YURISTGAMEINIGAMEID101

AMBISI DAN KETULUSAN

Ambisi dan Ketulusan



Hai orang yang telah terbuka kedok ambisinya! Jikalau engkau dan seluruh penghuni bumi bersatu padu untuk mendapatkan sesuatu yang tidak dibagi (oleh takdir-Nya) untukmu, maka engkau tidak akan pernah mampu. 

Tinggalkan ambisi untuk mencari sesuatu yang ditentukan bagiannya untukmu, apalagi yang bukan bagianmu. Bagaimana seorang yang berakal menganggap baik untuk menghambur-hamburkan waktunya dalam hal yang sia-sia belaka. Keluarkanlah manusia dari dalam hatimu dan jangan memandang mereka berperan dalam mudarat dan manfaat, pemberian dan penolakan, pujian dan cacian, penghormatan dan penghinaan, juga dalam penerimaan dan pengingkaran. Yakinlah bahwa mudarat dan manfaat hanya berasal dari Allah 'Azza wa Jalla. Kebaikan dan keburukan juga berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, untuk kemudian dicurahkan-Nya ke tangan manusia.

Jika hal ini bisa engkau realisasikan, maka engkau telah menjadi duta penghubung antara makhluk dan Sang Pencipta. Gandenglah tangan mereka menuju pintu-Nya. Lihat mereka sebagai orang-orang hilang yang membutuhkan dirimu. Pandang orang-orang yang bermaksiat pada Tuhan mereka 'Azza wa Jalla dengan pandangan kegilaan dan kebodohan, lalu obati dan sembuhkan mereka, serta bersabarlah menghadapi sadisme dan kebodohan mereka. Orang-orang yang taat pada Tuhan mereka adalah orang-orang alim yang berakal, bermaksiat pada Tuhan mereka adalah yang gila dan bodoh. 


Jangan bicara sebelum engkau melihat pintu, dan ketika itulah engkau akan melihat para pangeran. Jangan banyak bicara sebelum engkau melihat Allah, dan ketika itulah engkau akan melihat ketulusan (kejujuran). Engkau akan melihat di sana, ketulusan membawa mengajukan, dan menyadarkanmu, sementara kebohongan malah menolak dan menidurkanmu.

Bersandinglah dengan orang-orang yang tulus, sehingga engkau akan diperlakukan sebagaimana mereka diperlakukan. Tuluslah dalam segala ucapan dan tindakan, serta bersabarlah dalam segala kondisimu. 

Ketulusan adalah tauhid, keikhlasan, dan tawakal pada Allah 'Azza wa Jalla. Hakikat tawakal adalah memutuskan (hubungan dengan) sarana-sarana dan pemilik pemilik (arbab), serta keluar dari daya dan kekuatanmu dengan segenap hati dan nuranimu menginginkan komunikasi (dengan-Nya, maka putuslah semua yang menghubungkan selain-Nya serta berpalinglah dari dirimu sendiri dan mereka. Berpalinglah dari yang baru (muhdas) untuk sampai pada Yang Memperbarui. 

Selama engkau masih bersama dirimu dan mereka, maka engkau tidak akan pernah meraih bahagia. Kedekatan al-Haqq 'Azza wa Jalla tidak Jika engkau ketersambungan mencakup kesesakan (selain-Nya). 

Dari setiap satu juta jumlah kalian hingga tak terhingga, ada satu orang yang mencerna apa yang kukatakan dan mengamalkannya. Sementara sisanya masuk terjebak dalam kesesakan orang, meminta berkah kehadiran mereka bersamanya. 

Sungguh, aku mengharapkan kebaikan kalian di dunia dan Akhirat. Dunia adalah penjara orang Mukmin, namun ketika ia melupakan penjaranya, maka kelegaan pun datang menghiburnya. Orang-orang Mukmin dalam penjara, namun orang-orang yang arif senantiasa dalam kesyukuran, sehingga mereka lupa akan penjara. 

Allah telah meminumi mereka dengan minuman kerinduan pada-Nya, minuman keintiman dengan-Nya, minuman pencarian-Nya, minuman kelalaian dari makhluk dan kesadaran akan-Nya. Dia meminumi mereka dengan minuman-minuman ini, sehingga mereka melalaikan makhluk, namun tetap memiliki kesadaran dengan dan bersama-Nya. Mereka menjauhi tempat-tempat tinggal dan orang-orang yang terpenjara. Allah memberikan Neraka dan Surga mereka lebih awal di dunia. Menentang ketentuan takdir adalah Neraka mereka, sedang ridha menerima qadha adalah Surga mereka. Kelalaian jadilah Neraka mereka, dan kesadaran adalah Surga mereka. 

Bagi kalangan awam, Kiamat adalah pertanggungjawaban amal (muhasabah), sementara bagi kalangan khanwass, ia adalah teguran (mu'atabah). Bagaimana tidak demikian, jika jauh-jauh sebelum Hari Kiamat tiba, mereka telah membangun kiamat bagi diri mereka sendiri. Mereka sudah menangis terlebih dahulu di dunia sebelum dihukum, maka tangisan ini pun berguna bagi mereka saat datangnya hukuman yang sebenarnya. 


-Sumber: Pencerahan Sufi (Fathur Rabbani) Penulis: Syekh Abdul Qadir Jaelani Penerbit: Forum, Yogyakarta, 2015

ADMIN

BACA JUGA