YURISTGAMEINIGAMEID101

CARA MEMANDANG AGAMA LAIN

CARA MEMANDANG AGAMA LAIN


Sampai di sini sampailah perenungan kita pada satu poin tema yang amat menantang, ketika cara berpikir saintis juga dilibatkan dalam pola memandang agama orang lain, apa yang orang berpikir tentang agama lain? Atau, apa yang kita pikirkan tentang (orang ber-) agama lain? 

Kemungkinan jawabannya ada tiga:

Pertama, agama (orang) lain adalah salah, dan bahwa agama kita sajalah yang benar. Dari pemikiran ini muncullah adagium; walau semua agama baik, namun yang benar hanya satu; milikku. Juga muncullah klasifikal yang bukan pada tempatnya seperti pembedaan agama langit (samawi) dan agama dunia (bumi/ardhi). 

Kedua, agama lain adalah bentuk implisit dari agama kita. Tampaknya kelompok sealur Cak Nur termasuk di sini. Asumsi dasarnya, bahwa dalam konteks historiografi Al-Qur'an, semua nabi sejak Nabi Nuh, Ibrahim, Isa, dan lain-lain adalah muslim, berjiwa Islam: sikap pasrah dan tunduk patuh kepada Allah (periode Adam sampai Idris belum terkategorisasi). 

Dengan demikian, maka Islam pada hakikatnya bukanlah bentuk agama baru. Islam dalam konteks ini adalah agama yang "melanjutkan" agama-agama terdahulu par exellence. Apabila ada orang yang beralih (konversi) dari suatu agama ke Islam, statemen yang tepat bukan “masuk Islam", namun orang tersebut datang "melanjutkan" ke Islam. Konsekuensi lain adalah, bahwa kitab-kitab terdahulu-sebagaimana Al-Qur'an tidak menunjuk secara eksplisit-tidak di-mansukh-kan oleh Al-Qur'an, sebab Al-Qur'an pun “melanjutkan" ajaran kitab-kitab terdahulu. 

Ketiga, bahwa agama-agama lain (terutama secara spiritual) adalah agama kita juga. Walau dalam beberapa hal (syariat dan fiqih) bisa berbeda, tetapi tetap bersumber pada kebenaran yang sama. Ia ibarat mozaik yang tersusun secara eksak. tampaknya inilah makna Islam yang inklusif (hanif) itu. Dengan pemahaman yang kedua atau ketiga tersebut, maka berarti cultural barriers yang selama ini menjadi sekat keberagamaan kita hancurlah sudah. (Sayangnya yang masih mendominasi pemahaman yang pertama.) 

Dari keseluruhan perspektif di atas, kita masih menyisakan bidang garapan penelitian lebih lanjut dalam tiga tataran berikut, bahwa peradaban Islam hanya akan tegak jika kembali mengacu pada perspektif spiritualitas (tradisionalisme murni), globalisasi informasi merupakan bentuk uji pengayaan batin dan kekuatan spiritualitas-praktis masyarakat muslim yang bisa menentukan kokoh tidaknya power/force umat di masa mendatang, dan penggunaan aspek ajaran spiritualitas demi terjaganya titik balik peradaban modern yang mungkin segera terjadi, yang dipicu oleh perubahan mendasar dalam kinerja sains modern. 

Tampaklah sekarang bahwa kita tidak semata-mata membutuhkan kesadaran pluralistik dan kerukunan beragama, bukan pula sekadar wawasan titik temu yang sama, akan tetapi, lebih dari itu semua, bahwa keragaman agama-agama itu adalah menuntut pengakuan bersama sebagai "satu agama". Toh hanya ada satu agama di dunia ini. Jika umat beragama masih memiliki persepsi keragaman (yang terpisah), pastilah masih ada "sesuatu" yang salah. Tentu saja ini membutuhkan penelitian sosiologis, psikologis, dan historis secara lebih lanjut dari wacana “mata-rantai agama-agama" yang dikaitkan dengan sejarah sains secara komprehensif. 

Apakah pandangan ini berbahaya? Sejarahlah yang akan menentukannya di masa depan. Sebab ini adalah pandangan scientific. Yang jelas, dengan pandangan ini, bukan berarti bahwa seseorang boleh menganut berbagai agama sekaligus. Seorang muslim tetap memegangi keislamannya, dengan keyakinan dalam Islam itulah mata rantai keagamaan terakomodasi secara paripurna.


-Sumber: Sufi Modern, Mewujudkan Kebahagiaan, Menghilangkan Keterasingan, KH. Muhammad Solikhin, Elex Media, 2013



ADMIN

BACA JUGA