YURISTGAMEINIGAMEID101

BERGURULAH PADA SYEKH SEJATI BUKAN YANG PALSU

Bergurulah pada Syekh Sejati bukan yang Palsu



Wahai pemuda! Belajarlah pada manusia, kemudian pada Sang Pencipta. Nabi Saw bersabda: "Barangsiapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah menganugerahinya pengetahuan yang belum ia ketahui." Memang pada awalnya, semua harus belajar pada manusia karena itu merupakan hukum, baru setelah itu berguru langsung dengan Sang Pencipta, yang disebut kemudian dengan istilah ilmu ladunni, yaitu ilmu yang diperuntukkan bagi hati dan rahasia yang dikhususkan bagi nurani. 

Bagaimana engkau bisa belajar sesuatu tanpa guru, padahal engkau berada di rumah hikmah (dunia). Tuntutlah ilmu, sebab mencarinya adalah sebuah kewajiban. Nabi Saw bersabda: "Tuntutlah ilmu walaupun (harus) ke Negeri Cina." 

Namun guru atau Syekh sejati tidak memiliki dunia, akan tetapi memiliki Akhirat. Jika seorang syekh masih memiliki tabiat dan kesenangan, maka ia berarti memiliki dunia, dan jika ia pemilik hati, maka ia memiliki Akhirat. Lalu jika ia pemilik nurani, maka ia memiliki al-Mawla.

Hai orang yang berlagak syekh, mengedepankan diri, dan menyesaki para syekh yang benar-benar tulus dalam ahwal mereka, selama engkau masih mencari duniawi dengan hawa nafsumu, maka engkau adalah anak kecil. Para syekh sejati memiliki tabiat dan nafsu yang sangat jarang sekali. Nafsu mereka berpaling dari dunia dan meninggalkannya secara sukarela, bukan karena terpaksa. Nafsu mereka tenang dan menjelma menjadi hati, dan ini sangat jarang sekali. 

Kesejatian seorang syekh telah benar-benar sempurna ketika nafsunya buta dari dunia, Akhirat, dan apa saja selain al-Mawla. Semakin dekat seorang hamba pada Tuhannya 'Azza wa Jalla, maka akan semakin bertambahlah bahaya cobaannya, dan akan semakin menguat pula ketakutannya. Karena itulah (ada aforisma mengatakan), "Orang yang paling membahayakan di samping raja adalah perdana menterinya, sebab ialah yang paling dekat dengannya." Tidak ada seorang Mukmin pun yang sampai kepada-Nya kecuali dengan keikhlasan, maka ketika itulah Dia memberi bahaya cobaan yang besar bagi suatu kaum, dan ketakutan mereka tidak akan reda sampai mereka bertemu Tuhannya 'Azza wa Jalla. 

Memang, barangsiapa yang mengenal Allah 'Azza wa Jalla, maka akan bertambah kuatlah ketakutannya. Nabi Saw bersabda: "Aku adalah orang yang paling kenal dengan Allah (di antara kamu), namun aku juga adalah orang yang paling takut pada-Nya (diantara kamu)." al-Haqq 'Azza wa Jalla menguji para wali-Nya dengan segala petaka dalam rangka menyucikan mereka. Maka mereka pun senantiasa gemetar di atas kaki-kaki ketakutan akan perubahan dan pergantian. Mereka terus ketakutan meski berada dalam kondisi yang aman. Mereka terus dicekam kecemasan meski mereka telah dianugerahi ketenangan. 

Mereka beradu argumen dengan diri mereka sendiri atas setiap atom, biji sawi, isyarat, dan sekecil apa pun kelalaian. Ketika ditenangkan-Nya, mereka malah terbang. Ketika dikayakan-Nya mereka malah merasa fakir. Ketika diamankan-Nya, mereka malah ketakutan. Ketika diberi-Nya, mereka malah menolak. Ketika ditertawakan-Nya mereka malah menangis. Ketika digembirakan mereka malah bersedih. 

Semua itu, karena mereka takut sekali akan perubahan-perubahan dan keburukan akibat. Mereka sadar bahwa Tuhan mereka 'Azza wa Jalla: "Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai' (Q.S. 21: 23). 

-Sumber: Pencerahan Sufi (Fathur Rabbani) Penulis: Syekh Abdul Qadir Jaelani Penerbit: Forum, Yogyakarta, 2015

ADMIN

BACA JUGA