YURISTGAMEINIGAMEID101

KEHIDUPAN DUNIA HANYALAH TIPU DAYA

KEHIDUPAN DUNIA HANYALAH TIPU DAYA



Mengapa orang tidak bisa memahami pelajaran bahwa kesegaran dan dinamisme setiap makhluk temporer ini akan tergiling dalam penggilingan waktu. Lihat bagaimana besarnya ilusi jika hidup di dunia ini tanpa memikirkan kehidupan yang akan datang, dan justru hanya menghabiskan waktu dengan kesibukan yang penuh dengan permainan serta pujian! 

Kehidupan yang lalai terisi penuh dengan permainan di masa kecil, petualangan nafsu di masa muda, aktivitas melalaikan di masa dewasa, dan kebencian karena kehilangan kesempatan di usia tua. Kehidupan seperti ini penuh dengan kekosongan dan kebencian. Kematian menunggu dalam persembunyian. Namun, mereka yang tidak sadar terus mencoba melarikan diri dari jangkauannya seraya menyibukkan diri dengan kesombondan tidak mau mendengarkan keluhan orang yang kesulitan. Hatinya tak memiliki kasih sayang dan tak pernah mengingat Allah. 

Sungguh tragis menyaksikan kehidupan orang-orang yang berusaha meraih kebahagiaan di dunia ini tanpa mengingat Hari Kemudian dan orang-orang yang bergelut menikmati kesenangan sementara di dunia ini hingga detik akhir kematian. Orang biasanya diperbudak oleh kebohongan dalam cermin yang merupakan pangkal pengelabuan. Karena penuh berisi kebohongan, bukankah dunia hanya pagelaran ketidaksetiaan dan tipuan? 

Puisi Yunus Emre secara mengesankan mengungkapkan petualangan mereka yang pernah tinggal sementara di dunia ini dan telah berangkat ke negeri akhirat:

Mereka yang pernah tinggal
di dunia palsu ini dan telah pergi,
Tidak pernah bicara atau berkirim kabar,
Mereka yang di atas kuburnya ditumbuhi tanaman,
Tak pernah bicara atau berkirim kabar.
Sebuah pohon tumbuh di atas kepala sebagian mereka,
Bunga-bunga berlayuan di atas sebagian yang lain,
Orang-orang berani, murni, dan cantik,
Tak pernah bicara atau berkirim kabar.
Jasad yang rapuh tertimbun debu,
Lidah yang manis tak lagi bisa bicara,
Jangan lupa mengikutkan mereka dalam doa-doamu
Mereka tak pernah bicara atau berkirim kabar.
Sebagian berusia sebagian berusia lima, empat,
Sebagian tak punya mahkota di kepala,
Sebagian berusia enam tahun, sebagian tujuh,
Mereka tak pernah bicara atau berkirim kabar.
Sebagian pedagang, sebagian ilmuwan,
Sulit menelan minuman kematian,
Sebagian berjanggut putih
dan sebagian sangat tua,
Mereka tak pernah bicara
atau berkirim kabar.
Yunus berkata, anggaplah
itu takdir,
Alis dan bulu mata mereka
telah rontok,
Ada batu nisan dengan tulisan di atas kepala mereka
Mereka tak pernah bicara
atau berkirim kabar.

O Tuhanku! Selamatkan kami dari nasib mereka yang jatuh terjerembab ke dunia ini dan menghancurkan hidup mereka dalam secangkir air karena melupakan lautan llahi. Engkaulah Maha Penyayang!

Sumber: Ratapan Kerinduan Rumi, Utsman Nuri Topbas, Turki: Darul Arqam, 2005

ADMIN

BACA JUGA