Bachrun Rif’I, Hasan Mud’is, Filsafat Tasawuf, (Bandung: Pustaka setia, 2010), hal. 32.
[50] Ahmad Mustofa Bisri, Mencari Bening Mata Air, hal. 116.
[51] Ahmad Mustofa Bisri, Koridor Renungan A. Mustofa Bishri, hal. 59
[52] Labibah Zain, Lathiful Khuluq (eds.), GUS MUS; Satu Rumah Seeribu Pintu, ( Yogyakarta: LKiS, 2009).
[53] Ibid, hal. 60
[54] Ahmad Mustofa Bishri, sajak-sajak cinta Gandrung, (Rembang: Yayasan Al-Ibriz, 2000), hal. 65.
[55] Abdul Wachid BS, Gandrung Cinta: Tafsir Terhadap Puisi A. Mustofa Bishri, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hal. 122
[56] Arbertine Minderop, Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode, Teori dan Contoh Kasus, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010), hal. 61.
[57] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), cet.II, hal. 95.
[58] Ibid., hal. 80.
[59] A. Mustofa Bisri, Mencari Bening Mata Air, hal. 35.

ADMIN

BACA JUGA