YURISTGAMEINIGAMEID101

SEJARAH LAHIRNYA KITAB TAWHID AL MUFADHDHAL

SEJARAH LAHIRNYA KITAB TAWHID AL MUFADHDHAL

SEJARAH LAHIRNYA KITAB TAWHID AL MUFADHDHAL

Mufadhdhal ibn Umar bercerita:

"Suatu ketika setelah shalat ashar saya duduk di — Raudlah, antara kuburan Nabi s.a.w. dan mimbar beliau. Saya merenungkan keistimewaan, kemuliaan, kehormatan dan keutamaan martabat Nabi Muhammad s.a.w., yang tidak banyak diketahui oleh banyak ulama. Ketika saya merenung itu datanglah Ibn Abi al-Awja'! dan disusul oleh seorang temannya, lalu duduk dekat kuburan Nabi s.a.w. 

Ibn Abi al-Awja' berkata kepada temannya: "Penghuni kuburan ini telah mencapai keagungan yang sempurna, memiliki sifat-sifat mulia dan memperoleh keberuntungan nasib".

Temannya berkata: "Dia adalah Filsuf yang telah mencapai martabat dan kedudukan agung dengan menunjukkan mukjizat-mukjizat yang mengalahkan akal, menyingkirkan mimpi-mimpi, manusia dengan haus menimba pengetahuan darinya. Banyak ahli pikir, penyair dan orator menyambut seruannya dan orang-orang memeluk agamanya berbondong-bondong. Kemudian namanya semakin menggema di seluruh penjuru tempat yang disentuh dakwahnya. Kalimat-kalimatnya semakin tinggi, -hujjahnya semakin kukuh di darat dan laut, di dataran dan pegunungan. Setiap hari, siang dan malam, sebanyak lima kali adzan dan igamah dikumandangkan agar zikir kepada Tuhan selalu membaru dan agar segala urusan tidak mati".

Ibn Abi al-Awja' berkata: "Berhentilah menyebut-nyebut Muhammad, karena hal itu membuat akalku bingung dan sesat. Mari kita membicarakan tentang asal segala sesuatu". 

Kemudian mereka berbicara tentang asal segala sesuatu, yaitu bahwa setiap sesuatu yang ada ini tidak dibuat, tidak ditentukan, tidak mempunyai pencipta dan pengatur. Jadi segala sesuatu terjadi dengan sendirinya, dan karena itu dunia pun tidak akan hancur dan akan terus ada.

Mendengar hal itu, dengan marah aku berkata kepadanya: 
"Wahai Musuh Allah. Engkau telah mulhid, mendustakan agama Allah dan mengingkari Yang Maha Pencipta yang telah menciptakan engkau dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya, yang telah menjadikan engkau berkeadaan baik. Jika engkau mau merenungkan dirimu saja secara jujur dan dengan perasaan tenang, niscaya kau akan menjumpai tanda-tanda ke-Tuhanan dan bekas-bekas penciptaan tampak jelas pada dirimu". 

Aku melanjutkan: "Jika engkau dari ahli Kalam, kami akan berdialog, dan jika engkau punya argumen kuat kami akan mengikuti. Jika engkau bukan ahli Kalam, janganlah berbicara. Jika engkau dari sahabat-sahabat Ja'far ibn Muhammad Ash-Shadig, ternyata beliau tidak berbicara dan berhujjah seperti engkau. Beliau juga mau mendengarkan pembicaraan kami, tidak menjelekkan dan mengejek jawaban-jawaban kami. Beliau adalah orang bijak yang tenang, pemikir yang kukuh, tiada lalai dan bodoh. Beliau tidak pernah memotong hujjah kami sampai kami selesai berbicara. Sering kami  beranggapan bahwa argumen-argumen kami begitu kuat, — namun beliau selalu membantahnya dengan argumen-argumen sederhana dan pendek yang tidak dapat kami bantah kembali. Jika engkau termasuk sahabat beliau, marilah berdialog seperti cara beliau". 

Setelah itu aku keluar dari masjid dengan sedih atas apa yang menimpa Ibn Abi al-Awja'. Kemudian aku — menghadap Imam Ash-Shadig. Beliau bertanya mengapa aku sedih. Setelah aku sampaikan kepada beliau pernyataan orang tadi serta bantahan saya, beliau berkata:

"Ingin aku ajarkan kepadamu hikmah Tuhan dalam penciptaan alam, binatang buas, burung, singa dan seluruh binatang, serta pohon-pohonan yang berbuah dan yang tak berbuah, biji-bijian dan sayur-sayuran, yang di makan atau pun yang tidak dimakan, yang diteliti oleh para ahli, yang menentramkan orang Mukmin dan membuat ragu orang mulhid. Datanglah kepadaku besok".

Saya pun pulang dengan hati senang dan gembira. Betapa malam amat panjang aku rasakan ketika itu karena janji itu. Keesokan harinya saya memenuhi undangan beliau. Setelah saya duduk di hadapan beliau, beliau bangkit menuju ruangan kosong sambil mengajak saya mengikutinya. Setelah kami duduk berhadap-hadapan, beliau berkata:

"Tentu engkau merasakan malam begitu panjang karena janjiku itu"
"Benar", kataku.
"Hai Mufadhdhal. Allah tidak didahului oleh sesuatu, Dia Maha Kekal dan tidak berkesudahan. Milik-Nyalah segala puji yang kita berikan, dan milik-Nya syukur kita atas apa yang diberikan kepada kita. Dia telah menganugerahkan ilmu dan martabat yang tinggi kepada kita, dan dengan ilmu dan martabat itu kita dijadikannya orang-orang terpilih yang memelihara hikmah-Nya"

"Tuan, bolehkah saya menulis apa yang Tuan jelaskan? Saya siap melakukannya", pinta saya.
"Silakan", kata beliau.
Imam Ja'far menyampaikan penjelasan-penjelasannya kepada Mufadhdhal selama empat hari. Hasilnya disusun dalam sebuah buku yang berjudul Tawhid al-Mufadhdhal, memuat hikmah Tuhan Sang Maha Pencipta dalam penciptaan alam dan seluruh ciptaan-Nya yang ada.

ADMIN

BACA JUGA