YURISTGAMEINIGAMEID101

HIJAB TERBESAR SEORANG HAMBA

HIJAB TERBESAR SEORANG HAMBA



Nafsu adalah hijab mereka dari-Nya, maka ketika nafsu menghilang, hilanglah pula hijab tersebut. Abu Yaz'id al-Bistami berkisah: "Aku bermimpi melihat Tuhanku, lalu aku bertanya pada-Nya, "Bagaimana jalan menuju-Mu, wahai Bari Khuda?" Dia menjawab, "Jauhi nafsumu dan kemarilah!" 

Sejak kejadian itu aku tanggalkan semua nafsu, sebagaimana terkelupasnya biji dari kulitnya. Di sini al-Haqq 'Azza wa Jalla hanya menunjuk nafsu saja tanpa lainnya dan memerintahkan Abu Yaziid untuk meninggalkannya, karena dunia seisinya dan segala selain al-Hagq 'Azza wa Jalla secara totalitas adalah subordinat (pengikut) nafsu. Dunia adalah kekasih nafsu, begitu juga Akhirat. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Dan di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh nafsu dan sedap (dipandang) mati" (Q. S. 43: 71).



Pada siang hari, kaum saleh bekerja demi kemaslahatan manusia dan keluarga, sementara di malam hari, mereka melayani Tuhan dan menyepi bersama-Nya. Begitu juga para raja. Sepanjang siang mereka bersama para pengawal dan punggawa memenuhi kebutuhan rakyat, lalu jika malam menjelang, mereka pun menyendiri bersama para menteri dan orang-orang khusus mereka. 

Semoga Allah mengasihi kalian! Simaklah apa yang aku ucapkan dengan pendengaran hati kalian dan hapalkan, lalu amalkanlah. Aku tidak mengucapkan selain kebenaran dari Sang Mahabenar. Aku hanya menuturkan deskripsi jalan al-Haqq 'Azza wa Jalla, agar kalian menempuhnya. Aku tidak puas jika kalian hanya menyahutku dengan ucapan, “Ahsantaf" akan tetapi katakanlah kepadaku dengan lisan hati kalian, 'Ahsantat' lalu amalkan apa yang aku tuturkan dan ikhlaslah dalam beramal. Baru jika hal itu kulihat pada kalian, maka akan kukatakan pada kalian, "Ahsantumf" Sampai kapan engkau berkait erat dengan nafsu, dunia, Akhirat, manusia, dan segala selain Allah secara keseluruhan. 

Makhluk adalah hijab nafsumu. Sedangkan nafsumu adalah hijab hatimu, dan hatimu adalah hijab nuranimu. Selama engkau masih bersama makhluk, maka engkau tidak akan melihat nafsumu. Baru setelah engkau meninggalkan mereka, engkau akan melihat nafsu sebagai musuh Tuhanmu 'Azza wa Jalla sekaligus musuhmu, lalu engkau akan terus memeranginya sampai ia tenang di sisi Tuhannya, tenang menerima janji-Nya dan takut akan ancaman-Nya. 

Engkau akan melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan menuruti takdir yang telah ditentukan-Nya. Ketika itulah, hijab-hijab yang menutupi hati dan nurani akan lenyap secara serentak, dan keduanya akan dapat melihat apa yang sebelumnya tidak dilihatnya, mengetahui Tuhan mereka 'Azza wa Jalla dan berlindung meminta suaka pada-Nya, serta tidak akan lagi berdiri bersama sesuatu pun selain-Nya. 

Seorang yang arif tidak berdiri bersama sesuatu selain Sang Maha Pencipta segala sesuatu. la tidak pernah tidur dan mengantuk, juga tidak terbelenggu apa pun dari Tuhannya 'Azza wa Jalla. la adalah kekasih yang menafikan wujudnya. la berada di lembah takdir dan Pengetahuan Tuhan-Nya 'Azza wa Jalla. Ombak-ombak samudera ilmu mengangkatnya ke udara dan mengepungnya masuk ke dalam palung. 

la menghilang dan kebingungan tanpa akal. la tuli dan bisu, tidak mendengar selain al-Haqq 'Azza wa Jalla, juga tidak melihat selain-Nya. la mati di hadapan-Nya dan jika berkehendak, Dia akan membangunkannya kembali. Jika berkehendak pula, maka Dia akan mewujudkannya kembali. Mereka senantiasa berada di dalam tenda-tenda Kedekatan. Jika datang giliran hukum, mereka berada di piring hukum. Jika datang giliran keluar (khuruz), maka mereka mendatangi pintu dan menyerap kisah-kisah dari makhluk. Mereka menjadi mediator antara makhluk dan al-Haqq 'Azza wa Jalla. Demikianlah ahwal mereka, akan tetapi ada beberapa hal yang ditutup-tutupi (dan tidak boleh diberitahukan pada khalayak).

Lelehkanlah hawa nafsu dan tabiatmu dengan kelanggengan puasa, salat, dan kesabaran. Jika seorang hamba sudah mampu melelehkan hawa nafsu dan tabiatnya, maka yang tersisa hanyalah Dia dan al-Mawla Junjungannya tanpa sesakan yang lain, yang tersisa hanyalah hati, nurani, dan al-Mawla, kelapangan tanpa kesesakan dan kesehatan tanpa kesakitan. Gunakanlah akal kalian, belajarlah, lalu amalkan, dan ikhlaslah. 

Wahai pemuda! Temanilah orang yang bisa membantumu untuk memerangi nafsumu, bukan orang yang malah membantunya melawanmu. Jika engkau temani seorang syekh yang bodoh lagi munafik, juga penurut tabiat dan hawa kesenangan, maka ia adalah orang yang membantu nafsu mengalahkanmu. Syekh sejati tidak memiliki dunia, akan tetapi memiliki Akhirat. Jika seorang syekh masih memiliki tabiat dan kesenangan, maka ia berarti memiliki dunia, dan jika ia pemilik hati, maka ia memiliki Akhirat. Lalu jika ia pemilik nurani, maka ia memiliki al-Mawla.

Engkau ridha menerima karena kesenangan nafsumu dan engkau membenci karena kebencian nafsumu. Engkau menjadi budak nafsumu sendiri, dan urusanmu ada di tangannya. Di mana kedudukanmu jika dibanding hamba-hamba Allah Azza wa Jalla yang telah mewujudkan dalam dirinya penghambaan kepada-Nya perbuatan-perbuatan-Nya. Meski segala petaka menimpa, mereka tetap duduk tak bergeming bagai gunung yang maha kokoh. Meski petaka menimpa, mereka tetap memandangnya dan keridhaan menerima dengan mata kesabaran dan penerimaan. 

-Sumber: Pencerahan Sufi (Fathur Rabbani) Penulis: Syekh Abdul Qadir Jaelani Penerbit: Forum, Yogyakarta, 2015

ADMIN

BACA JUGA